
☘️☘️☘️
Sepanjang perjalanan dari rumah Belinda ke rumah sakit, Ambar selalu menunjukkan reaksi bahagianya setelah mendapatkan seorang teman, dibalik topengnya Ambar mempunya tujuan yg tidak sama sekali di ketahui oleh Belinda. kepintaran Ambar jelas membuat Belinda masuk dalam rencana jahatnya. ia pun meminta Belinda untuk tidak bercerita pada siapapun dan menyebut namanya dengan alasan takut kalau keluarganya mencari keberadaannya saat ini.
Belinda membuat janji itu dengan mudahnya, Ambar juga mencari tahu tentang keluarga Belinda sedikit demi sedikit. tujuan Ambar hanya satu, ia ingin mendapatkan kebahagiaannya kembali dengan cara yg licik.
Sesampainya dirumah sakit, taksi berhenti seketika tepat didepan pekarangan. sang supir melihat kekompakan dua wanita yg baru saja bertemu di tengah jalan.
"Maaf nona nona, kita sudah sampai," tegur pak supir menoleh ke belakang.
"Iya pak, maaf kami jadi tidak sadar sudah sampai," sahut Ambar yg diikuti oleh senyuman Belinda.
"Yuk Belinda, kita turun disini saja," ajak Ambar sambil memegang tangan Belinda.
"Pak, ini kembaliannya untuk bapak saja," ucap Ambar memberikan beberapa uang pada pak sopir dengan melontarkan senyum manis.
"Terimakasih nona, hati nona sungguh mulia," riuh pak sopir melihat uang yg sangat berlebih itu hatinya amatlah senang.
Belinda hanya tertegun melihat kebaikan Ambar tepat di depan matanya. seolah dia melihat sosok dirinya ada di dalam diri Ambar.
"Belinda, kenapa kau terbengong? yuk keluar," kata Ambar membuyarkan lamunan Belinda.
"Mari pak," pamit Belinda pada pak supir.
"Hati-hati nona," kata pak supir masih melihat mereka keluar dari taksinya.
Sesaat mereka keluar, taksi itupun melaju pergi.
"Belinda, kita sudah harus berpisah di sini, bisakah aku meminta nomor telepon mu?" tanya Ambar dengan raut wajah sedih.
"Tentu saja Ambar, kau bisa mencatatnya sekarang," turut Belinda mengiyakan dan merogoh ponselnya didalam tas.
Mereka pun berganti nomor telepon dengan tenangnya. seketika Ambar melirik Belinda dengan begitu tajamnya. dia tidak menduga mendekati Belinda adalah hal yg sangat mudah baginya.
"Belinda, aku harus pergi. karna temanku sudah menunggu di dalam," ucap Ambar sambil melambaikan tangannya.
"Nanti kita akan bertemu lagi..." teriak Ambar dari jarak jauh sambil terus berjalan memasuki rumah sakit.
Belinda membalas lambaian tangan itu, dia juga tidak berfikir hal negatif lagi tentang Ambar, ia membuang jauh prasangka buruk itu terhadap Ambar. krna yg dia lihat Ambar sosok wanita yg kuat seperti dirinya.
"Oh, ya! aku harus cepat masuk, mungkin bik Lis membutuhkan aku," gumam Belinda langsung bergegas dari tempatnya dengan melangkah cepat.
Ruang inap.
Haikal sudah membereskan semua pembayaran Ricky yg masih berada di rumah sakit. Ricky diberikan perawatan eklusif oleh pihak rumah sakit krna Haikal ingin Ricky cepat pulih dan diberikan penanganan yg terbaik. begitulah rasa terimakasih Haikal membalas kebaikan Ricky yg telah menolong istrinya.
Tap Tap
Krek
__ADS_1
"Bik, bagaimana keadaan Ricky?" tanya Belinda perlahan membuka pintu dan berbicara dengan nada rendah.
"Nyonya, anda ke sini sama siapa?" sahut bik Lis antusias mengejar Belinda yg sedang membawa sebuah rantang ditangannya.
Bik Lis meraih rantang itu dan segera meletakkan di atas meja ruang inap tempat Ricky dirawat.
"Saya sendiri bik, krna Ren sepertinya sangat sibuk semenjak saya tidak ke kantor lagi," jawab Belinda sambil melirik Ricky yg masih berbaring lemas.
"Bagaimana keadaannya bik?" lanjut Belinda lagi melangkah mendekati Ricky yg masih memejamkan mata.
"Dokter selalu memeriksa keadaannya nyonya, setelah tuan dan nyonya pergi dokter mengatakan pada saya bahwa Ricky hampir tidak selamat, krna darahnya terus keluar. tetapi dokter bisa menanganinya dengan cepat, kalau sedikit saja terlambat di bawa kerumah sakit mungkin saat ini Ricky sudah tidak ada," ungkap bik Lis tampak raut wajah sedih melihat keadaan Ricky.
"Ya tuhan, berarti Ricky hampir kehilangan nyawanya karna saya," ucap Belinda sejenak terduduk di kursi tepat dibelakang tubuhnya.
"Bukan nyonya, ini sudah takdir tuhan! nyonya tidak boleh merasa bersalah begitu! Ricky memang anak yg baik, setelah saya mengenal dia waktu itu. wajahnya tidak mudah saya lupakan," kata bik Lis dengan mengelus sesekali kedua pundak Belinda.
Belinda terdiam mendengar bik Lis berbicara. dia masih terus memperhatikan wajah Ricky yg sedikit pucat.
Tok Tok
Krek
"Maaf kalau saya mengganggu, saya ingin memeriksa pasien hari ini," kata seorang dokter yg menangani Ricky.
"Silahkan dok," ucap bik Lis dan Belinda dengan serentak.
Belinda berdiri dari kursinya setelah kedatangan dokter. keheningan terjadi setelah dokter begitu serius memeriksa Ricky dengan alat yg dia bawa.
"Benar dok, kami keluarganya," kata Belinda dengan cepat membuat bik Lis terkejut mendengar ucapan Belinda.
"Kalian tidak perlu khawatir lagi, pasien akan segera pulih dalam hitungan waktu saja. dia sudah melewati masa kritisnya," ungkap dokter itu memberi ketenangan pada bik Lis dan Belinda.
Terlihat keduanya menghela nafas membuangnya dengan perlahan sambil mengelus dada.
"Saya permisi dulu," lanjut dokter itu lagi sambil bergerak pergi keluar dari ruangan Ricky.
Pintu tertutup dengan rapat.
"Syukurlah bik, semoga Ricky bisa cepat sadar," cakap Belinda tampak tersenyum melintasi bibirnya.
"Iya nyonya, saya senang! Ricky berhasil berjuang untuk hidupnya," sambung bik Lis menatap Ricky dengan tersenyum lega.
"Bik, saya membawa makanan hari ini. bibik pasti lapar," kata Belinda tersadar kalau harinya sudah siang.
"Tidak perlu repot nyonya, saya jadi tidak enak dengan nyonya," turut bik Lis merasa sangat sungkan.
"Tidak bik, saya seharusnya berterimakasih pada bibik sudah mau menjaga Ricky di sini," tangkasnya pula tidak membenarkan ucapan bik Lis.
Bik Lis tidak bisa berkata apapun lagi, dia sungguh terharu dengan sikap Belinda sedari dulu hingga dirinya tinggal bersama Belinda tidak pernah merasa menjadi seperti orang lain, Belinda masih terus memperlakukan bik Lis dengan baik. tidak pernah Belinda berkata keras ataupun menyinggung hati bik Lis. sungguh beruntung bik Lis mempunyai majikan seperti Belinda. itulah pikir bik Lis.
__ADS_1
"Bik, kenapa melamun? ayo kita makan," petikan tangan Belinda membuat bik Lis tersadar.
"Maaf nyonya, saya jadi melamun," riuh bik Lis dengan menepuk jidatnya.
Kemudian mereka berjalan untuk duduk bersama menikmati makan siang.
"Bik, tubuh saya rasanya tidak enak! maaf kalau masakan saya hanya segini," ucap Belinda pula.
"Ini sudah lebih dari cukup nyonya. kenapa nyonya menyalahkan diri. saya sungguh senang bisa duduk bersama nyonya saat ini," turut bik Lis sambil mengeluarkan semua rantang yg berisi makanan.
Bik Lis pun menyuguhkan makanan itu dihadapan Belinda.
"Nyonya makanlah! jangan sampai telat," tutur bik Lis pula.
Belinda manggut dan meraih rantang makanan itu, seusai perbincangan mereka begitu menikmati makan siang secara bersama. sungguh tenang hati bik Lis melihat Belinda yg mendengar nasihat orang lain.
Beberapa saat kemudian.
Setelah siap makan siang, bik Lis menyusun kembali rantang pada tempatnya, tak lupa Belinda minum jus alpukat buatannya sedari rumah. malah bik Lis juga dia buatkan berupa jus jeruk.
"Ehmm..."
Terdengar suara seorang lelaki dari dalam ruangan.
Bik Lis dan Belinda langsung berdiri karna mendengar suara jelas sekali di telinga mereka.
Dan ternyata suara Ricky yg sudah terbangun dari tidurnya selama beberapa hari. mereka pun bangkit dari tempat duduk dan melangkah cepat mendekati Ricky yg terlihat celingukan seperti kebingungan.
"Ricky, kau sudah sadar?" riuh bik Lis serentak dengan Belinda.
"Saya dimana?" tanya Ricky masih sangat berusaha untuk bicara.
"Kau ada di rumah sakit, apa kau tidak ingat kami?" mereka balik tanya pula.
"Kalian yg ada di supermart lalu?" jawab Ricky bernada rendah dengan menatap serius.
"Ya, kami yg sudah membawamu ke sini, sekarang kau sudah melewati masa kritismu! kami akan membantu memulihkan kodisimu lagi," turut bik Lis berbicara perlahan supaya Ricky mengerti.
"Kalian menolong saya? terimakasih krna kalian benar-benar orang yg baik," kata Ricky mencoba tersenyum krna bibirnya masih sedikit kaku.
"Harusnya saya yg berterimakasih padamu! karna kau sudah menolong saya dari wanita yg mencoba melukai saya," ungkap Belinda bungkuk sesekali krna merasa sangat senang dirinya sudah berbicara langsung pada Ricky.
"Tidak-tidak! andalah yg sudah membantu saya keluar dari masalah. itu sudah menjadi tanggung jawab saya menolong anda," seru Ricky tampak berusaha menggelengkan kepalanya.
"Tapi, apa kalian melihat paman saya? apa dia tidak datang menjenguk saya?" tanya Ricky sambil menatap ke arah pintu ruangan.
Paman?!! batin bik Lis juga Belinda bertanya dalam hati. seolah bingung yg dikatakan itu yg mana orangnya.
Belinda dan bik Lis saling berpandang mata krna bingung seketika Ricky mencari pamannya, sudah beberapa hari semenjak Ricky berada di rumah sakit belum ada seorang pun yg datang menjenguknya.
__ADS_1
.............
Bersambung...