Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
DOKTER VICTORIA


__ADS_3

🌻🌻🌻


3 bulan kemudian.


Keseharian keluarga Belinda dan Haikal begitu berjalan dengan baik, hari ke hari Haikal turut memperhatikan Belinda saja. begitu pula dengan Belinda selalu mencium punggung tangan Haikal sewaktu sang suami pulang dari kantor.


Haikal membangun kantor miliknya sendiri bersama sang istri, mereka namai Grand Cord. dari situlah penghasilan yg cukup besar didapatkan oleh Haikal dan Belinda.


mereka terus mendapatkan klien yg setia bekerjasama krna kegigihan suami istri itu.


Entah dari mana datangnya semangat Belinda dalam sistem urusan bisnis. Belinda benar-benar sangat bisa diandalkan oleh Haikal, dialah yg menjadi sekretaris pribadi Haikal tanpa memakai orang lain lagi. krna Haikal yakin kalau istrinya mampu dengan kinerja yg tak dapat Haikal duga sebelumnya.


...°°°...


Pukul setengah sembilan pagi di Inggris.


Tok Tok


Terdengar ketukan pintu dari luar kamar.


"Masuk saja bik, pintunya tidak bel kunci," sahut Belinda dari dalam kamar


Ceklek


Pintu terbuka setengah.


"Nyonya, apa sudah mau bersiap ke kantor?" tanya bik Lis di depan pintu.


"Iya bik, tapi... perut bel sekarang sedang tidak enak, entah kenapa akhir-akhir ini bel pusing," keluh Belinda masih duduk di meja rias kacanya.


"Apakah nyonya..." ucap bik Lis terhenti.


"Kenapa bik? bibik mau mengatakan apa pada bel?" tanya Belinda menoleh langsung terlihat bingung.


"Terakhir kali nyonya dapat menstru**i di tanggal berapa?" tanya bik Lis lagi, menganalisis firasatnya.


"Biasanya bel dapat menstru**i di tanggal 18, ini sudah lewat beberapa kali di tanggal itu," ungkap Belinda sambil berfikir keras.


"Apa saya perlu menemani nyonya ke dokter kandungan?" cakap bik Lis mulai merasakan akan datang kebahagiaan yg lainnya.


"Tidak bik, saya bisa pergi dengan Ren," geleng Belinda sembari bangkit dari kursinya.


GEDEBUG


Seketika Belinda pingsan tak sadarkan diri, membuat bik Lis terkejut bukan kepalang.


"Nyonya... nyonya bangun! nyonya, nyonya!" teriak bik Lis berusaha membangunkan Belinda yg sudah terbujur lemas.


Tidak memakai waktu lagi, bik Lis berusaha sekuat tenaga membopong tubuh Belinda ke atas kasurnya. akhirnya bik Lis berhasil meletakkan tubuh Belinda dengan perlahan.


Segera bik Lis menelepon Haikal memakai telpon yg sudah tersedia di dalam kamar. tidak hanya di dalam kamar saja bahkan ruang tamu sudah kian tersedia.


Tut Tut


Berkali-kali bik Lis menghubungi tapi tidak ada jawaban. bik Lis keringat dingin melihat keadaan Belinda yg kian belum sadar.


Dia pun mencoba sekali lagi, kalau tidak ada jawaban. dirinya lah yg akan berinisiatif untuk memanggil dokter kandungan untuk Belinda.


Tut Tut


Panggilan masih tidak di jawab oleh Haikal.

__ADS_1


"Tidak bisa begini, aku harus segera pergi ke dokter kandungan dan membawanya ke sini," tekad bik Lis langsung bergegas dengan berlari lebih cepat, bik Lis keluar dari rumah dan tidak lupa dirinya kembali mengunci pintu rumah.


Karena mereka belum lama menjadi penduduk sekitar itu, bik Lis belum banyak mengetahui keberadaan dokter kandungan.


Bik Lis merasa bingung entah kemana arah yg ingin dia tuju, sementara semua orng sibuk berlalu lalang tidak ada pejalan kaki.


Setapak demi setapak bik Lis berjalan dengan celingukan mengamati sekitaran jalan tampak wajah dipenuhi keringat.


Tibalah bik Lis di sebuah halte bus, dia melihat seorang lelaki muda dengan berpakaian rapi seperti ingin berangkat kerja. bik Lis berlari cepat menghampiri lelaki itu, mungkin saja sang lelaki tau dimana tempat yg ingin bik Lis tuju.


"Permisi tuan," sapa bik Lis dari belakang punggung.


"Ya. ada yg bisa saya bantu?" tanya lelaki itu setelah menoleh ke belakang.


"Saya ingin bertanya, apakah sekitar sini ada dokter kandungan?" tanya bik Lis berharap mendapat jawaban yg dia ingin.


"Oh, anda mencari dokter? mari saya tunjukkan, tapi..." ucapnya terhenti saat hendak melangkah lelaki itu melihat jam yg mengikat di tangannya.


"Apa tuan sedang terburu? biar saya tanyakan yg lain saja," bungkuk bik Lis merasa tidak enak.


"Ah, tidak-tidak! masih ada sekitar 15 menit lagi. mari saya antarkan," ajaknya dengan melangkah terlebih dulu.


Bik Lis hanya merasa tidak enak saja dengan lelaki itu, begitu baiknya dia mau menunjukkan langsung arah jalan tersebut.


Sekitar 5 menit telah berlalu dari halte bus menuju dokter kandungan.


Lelaki itu tanpa bik Lis ketahui dia selalu melihat jam di tangannya, karna dia tak ingin terlambat sampai ke tempat kerjanya.


DOKTER VICTORIA SPESIALIS KANDUNGAN.


Terpampang jelas pamplet nama didepan rumah mewah, bahkan sudah kian ada pak satpam yg menjaganya.


"Tunggu tuan," panggil bik Lis pula menghentikan langkah lelaki itu.


"Terimakasih tuan, sudah mau membantu saya menunjukkan arah jalan ke sini, kalau saya boleh tau nama tuan siapa? saya bukan mau berniat jahat, lain kali kalau kita bertemu saya bisa lebih tau saja," berulang kali bik Lis bungkuk supaya lelaki itu tidak salah mengerti maksud bik Lis.


"Saya Ricky, ibu tidak perlu berterimakasih pada saya. karna ini sudah kewajiban sesama manusia saling membantu," lontarnya dengan tersenyum tanpa adanya paksaan.


"Saya pamit dulu," sambungnya lagi bungkuk perlahan dan beranjak pergi dari tempatnya.


"Hati-hati tuan..." teriak bik Lis dengan keras.


Ricky melambaikan tangan dengan terus tersenyum menjawab teriakan bik Lis.


"Senyuman itu terasa tentram saat di lihat, tapi di dalam matanya sangat jelas menyimpan duka yg tak bisa ia lupakan," gumam bik Lis terus menatap ke arah Ricky.


Bik Lis tersadar dari lamunannya ketika Ricky hilang dari pandangan matanya.


"Oalah, aku sampai lupa. harusnya aku segera masuk ke dalam," gumam bik Lis menepuk jidatnya sendiri karna melupakan hal yg lebih penting.


Dia pun berjalan mendekati pak satpam yg sedang berdiri lengkap dengan atribut yg dipakai.


"Permisi pak, saya ingin bertemu dokter kandungan ini," tegur bik Lis pula membuat pak satpam langsung menoleh ke arah bik Lis.


"Apa anda sudah membuat janji terlebih dulu?" tanya satpam itu pula membuat bik Lis kebingungan.


"Janji apa pak?" balik bertnya sambil menggaruk kepalanya.


"Terlebih dulu harus membuat janji sebelum ingin bertemu dokter," perjelasnya pula supaya bik Lis mengerti.


"Oalah pak, saya tidak tahu kalau harus begitu. tapi saya tidak punya nomor telepon dokter itu, bagaimana saya membuat janji?" protes bik Lis pula.

__ADS_1


"Tetap saja tidak bisa bertemu kalau belum membuat janji terlebih dulu," ulangnya lagi.


"Tolonglah pak, saya juga penduduk baru di sekitar sini. nyonya saya sedang sakit, makanya saya mencari dengan bertanya pada orang lain," keluh bik Lis tampak bermohon untuk membiarkan dirinya bertemu sang dokter.


Karna tidak tega melihat reaksi bik Lis, akhirnya hati pak satpam terluluhkan juga. bik Lis berhasil membujuk pak satpam yg sedikit keras kepala itu.


"Baiklah, anda tunggu dulu di sini. saya akan kembali," titah pak satpam membuat bik Lis tampak senang.


"Baik pak," turut bik Lis mengangguk kepala.


Setalah pak satpam beranjak dari tempatnya meninggalkan bik Lis sendiri di depan pagar.


Sekian menit berlalu pak satpam kembali dengan membawa seorang dokter sekaligus pemilik rumah.


Begitu bahagianya bik Lis melihat sang dokter dan juga pak satpam yg berjalan ke arahnya.


"Selamat pagi bu dokter," bungkuk bik Lis dengan cepat.


"Selamat pagi juga. kenalkan, saya Victoria. apa ada yg bisa saya bantu?" ucapnya dengan memberi sebelah tangannya.


"Saya Lis," sambut bik Lis dengan menjabat tangan Victoria.


Setelah itu keduanya melepaskan jabatan tangan tersebut.


"Begini dokter, nyonya saya sekarang berada di rumah tidak sadarkan diri. saya menduga kalau nyonya saya sedang mengandung," ungkap bik Lis menjelaskan.


"Dari mana anda tau kalau majikan anda sedang mengandung?" bertnya lagi.


"Sebelum nyonya saya pingsan, kami sedang membicarakan terakhir kali dapat menstru**i dokter," perjelas bik Lis supaya Victoria lebih mengerti.


"Rumah anda dimana?" tanya Victoria mengamati sekitar rumahnya sendiri.


"Sepertinya tadi saya jalan lurus saja dari sini," tunjuk bik Lis pula.


"Anda berjalan kaki?" merasa tidak menduga begitu bersusah payah bik Lis sampai di rumah sang dokter.


Bik Lis anggukkan kepala tanpa berbicara.


"Anda ikut saya ke mobil, kita pergi sekarang," ajak Victoria melangkah masuk ke arah rumahnya.


Bik Lis mengikuti dari belakang Victoria, tak lupa juga ia mengucapkan terimakasih pada satpam yg sudah berhasil membujuk Victoria untuk bertemu dengan dirinya.


.............


Bersambung...


TERIMAKASIH YA KARNA KALIAN SELALU SETIA MENANTI UP NY KARYA EMAK🙏💕


MAAFKAN MAK KALAU BANYAK KATA YG SALAH DI SETIAP CERITA, 🙏🙏


KALIAN BISA MENAMBAHKAN KOMENTAR DIBAWAH INI 👇 SUPAYA MAK BISA MEMPERBAIKI UNTUK KEDEPANNYA🥰🤗 JADI LEBIH BAIK😁☺️


DUKUNG TERUS KARYA EMAK YA😍😘


JANGAN PERNAH BOSAN DENGAN CERITA HALU YG MAK BUAT😂🤭


SELAMAT MENIKMATI CERITANYA PARA PEMBACA MAK YG TERSAYANG ❤️❤️


...LIKE,KOMEN,VOTE,GIFT...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2