Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
KATA HATI


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Suasana riuh dalam restoran.


"Cepat lah dikit! lama kali kau jalan, udah macem Ciput aja!" senggak Leo merasa sebal.


"Diam kau kerdil. tak perlu kau menarik tanganku lagi," gerutu Gisele melepas keras tangannya.


"Terserahmu saja!" ketus Leo cuek meraih kembali tangan Gisele.


Setelah keributan berlalu sampailah ditempat meja mereka.


"Om, Tante..." sapa Leo dari balik punggung para petuah yg sedang asyik ngobrol.


"Apa kau bisa melepaskan tanganku? atau kepalamu yg akan kulepaskan!" bentak gisele membisik ketelinga Leo menggertakkan giginya.


Leo yg tadinya tidak terlalu peduli sekarang malah melepaskan tangan Gisele krna dia tak mau kehilangan kepalanya oleh wanita gila seperti Gisele itu.


"Kalian dari mana saja?" tanya Ibu Rianti tersenyum lebar.


"Dari mana lagi, pasti membicarakan kelangsungan hubungan mereka lah jeng..." timpal tante norak.


"Om,Tante! ibu dan ayah. kami menyetujui perjodohan ini," ujar Leo dengan tegas sehingga mengejutkan para petuahnya.


"Waah.... itu bagus dong sayang?" girang tante norak alias Ibu Winda.


"Kalau begini ikatan keluarga kita jadi makin erat kan jeng?" timpalnya pula.


"Iya... senang sekali mendengar keputusan kalian," hikmad Ibu Rianti terlihat wajah yg berseri.


"Giliranmu bicara! cepat," titah Leo berbisik ditelinga Gisele.


"Tapi,,," singkat Gisele terhenti.


"Kenapa Gisele?" sahut tante norak.


"Om,Tante! kami masih kuliah, jadi perjodohan ini ditunda saja dulu sampai kami lulus kuliah," tuturnya menjelaskan tidak berani menatap sang ayah.


"Kalian bisa tunangan dulu, kan?" balas tante norak pula.


"Benar itu! tunangan tidak akan menggangu kuliah kalian, setelah kalian tamat kita bicarakan kelangsungan pernikahan kalian," timpal ayah Leo membuka bicara.


"Bagaimana Roy? apa kau setuju dengan usulanku?" timpalnya lagi bernego pada ayah Gisele.


"Ya... kau benar Theo? itu usulan yg bagus," menjawab dengan cepat tidak meminta keputusan Gisele terlebih dulu.


"Tidak!" sarkas Gisele melotot pada sang ayah.


"Gisele! jngan kau berani menyela perkataan orang tua!" bentak sang ayah pada Gisele.


Tak berapa lama Leo angkat bicara.


"Kami butuh waktu Bu..." protesnya menatap Ibu Winda.


"Kalau kalian tunangan, pasti hubungan kalian semakin dekat..." jawab tante norak pada Leo meyakinkan.


"Tapi - "


"Tidak ada tapi-tapian Leo! ini sudah keputusan kami..." sambung Tante norak menyela Leo yg belum selesai bicara.


"Bagaimana jeng? apa ucapanku benar?" seru tante norak dengan menggenggam kedua tangan Ibu Rianti.


Apa yg harus kujawab? aku melihat sorot mata gisele sepertinya dia akan mengamuk kalau sudah dirumah nanti, sudahlah aku bisa memberi pengertian padanya dirumah!! batin Ibu Rianti bagai buah simalakama.


"I- iya... kau benar jeng," terpaksa memberikan senyuman pada tante norak.


"Baiklah kalau begitu kapan tanggal yg pas untuk me- "


"Bu! aku mau pulang. badanku rasanya tidak enak!" celetuk Gisele menyela tante norak yg belum selesai bicara.


"Kau sakit gisele?" tanya tante norak terlihat khawatir.


"Sedikit," pekiknya singkat.

__ADS_1


"Leo.... kau antarkan gisele pulang sana," titah tante norak memegang lengan Leo.


"Tidak perlu!"


"Gisel!" bentak ayah roy.


Sementara itu Gisele tidak berkutik lagi.


"Baiklah Bu." Leo melirik Gisele yg sudah mengeluarkan asap dari telinganya.


hiiihh... serem banget wanita gila ini kalau lagi marah!!! batin Leo merasa merinding.


"Permisi semua," bergegas pergi tanpa melihat orangtuanya lagi.


"Om, Tante... saya antar Gisele pulang dulu," ingin bergerak mengejar Gisele yg sudah menghilang deluan.


"Kalian hati-hati dijalan..." teriak tante norak pada keduanya.


Pembicaraan dilanjutkan dengan menetapkan tanggal pertunangan yg baik bagi gisele dan juga Leo.


...***...


"Maaf Bu. Rei kelamaan ditoilet," sapa Rei yg baru saja kembali membersihkan gaunnya.


"Apa gaunmu kotor nak?" tanya Ibu Maria memegang gaun yg terkena tumpahan wine.


"Tidak Bu? sudah Rei bersihkan," sahutnya meraih tangan Ibu Maria dengan lembut.


Apa yg salah dengan mataku ini? kenapa aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menatapnya!! batinnya mengamati wajah Rei berbincang pada Ibu Maria.


"Tristan... kenapa kau melamun?" sapa Rei melirik Tristan yg tidak berkedip sedari dia kembali.


"Ah! ti- tidak ada Rei.... kau duduklah," pintanya dengan mengalihkan wajah.


Kelamahan dari sikap Tristan ialah melihat paras yg dipantulkan oleh Rei, sehingga dia tidak bisa bertahan kalau terus menatap wajahnya sedetik saja.



Tertulis sudah diwajahmu kalau kau sedang mengalihkan pandanganmu Tristan!! hihihi... Tristan terlihat lucu sekali ya?! batinnya menahan senyum.


"A- apa yg kau lihat Rei? apa kau sedang tertawa?" serunya dengan gugup.


"Tidak.... aku tidak tertawa," timpal Rei sengaja tak jujur padanya.


Oh iya kalung!! batinnya sembari merogoh kotak kalung disaku celana.


Ting. new message.


*Tristan*


Bu, apa kalungnya aku berikan sekarang saja?


Ibu maria membuka layar ponsel krna terdengar suara bunyi pesan.


Sang ibu hanya menggelengkan kepala melihat pesan anaknya itu, dan dia segera membalas pesan dari Tristan secepat mungkin.


Ting. new message.


*ibu*


Apa kau anak kecil nak?! kau bertanya pada ibu yg sudah tua ini?? dengarkan kata hatimu saja!!


Begitu juga dengan Tristan bergegas membuka pesan yg dikirim ibunya itu sehingga dia sudah mengerti maksud dari pesan yg tersirat itu.


Apa mereka saling berkirim pesan? kenapa mereka memegang ponsel secara bersamaan? aneh!! batin Rei memperhatikan keduanya.


Tristan sejenak terdiam seketika membaca pesan ibunya. namun, dia memejamkan matanya untuk memantapkan hati agar bisa memberikan kalung itu pada Rei secepat mungkin.


"Tristan... apa kau sedang sakit?" tanya Rei karna melihat Tristan memejam matanya.


"Tidak Rei.... mataku sedikit perih saja,"


kelabakan mencari alasan yg tepat.

__ADS_1


"Apa benar perih? sini coba aku lihat?" tanpa sadar berdiri menghampiri Tristan yg sedang duduk disebelahnya.


Rei memegang mata Tristan dengan lembut sambil memperhatikan disebelah mata yg dia katakan perih.


Fuuu... Fuuu


Tanpa keraguan Rei menghembuskan nafasnya perlahan pada mata Tristan berulang kali.


JLEEEPPP


Dak,Dig,Dug


*A*lamak!!! kau sekarang menyiksaku Rei... bukan malah membuat mataku sembuh!!! batin Tristan gerutu dengan jantung berdetak sangat hebat.


Pfftt.. Ibu Maria menahan tawanya melihat ekspresi Tristan seperti kesetrum.


Alasan yg dibuat Tristan membuat ibu Maria tersenyum bahagia memperhatikan pandangan yg sangat indah didepan mata sayang baginya untuk melewatkan momen itu, sehingga dia memotret melalui ponsel pintarnya.


Kalian buat jantung ibu meleyot!!! gak kuat ibu melihat kedekatan kalian?! batin Ibu Maria melihat hasil jepretannya.


Setelah Rei berhenti menghembuskan nafasnya, dia kembali meregangkan tubuhnya dengan berdiri mengamati wajah Tristan. sehingga dia melihat Tristan sudah menatap dirinya sangat tajam seperti pertama kali dia bertemu dengannya.


Sinis amat!! Apa yg salah ??? batin Rei mengamati.


"Tristan. apa matamu sudah tidak perih lagi?" tanya Rei terlihat biasa saja.


Berbeda untuk Tristan yg masih terdiam tak mendengar Rei memanggilnya, sungguh pesona Rei meruntuhkan jiwanya yg hampir sedikit lagi akan pingsan seketika karna Rei dekat sekali dengan tubuhnya, kalau saja tidak dia tahan gejolak itu. mungkin Rei akan habis diganyangin oleh Tristan.


"Tristan?" mengulang sekali lagi.


"Nak... kau kembali duduk saja! biar ibu yg menyadarkan anak ini," menarik tangan Rei perlahan.


Buugh


Suara senggolan kaki untuk menyadarkan Tristan yg sedari tadi tidak berkutik apalagi tidak menyahut panggilan dari rei.


"Ah. i- iya! kenapa Bu?" kelabakan dengan wajah yg terlihat memerah.


"Kau sakit mata?" sarkas Ibu Maria pula.


"Sudah baikan Bu," mengalihkan pandangannya.


Dapat piala Oscar kau nak!!! hahah.... batin Ibu Maria dengan gelak tawanya.


Karna Tristan sudah tidak sakit mata lagi, Rei pun merasa lega sudah sedikit membantu sebisanya pada sahabatnya itu. tidak bnyak yg bisa dilakukan oleh Rei untuk membalas kebaikan Tristan padanya. namun, sebisanya dia akan selalu ada disaat Tristan butuh bantuan apapun itu asalkan Tristan bahagia.


*A*ku berjanji akan selalu memperlakukan mu dengan baik,karna kau juga telah melakukan begitu banyak hal untukku!! batin Rei tersenyum dibalik lamunannya.


"Rei... apa kau bisa menutup matamu sebentar?" titahnya memecah lamunan Rei.


"Untuk apa?" seru Rei tersadar kembali.


"Hadiah ketiga," tersenyum dengan mengedipkan sebelah mata.


"Lagi?" tanyabRei tak percaya masih ada hadiah yg datang menghampirinya beruntun.


*A*ku seperti mendapatkan begitu bnyak lotre!! apa ini rasanya dapat lotre?! batin Rei semriwing.


Akhirnya Rei mengikuti perintah dari Tristan, dengan cepat Tristan merogoh sakunya untuk meraih kotak kalung yg sudah dia beli lusa pada ibunya, dan bergegas mendekati Rei dengan berdiri tepat dibelakang Rei membungkukkan sedikit badannya.


Ibu Maria hanya menjadi penonton setia dari keromantisan mereka. sehingga terlihatlah wajah ibu secerah embun pagi krna setiap hal yg dilakukan anaknya membuat hatinya terharu dengan keberanian Tristan untuk mendapatkan cinta Rei untuknya.


Tak berapa lama Tristan dengan teliti memasangkan kalungnya tepat di leher Rei tanpa diketahui oleh Rei kehadiran Tristan yg sudah ada dibelakangnya saat itu.


Kau CANTIK !! bisik tristan ditelinga Rei terdengar hembusan nafasnya.


.............


Bersambung....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA 🀭 😚


😍πŸ₯°MAMAK SAYANG KALIAN SEMUA😁

__ADS_1


__ADS_2