
ππππ
Toko Flowriest terkenal.
"Tristan.... kamu kenapa berhenti disini? bukankah ini toko bunga tempat langganan ibu?" tanya sang Ibu melirik Tristan sedang sibuk keluar dari mobil.
"Ibu tunggu dimobil saja! Ada sesuatu yg ingin aku beli Bu," ujar Tristan membuka salt belt.
"Apa perlu ibu temani?" serunya pula.
"Tidak Bu. aku masuk sendiri saja," ujarnya pula.
"Bukannya lusa kita sudah membeli kado untuk Rei?" timpal Ibu terlihat heran.
"Masih belum cukup Bu... bila perlu aku ingin membeli seluruh isi dunia ini untuk Rei," mata Tristan menyala seakan ingin membenarkan perkataanya.
"Kamu ini ya...." seloroh Ibu gemas pada Tristan sambil menyubit hidungnya.
"Baiklah Bu, aku tidak akan lama! sebentar ya Bu...." seru Tristan tersenyum dengan bergegas membuka pintu mobil.
Ibu Rianti menatap punggung Tristan dengan mata berbinar seakan tak percaya dengan kenyataan yg sedang dilihatnya saat ini, dia melihat sosok Tristan sudah sangat berubah semenjak berkenalan dengan seorang gadis bernama Rei apalagi itu adalah teman masa kecilnya, semakin bertambah kebahagiaan yg dimiliki oleh Tristan.
Setelah berada didalam toko.
"Permisi tuan... apa ada yg tuan inginkan?"
sapa seorang wanita muda pegawai toko bunga.
"Saya ingin mencari sebuah bunga yg tidak akan pernah layu. apakah ada disini?" bertanya sambil mengamati seluruh pekarangan bunga.
"Tentu ada tuan? kami juga membuat bunga seperti itu. mungkin yg tuan maksud adalah bunga Abadi," timpalnya menjelaskan.
"Baiklah! bisa perlihatkan pada saya bunga itu?" pintanya pula terlihat tak sabar.
"Baik tuan... saya akan segera kembali," ucap pegawai toko segera melangkah pergi.
Bunga "abadi" . beo tristan.
Beberapa menit sudah berlalu, namun pegawai toko belum juga kembali. Tristan berulang kali melihat jam yg melekat ditangannya. waktu yg sudah dijanjikannya pada Rei tidak bnyak lagi makanya dia sedikit panik.
*A*pa bunga itu mereka cari digunung?! yg benar saja selama itu!!! atau memang benar mereka pergi kesana!!! ah... tidak,tidak!! mungkin saja memang sulit membuat bunganya. gumam tristan ngedumel heboh sendiri.
Sekian menit berlalu.
"Permisi tuan.... maaf telah membuat tuan menunggu! saya sudah membawakan buket bunga yg tuan maksud," kehadiran pegawai toko memecah kepanikan Tristan sembari memberikan langsung ke tangan Tristan.
"Ah. iya! tidak masalah," seru Tristan mengambil buket itu.
"Terlihat sangat indah," ujarnya fokus pada keindahan bunga.
"Apa bunga ini memiliki nama?" tanya Tristan masih belum terlepas dari pandangannya.
"Dikatakan bunga Edelweiss tuan, bunga edelweiss tidak akan pernah mati sampai kapanpun! bunga sejenis ini susah untuk didapatkan tuan... bunga yg terletak dipegunungan Alpen Swiss. keunikan bunga ini tidak boleh terkena sinar matahari, bunga ini juga harus dijaga dalam ruangan yg dingin," pegawai toko menjelaskan pada Tristan agar dirinya mengerti.
"Sangat menakjubkan," hikmadnya pula sehingga terbuang sudah kekhawatirannya sedari tadi.
"Terimakasih tuan atas pujian anda..." timpal pegawai itu membungkukkan badan.
"Tapi.... mengapa kau bisa tau aku mencari bunga yg seperti ini," ucapnya terheran.
__ADS_1
"Dari cara tuan mengatakan bunga abadi" saya sudah bisa pahami. bunga abadi ditujukan hanya untuk orang yg mereka kasihi," berusaha menjawab dengan penglihatannya.
"Baiklah.... kau benar," sarkas Tristan membenarkan ucapan pegawai itu.
"Baik tuan! sekarang tuan sudah bisa memberikan beberapa kata dikertas yg sudah saya sediakan ini, silahkan tuan..." pintanya dengan sopan.
"Ini penanya tuan... sekarang saya ingin pamit dulu! tuan bisa panggil saya kembali," mengangguk kepala pelan pamit pergi.
"Baik. terimakasih," ujar Tristan sedang memegang penanya.
Apa yg mau aku tulis ya?! hmm.... batinnya tampak mencari sebuah ide.
Saat Tristan memejamkan mata yg terlintas oleh pikirannya saat ini hanyalah sosok wajah Rei, sehingga mempunyai sebuah ide cemerlang masuk kedalam hatinya.
Dia terus menuliskan kata indah sesuai dengan isi hatinya, apalagi sudah tampak jelas diwajah Tristan yg sangat puas karna bisa memberikan sesuatu yg tidak mudah untuk dilupakan oleh Rei.
Pada saat untaian kata sudah selesai ditulis.
"Permisi nona...." panggilan Tristan pada pegawai toko.
"Iya tuan? ada yg bisa saya bantu?" sahut pegawai toko menghampiri Tristan cepat.
"Saya sudah selesai, segera siapkan semuanya! waktu saya tidak bnyak lagi," titahnya dengan menyerahkan sebuah kertas yg sudah tertulis beberapa kata.
"Baik tuan! akan secepatnya saya siapkan," pegawai toko meraih kertas dan bergegas mempersiapkan pesanan Tristan.
Dan Tak lupa juga Tristan bergerak untuk menuju kasir, menyelesaikan pembayaran pesanannya.
"Tuan... kertasnya sudah saya masukkan kedalam kotak ini. semoga tuan puas dengan pelayanan kami, terimakasih...." membungkukkan badan menyerahkan buket bunga itu pada Tristan.
Tristan melangkahkan kakinya dengan cepat untuk sampai kedalam mobil karna waktunya sudah sangat mepet, apalagi jarak toko bunga kearah restauran membutuhkan waktu 10 menit. setidaknya dia harus bergerak lebih cepat lagi krna dia tidak ingin Rei terlalu lama menunggunya.
Bam... suara pintu mobil.
"Bu. Maaf! membuat ibu menunggu," timpalnya bergegas memasang salt belt.
"Tidak... ibu tetap menunggu selama apapun itu," bibir Ibu Rianti melengkung membentuk senyuman.
"Makasih Bu..." seru Tristan yg membalasnya dengan senyum bahagia sambil melajukan mobil.
"Kau membeli apa untuknya?" tanya sang ibu terlihat penasaran.
"Ada dikursi belakang Bu," ujar Tristan fokus menyetir.
"Dari bungkus depannya saja sudah sangat cantik! apalagi isi dalamnya pasti indah," mata ibu rianti berbinar melihat bungkusan yg dibawa Tristan.
"Pasti calon mantu ibu sangat senang saat menerimanya," antusiasnya sudah tidak sabaran melihat reaksi Rei didepannya.
"Calon mantu? apa itu Bu?" tanya Tristan mengernyitkan dahi.
"Calon menantu ibu," menjelaskan perkataannya.
Wajah sedingin es itu berubah seketika menjadi merah merona setelah apa yg dikatakan ibunya. sudah tampak jelas sekali bahwa Tristan tersipu malu, apalagi sang ibu mengatakan bahwa Rei adalah calon menantunya. gimana tidak bahagia disaat dia sedang berjuang untuk mendapatkan cinta Rei malah sang ibu menerimanya dengan tangan terbuka.
"Kau kenapa nak? wajahmu memerah," tanya Ibu Maria panik mengira Tristan sedang sakit.
"Tidak Bu? aku baik-baik saja," sarkasnya mengalihkan pandangan dari wajah sang Ibu.
__ADS_1
Hehe.. Apa dia sedang malu?! batin Ibu Maria terkekeh.
Tristan masih dengan wajah malunya tak bisa lagi berkata apapun, krna dia tak ingin menunjukkan pada sang ibu bahwa dirinya sudah gugup sekali, bisa terhitung persekian detik akan bertemu dengan pujaan hatinya. namun dirinya tetap tenang dan fokus dalam melajukan mobil.
...***...
Setelah sampai diparkiran restoran.
"Bu... kita sudah sampai," seru Tristan sedang memarkirkan mobilnya.
"Ini bukankah restauran yg terkenal itu?"
riuh Ibu Maria celingukan melihat mewahnya area depan gedung restauran.
Tadi toko bunga terkenal, sekarang restoran terkenal. kau hebat nak!!! jauh berbeda dengan ayahmu!! batin Ibu mengumpat sang suami.
"Iya Bu... aku ingin ibu dan rei nyaman berada disini," ujar Tristan lagi sambil membuka salt beltnya.
"Kau terlihat seperti pakarnya saja," seloroh Ibu Maria terheran melihat perkataan Tristan padanya.
Tidak memakan waktu banyak Mereka pun turun dari dalam mobil melangkah masuk dengan bergandeng tangan, terdengar riuh kata sambutan dari beberapa orang lelaki maupun perempuan membungkuk dengan memberi hormat.
"Selamat datang.... Selamat menikmati hidangan kami...." secara kompak masih membungkuk.
Tristan dan ibu manggut membalasnya dengan menundukkan kepala perlahan.
Beberapa saat setelah memasuki area restoran.
Rei termenung duduk sendirian ditempat yg sudah direservasi oleh Tristan, tetapi malah yg memesan tempat itu belum juga datang membuat wajah Rei tampak terlihat cemberut karna Tristan melewati batas waktu yg dijanjikannya.
"Apa aku hubungi saja ya? ah! tidak,tidak! nanti Tristan tau kalau aku sedang mencemaskannya," gumam Rei coba berusaha mengulurkan niatnya.
"Nona... maaf! karna sudah lama menunggu," sapa pelayan restoran membuat lamunan Rei berhenti sejenak.
"Iya... tidak masalah," timpalnya pula terlihat celingukan.
"Silahkan nikmati hidangan appetizer anda nona..." menyuguhkan beberapa canape dan juga sandwich dimeja Rei.
"Baik. terimakasih..." seru Rei menjawab pelayan restoran dengan ramah.
Appetizer (makanan pembuka) biasanya disajikan dengan porsi yg lebih kecil sebelum waktu makan.
Wajah yg semakin cemberut krna Tristan juga belum kelihatan sama sekali, dia tak ingin memakan hidangan itu sendiri tanpa seorangpun disampingnya.
Dari jarak yg terbilang tidak terlalu jauh, namun pandangan mata Tristan sudah melebar melihat sosok Rei yg tengah duduk seorang diri dengan rambut yg panjang terurai dan juga memakai gaun berwarna putih.
Sungguh indah ciptaanmu tuhan.... batinnya terpesona seketika terhenti sejenak.
"Tristan! kenapa kamu berhenti? mana mantu ibu! apa dia belum datang?" tanya Ibu maria panik sambil celingukan.
Tristan tak mendengar sang ibu yg sedang bertanya. dia pun melanjutkan langkahnya perlahan dengan wajah yg tertunduk rasanya dia sudah tidak sanggup lagi menatap perawakan Rei yg sangat cantik. hanya dengan tertunduk seperti itu kemungkinan dirinya bisa lebih terkontrol lagi agar tidak terlihat memalukan.
Takkan ku biarkan para lelaki melihat kecantikan Rei. kalau saja terlihat olehku, akan ku cabut bola mata mereka satu persatu!!! aku saja yg melihatnya sudah bereaksi begini?! apalagi yg lain!!! batinnya ngomel sendiri yg terus melangkah menahan gugup.
....................
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YAππ€
__ADS_1
π₯°πMAMAK SAYANG KALIAN π₯Ίβ€οΈ