Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
PENJELASAN


__ADS_3

☘️☘️☘️☘️


Malam sunyi disebuah rumah mewah


Tok tok


"Rei... kamu didalam nak?" panggilan ayah Haikal sembari mengetuk pintu kamar.


HENING


*T*ok tok


Ketukan kedua kali.


"Rei.... kamu sudah tidur ya?" timpalnya pula kembali bertnya.


Namun sahutan itu tak kunjung terdengar oleh sang ayah, dia masih menunggu didepan pintu berharap Rei memberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan kronologi cerita yg dialaminya.


Karna mendengar ketukan pintu kamar dari luar, Rei menarik nafas dalam membuangnya perlahan dari hidung terasa seperti terdampar ditengah ombak kehilangan arah. dirinya masih belum bisa menerima kenyataan jikalau ada seorang wanita untuk menggantikan posisi sang ibu dirumahnya.


Namun apalah daya tidak bisa berbuat banyak apalagi pemikiran dia dan ayahnya sudah pasti berbeda, dalam sejenak dia berfikir atas nasihat bik lis padanya.


*A*pa benar ayh mementingkan kebahagiaanku. pekik Rei sangat kacau.


Beberapa menit berlalu.


Ceklek,,,, pintu terbuka lebar.


Saat Rei membuka pintu terpaksa dia memalsukan senyumnya dihadapan sang ayah, walau hanya setengah yg dia berikan setidaknya kelemahan itu tidak terlihat sedikitpun. tetap berusaha bertahan sekuatnya agar tidak meneteskan air mata.


"Ayah boleh masuk nak?" pintanya mengelus kepala Rei mata berkaca.


Dia lebih mengerti kenapa anaknya bersikap dingin terhadapnya karna dia juga tidak ada maksud untuk membuat anaknya menjadi jauh darinya. dia hanya ingin memberikan kebahagiaan pada Rei agar Rei bisa merasakan kasih sayang seorang ibu kembali, remuk hati seorang ayah bila seorang anak yg selalu dia rawat membatasi diri darinya.


*A*yah sayang sama kamu nak.. pada saatnya kau akan mengerti apa maksud dari perbuatan ayah ini.. batin ayah menahan tangis.


"Boleh yah! masuk aja," ketus Rei pula.


"Duduk yah," terlihat cuek.


*Ya Tuhan... apa aku telah membuat putriku menderita? bagaimana bisa wajahnya t***ampak pucat Pasih begini... batin ayah meringis.


"Rei... apa kamu tidak makan dengan baik? wajahmu sedikit kurusan nak," seru ayah menatap hangat.


"Rei makan dengan baik yah! ayh gausah memikirkan keadaan Rei... Rei bisa jaga diri dengan baik," celetuknya menoleh keluar jendela.


Jelas saja sang ayah terkejut mendengar perkataan yg begitu menusuk hatinya, tak pernah sekalipun Rei mengatakan hal yg menyakiti perasaannya. namun, sekarang berbeda sekali apalagi cara Rei menatap tajam dirinya seolah tiada harapan untuk berbaikan kembali seperti semula.


"Apa kamu sebenci itu dengan ayah Rei?" sarkasnya air mata tak bisa dibendung lagi.


Tanpa menjawab dia hanya berdiam diri mendengar pertanyaan sang ayah, masih saja mendongak menatap langit malam seperti orang yg putus asa.


"Yah," singkat Rei cuek.


"Apa ayh kesepian?" tanya Rei blak-blakan.


"Nak... ayh lakukan ini untuk kamu Rei? Tidak ada yg membuat ayah kesepian," menjawab dengan gemetaran dimulutnya.


"Rei mengerti apa yg ayh maksud," kembali menatap langit.


"Rei... ayh ingin jujur padamu," meraih jemari tangan Rei.


*A*ku harus mengatakannya sekarang! karna ini sudah tidak bisa lagi aku rahasiakan, Rei satu-satunya anakku tidak ada lagi yg bisa mewariskan harta ku selain Rei. batin ayah memantapkan hatinya.


Diam tanpa suara.

__ADS_1


"Kenapa ayh terdiam! apa yg ingin coba ayh katakan pada Rei," cetusnya berwajah datar.


"Rei. A- ayah sudah menikahi wanita yg sempat bersama ayah dulu," ujarnya tertunduk malu.


JGEEERRR


Terdengar suara kilatan petir dahsyat dari langit pertanda akan turunnya hujan lebat, membuat Kilauan cahaya petir sekilas masuk kedalam kamar Rei. sejak Dulu Rei sangat takut bila ada suara petir sehingga dirinya seketika memeluk erat sang ayah. namun, saat ini dia hanya berdiam diri tanpa adanya rasa takut malah kalau bisa dia mati disambar petir saat itu juga mendengar pengakuan sang ayah.


Wajahnya terlihat memucat, mengerutkan kening, sudut matanya berkerut,darah mendesir merangkak naik diwajahnya, bahkan bibirnya sudah bergetar hebat menahan air mata yg mungkin akan jatuh sederas hujan, sungguh hatinya saat ini rapuh serapuh kerupuk jangek.


Rasanya aku ingin menangis sekuat tenaga!! tuhan... kuatkan hatiku untuk menerima semuanya... batinnya meringis.


Sudah jelas dirinya meneteskan air mata dan tidak berpaling sedetikpun dari tatapan tajam yg dia lontarkan pada sang ayah. sungguh menakutkan bagai menonton film horor.


Hening tidak bergeming.


"Apa ayah masih menganggap Rei seorang anak?" pekiknya mengalihkan wajah.


"Rei.... maafkan ayah nak? ayh baru bisa ngomong sekarang! kejadian itu sedari kamu berumur 15 tahun. kau pasti sudah tak ingat lagi... ayh juga membawamu kepernikahan ayah," mengelus lembut punggung tangan Rei terlihat gemetaran.


"Kenapa ayah menikahinya!" celetuk Rei menyeka air mata.


"Dulu ayh menikahinya karna dia sangat menderita Rei... dia mengadukan semua perbuatan suaminya pada ayah! ayh gak tega melihat wanita yg diperlakukan kasar oleh seorang lelaki," memberi penjelasan agar Rei mengerti.


"Sekarang dimana wanita itu! kenapa ayh tak pernh membawanya kehadapan Rei," wajah datar terlihat cuek.


"Ayah harus memberi tahumu dulu, sebelum ayh membawanya Rei..." tetap memegang jemari tangan Rei walau gemetar.


"Jika itu sudah jadi pilihan ayah, Rei sudah tidak bisa berkeras lagi untuk menghalanginya," menyeka sisa air mata yg keluar.


"Sekarang Rei sudah lelah yah! Rei ingin istirahat," sarkasnya mengusir secara halus.


Rei maafkan ayahmu nak... ayah memang salah sudah tak memberi tahumu sejak awal. batin sang ayah tertunduk sedih.


"Baiklah... ayh akan keluar, maafkan perbuatan ayah yg sudah membuatmu tak nyaman Rei," timpal ayah pula.


Rei sama sekali tak menggubris perkataan ayahnya itu, dia juga tidak melihat pergerakan ayah keluar dari kamarnya. dirinya masih membeku dalam mentap langit seolah merasakan air hujan yg turun sangat deras membasahi tubuhnya


Pada saat ayah berlalu pergi.


BRAAKKK,,,, bantingan pintu sekeras mungkin.


AAAAAAA.........


Sekencang mungkin Rei berteriak mengeluarkan seluruh tenaganya yg tidak bisa tertahankan lagi, begitu terasa sesak baginya menerima kenyataan yg akan mulai dia hadapi kedepannya.


Hikkss... Tuhan... engkau kekuatanku, beri aku ketahanan seperti banteng yg tak akan pernh terjatuh... Merengek dalam batinnya.


Air mata terus mengalir membanjiri pipinya maupun suara isak tangis yg teramat dalam dirasakannya saat ini tak mampu untuk dikendalikan lagi.


............


☘️☘️☘️☘️


Suasana kamar lain.


"Apa yg kau lihat diluar jendela Tristan," ujar Rian sedang menyenderkan tubuhnya disofa kamar Tristan.


"Sedang berfikir," seru Tristan.


"Kau punya fikiran?" tuduh Rian menyatukan jari jemari tangannya.


"Apa yg kau maksud!" terlihat jengkel berdiri berkacak pinggang.


"Tak ada! karna kulihat dari tadi kau hanya mondar mandir gak jelas," ucap Rian sambil menahan tawa.

__ADS_1


"Ah! sudahlah," cuek Tristan pula.


"Apa kau memikirkan gadis kecil itu?" selidik Rian sengaja.


"Dia gadis kecilku! jngn sesekali kau panggil dia dengan nama itu, ngerti kau!" Matanya menyala seperti kobaran api.


"Ciihh. Dia hanya wanita polos! tak pantas kau bersanding dengannya," cibirnya menyeringai.


"Aku tak pantas! lalu... apa kau yg pantas?" protesnya tampak rahang menegang.


"Aku tak selera dengan wanita polos!" sangat blak-blakan.


"Kau! jngan melebihi batas mu, dan jangan kau buat aku hilang kesabaran!" teriak Tristan mengepalkan tangan sekuat mungkin.


"Lagian aku tak habis fikir padamu! segila itu kau padanya," terdengar santai menekan pelipis matanya.


"Aku tak gila! aku masih waras," sarkasnya menyilangkan tangan kedada.


"Tapi... memang aku sudah dibuat gila oleh gadis kecil itu," melanjutkan perkataannya menoleh keluar jendela matanya berbinar mengingat wajah Rei.


"Sudahlah! aku capek melawanmu. sungguh aku menyerah dengan orang tak waras sepertimu!" umpatnya bergeleng kepala sambil menyeringai.


"Sudah kubilang, aku waras! kau tak mengerti juga?" gerutu Tristan serasa ingin menghabisi Rian dalam sekejap.


"Baiklah! sudah cukup," sarkasnya pula.


*S*abar.sabar! Rian.... kalau tidak kau akan jadi perkedel ditangannya. batin Rian ngedumel.


"Apa yg membuat mu segelisah ini," menyambung perbincangan terlebih dulu.


"Hah! Kalau aku memberi tahumu, percuma! kau tak kan paham," mengolok Rian memberi balasan krna sudah berani membuatnya jengkel.


"Mana aku tau! kalau kau belum katakan apapun," mengerucutkan bibir merasa tak terima.


"Apa kau punya kekasih?" sindir Tristan menatapnya dingin.


"Ti- tidak ada... tapi, wawasanku lebih luas! tidak kolot seperti mu," saling membalas tak ingin terkalahkan.


"Oke! katakan padaku, hadiah apa yg bagus untuk wanita," timpalnya menatap tajam.


"Ya..... seperti bunga,baju,sepatu! masih banyak yg lain tak bisa ku sebutkan satu persatu," ujarnya pula dengan bangga.


"Itu saja yg kau tau? hahaha..." gelak tawa berdiri berkacak pinggang.


"Kupikir wawasanmu tak serendah itu! ternyata dangkal," cerocosnya menyeringai memicingkan sebelah mata.


"Keterlaluan kau! Baiklah kalau tidak begini. berikan saja dia sesuatu yg berhgarga dari hidupmu," sarkasnya pula.


Masih tidak terima dikalahkan, Rian terus mencari ide agar Tristan tak mencemo'ohnya lagi.


"Memberikan sesuatu yg berharga," beo tristan kembali.


"Ya."


"Bagus juga idemu! tak sia-sia kau jadi dokter selama ini," seloroh tristan blak-blakan.


Tristan Menyentuh hidungnya sendiri karna merasa puas sudah memberikan pelajaran pada Rian akibat membuatnya marah.


*H*ahahah.... batin Tristan terkekeh.


*A*pa yg dipikirkan anak breng*** ini?! pasti dia sedang memakiku didalam otaknya!!! batin rian ngomel.


.................


Bersambung...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA🤭😚


🥰😍MAMAK SAYANG KALIAN🥺❤️


__ADS_2