
☘️☘️☘️☘️
Penjara besar Hongkong.
"Apakah ini tempatnya?" tanya Maria pada Belinda.
"Dari pengakuan orang sekitar rumah bik Lis, memang ini tempatnya," jawab Belinda celingukan melihat tingginya gedung penjara itu.
"Lis, aku tidak ingin kau berdekatan dengan lelaki keji itu! aku harap kau berada terus dengan Belinda, biar aku yg berbicara padanya," titah Maria terdengar tegas.
"Baik nyonya," patuh bik Lis pula.
Sedari awal, Maria hanya ingin bertemu dengan lelaki itu sendirian. tetapi, Belinda dan bik Lis memaksa untuk ikut agar mereka bisa tenang menemani Maria yg hanya seorang diri. Maria hanya bergeleng kepala karena mereka menganggap Maria wanita yg mudah di lukai.
Haikal dan Erlando sibuk mengurus segala hal untuk kepindahan mereka ke negara lain. jadi, para lelaki tidak bisa menemani sampai ke dalam penjara. hanya di turunkan depan pekarangan saja. setelah itu Haikal dan Erlando kembali pergi bersama Tristan juga.
Langkah kaki Maria beserta bik Lis dan Belinda masuk ke dalam penjara. mereka pun mencari petugas untuk meminta pertemuan dengan seseorang.
"Kalian sedang mencari siapa?" tanya seorang petugas lengkap dengan atributnya.
"Saya ingin bertemu dengan seorang lelaki bernama Ardi," tegas Maria selangkah didepan bik Lis dan Belinda dengan berdiri tangguh.
"Apa kalian keluarganya?" tanya petugas itu kembali.
"Ya, saya kakaknya! apa saya bisa berbicara dengannya?" lontar Maria memberi alasan.
"Tapi..." ucap bik Lis terhenti.
"Lis, apa kau tidak mendengar perkataan ku barusan, aku akan mempertemukan mu dengannya! asal aku bisa mengorek kebenaran dari mulutnya sendiri," timpal Maria langsung menatap tajam bik Lis sengaja supaya bik Lis patuh padanya.
"Baiklah," turut bik Lis merasa takut melihat mata Maria yg tajam.
"Saya akan memberi waktu setengah jam untuk pengunjung," ucap petugas itu pula. sambil melangkah menuju ruang sel.
"Kalian tunggu di sini," pesan Maria menatap keduanya.
Belinda dan bik Lis hanya manggut tidak membantah sama sekali.
Akhirnya Maria mengikuti petugas itu dari belakang, tampaklah beberapa sel yg di dalamnya berkumpul para lelaki dan ada pula yg perempuan. tetapi Maria tidak ingin mengundang perhatian kalau dirinya terus melihat. Maria hanya menatap ke arah depan, namun para tahanan malah memperhatikan langkah Maria.
Terdapat lah sebuah ruangan kosong dengan dua kursi dan satu meja di tengah ruangan tertutup itu yg hanya di peruntukkan untuk menjenguk tahanan sel.
__ADS_1
"Tunggu saja di sini, saya akan panggilkan tahanan yg anda maksud," kata petugas itu, sambil bergerak dari tempatnya.
Maria pun duduk untuk menunggu lelaki yg sudah sangat di nantikannya.
Beberapa menit kemudian.
Kreek
tampak Ardi baru masuk ke dalam ruangan.
Ardi hanya menatap bingung dengan kedatangan Maria seorang wanita yg tidak pernah dia temui sebelumnya. Ardi juga melangkah perlahan mendekati kursi kosong yg sudah di sediakan dengan tangan masih di borgol.
"Kau siapa? petugas bilang kau kakak ku! aku tidak memilki keluarga, semuanya sudah mati," lontarnya pula sesaat.
Namun, Maria masih menatap dengan sinis tanpa sambutan untuk Ardi sang suami dari bik Lis.
"Manusia keji seperti mu, tidak pantas memiliki keluarga," berang Maria sambil melipat kedua tangan di dada.
"Apa maksud mu?! aku tidak kenal siapa kau sebenarnya," balasnya pula dengan menatap tajam sambil menggertakkan giginya.
"Kau tak perlu berkeras pada ku! aku akan tanya ke topiknya saja, aku juga tidak mau terlalu banyak berbicara dengan orang yg kejam seperti kau," rutuk Maria merasa ingin melenyapkan Ardi saat itu juga.
BRAK
Ardi memukul meja dengan kedua tangannya yg masih di borgol. sehingga membuat petugas terkejut dengan suara keras itu.
Sejenak Ardi terduduk dan manggut patuh pada ucapan petugas yg membuatkan kikuk.
"Berani sekali kau membentakku," kata Ardi melotot pada Maria setelah petugas itu keluar dari ruangan.
"Hah! kau sekarang tidak bisa berkeras lagi, karna kau! tidak akan lama untuk bertahan hidup di penjara ini," cibir Maria dengan sengaja.
"Kau?! dasar kurang ajar," hentaknya pula tampak ingin memukul Maria.
Set!
Seketika Maria menampik tangan Ardi dan menahannya ketika itu, Maria tidak habis fikir kenapa bik Lis mampu menghadapi lelaki yg tidak war*s seperti Ardi.
"Lepaskan!!" dengus Ardi mulai gelisah dengan genggaman tangan Maria yg sangat kuat.
"Aku bilang lepaskan?!" hardiknya lagi dengan membentak Maria.
Maria mengeluarkan taringnya, dan bola mata tampak bersinar terang terlihat seperti warna merah, Maria juga mengheningkan ruangan dan menutup telinga para petugas supaya tidak terdengar oleh siapapun selain Ardi, Maria mampu menghentikan waktu dengan kekuatan yg dia miliki, supaya waktu menjadi lebih banyak lagi.
__ADS_1
Ardi pun terkejut hingga terduduk lemas melihat wajah Maria yg sebenarnya. keringat dingin mulai dia rasakan akibat genggaman tangan Maria semakin kuat saja.
"A - apa mau mu!" gagap Ardi pula terkujur lemas hingga terduduk kaku.
Maria belum juga mengatakan apapun, tidak ada belas kasihan dirinya langsung melempar tubuh Ardi dengan satu tangannya.
BUUGH
"Ukh," erangan sakit yg di rasakan oleh Ardi membuat tubuhnya seperti remuk.
Tap Tap
Langkah kaki Maria perlahan mendekati Ardi yg sudah di lumuri darah bagian hidung dan juga kepalanya akibat benturan tembok.
"Ukh," desisnya pula saat Maria menjambak rambutnya.
"Apa kau sudah merasakan, bagaimana rasa sakit yg di derita Lis akibat kekejaman yg kau lakukan?!" hardik Maria masih menjambak rambut Ardi dengan kuat.
Ardi tampak lemas, terlihat sangat susah untuk berbicara. hidungnya yg terus mengeluarkan darah membuat Maria bertambah ingin melalapnya habis. karena tidak sebanding dengan perlakuannya terhadap bik Lis.
"Apa kau kenal dengan anak kecil ini?" tanya Maria menunjukkan foto yg dia dapat dari rumah bik Lis.
Sebelum Maria sampai di penjara, bik Lis pagi sekali mengajak untuk kerumahnya membawa semua barang yg di perlukan, hingga abu sang anak yg belum sempat dia lepaskan. karena rasa bersalah itu dia masih menyimpan abu dari anaknya. di saat bik Lis sibuk menyiapkan barang bawaannya, Maria menemukan sebuah foto kecil di bawah meja rumah bik Lis. dari situlah dia mempunyai foto anak bik Lis, dan itu akan menjadi pegangan mencari kebenaran.
"I- ini..." gugupnya pula serta menahan perih di sekujur tubuhnya.
"Bukankah ini anak dari hasil pernikahan kau dengan Lis?" geram Maria tetap menjambak Ardi yg sudah menahan sakit.
"Ukh, kenapa kau kenal dengan keluarga ku," erangnya berusaha menahan rasa sakit seperti tertusuk benda tajam.
"Aku tidak sudi memberi tahu kau, siapa aku! kau katakan saja, apa yg kau lakukan terhadap anak kecil ini?!" bentaknya hingga membenturkan kepala Ardi sampai mengaku.
"To- tolong! aku tidak sanggup lagi, baik... aku akan mengatakan semuanya," mohonnya dengan memegang tangan Maria supaya menghentikan tindakannya.
Akhirnya Maria melepaskan jambakannya terhadap Ardi.
"Kau dengar aku baik-baik, saat ini kau ku beri ampun! bisa saja kau mati di tanganku sekarang, tetapi aku ingin kau mengakui perbuatanmu di depan Lis detik ini juga! kau tidak perlu menjelaskan padaku, kau hanya perlu mengatakan semuanya pada Lis! apa kau mengerti ucapanku?" bisik Maria dengan sangat menusuk jantung Ardi saat itu.
"Ba- baik lah! aku akan mengatakan semuanya," patuhnya dengan berulang kali manggut terlihat sangat ketakutan karena nafas yg masuk di telinga Maria menusuk hingga jantungnya.
"Bagus! aku tidak ingin kau berbelit, kalau sampai kau melakukan hal di luar batas. ingat! aku selalu mengawasi kau!!" ucap Maria sambil menekan leher Ardi supaya mendengar perintahnya.
"Baik,baik! aku akan melakukan apapun yg kau katakan," patuhnya pula.
__ADS_1
Ardi masih tergeletak dengan darah yg masih keluar segar, Maria seketika membalikan waktu dan menormalkan kembali apa yg telah dia lakukan beberapa saat lalu.
..............