
ππππ
Jam dinding masih menunjukkan pukul 10.20 dimana ruang kelas dipenuhi keheningan tanpa ada yg bersuara sedikitpun, keheningan diruang kelas membuat Rei terfokus dalam menyelesaikan soal dipapan tulis.
Tapi berbeda untuk Tristan, dia hanya duduk menatap keindahan yg ada didepan mata. tidak sedikitpun bergerak dari bangkunya, jantungnya berdegup kencang saat dia memandangi wajah Rei yg sangat cantik membuatnya terpikat. sepanjang kehidupannya belum pernah merasakan hati yg berbunga-bunga pada seorang wanita, Dia berfikir keras dalam batin sebenarnya ada apa dengan hatinya saat ini tidak pernah dia merasakan jantung yg berdegub kencang seperti saat ini.
Rei sudah tidak tahan lagi dengan tatapan yg membuatnya merasa tidak nyaman. memang dirinya tidak bisa melihat secara langsung, namun dia bisa merasakan ada aura yg tajam sedang memperhatikannya dari samping.
Saat Rei selesai mengerjakan soal yg diberikan Tristan, dia perlahan menggerakkan tubuhnya untuk menghadap Tristan yg sedari tadi menatap tajam dirinya.
"Pak... saya sudah selesai," sapa Rei sengaja ingin menyadarkan Tristan dari lamunan.
Tristan masih terdiam saja tanpa menggubris ataupun menyahut Rei yg telah memanggilnya, krna dia sedang berlabuh dalam pikirannya yg masih belum puas untuk mengalihkan pandangan terhadap Rei.
"Pak." Rei mengulang panggilannya.
Apa sih ini orang! batin rei sembari mengernyitkan dahi.
"Ehem! Oh, kamu sudah selesai?"
Berusaha bersikap tenang karna dia tidak mau Rei melihat dirinya yg sudah tersipu malu.
"Sudah dari tadi pak," jawab Rei pula.
"Oh! kalau gitu kamu sudah boleh duduk," perintahnya pada Rei.
"Baik pak," menundukkan kepala perlahan.
Ketika Rei ingin pergi dari hadapan Tristan, baru saja membalikkan badan namun Tristan menghentikan langkahnya.
"Sebentar," ucapnya lembut.
"Iya pak... ada apa lagi?" Rei tampak menahan kesabaran sembari tertunduk.
"Kam- Oh, maksud saya... jawaban kamu sangat bagus," timpalnya.
Padahal Tristan tak ingin mengatakan hal itu, mungkin bukan waktu yg tepat baginya untuk bertanya hal pribadi didalam kelas.
"Terimakasih pak," jawab Rei singkat.
*H*uuh, sabarkan aku tuhan.... batin Rei sembari mengelus dada pelan.
Tiba-tiba saja terdengar suara tepukan tangan yg sangat keras didalam ruangan.
"Keren! Rei benar-benar keren..." teriak Leo tampak wajah gembira ditambah lagi rasa kagumnya terhadap Rei.
Semua mata tertuju pada kelakuan Leo yg sangat tidak sopan sebagai ketua kelas dihadapan sang dosen.
Rei masih berdiam diri melihat tingkah Leo padanya yg membuat sedikit jengkel.
"Apa saya menyuruh kamu berbuat itu Leo?" menatap tajam Leo.
"Tidak ada pak... tapi tangan saya yg bergerak sendiri," menjawab dengan perasaan takut.
"Saya tidak ingin ada suara apapun didalam kelas pada saat saya memberikan pelajaran, ataupun yg bukan saya perintahkan! apa kalian mengerti semua...." nada yg keras agar tristan bisa menyadarkan leo yg sudah membuat dia merasa marah.
"Dengar pak... " serentak menjawab maupun Leo tertunduk malu sampai tidak berani menatap wajah Tristan.
"Kamu sudah boleh duduk Rei..." ujar Tristan mengalihkan pandangannya terhadap leo menoleh untuk menatap Rei.
__ADS_1
"Baik pak! saya permisi dulu," ucap Rei patuh.
Rei bergegas kembali ketempat duduknya tampak wajah yg terlihat lega.
"Oke semua... kalian bisa menyalin jawaban yg sudah dibuat oleh rei," tegas Tristan sekali lagi.
"Setelah kalian selesai menyalin. saya akan memberikan tugas tambahan untuk Minggu ini, paham semuanya..." ucapnya pula sembari melirik kearah Rei.
"Paham pak..." beo seluruh murid termasuk Rei dan juga Gisele.
...*****...
Pukul 10.45 pelajaran sesi pertama telah selesai.
"Aahhh...." hembusan nafas panjang antara Rei dan Gisele yg sedari tadi sudah sangat sesak.
"Rei... makan yuk? Laper nih," kata Gisele sembari menyenderkan kepala ke bahu Rei.
"Aku lagi gak mau makan," ucap Rei menghempaskan kepalanya diatas meja perlahan.
"Ah... kamu gak asik Rei," tampak kesel dengan tingkah Rei yg tak perduli padanya.
"hai semua..." sapa Liona dari samping mereka.
"Oh... liona, ada apa?" saling membalas sapaan Liona.
"Kalian gak pada makan? yuk, kita barengan aja... pasti kalian belum tau kantin kita dimana kan?" ujar Liona pula tersenyum manis.
"Yuk Rei... biar kita barengan aja sama liona," kata gisele sembari memegang tangan Rei.
Tanpa pikir panjang lagi Rei bangkit dari bangkunya untuk menerima ajakan Liona pada mereka, karena Rei sudah mendengar suara perut yg dikeluarkan oleh gisele.
"Kamu laper gak nih... atau mau disini aja!" sengaja menggertak Gisele yg masih cemberut.
"Iya deh, iya? kamu selalu menang Rei, selalu aku yg kalah!" masih dalam suasana kesal dihati Gisele karna merasa diasingkan oleh rei.
Rei dan liona pun tertawa karna melihat Gisele bertingkah seperti anak kecil.
Setelah perbincangan selesai mereka bertiga pergi ke kantin untuk mengisi perut serta dahaganya masing-masing.
Pada saat mereka tiba dikantin Rei dan gisele melihat seluruh isi kantin yg telah dipenuhi oleh segerombolan orang menikmati makanannya.
Terlihat juga oleh Rei ruang kantin khusus untuk para dosen dan pegawai kampus yg telah dibedakan, namun ruang kantin dosen bersebelahan dengan Kantin para murid.
"Yuk kita masuk..." ucap Liona pada Gisel dan juga Rei yg sedang berdiri terbengong.
"Jngn takut... masih ada tempat kok untuk kita," ujar Liona pula.
"Kamu kok tau kita berdua mikirnya gitu," ucap Gisele sempat tidak percaya dengan Liona yg bisa membaca situasi.
"Hahaha.... jngn kan aku! orang lain saja mungkin akan mengerti dengan sikap kalian ini," jawab Liona sembari tertawa mendengar ucapan Gisele padanya.
"Ya,ya... lama-lama kamu sama saja dengan si Rei ini," melirikkan mata pada Rei.
"Kenapa aku yg dibawa-bawa!" ketus Rei pada Gisele.
"Sudahlah? kalian ini gak ada hentinya saling membalas," mencoba menjadi penengah untuk Rei dan Gisele.
Mereka bertiga celingukan mencari tempat yg masih kosong dengan membawa makanannya masing-masing, ketika semua sibuk mencari tempat malah Rei sempat melihat Tristan duduk tepat dihadapannya membuat dia merasa risih.
__ADS_1
Kenapa dia harus ada Disini juga sih! batin Rei sembari menundukkan pandangannya.
"Ada apa Rei?" sapa Liona melirik Rei yg sedang tertunduk.
"Tidak ada kok," jawab Rei menatap Liona tampak mata terkulai.
"Oh! disitu kayaknya kosong tuh," ucap Liona menunjuk kearah tempat yg belum terisi.
Mereka langsung bergerak pergi untuk segera mengisi tempat itu.
Tristan tersadar bahwa Rei berada didepannya spontan menghentikan makannya sejenak, seperti pepatah mengatakan jauh dipandang oleh mata namun semakin dekat pada hatinya.
Rei sudah menduga bahwa Tristan akan terus menatap kearahnya, Tapi Rei tidak ingin melihatnya. dia tetap mengunyah dengan santai menikmati makanannya.
"Boleh aku duduk disini..." sapa Leo pada Rei.
"Kalau masih kosong duduk aja," jawab Gisele pula.
Leo tidak menggubris jawaban Gisele untuknya, malah tanpa ragu dia duduk berhadapan dengan Rei, karna dia tak ingin melewatkan momen langka itu.
"Kamu makan aja! ngapain pandangi orang lain sampai segitunya!" ujar Gisele tampak jengkel pada Leo.
Leo tertunduk malu karna teguran Gisele padanya.
"Oh iya! kalian sudah berteman lama kah," kata Liona pula agar suasana canggung terhentikan.
"Iya... kami berteman sudah sejak lama, sejak pertama kali kami masuk universitas di new York," jawab Gisele sembari mengunyah.
"Rei kenapa diam saja..." tegur Leo lembut menatap kearah Rei.
"Lagi makan! tidak boleh berbicara!" ketus Rei agar Leo tidak banyak bertanya lagi.
"Aku boleh tau rumah kamu dimana Rei..." kata Leo lagi tampak mata berbinar.
"Untuk apa," ujar Rei santai sembari menikmati makanannya.
"Eng- mana tau nanti ada tugas kuliah dan kamu belum dapat salinannya..." ucap Leo terbata.
"Kan ada aku," kata Liona pula menyela Leo.
Duh, apa-an si liona ini.. batin Leo mengerutkan dahi.
"Iya bener, kan ada liona! kenapa kamu repot-repot mau tau rumah Rei. aku saja belum tau rumah Rei dimana," tegas Gisele sinis pada Leo.
"Ah, hahaha... tidak ada apa-apa? hanya sekedar ingin tau saja," terpaksa tertawa, padahal sudah kesal karna ulah Liona.
Rei tidak ingin mendengar obrolan mereka bertiga, dia hanya asik mengunyah makanannya sedari tadi tanpa ikut berbincang.
Dibalik perbincangan mereka, Tristan melihat dengan wajah kusut menatap tajam kearah Leo yg sudah berani duduk didepan Rei. Tristan mengepalkan tangannya sekuat tenaga dan berlalu pergi tidak melanjutkan sisa makanan yg sempat terhenti sedari tadi.
Perasaan marah, kesal, bercampur aduk didalam hatinya saat itu, Tristan juga tidak mengerti kenapa bisa dia menjadi lelaki pencemburu. semenjak dia kembali dari kantin wajahnya teramat sangat menakutkan bagi setiap orang yg melihatnya.
...................
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YAπ€π
π₯°πMAMAK SAYANG KALIAN π₯Ίβ€οΈ
__ADS_1