
🌺🌺🌺🌺
Meja hidangan.
Mereka tampak saling menikmati makanannya masing-masing tanpa adanya pembicaraan. namun, lebih anehnya lagi Tristan masih terus menerus memperhatikan Rei. sebenarnya Tristan juga sudah berusaha untuk tidak melihat Rei, tapi dia tetap saja tidak bisa melakukannya. Rei dengan kalemnya menikmati hidangan tanpa berpaling sedikitpun, karenya Tristan sedikit lebih heboh sendiri mengapa cuma dirinya yg sedari tadi tidak bisa terlepas dari lekatnya pandangan itu.
Mengapa jadi aku yg terobsesi gini.. ahh!!!! batin Tristan ngedumel sendiri.
"Rei... apa kau suka Pasta?" bertanya agar Rei segera menatap matanya.
"Tidak begitu suka," jawabnya namun masih menikmati hidangan.
Apa hari ini aku terlihat buruk?? kenapa Rei enggan menatapku!!! batinnya agak sedikit kesal dihati karna tak bisa menatap mata Rei.
Saat Rei sibuk memotong daging krna sedikit rumit ketika itu dirinya menyenggol sebuah garpu terletak disebelah piringnya.
Klotakk
"Kenapa Rei?" tanya Tristan mendengar sesuatu yg jatuh.
"Garpuku jatuh kebawah," ujarnya ingin memungut kebawah.
"Tidak perlu kau ambil. biarkan saja," titahnya agar dirinya yg akan membantu.
"Jangan begitu! kalau orang lain jadi celaka bagaimana?" sarkas Rei masih dengan pendiriannya membungkuk perlahan.
"Bisa nak?" tanya Ibu Maria memastikan.
"Bisa Bu," ucap Rei.
Setelah Rei berhasil memungut garpu yg dia jatuhkan, dengan perlahan membangkitkan punggungnya agar kembali pada posisi duduknya.
TIBA-TIBA
BYUUURRRR
*H*akhh... rasa terkejut Rei sama halnya dengan Ibu Maria dan juga Tristan.
"Ya Tuhan.... maaf nona? saya tidak sengaja..." panik seorang pria muda menjatuhkan winenya ke gaun Rei.
Kekhawatiran terlihat jelas membuat sang Pria begitu kelabakan, sehingga dia bergegas meraih sapu tangan yg ada didalam saku celananya.
"Maaf nona? saya sungguh tidak sengaja..." timpalnya pula berusaha membantu.
"Tidak,tidak! saya bisa sendiri." Rei berusaha mengibaskan wine yg telah meresap ke dasar kain.
"Saya bantu bersihkan nona... ini sudah salah saya," pintanya merasa bersalah.
Tristan seperti patung seolah keberadaanya tidak dianggap ada, rasa marah mulai membara seakan api itu sudah membalut matanya. dia hanya memegang leher belakanganya terlihat sudah sangat mengejang tak kuasa mengepalkan tangan diatas meja krna melihat suasana yg terbilang cukup membuatnya merasa sangat jengkel.
"Itu tidak perlu tuan?" sarkas Rei menolak bantuannya secara perlahan.
BLAAMM
Tristan sudah hilang kesabarannya sehinggga memukul meja dengan sangat keras tidak bisa tertahankan lagi membuat seantero menjadi perbincangan hangat.
Terngiang-ngiang ditelinga Rei bahwa netizen membicarakannya seolah memperebutkan dirinya, malah ada yg bilang jadi wanita plin-plan tidak bisa memilih salah satu.
Ini bukan Sinemart!!! jangan terlalu kepo lah kalian wahai netizen?! batin Rei menggerutu.
"Maaf semuanya? silahkan nikmati kembali hidangan tuan dan nyonya," ujar Ibu Maria bergegas ambil tindakan krna tidak terima mendengar ocehan mereka.
Tristan berdiam diri dimejanya dengan tertunduk kesal melihat tingkah lelaki itu yg terlalu memaksa Rei sudah jelas berulang kali menolaknya.
"Apa kau tak mendengar dia sudah mengatakan tidak perlu?!" tegasnya melihat pria itu dengan mata yg sangat tajam dan juga bola mata yg sudah mulai berubah warna.
Rei membelalakkan matanya krna melihat ekpresi tristan yg begitu terlihat sangar, belum pernah Rei melihat Tristan semarah itu apalagi padanya. Tristan selalu berbicara lembut dengannya tapi ada apa dengan Tristan yg saat ini, sehingga sulit dipercaya apa yg sudah dilihatnya.
"Tuan.... saya minta maaf? saya hanya ingin membantu Nona ini," ucapnya membungkuk pada Tristan berulang kali.
Karna masih juga berani menjawab rasa geram muncul krna mendengar perkataan pria itu, sehingga dirinya terpaksa menunjukkan taring tajamnya sedikit supaya pria itu takut padanya dan sadar akibat membuatnya marah.
Mata sang pria seketika melotot ke arah taring yg dikeluarkan oleh Tristan, sang pria bahkan mengeluarkan keringat yg sangat bnyak bercucuran diwajahnya sungguh tidak berani lagi menatap Tristan, dia cuma bisa tertunduk dan lagi sulit menggerakkan seluruh tubuhnya.
__ADS_1
*K*enapa dia seperti memiliki taring?? atau saja ada masalah dengan mataku!!! batin si pria tertunduk kikuk.
Sementara itu untuk Rei yg mengamati mata Tristan terlihat sedikit berubah warna.
*A*pa aku salah melihat?? bola mata Tristan sedikit berubah warna?!! Seperti kemerahan. batinnya terus mengamati.
"Tristan.... tahan emosimu! kau jngn bertindak sembarangan," cegah ibu maria menggenggam tangan Tristan yg terlihat mengepal.
"A- anu.... apa saya sudah boleh pergi?" tanya pria itu yg sudah keringat dingin.
"Nona... apa kau sudah memaafkan kesalahanku?" timpalnya pula tidak berani menatap Rei.
"Saya sudah maafkan, tuan sudah boleh pergi," seru Rei meyakinkan pria itu.
"Terimakasih nona? Anda sangat baik hati, saya pamit pergi Nona..." hikmad pria itu melangkah pergi melewati Tristan seolah tak ingin berurusan lagi.
Namun Tristan dengan cepat menarik lengan pria itu ketika melewatinya dari samping.
"Kalau bukan karna ibuku, atau kebaikan calon istriku! kau sudah MATI disini," sarkasnya pula dengan membisikkan ketelinga pria itu.
Sangking terkejutnya si pria seketika terdiam sejenak mendengar perkataan Tristan yg sangat menusuk jantungnya, beserta keringat yg deras mengalir di seluruh wajahnya
Tngannya mulai gemetaran karna dipegang kuat oleh Tristan yg belum juga melepaskannya.
*A*pa aku sudah berbuat kesalahan??? bukankah aku berniat baik membantu Nona itu? bukankah aku tidak menyinggung lelaki ini !!! batin pria terpelongo.
Ibu Maria mengamati ekpresi Tristan yg sudah melewati batasnya, kalau dibiarkan saja malah akan jadi runyam nantinya. ibu Maria pun segera memberi isyarat mata agar Tristan menyudahi sikap yg bisa membuat Rei ketakutan.
Namun Rei masih dalam keadaan memandangi wajah Tristan yg agak sedikit berubah mulai dari bola mata dan juga gengaman tangannya begitu terkepal sangat kuat.
"Sudah Tristan! aku baik-baik saja. kau jangan marah lagi," pinta Rei berusaha melerai.
Pada akhirnya cuma Rei yg bisa menenangkannya dan mau melepaskan genggaman itu pada pria yg sudah berani mengusik dirinya membuat suasana hatinya sangat kesal.
"Kau sudah boleh pergi," titah Tristan pula melepaskan gengaman tangannya.
"Ba- baik tuan..." ucapnya kelabakan dengan langkah berat membuat pria itu terlihat berjalan sedikit oleng.
Hufhh... berani sekali dia ingin menyentuh Rei, kalau bukan ibu yg menahanku takkan aku beri ampun lelaki itu!!! bangs*t !! batinnya membuang nafas panjang yg dipenuh emosi.
"Kau..." Rei yg tanpa sadar memegang mata Tristan lembut.
"Matamu...."
Aku tadi tidak salah lihatkan?! bola mata Tristan sedikit memerah tadi, sekarang sudah kembali hitam!! apa aku berhalusinasi??? batin rei memperjelas penglihatannya yg masih mengamati mata Tristan
*A*pa Rei menyadari sesuatu?? batin Tristan sedikit khawatir.
"Rei. mataku kenapa?" bertanya seolah biasa saja.
"Ah.. tidak ada? sepertinya aku sudah salah melihat," sarkasnya sambil menurunkan tangan yg baru tersadar.
"Nak.... apa kamu basah?" wajah Ibu Maria yg sudah sedikit panik.
"Aku harus pergi ke toilet Bu," sahutnya ingin segera bangkit dari kursi.
"Apa aku perlu menemanimu Rei?" tanya Tristan yg bangkit dari simpuhan kakinya.
"Tidak Tristan! aku bisa sendiri," segera menolak dengan cara halus.
"Apa ibu saja yg temani kamu nak?" pinta Ibu Maria pada Rei yg masih terlihat panik.
"Tidak bu! ibu disini saja, Sebentar ya Bu..." tolak Rei dengan tersenyum manis.
Ibu Maria membalas senyuman Rei kembali.
Rei berlalu dari kursinya dengan melangkah kearah toilet untuk membersihkan pakaiannya.
"Apa yg ada dipikiranmu Tristan!" celetuk sang Ibu mengernyitkan dahi.
"Aku tidak bisa menahan emosiku Bu..." sarkasnya menjawab dengan tenang.
"Apa kamu mau semua orang tau identitsamu?" tanya Ibu dengan nada sedikit tinggi.
__ADS_1
"Tidak." Tristan sudah mengaku salah hanya tunduk melihat Ibu Maria yg sudah kesal padanya.
"Ibu tidak ingin semua orang tau siapa kamu! cukup Rei yg tau nantinya, apa kamu mengerti Tristan?" titahnya lagi dengan tegas.
"Aku akan berusaha Bu," ujar Tristan dengan memegang punggung tangan Ibu Maria agar lebih tenang.
"Harus! kau harus bisa mengendalikan emosimu," titahnya sekali lagi.
"Iya Bu...." coba mengalah demi sang ibu.
Disisi lain Rei tengah sibuk mencari arah toilet berusaha dengan memperjelas matanya agar lebih cepat menemukan letak toilet tersebut.
Namun disaat yg bersamaan Rei sedang kelabakan mencari arah toilet terlihat celingukan membuat seketika matanya tampak sosok Gisele bersama seorang pria dia melebarkan matanya meyakinkan diri.
Apa itu Gisele?! gumam Rei menatap gerak-gerik yg seperti Gisele itu.
"Sel...."
Rei mengikuti langkah wanita yg dianggapnya mirip oleh gisele. namun, dipertengahan jalan mereka sudah tidak kelihatan lagi, Rei kehilangan jejak orang yg sangat terlihat tidak ada bedanya sama sekali.
Kemana perginya mereka??? cepat banget hilangnya!! apa mereka memakai roket?? gumamnya sambil melihat kanan kiri memperhatikan kembali.
"Agh sudahlah! mungkin itu kembaran gisele, atau jangan-jangan mereka kembar Siam," gumam Rei melangkah untuk melanjutkan tujuannya ke arah toilet.
*A*pa benar yg dikatakan para pakar? didunia memliki wajah yg serupa?! gumam Rei lagi ngoceh sepanjang jalan.
...***...
Tempat persembunyian.
Sssstttt
Leo dengan sigapnya menutup mulut Gisele tepat di balik dinding.
Perkataan gisele sudah tidak jelas lagi didengar bahkan sesak nafas krna mulutnya sedari tadi ditutup oleh leo.
Leo yg panik sudah melepaskan tangannya dari Gisele dan segera memperhatikan jalan dengan celingukan sambil mengelus dadanya krna melihat seseorang yg dia kenal ditempat itu.
"Kau ingin membunuhku? aku hampir mati ditanganmu!" gaduhnya membentak Leo.
"Sstt... kecilkan suaramu bisa gak!" hardik Leo jengkel.
"Apasih! kenapa kau menutup mulutku? hah?!" celetuk Gisele berkacak pinggang.
"Aku tadi melihat Rei, masih sempat aku menarikmu kesini... kalau tidak, kau akan kenak pasal berlipat," timpal Leo yg bersender di dinding menyeka keringatnya.
"Apa?!!" teriak Gisele karna pernyataan dari Leo.
"Ssttt... ih! buset dah, anak ini susah kali dibilangin! kau bisa diam gak sih?!" gerutu Leo terkejut dengan teriakan Gisele yg nyaring.
"Sekarang Rei ada dimana? apa dia tau aku disini?" riuhnya lagi mencoba untuk mengintip dibalik dinding.
"Aku tidak tau! yg pasti kita sudah selamat," saling mengintip arah jalan.
"Haaahh.... hampir saja! thanks kau sudah menyelamatkan hidupku. kalau tidak, dia akan habis-habisan menertawakanku yg berpenampilan begini," cerocos Gisele yg sudah berwajah panik mengigit bibir bawahnya.
"Sudahlah! kita harus kembali sekarang, krna sudah terlalu lama kita pergi," timpal Leo menarik lengan Gisele agar mengikuti langkahnya.
"Pelan Leo.... dasar kerdil." Gisele menghempaskan tangan Leo.
Apa?? kerdil !!! enak saja wanita gila ini menyebut Asal namaku!! batin Leo mencibir.
"Makanya cepat kau jalan! apa kau mau Rei menemukanmu disini?" mulut Leo yg menyeringai jahat.
"Tidak,tidak!" riuh Gisele yg terlihat sudah panik.
"Buruan." Leo meraih tangan Gisele kembali.
*H*ahah... puas kali ngerjain cewek gila ini!!batin Leo terkekeh.
................
Bersambung...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA 🤭😆
😍🥰MAMAK SAYANG KALIAN🥺❤️