
☘️☘️☘️
Semenjak pertemuan Haikal bersama Ambar malam itu, hatinya merasa tidak tenang. apalagi sikap Belinda terlihat begitu nyaman dengan kehadiran Ambar. ia tidak tau harus memulai dari mana jika dirinya berkata jujur.
Usai malam itu Haikal tidak banyak berbicara dengan Belinda, setelah mereka makan bersama hanya membicarakan masalah kesehatan bik Lis yg masih belum ada kemajuan. wajah bik Lis semakin hari membuat orang lain merasa kasihan jika melihatnya. kedua pipi yg sudah terlihat kopong, lingkaran mata tampak hitam, kulit semakin kendur. entah sampai kapan bik Lis bisa pulih sediakala. bik Lis merasa tersiksa dengan sakit yg dia rasakan dalam tubuhnya. dokter menyarankan untuk dirawat ke rumah sakit, tetapi Belinda menolak dikarenakan khawatir kalau tidak bisa terus merawat bik Lis, apalagi Belinda sedang hamil sangat rentan dengan segala macam bau.
Ditambah masalah kantor yg tengah dihadapi oleh Haikal, merasa di manfaatkan oleh Fidya krna memikirkan kebahagiaan Belinda. tetapi Haikal masih belum memberi tahu masalahnya, dikarenakan takut kalau Belinda mengambil tindakan yg gegabah, Haikal yakin bisa menghadapi musuhnya dengan tangannya sendiri.
Ketika Fidya resmi menjadi sekretaris Haikal, saat di adakan rapat perkumpulan para karyawan, betapa bahagianya Fidya bahwa Haikal mengakuinya sebagai sekretaris pribadi. rencana Fidya masih belum di ketahui oleh Haikal, tetapi niatnya meminta hasil 10% itu membuat Haikal bertambah yakin untuk mendendang Fidya dari kantornya.
Haikal terus berfikir sesuatu yg bisa membuat Fidya mendapatkan efek jera karna sudah berani menentang dirinya.
Tentu saja Fidya berhasil mendapatkan kembali klien lama Haikal dengan kemampuannya, tetapi ia juga mendapat keuntungan dari semua itu, tuan Kenji yg menjadi klien Haikal memberikan semua data investasi kepada Fidya, karena Fidya merupakan sekretaris pribadi Haikal. tuan Kenji mempercayakan semuanya pada Fidya.
Setelah mendengar laporan itu Haikal benar benar diambang kemarahan yg memuncak, Fidya sudah melewati batasnya sebagai sekretaris. ia memanfaatkan semua data yg diberikan tuan Kenji untuk dirinya sendiri supaya Haikal tidak bisa berkutik lagi.
Sungguh hari hari Haikal tidak pernah tenang semenjak kehadiran Fidya di kantornya, apalagi wanita itu selalu ada disamping Haikal.
...°°°...
Dua bulan kemudian
Pagi hari menjelang pukul 10 teras rumah Belinda.
Crang
Belinda yg sedang menyapu rumah dengan keadaan perut semakin membesar itu terkejut mendengar pecahan kaca dari dalam rumah.
Dia mengikuti arah suara yg menggema ditelinganya dengan langkah perlahan. ternyata pecahan kaca itu tepat di dalam kamar bik Lis.
"A...a...a...a," suara bik Lis yg terdengar memanggil itu membuat Belinda terkejut.
"Bik, ada apa? kenapa bibik tidak membunyikan lonceng untuk memanggil saya?" riuh Belinda berbicara dengan mengernyitkan dahi.
Dia mencoba mengumpulkan semua pecahan kaca itu dengan sapu, sambil menatap ke arah bik Lis.
Seminggu yang lalu bik Lis sudah bisa mengeluarkan suaranya, tetapi masih belum jelas dan tidak mampu berbicara. ia diberikan lonceng supaya memudahkan orang lain saat dirinya membutuhkan sesuatu. walau mendapat perubahan sedikit membuat Belinda merasa bersyukur kalau bik Lis masih mampu bertahan dalam menghadapi rasa sakitnya.
Sejak terakhir kedatangan Ambar, dirinya tidak pernah menampakkan diri lagi. entah bagaimana lagi rencana yg akan dibuatnya untuk menyiksa Belinda dan bik Lis demi mendapatkan keinginannya.
Belinda masih belum mendapatkan nama obat yg diberikan Ambar, dikarenakan lupa Belinda terus menunggu kedatangan Ambar, tetapi tidak kunjung terlihat.
__ADS_1
"Bik, jangan bnyak bergerak dulu! apapun yg ingin bibik minta akan saya bantu," pesan Belinda mengelus punggung tangan bik Lis.
Bik Lis terus menatap Belinda dan sesekali dirinya meneteskan air mata entah apa sebabnya, Belinda hanya menyeka air mata itu dan melontarkan senyum manis.
"Saya percaya, bibik akan segera sembuh seperti dulu lagi," ucap Belinda menyenderkan kepalanya di bahu bik Lis.
"Sebentar ya bik, saya ambilkan air bibik yg sudah terjatuh ini," ucap Belinda lagi.
Ia pun bergerak dari tempatnya menuju dapur sambil memegang pengki untuk membuang pecahan kaca itu.
Beberapa menit kemudian.
Ting Tong
Terdengar bunyi bel rumah menghentakkan Belinda, ia berfikir kalau yg datang itu ialah Ambar. orang yg sedari kemarin sudah dia tunggu.
Ting Tong
Suara bunyi bel berulang kali membuat Belinda melangkah cepat sambil membawa segelas air untuk bik Lis.
Krek
"Hai nyonya."
"Ricky?" sahut Belinda dengan riuh.
"Darimana saja kau! kenapa tidak ada kabar?" celetuk Belinda mencubit pipi Ricky ketika itu.
Ricky pun mengelus pipinya. "Aww, iya... maafkan saya, karna tidak memberi kabar kalian! banyak hal yg ingin saya ceritakan pada kalian," turutnya pula tersenyum riang.
"Masuklah! kau juga harus melihat kondisi bik Lis saat ini," ungkap Belinda memberi jalan untuk Ricky.
"Ada apa dengan bibik?" tanya Ricky penasaran dengan melangkah masuk.
"Ikutlah," ajak Belinda sambil menutup kembali pintu rumahnya.
Mereka bersamaan melangkah memasuki kamar bik Lis, sungguh Ricky terkejut ketika ia mendapati bik Lis terbujur diatas tempat tidur dengan kondisi mengharukan. ia juga tidak menyangka dari tubuh yg berisi hingga tampak sekurus itu. Ricky terus memperhatikan wajah bik Lis tanpa berkata apapun.
"Beginilah keadaan bibik sekarang," ucap Belinda terdengar lirih namun berusaha tetap tenang sambil meletakkan gelas berisi air di atas meja.
"Apa penyebab bibik sampai seperti ini?" setelah beberapa menit Ricky berdiam diri ia mendekati bik Lis dengan duduk disampingnya.
__ADS_1
"Aku juga tidak mengetahui apa penyebabnya, dokter belum bisa mendeteksi penyakit yg ada di dalam tubuh bik Lis," ungkap Belinda pula.
"Pasti ada sesuatu yg bibik makan atau apalah yg membuat bibik down seperti ini," kata Ricky mengamati wajah bik Lis.
Seketika bik Lis memegang tangan Ricky, ia merasakan hawa dingin dari mulut bik Lis. mulut bik Lis bergerak seperti ada yg ingin ia sampaikan pada mereka.
"Bik, katakan! kenapa bibik bisa sampai seperti ini?" lanjut Ricky lagi mendekati wajahnya ingin mendengar ucapan bik Lis.
"A...a..."
"Bik Lis hanya bisa berkata A saja! tidak ada yg lainnya, aku juga bingung! sebenarnya apa yg ingin dikatakan oleh bibik," turut Belinda duduk disebuah kursi tepat disamping Ricky.
"Terakhir kali, bibik hanya menelan obat yg teman nyonya berikan! siapa itu namanya, saya sudah lupa," cakap Ricky membuat Belinda mengingat kejadian itu lagi.
"Namanya Ambar! tetapi ia mengatakan kalau Itu obat penenang saja untuk orang yg merasa sakit di tubuhnya, aku sudah bertanya padanya! tetapi aku belum bertnya apa nama obat yg dia berikan. hingga saat ini dia belum juga kelihatan," ucap Belinda merasa ada yg aneh dalam dirinya.
"Apa nyonya sampai begitu percaya dengan orang lain?" celetuk Ricky menatap tajam Belinda.
"Apa maksudmu Ricky?" lontar Belinda merasa Ricky bernada tidak enak padanya.
"Saya tidak menyalahkan nyonya untuk berteman padanya! tapi bisakah nyonya berfikir lebih normal lagi? apa nyonya tidak berfikir kalau ada perubahan dari diri nyonya semenjak bertemu dengannya?" lontaran itu membuat Belinda terhentak dan berdiri seketika.
Perubahan dalam diriku?! apa yg berubah dari diriku?!! batin Belinda berbicara dan mengingat siapa dirinya saat ini.
Ya, Belinda belum pernah berkata kasar pada bik Lis, mudah percaya pada Ambar yg baru saja ia temui dibanding dengan bik Lis. sejenak Belinda terdiam dengan kepalan tangannya yg kuat.
"Apa nyonya sudah mengingat? bagian mana perubahan dari nyonya," tegas Ricky memecah lamunan Belinda.
"Kau benar! sikapku! sikapku yg sudah banyak berubah dan begitu percaya pada orang yg baru saja bertemu denganku," lontar Belinda tersadar akan dirinya kembali.
"Baguslah kalau nyonya sudah menyadari perubahan yg nyonya alami, sekarang saya sangat curiga dengan orang yg bernama Ambar itu! apakah nyonya mau mendengar rencana saya?" cakap Ricky sambil melipat kedua tangannya di dada dan menempelkan tubuhnya di dinding.
"Rencana apa yg ingin kau buat?" seketika melirik dan terheran dengan reaksi bik Lis yg tersenyum saat kedatangan Ricky.
"Tetapi, hanya nyonya yg bisa melakukannya! saya hanya memberi aba aba pada nyonya saja," turut Ricky dengan tegasnya supaya Belinda mampu mendengarkan sarannya.
"Apa itu?" tanya Belinda dengan tegas pula.
...........
Bersambung...
__ADS_1