Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
TIGA WANITA HEBAT


__ADS_3

...••••...


"Iya, aku yg sudah merawat seluruh tanamanku! tapi sangat di sayangkan semuanya tidak ada yg tersisa lagi," sesal Maria tampak sedih.


"Sudah nyonya, tidak perlu nyonya ingat lagi. yg lebih penting kita selamat dari kebakaran itu," ucap Belinda mengelus punggung tangan Maria.


"Kau benar bel, sekarang kita harus pikirkan masalah kehidupan kita kedepannya! Lis, apa kau setuju dengan usulanku?" tanya Maria menoleh ke arah bik Lis.


"Apapun itu, saya akan membantu sebisa saya nyonya," turut bik Lis memberi senyuman hangat.


"Baiklah, kalau begitu kita persiapkan segalanya mulai besok! kita hari ini butuh istirahat cukup supaya tidak terlalu lelah," sambung Maria lagi turut senang karna sarannya di terima oleh bik Lis juga Belinda.


Keduanya manggut begitu tampak bahagia membalas ucapan Maria. sama halnya dengan bik Lis, dirinya tidak menduga kalau Maria dan Belinda bisa menerima kehadirannya apalagi di saat seperti ini, mereka tidak pernah memaksa bik Lis harus melakukan pekerjaan yg keras, malah mereka selalu meminta persetujuan bik Lis terlebih dulu. di dalam hati, bik Lis bertekad untuk terus memberikan yg terbaik sesuai dengan kemampuannya.


"Oh ya bel, saat kau berada di rumah sakit. apakah Haikal memperhatikan mu?" tanya Maria langsung melontarkan senyumnya.


"Kenapa nyonya bertanya seperti itu?" balik tanya lagi seolah terkejut.


"Aku hanya ingin tahu, apakah lelaki itu menjaga mu dengan baik atau tidak," sambung Maria pula sengaja menguji perasaan Belinda.


Bik Lis langsung melirik ke arah Belinda, dia pun mengingat perkataan Haikal saat berkunjung ke rumahnya, Haikal pernah menyinggung masalah Belinda, ketika itu Haikal berkata bahwa wanita yg di cintainya ialah Belinda seseorang yg berada di hadapan bik Lis sekarang.


"Nyonya, apa saya boleh berkata sesuatu?" potong bik Lis masuk di tengah percakapan mereka.


"Boleh, kenapa bik? apa ada masalah?" riuh Belinda pula.


Maria sejenak melirik Belinda yg menoleh pada bik Lis, Maria menahan senyumnya karna Belinda berhasil kabur dari pertanyaan yg belum dijawab olehnya.


"Ini masalah tuan Haikal nyonya," kata bik Lis sengaja membuat Belinda semakin penasaran.


"Kenapa dengan re-, maksud saya tuan Haikal?" tanya Belinda sedikit gugup hampir keceplosan menyebut nama belakang Haikal.

__ADS_1


Maria bergeleng kepala melihat reaksi Belinda yg gelagapan itu. sehingga dirinya membuang wajah kesamping untuk melepas tawa kecilnya.


"Tuan Haikal sempat cerita pada saya, saat tuan Haikal mengunjungi rumah saya untuk pertama kalinya. saya bertanya kenapa tuan ada di rumah sakit hingga belum mengisi perut yg kelaparan. tuan terlihat sedih saat mengatakan kalau seorang wanita yg dia cintai masuk rumah sakit dan harus di operasi, apalagi kerabatnya membutuhkan darah yg belum juga di dapatkan," ungkap bik Lis dengan mengamati wajah Belinda saat dirinya berkata demikian.


"A- apa maksud bik Lis?" tampak Belinda mengalihkan wajahnya seketika.


"Nyonya, tuan sepertinya sangat mencintai nyonya. bahkan dirinya tidak sempat mengisi perut untuk selalu menunggu kabar dari nyonya setelah dokter melakukan operasi," kata bik Lis pula melirik Maria yg sudah mananti jawaban dari Belinda.


"Bel, apa kau tidak mengetahui perasaan Haikal selama ini?" tanya Maria langsung blak-blakan.


"Anu nyonya, saya juga tidak tau kalau tuan Haikal begitu tulus pada saya. kebaikan tuan Haikal tak terhitung lagi jumlahny," lontar Belinda dengan polosnya.


"Oh tuhan..." gerutu Maria sambil berdiri dari tempatnya.


"Ada apa nyonya? kenapa reaksi nyonya begitu?" tanya Belinda yg terlihat heran pada Maria begitu saja bangkit.


"Apa selama ini kau tidak memiliki perasaan pada Haikal?" balik tanya, Maria tampak berkacak pinggang.


"Bu- bukan berarti saya tidak suka tuan Haikal, hanya saja saya masih takut kalau berada di dekat lelaki," tutur Belinda merasa takut menatap wajah Maria.


"Saya mengerti apa yg nyonya maksud, memang saya belum paham arti cinta. tetapi saya bisa merasakan ketulusan dari tuan Haikal, apalagi disaat tuan Haikal memberikan perhatiannya pada saya," ungkap Belinda sambil mengelus punggung tangannya sendiri.


"Bel, aku tidak memaksamu untuk langsung suka pada Haikal. tapi aku hanya tidak ingin kau masih terus trauma dengan lelaki, aku tau Haikal orangnya seperti apa! maka dari itu aku bersemangat untuk mendekatkanmu dengannya," seru Maria langsung jongkok menumpu kedua kakinya sambil mengelus pipi Belinda.


"Nyonya, maaf kalau saya lancang. menurut saya, tuan Haikal adalah lelaki yg sangat bertanggung jawab dan sangat menyayangi nyonya. mungkin tuan belum bisa mengutarakan perasaannya krna berada di posisi terjepit sekarang ini," lontar bik Lis supaya Belinda mengerti.


"Apa yg di katakan bik Lis benar. begitu juga untuk mu bel, kau bisa menentukan jalan hidupmu sendiri, tetapi bagiku kau layak bersanding dengan Haikal. karna kau wanita yg baik, cerdas, bijak! aku hanya tidak ingin kau ambil langkah yg salah," pungkas Maria berusaha menyadarkan Belinda.


"Baik nyonya, saya akan berusaha untuk menata hati saya, supaya bisa menerima tuan Haikal dengan segala ketulusannya." Belinda tersenyum simpul seolah bisa menerima masukan dari Maria juga bik Lis.


Dalam sekejap Belinda memeluk kedua orang itu mendekap di dalam tubuhnya. Maria dan bik Lis merasakan kehangatan yg di berikan Belinda dengan saling melontarkan senyuman karna berhasil meyakinkan perasaan belinda.

__ADS_1


"Terimakasih nyonya, bik, kalian sudah memberikan kesadaran dalam diri saya. sungguh! kalau tidak ada kalian, mungkin saya tidak akan bahagia seperti saat ini," ucap Belinda sambil mendekap kedua tubuh itu dan mengelus pundak mereka sesekali.


HOAM


Terdengarlah suara nguapan dari belakang punggung mereka, ternyata Tristan sudah terduduk sambil memperhatikan dengan menggaruk kepalanya. ketiganya langsung tertawa melihat kelucuan yg di lontarkan Tristan di tengah perbincangan mereka.


"Bu, Tatan lapar dan haus! mau minum," kata Tristan masih terlihat setengah sadar.


"Tatan mau makan Bubble and Squek?" tanya Maria langsung membuat mata Tristan terbuka dengan lebar.


"Mau... itu makanan favorit Tatan, sungguh! ibu akan membuatkannya?" riuh tepukan tangan hingga berloncat di atas kasur sangking senangnya.


"Iya, ibu akan buatkan sekarang," lanjut Maria menganggukkan kepala.


"Hore..." girangnya lagi terus meloncat.


"Nyonya, apa saya boleh ikut membantu? saya juga ingin belajar masakan itu, karna sebelumya Tatan pernah memberikan pada saya. ternyata memang lezat," antusias Belinda memohon dengan menggenggam kedua tangannya.


"Baiklah, aku sekalian mengajarkan cara memasaknya," turut Maria pula tersenyum karna Belinda sudah mau belajar masak.


"Lis, tolong lihat Tatan sebentar ya? aku ingin menyiapkan makanan untuknya, sekalian makan malam kita juga," pesan Maria dengan sopan.


"Apa saya tidak membantu sekalian di dapur nyonya?" tanya bik Lis merasa segan tidak melakukan apa-apa.


"Aku dan Belinda akan menyiapkan semuanya, kau bisa sekalian istirahat dan bermain dengan Tatan," seru Maria pula.


"Baiklah. kalau ada hal apapun, bisa panggil saya kapan saja," timpal bik Lis mengajukan diri.


"Tatan jangan nakal ya, harus patuh pada bibik," pesan Maria dengan mengelus rambut Tristan.


"Baik ibu," patuhnya dengan mencium pipi Maria.

__ADS_1


Belinda melambaikan tangannya, mereka berlalu dari kamar menuju dapur.


...................


__ADS_2