
☘️☘️☘️☘️
Dibalik kamar Gisele
TOKK.TOKK
"Gisele... kamu sudah tidur?" panggil Ibu Rianti dari luar kamar.
"Gisele.... ibu bawakan kamu makan malam sayang," mengulang panggilannya.
Betapa kacaunya Gisele karna perlakuan dari orangtua terhadapnya, air mata terus saja keluar tiada henti. ingin sekali dia pergi sejauh mungkin, kalau saja dia tidak memikirkan Rei mungkin dia sudah kabur tidak akan pernah kembali lagi.
Tanpa sahutan dari Gisele ibu Rianti mengundurkan niatnya untuk masuk kedalam kamarnya, seolah dia hanya jadi benalu didalam hati Gisele.
Gisele mencoba kuat dengan mendekap kedua tubuhnya, rasa sedihnya bukan karna tamparan dari sang ayah. melainkan karna dia tidak ingin dijodohkan begitu saja, dia bisa mencari kebahagiaannya sendiri tanpa campur tangan siapapun.
☘️☘️☘️☘️
Dibalik rumah kaca
TOKK.TOKK
"Masuk," sahut Tristan dari dalam kamar.
"Tuan... Nyonya dan Tuan besar sudah menunggu diruang makan. sudah waktunya makan malam tuan..." ujar Lord membungkukkan badan.
"Nanti saja.... saya lagi ada pekerjaan sedikit, sampaikan saja pada ibu suruh saja mereka makan," ucap Tristan sembari mengamati berkasnya.
Tetap saja Lord berdiam diri dikamar Tristan, dia tidak beranjak keluar selangkah pun.
"Tuan makan dulu? biar bisa konsentrasi kembali tuan," berkata lagi sedikit memaksa.
"Apa kamu tidak dengar lord? sebentar lagi saya turun," ucapnya dengan sopan.
Lord masih dengan pendiriannya dia tidak mendengarkan alasan Tristan dan tetap saja berdiri tidak juga beranjak pergi.
"Kenapa Lord? apa ada hal lain lagi yg mau dikatakan?" tanya tristan sedikit santai tapi tidak menoleh.
Tristan sengaja melirik kesamping krna Lord belum juga pergi dari Kamarnya.
"Kenapa? apa kau mau menyuapiku Lord?" tanya Tristan menatap Lord yg sedang tertunduk dihadapannya.
"Tidak tuan?" sahut Lord tampak keringatan membungkuk tidak berani melihat mata Tristan.
Namun, Tristan masih tidak menggubris Lord yg berdiri tepat dibelakangnya.
Pada zaman dulu kala KLAN VAMPIR tidak bisa menjadi layaknya manusia tidak bisa makan, minum,terkena sinar matahari, seakan tubuh terbakar kalau memakai salib apalagi vampir terkenal akan rakusnya darah manusia.
Tapi seiring berkembangnya zaman klan vampir sudah tidak melakukan hal aneh seperti itu, apalagi bagi Tristan walau seorang vampir dia tidak meminum darah manusia walaupun terkadang dia tidak tahan dengan aroma darah manusia. namun, masih bisa menahannya dengan tenaga dalam yg dimilikinya. keluarga mereka hanya meminum darah hewan saja mereka juga bisa makan layaknya manusia biasa. bisa memakai salib, terkena panas, tidak ada larangan untuk mereka.
Lord juga menjadi bagian dari keluarga Tristan, dia juga berasal dari kaum mereka makanya dia sudah mengerti kalau Tristan bekerja pasti tidak akan sempat untuk makan. Lord hampir saja terbunuh oleh klan musuh bebuyutan Tristan, dengan sekuat tenaga Tristan, lord diselamatkan dan direbut oleh keluarga Tristan. maka dari itu lord senantiasa berada disisi Tristan. lagipula perlakuan dari keluarga mereka sangat baik terhadap Lord.
"Sudahlah Lord! Tanpa makan saya bisa bekerja. jngan menghawatirkan saya! saya tidak akan mati," tegas Tristan menatap Lord yg berdiri didepannya.
"Tapi tuan..."
"Sudah! saya pusing melihat kau hanya berdiri terus disitu Lord, semakin lama kau jadi bawel seperti ibu!" tampak jengkel sembari bangkit dari kursi meninggalkan Lord dikamarnya.
Hufhhh... akhirnya keluar juga?! batin Lord mengelus dada.
Lord berhasil membujuk Tristan yg sedingin es itu, lord juga bergegas mengikuti langkah Tristan yg telah hilang dari pandangannya.
🌼🌼🌼🌼🌼
Pagi hari yang cerah.
CIITT..CIITT..
__ADS_1
Terdengar Suara burung yg bertengker di jendela Rei membangunkannya dari tidur panjang terasa sungguh melelahkan tubuhnya.
Rei membuka mata perlahan walau terasa sangat perih, begitu banyak air mata yg telah dia keluarkan. Rei bangkit dari kasurnya untuk bergegas kekamar mandi.
Berkaca mengarah cermin seolah dia terlihat sangat menyedihkan seakan dia mengira itu bukanlah dirinya, tampak jelas mata bengkak, wajah kusut, bibir kering,rambut acakan.
Apakah ini aku? batin Rei menyenderkan kepala ke cermin.
Namun itu tidak membuatnya putus asa, dia segera membasuh wajah agar perih dimatanya bisa cepat hilang, terus bergegas mandi tidak mau berlarut dalam kesedihan apalagi terlihat lemah Dimata oranglain. itu bukan suatu hal baru baginya untuk menangis, sedih, kesepian, dia sudah terbiasa akan hal itu.
Sepanjang Rei membenahi diri.
TOK.TOK.
"Masuk bik! gak Rei kunci," sahutnya dari dalam kamar.
"Non sudah siap mau pergi kuliah? tidak izin libur saja non...." ujar Bik Lis cemas melihat keadaan Rei.
"Tidak bik! karena tidak ada lagi hari libur setelah apa yg terjadi. Rei pergi dulu bik," bergerak keluar tampak wajah pucat.
"Tunggu non..." Bik Lis berusaha mengejar Rei keluar.
"Ada apa bik?" menoleh kearah Bik Lis.
"Non sarapan dulu ya? bibi temani ya non..." rayu bik Lis memaksa tersenyum.
"Enggak bik," tegasnya lagi. "Rei bisa makan dikampus. makasih bik," terus melangkah pergi begitu saja.
"Tapi no- " Bik Lis gagal merayu Rei krna langkahnya yg sangat cepat.
Aduh... bagaimana ini? wajahnya saja terlihat pucat, semoga non Rei baik-baik saja dikampus. batin Bik Lis gelisah.
...****...
Dalam perjalanan ke kampus.
"Ricky..." sapa Rei dari dalam mobil. "nanti tidak usah jemput saya! saya bisa pulang sendiri," titah Rei pada Ricky.
"Saya bisa menjaga diri sendiri. nanti saya juga hubungi ayah, kalau saya pulng sendiri. Kau tidak perlu cemas," ujarnya bergegas keluar dari mobil.
Ricky termanggut mendengar perkataan Rei padanya, bergerak ikut keluar dari mobil melihat dari jauh dengan perasaan cemas.
Ada apa dengan nona ya? kok hari ini tidak seperti biasanya? wajahnya juga pucat sekali... batin Ricky sembari menggaruk kepalanya.
Rei berjalan dengan langkah berat, karna masih terpukul mendengar perkataan ayahnya kemarin. berat baginya menerima kenyataan pahit yg harus dihadapinya nanti.
Sesampainya Rei diruang kelas dia melihat kelas masih kosong tidak ada seorangpun didalamnya, dia mendongak melihat jam dinding ternyata masih pukul 08.00 pagi. sejenak tersadar bahwa dirinya yg datang terlalu pagi.
Dia terduduk sendiri dikursi dengan menatap arah luar jendela, sekaligus bisa melihat cahaya matahari yg begitu indah, dia sempat berfikir kalau dirinya dibawa oleh angin pasti akan sangat Menyenangkan rasanya.
"Hai Rei..." sapa Liona menepuk sebelah pundak Rei.
Dalam keheningan dia terhanyut dibawah lamunannya. namun, dibuyarkan oleh suara yg memanggilnya dari dekat.
"Oh. ternyata liona..." sahutnya tampak tersenyum kecil.
"Loh! kok kamu sendirian Rei... Gisele mana?" tanya Liona pula sembari duduk didekat Rei.
"Ah... Gisele dari tadi belum kelihatan? kayaknya dia belum datang deh..." sengaja mengalihkan pandangannya dari Liona seolah sibuk melihat keluar kelas.
Liona bisa merasakan bahwa Rei sangat berbeda hari ini, apalagi ada aura kesedihan yg terlihat jelas diwajah Rei sehingga Rei gak bisa menatap mata Liona.
"Rei..." memegang kedua pipi Rei. "apa kamu ada Masalah?" tanya Liona tidak lepas dari tatapannya.
"Eng- ." Rei kehabisan kata.
"Kok diem aja Rei? aku gak mau ikut campur masalah pribadi kamu Rei. aku juga sudah menjadikan kalian sebagai temanku," ujar Liona memegang tangan Rei.
"Tidak ada kok," lirih Rei mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Rei... kamu gak bisa berbohong padaku," kata Liona menegaskan.
"...."
"Wajahmu pucat sekali Rei... semua orang juga bisa melihat keadaan kamu sekarang. apa kamu sedang sakit? aku bisa antar kamu keruang istirahat," membujuk Rei tampak cemas diwajahnya.
Dari sudut pandang Rei, liona adalah gadis yg cantik mempunyai rambut bob berwarna sedikit kecoklatan, hidung mancung, kulit putih,wajah oval. namun, dibalik itu dia mempunya kelebihannya sendiri.
Rei terus menatap liona tanpa berkata apapun walau perkenalan itu cukup terbilang masih baru tapi liona sudah memberikan perhatian penuh terhadapnya.
Tanpa segan Rei memeluk erat tubuh liona dalam dekapannya. lagipula dia belum pernah mendapatkan teman yg baik selain Gisele, namun disaat ini gisele tidak muncul dihadapan Rei.
Dengan perhatian yg diberikan liona padanya, sehingga bisa menerima liona menjadi teman dekat untuknya, apalagi saat ini Rei sangat butuh tempat untuk bersandar didalam kesedihannya.
"Kamu boleh menangis sekuatnya Rei... mungkin kamu bisa lebih rileks setelah melepaskan semua emosi kamu," ucapnya sembari menepuk punggung Rei perlahan.
Sama halnya dengan Liona yg juga merasakan kenyamanan saat dipeluk oleh Rei, setidaknya Rei juga sudah sedikit bisa menerima keberadaannya. sekilas dalam benak Liona.
"Tuh! mata kamu bengkak.... bilang lagi gak sedih," melepaskan pelukannya dari Rei serta mencubit pipi Rei pelan.
"Apa-an sih liona? sakit tau." Rei membalas cubitan Liona padanya.
Ruang kelas telah dipenuhi dengan keributan yg menyadarkan Rei dan juga liona kalau semuanya sudah pada datang.
Namun, Gisele belum juga terlihat batang hidungnya.
"Rei, sepertinya gisele gak datang deh! ada apa ya?" tanya Liona pula celingukan kearah luar kelas.
"Aku juga berulang kali kirim pesan! gak dibalas sama Gisele," wajah Rei sedikit terlihat cemas.
"Khawatirkan saja diri kamu sendiri... tuh! lihat bibir kamu. sudah seperti mayat hidup," seloroh Liona mencubit hidung Rei krna geram.
"Kayaknya hari ini kita keruang olahraga deh Rei," kata Liona pula.
"Bukannya jadwal hari ini Tri- maksudnya? pak dosen pembimbing kita ya..."
Hampir saja keceplosan!! batin Rei memejamkan mata sejenak.
"Oh... pak dosen diganti sesi kedua Rei," ujar Liona pula.
"Gitu ya?" jawab Rei singkat tampak mata terkulai.
"Rei, kamu bisa keluar dengan tampang begini..." seru Liona menekan pipi Rei dengan menatapnya.
"Bisa kok? aku kan gak wanita lemah," tersenyum dengan menggerakkan alisnya.
"Gak boleh! kamu gak boleh keluar dengan penampilan begini. kamu pucat banget tau gak Rei.... nih! lihat ini kacaku, kamu gak ada kaca kan dirumah," menyodorkan tepat diwajah Rei.
"Enak aja kamu! ada kok," mendorong kaca yg diberikan Liona.
Sesaat Mereka pun tertawa bersama layaknya pertemanan yg sudah terjalin lama, rei bahkan merasakan kehangatan bersama liona semenjak Liona berusaha dekat padanya apalagi Liona sangat berusaha untuk membuat hati Rei lebih tentram.
****
Waktu 09.00 pagi dimana ditujukan untuk semua murid harus bergegas keruang olahraga, Rei dan liona beranjak pergi untuk berganti pakaian khusus yg diberikan pihak kampus. mereka singgah ke loker untuk mengambil barang yg diperlukan.
"Rei, aku tunggu diruang olahraga ya? yg aku tunjuk tadi. cepetan ya putri salju..." ujar Liona tersenyum jahil pada Rei yg bergegas pergi dari ruang ganti.
"Apasih." Rei menggelengkan kepala melihat tingkah Liona.
Beberapa menit kemudian Rei telah selesai mengganti pakaian, tak lupa dia bercermin untuk merapikan rambut yg sedikit berantakan. namun, tanpa sadar dirinya belum makan apapun sedari rumah.
Setelah semuanya beres, Rei melangkah keluar untuk segera menyusul Liona yg sudah menunggunya.
Saat Rei masuk kedalam ruangan terlihat para murid berkumpul melakukan pemanasan kecil.
...................
Bersambung....
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA😚🤭
🥰😍MAMAK SAYANG KALIAN ❤️🥺