Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
KUCING ANEH


__ADS_3

☘️☘️☘️☘️


Suasana di dalam mobil.


Belinda merupakan keluarga dari Ariesandy, sang ibu bernama Belva, mereka dahulunya keluarga yg mapan dan berkecukupan sebelum semua harta di rampas begitu saja oleh Januarta sepupu dari Sandy tetapi nenek mereka tidaklah sama. adapula istrinya bernama Ambarita, mereka cuma memiliki anak perempuan tunggal. hanya saja Belva tidak ingin Belinda terlalu mengenal jauh keluarga jahat itu, dia berkata Marganya saja. tidak menyinggung anak perempuan mereka. pesan terakhir dari Belva untuk Belinda agar selalu waspada dan menjauhi marga Januarta.


Belva menceritakan kisahnya dari Investasi yg mereka lakukan telah ditipu oleh sanak keluarganya sendiri begitu tega merampas tidak bersisa, hanya meninggalkan 2% dari harta yg mereka miliki, maka dari itu keluarga Ariesandy pindah ke negara yg jauh dari London supaya tidak bertemu lagi dengan Januarta.


Kisah kelam Belinda tidak membuatnya berputus asa hingga dia bertemu dengan Maria yg sangat menyayangi dirinya. kini hidup Belinda sangatlah bahagia, ia menemukan orang-orang begitu tulus membantunya dan menerima kehadiran dirinya.


Bagi Belinda, kebahagiaan itu tidak di ukur dari harta. rasa bahagianya murni karena sudah menemukan keluarga yg sebenarnya setelah kepergian kedua orangtuanya.


"Jadi, negara yg akan kita tempati adalah London? benar begitu?" tanya Erlando pula menoleh ke belakang sambil memegang setir mobil membuka suara.


"Ekhem, ya Er! kita akan ke kota London. karna itu permintaan dari Belinda," celoteh Haikal membuat rona pipi di wajah Belinda saat itu.


"Kalau ada negara yg lain ingin di kunjung, silahkan. tidak perlu mendengar apapun dari saya," tutur Belinda pula sambil mengelus pundak lehernya.


Belinda, apakah dia sedang malu??? batin Maria melirik sambil menahan senyumnya.


"Apa kalian setuju, kalau kita ke London saja?" tanya Haikal pula sambil mengamati wajah semua orang.


"Kalau Tatan mau om, asalkan terus bersama Tante cantik," lontar Tristan tersenyum riang menatap Belinda.


"Kau gimana Er?" tanya Haikal melirik Maria.


"Kalau aku ikuti Maria saja," jawab Erlando memberi isyarat pada Haikal.


"Gimana Maria?" lirik Haikal tampak berharap keputusan Maria.


"Kau jangan tanya aku kal, tanya pada calon mu ini saja," ucap Maria blak-blakan membuat deguban jantung Belinda berdebar.


"Ke- kenapa saya ca..."


"Ya, kita akan ke London! semua sudah di putuskan," sela Haikal bergeleng kepala melihat Maria yg sengaja memancing Belinda.


"Bik, kenapa diam saja? apa bibik merasa terganggu?" tanya Haikal menoleh ke belakang.


"Tidak tuan, saya menikmati kehangatan dari kalian saja. tidak pernah saya merasa tentram sebelumnya," ungkap bik Lis tampak mata berkaca.


"Bik, jangan sungkan pada kami. anggap kami semua keluarga bibik sendiri, tidak perlu merasa kesepian lagi." Belinda mengelus punggung tangan bik Lis yg duduk bersebelahan dengannya.


"Ya nyonya, saya akan merasa sangat bahagia sekali," senyum bik Lis membalas sentuhan tangan Belinda.


Keduanya tersenyum bagai sepasang ibu dan anak yg melepas rindu.


"Apa kita sudah bisa berangkat?" tanya Erlando sejenak.

__ADS_1


Semuanya manggut krna sudah bisa melepaskan beban yg sebelumnya terasa sesak di Hongkong.


Saat Erlando melajukan mobilnya.


CKIITT


Erlando rem mendadak seketika membuat semua yg ada di dalam mobil terkejut dan terhentak karena rem tersebut.


"Ada apa Er?" tanya Maria memegang sebelah pundak Erlando.


"Aku juga tidak tau, sepertinya ada sesuatu di depan mobil," jawab Erlando pula yg merasa terkejut juga.


"Biar aku saja yg turun," sambung Haikal sambil membuka pintu mobil yg sudah kian berhenti di tepian jalan.


Haikal turun dari tempatnya dan mendekati sesuatu yg membuat Erlando seketika mengerem mobil.


Meeaauu


"Oh, ternyata hanya se-ekor kucing," gumam Haikal merasa lega krna hewan itu tidak terluka.


Haikal memungut kucing berwarna abu pekat itu dan sesekali mengelus bulu yg terasa sangat halus .


"Dimana keluargamu?" gumam Haikal tampak gemas dengan sentuhan bulu halusnya.


Meeaauu


Kemudian Haikal masuk ke dalam mobil.


"Apa yg kau bawa kal?" tanya Maria begitu penasaran melihat sesuatu di balik tangan Haikal.


"Ini kucing yg hampir kau tabrak Lan," ucap Haikal pula.


"Kenapa bisa ada kucing di jalan besar begini," lirik Erlando merasakan sedikit aneh.


"Kau benar, coba aku lihat! apa ada yg terluka pada kucing itu," kata Maria sambil memintanya seakan merasa keganjalan ada se-ekor kucing saat keberangkatan mereka.


"Ini, kau periksa saja," lanjut Haikal langsung memberikan ke tangan Maria.


"Coba kita lihat, apa ada bagian yg terluka," gumam Maria sambil memeriksa dengan perasaan yg aneh.


"Apa ada yg luka nyonya?" tanya Belinda merasa gemas melihat kucing itu seolah ingin menyentuhnya.


"Apa kau ingin memegang kucing ini?" balik tanya pula.


"Ya nyonya, apakah boleh saya memegangnya sebentar," sambut Belinda merentangkan telapak tangannya.


"Baiklah, setelah itu kita lepaskan saja kucing ini." Maria terus melihat sorot mata dari kucing abu itu.

__ADS_1


"Tante, tatan tidak suka dengan kucing! jangan terlalu dekat ya," lontar Tristan merasa geli dengan bulunya.


"Tatan tidak suka, atau geli?" seloroh Belinda tampak senang memegang kucing itu.


Saat Belinda bermain dengan kucing itu dan sengaja mendekatkan pada Tristan sejenak mata kucing itu memancarkan cahaya jahat yg tidak bisa di rasakan oleh mereka. hanya Maria yg mampu merasakan keanehan di balik sorot matanya.


"Bel, sudah! lepaskan kucing itu! berikan pada Haikal supaya mengeluarkan kucing itu dari sini," titah Maria semakin merasa ada yg aneh.


"Apa kita tidak merawatnya saja nyonya," bujuk Belinda tampak mata berbinar.


"Tatan tidak mau ada kucing, Tante cantik kan sudah punya Tatan kenapa mau merawat kucing ini?" tanya Tristan sedikit menjaga jarak dengan Belinda yg masih memegang kucing tersebut.


"Kucing ini comel Tatan. yakin, kamu tidak ingin mengelus bulunya sedikit saja," rayu Belinda sengaja mendekati kucing itu ke arah Tristan.


"Tidak, Tatan tidak mau! tidak suka kucing," ronta Tristan sambil menutup mulutnya.


"Bel, berikan kucing itu pada Haikal." Maria berkata tegas supaya Belinda tidak menggangu Tristan lagi melalui kucing aneh baginya.


"Kasian kucing ini nyonya, kita bawa saja kalau tidak ke London, biar saya yg merawatnya," bujuk Belinda lagi dengan menyentuh lengan Maria.


"Bel, kau mau kucing itu? atau kau mau aku keluar dari mobil ini?" senggak Maria mulai gelisah dengan kehadiran kucing di tengah mereka.


"Sini Belinda, biar aku meletakkannya di tempat yg aman," pinta Haikal dengan perlahan.


"Baiklah, letakkan dia di tempat yg jauh dari keramaian," pesan Belinda merasa tidak tega melihat nasib kucing itu.


"Cepat kal, jangan membuang waktu di sini," tegas Maria pula sambil melirik wajah Belinda yg sedih.


"Benar kal, kita sudah banyak makan waktu takutnya akan telat," kata Erlando membenarkan ucapan sang istri.


"Ya, aku akan secepatnya kembali," balas Haikal bergegas keluar dari mobil dan melangkah mencari tempat yg aman untuk kucing yg dia pungut.


Haikal celingukan mencari tempat untuk hewan itu, seketika dia menemukan sebuah gubuk kecil yg pas sekali untuk tempat kucing jauh dari bahaya.


"Ini tempat untukmu, selamat tinggal. jaga dirimu," tampak Haikal memberikan salam perpisahan dan mengelus kepala kucing itu.


Meeaauu


Haikal terus berjalan tidak ingin menoleh lagi, dia sebenarnya juga tidak tega membiarkan kucing itu sendirian di gubuk. tetapi Maria sudah menegaskan untuk melepaskan kucing tersebut tidak ingin membawanya.


Setelah kucing itu di lepaskan, Haikal kembali lagi masuk ke dalam mobil.


Pada akhirnya mereka beranjak pergi dari Hongkong menuju London.


Semuanya sudah dipersiapkan oleh Haikal sebelum keberangkatan mereka.


Saat di bandara, mobil sewa mereka pun sudah di berikan pada pemiliknya. mereka kini terlepas dari beban dan rasa penat yg sepekan lalu mereka jalani.

__ADS_1


...................


__ADS_2