Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
SEASON 2


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Pada siang hari di sebuah gereja .



Gereja terbesar di Inggris "Church Of England" merupakan gereja yg sudah berdiri ber-abad tahun lamanya. tempat ini merupakan pilihan dari Belinda mengikat janji suci dengan Haikal.


Semenjak lamaran dari Haikal saat itu, Belinda sudah menerima secara tulus keberadaan Haikal di dalam hatinya. mereka berhak bahagia karena saling menghargai dan mencintai satu sama lainnya.


Dikarenakan mereka akan segera menikah, Belinda beserta suami dan anaknya mencari rumah yg lebih baik lagi untuk mereka tinggal. setelahnya mendapatkan rumah keluarga itu pun pindah membawa rasa kebahagiaan bercampur sedih krna belum siap melepas kenangan saat bersama Belinda juga Haikal. begitu pula dengan Belinda dan Haikal, mereka membawa bik Lis untuk tinggal bersama mereka supaya Belinda tidak sendirian saat Haikal bertugas.


Perusahan kecil yg Erlando dan Haikal bangun mendapat hasil cukup lumayan, akhirnya mereka bisa membeli rumah masing-masing untuk tempat tinggal.


Haikal juga membawa Belinda saat ingin membeli rumah, Belinda sangat terkesan dengan rumah yg sangat indah dikelilingi taman serta merambat di dinding rumah, maka dari itu Haikal membeli rumah atas pilihan Belinda sendiri.


Tidak jauh dari rumah Belinda dan Haikal, menembus waktu setengah jam untuk sampai ke rumah Erlando. Erlando juga membeli rumah berlapis kaca yg sejuk di kelilingi bnyk pepohonan supaya matahari bisa di tutupi dengan dedaunan. rumah yg Erlando beli terkesan mewah karna isi di dalam rumah tersebut sangat terlihat jelas saat seseorang berada di luar.


Hari ke dua setelah selesai mencari rumah.


Menjelang hari bahagia sebelumnya mereka berdua sudah menghabiskan waktu seminggu untuk mempersiapkan seluruh acara supaya menjadi kenangan yg tidak terlupakan seumur hidup. karna pernikahan bagi Belinda hanyalah satu kali.


Awalnya Tristan begitu sedih mendengar Belinda akan menikah, karna sudah pasti dirinya tidak akan bisa melihat Belinda setiap hari. tetapi Belinda memberikan pengertian pada Tristan bahwa dirinya tidak akan pernah sekalipun melupakan kebersamaannya dengan Tristan.


Tristan terlalu kecil untuk memahami yg Belinda katakan itulah fikirnya. namun, Belinda salah perkiraan. begitu bijaknya Tristan mengatakan bahwa kebahagiaan Belinda juga kebahagiaan dirinya. Belinda sempat tertegun mendengar ucapan itu. Tristan mengatakan itu karna dia sudah melihat pancaran dari wajah Belinda tampak sangat riang menjelang hari bahagianya.


Maria,Erlando dan bik Lis ikut turut membantu dalam menyelesaikan semua kebutuhan di saat pernikahan. mereka ikut andil dalam acara itu. serta gaun yg dipilihkan oleh Maria begitu mewahnya berkesan sangat elegant.


Kebahagiaan meliputi semuanya, tawa serta canda membuat rasa lelah tidak terasa.


Detik detik menjelang hari pernikahan.


Tok Tok


Maria memakai gaun berwarna biru hingga menyanggul rambutnya, tak lupa juga ia memperindah kakinya dengan hailhis warna silver. Belinda pun juga ikut saat Maria mengajaknya untuk membeli haihils miliknya.


"Ya, masuk saja. pintunya tidak di kunci," sahut Belinda yg berdiri terbengong melihat gaun tepat di hadapannya.


"Bel, apa kau sudah menerima gaun dariku?" tanya Maria saat memasuki kamar Belinda dan menutupnya kembali.


"Nyonya, gaun ini tidak cocok untuk saya. terlalu mewah," protesnya bergeleng kepala.


"Apa yg kau katakan bel? kau saat ini akan menjadi tuan putri kami, tolong kau jangan menolak pemberian dariku," bujuk Maria meraih tubuh Belinda memeluknya erat.


"Tapi..." ucap Belinda terhenti saat dirinya menoleh ke arah gaun itu.



Oh tuhan, apa gaun ini pantas untukku??! batin Belinda terus menolak dirinya.


"Bel, tidak ada tapi lagi. sekarang kau duduk karna sebentar lagi MUA akan segera datang," ajak Maria seketika melepas pelukannya.

__ADS_1


Begitu patuhnya Belinda saat Maria menarik lengannya untuk segera duduk di tempatnya.


Tok Tok


"Ya masuk," sahut Maria pula.


"Maaf nyonya, saya sedikit terlambat. apa kita sudah bisa mulai merias pengantin?" tanya wanita yg sangat cantik rupawan tampak bungkukkan badan.


Cantik sekali??! batin Belinda riuh, sesaat cemberutnya hilang entah kemana.


"Ya, yaaa... kita sudah bisa mulai," girang Belinda dengan mata yg berbinar.


Maria bergeleng kepala hingga tersenyum karna melihat Belinda begitu antusias, sesaat wanita itu berhasil mengalihkan pandangan Belinda melalui kecantikan yg dimilikinya.


"Ya sudah, aku tunggu di luar bel. aku juga harus mempersiapkan yg lainnya," turut Maria sambil memegang pundak Belinda.


Belinda anggukkan kepala tanpa melihat Maria, sorot matanya hanya tertuju pada wanita yg sudah membelalakkan matanya.


Hingga wanita itu tanpa sadar sudah sangat di perhatikan oleh Belinda.


Maria berlalu dari kamar itu, sesekali dia menoleh ke arah Belinda yg masih asyik memandangi wajah wanita yg baru saja datang. lontaran senyum Maria begitu bahagia krna melihat Belinda tidak memikirkan gaun pemberiannya lagi.


Pintu kamar di tutup.


"Nyonya, apa ada yg salah dengan wajah saya?" tanya wanita itu sudah tersadar.


"Jangan panggil nyonya, panggil Belinda saja," ucapnya masih terus menatap tidak berpaling sedikitpun.


"Apa saya boleh bertanya?" lontar Belinda memegang tangan Jeny.


"Ya, silahkan saja," turutnya menyambut tangan Belinda.


"Mengapa kamu bisa secantik ini? saya sampai tidak bisa berkedip," ungkap Belinda begitu ingin tau jawaban dari Jeny.


"Maaf Belinda, kalau boleh saya katakan. andalah wanita yg paling cantik, wajah anda seperti boneka, saya hampir tidak menduga saat ini seperti berbicara dengan boneka." Jeny tidak bisa memendam penglihatannya saat pertama kali masuk ke kamar Belinda.


"Apa yg kamu katakan? saya tidaklah secantik dirimu," protes Belinda seketika melepas pegangan tangannya hingga mengalihkan wajah krna merasa malu.


"Mata saya tidak akan pernah salah Belinda, mempelai pria yg mendapatkan anda begitu beruntung. krna sudah pasti kalian akan mendapat keturunan yg begitu cantik dan tampan seperti ayahnya," kata Jeny membenarkan perkataannya sendiri.


"Wajah yg nyonya lihat ini hanyalah riasan untuk menutupi luka yg di akibatkan krna kebakaran beberapa tahun lalu hingga membekas," sambung Jeny sejenak membelakangi Belinda memejamkan matanya, mengingat kejadian menyakitkan itu.


"Wajah mu..." ucap Belinda terhenti.


"Ya, Belinda. wajah ini berhasil selamat karena operasi hingga masih menimbulkan cacat akibat jahitan menjadi daging," balas Jeny terlihat menghembus nafas kasar.


"Apa kamu bisa ceritakan pada saya? supaya beban itu sedikit berkurang," pinta Belinda tersenyum kecil.


Sesaat Jeny menoleh ke belakang ketika ia mendengar Belinda yg baru saja dia kenal sudah membuat dirinya terkagum mendengar ucapan itu. Jeny pun membalas senyum Belinda, karna Jeny tidak menduga ada seseorang yg begitu baik, apalagi menghargainya dan mendengarkan ceritanya.


"Baiklah, tapi setelah anda berhasil saya buat menjadi putri di dalam negri dongeng," selorohnya seketika memegang kedua pundak Belinda menghadapkan ke pantulan kaca hias.

__ADS_1


Belinda tersenyum riang karna dirinya bisa begitu mudah berbaur dengan yg lain. dan yg mengenalnya menerima kehadiran dirinya.


Di dalam ruang kamar Belinda terdengar tawa dan canda dari luar, sampai bik Lis ikut tersenyum mendengar suara Belinda begitu nyaring sehingga orang orang yg sibuk menjadi ikut bahagia.


Beberapa saat kemudian.


"Anda sudah boleh buka mata," kata Jeny merasa tersentuh melihat kecantikan yg dipancarkan oleh Belinda.


Seketika Belinda membuka matanya perlahan.



"I- ini... saya?" tanya Belinda belum percaya dengan dirinya yg sesungguhnya.


"Ya! inilah anda, sudah saya katakan. bahwa mata saya tidak pernah salah menilai seseorang! anda sungguh sangat cantik Belinda," lontar Jeny menepuk kedua pundak Belinda yg masih melotot ke arah kaca hias.


Belinda sesekali memejam dan kembali membuka matanya, dia masih belum sadar selama ini, kalau dirinya memanglah sangat cantik.


"Sekarang saya akan membantu nyonya untuk memakai gaun, dan pernak pernik di rambut nyonya. setelah itu saya akan beri tau ke keluarga anda, tugas saya telah selesai," lanjut Jeny pula mengarahkan Belinda yg masih bengong.


"Agh, iya..." patuh Belinda, sesekali menoleh ke arah cermin melihat sosok dirinya sendiri.


Tok Tok


"Masuk nyonya," sahut Jeny.


Saat Maria masuk kedalam, dirinya tidak menyangka kalau Belinda bisa secantik itu memakai gaun miliknya apalagi riasan diwajahnya membuat Belinda terlihat sempurna.


Prok Prok


Tepukan tangan Maria sambil melangkah mendekati Belinda tidak percaya bahwa yg ada didepannya adalah adik angkatnya sendiri.


"Perfect! kau sangat cantik bel, sungguh! aku tidak bohong," lontaran Maria membuat Belinda gugup.


"Ti- tidak secantik nyonya, terimakasih nyonya," ucap Belinda tertunduk malu terlihat rona merah di pipi.


"Oh ya, aku ingin memberi kalung pemberian Haikal untukmu. katanya aku saja yg memasangkan ke lehermu bel," ungkap Maria sambil merogoh tas miliknya.



"Apa kau suka bel?" tanya Maria setelah memasangkan kalung ke leher Belinda.


"Begitu indah nyonya," ucap Belinda saat meraih kalung yg sudah membalut lehernya itu.


"Baiklah, sedikit lagi saya akan mengancing atasnya," turut Jeny yg kelabakan memasangkan gaun Belinda.


"Biar saya bantu," sambut Maria memegangi gaun yg sedikit lagi akan memperindah Belinda.


Rasa haru meliputi wajah Maria ketika itu, dia tidak menduga bahwa Haikal akan berjodoh dengan wanita yg ia selamati saat berada didalam hutan. air mata tampak jatuh dipipi Maria, sesekali dia menyekanya tanpa sadar Jeny sempat melirik keharuan itu.


.............

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2