
...☘️☘️☘️...
Jelang beberapa hari di rumah sakit Belinda akhirnya pulang ke rumah setelah siuman dari ketidaksadarannya saat melahirkan buah hatinya itu.
Sementara Ricky dan bik Lis masih terus berada di samping Belinda atas perintah dari Haikal sendiri karena ia tak mau istrinya menjalani semuanya tanpa ada orang di sampingnya apalagi ia juga tak dapat menemani Belinda karena Ambar sudah mengancam dirinya terlebih dulu tentu saja Haikal merasa takut kalau Axel akan berbuat nekat untuk mencelakai Belinda.
Tibalah mereka semua di rumah ketika usai membawa Belinda pulang dari rumah sakit tampak pula bik Ina menggendong anak Belinda sedangkan Ricky dan bik Lis memapah Belinda menuju ke kamar tidurnya.
"Nyonya istirahat lah terlebih dulu, saya akan membuatkan bubur untuk nyonya makan," turut bik Ina setelah meletakkan perlahan anak yang ia gendong sebelumnya berdekatan dengan Belinda.
"Terimakasih bik," tutur Belinda yang tampak tersenyum kecil sambil menoleh ke arah anaknya lalu ia kembali menoleh pada bik Lis tepat duduk di sampingnya.
Ricky yang masih berdiri merasa cemas kalau Belinda sampai menyinggung masalah Haikal.
"Bik, kenapa kalian cuma berdua saja? Haikal di mana?" tanya Belinda pula sambil menoleh ke arah keduanya secara bersamaan.
Pada akhirnya apa yang di cemaskan oleh Ricky pun justru terjadi.
"Ohiya saya lupa menurunkan barang bawaan dari rumah sakit masih di dalam mobil sekaligus ingin membantu Ina dulu di dapur kalau begitu saya pamit sebentar nyonya istirahat dulu saja jangan terlalu banyak fikiran," tukas bik Lis dengan menepuk jidatnya sendiri dan sengaja menghindari pertanyaan Belinda padanya.
Kemudian bik Lis beranjak dari tempatnya sambil menoleh pada Ricky dari samping dengan memberi isyarat mengedipkan mata seketika Ricky sedikit mangut tanpa di sadari oleh Belinda.
"Nyonya saya pamit juga ingin membantu bik Lis mengeluarkan barang dari dalam mobil," imbuh Ricky yang jelas terlihat juga menghindari Belinda dengan beralasan membantu bik Lis.
Akhirnya mereka berdua berlalu pergi begitu saja sehingga Belinda merasa mereka menghindari pertanyaan darinya makanya Belinda mulai curiga dengan sikap keduanya.
"Jelas terlihat kalian sedang menyembunyikan sesuatu dariku," gumam Belinda yang masih menatap tubuh keduanya usai keluar dari pintu kamar.
Setelah keduanya berlalu pergi Belinda menoleh pada anaknya yang belum ia beri nama tepat berada di sampingnya bahkan ia melontarkan senyuman kecil karena merasa anaknya tersebut sangat mirip dengan sang suami.
__ADS_1
.
.
.
"Aku tidak sanggup melihat mata nyonya saat bertanya seperti itu," cakap bik LIs yang tampak sedang bersender di mobil begitu frustasi ketika melihat wajah Belinda sebelumnya.
"Iya bik, saya juga tak bisa menjelaskan kejadian sebenarnya pada nyonya," kata Ricky pula yang ikut frustasi akibat tak bisa menjawab pertanyaan dari Belinda.
"Apakah wanita itu masih ada di rumah tuan saat ini?" tanya bik lis yang menoleh seketika pada Ricky.
Ricky mangut dengan membalas pertanyaan dari bik Lis bahkan tampak wajahnya berkerut karena merasa kesal pada Ambar yang sudah menguasai Haikal sepenuhnya dengan trik licik yang dia punya.
Sementara itu bik Lis melangkah ke bagasi belakang mobil sambil membukanya perlahan dengan menurunkan sedikit demi sedikit barang bawaan sebelumnya.
Pintu bagasi mobil pun tertutup kembali dengan rapat.
"Kita tak bisa menghindari nyonya seterusnya pasti nyonya akan selalu bertanya keberadaan suaminya dan aku masih bingung alasan apa yang harus di berikan padanya," cakap bik Lis sambil meraih barang bawaan di kedua genggaman tangannya. "Kau bawalah sisanya ke dalam," pinta bik Lis pula dengan sopan.
"Baik bik," turut RIcky sambil berlari ke arah bik Lis dan meraih barang bawaan tersebut lalu ia angkat semuanya dengan memegang erat.
Mereka pun melangkah ke arah dalam rumah secara bersamaan namun tanpa mereka sadari bik Ina sudah mendengar perbincangan mereka yang bersembunyi di balik pintu ketika bik Ina hendak ingin memanggil bik Lis.
Tentu saja bik Ina jadi merasa terkejut mendengar perbincangan mereka karena bik Ina juga tidak mengetahui cerita sebenarnya makanya ia menyimpulkan kalau keduanya sudah berkomplot untuk menyembunyikan selingkuhan tuan besarnya, itulah fikir bik Ina.
Setelah keduanya berlalu pergi bik Ina pun beranjak dari persembunyiannya untuk bergerak cepat ke kamar Belinda padahal ia masih memasak bubur di dapur namun ia tinggal begitu saja karena baginya apa yang dia dengar harus segera tersampaikan pada Belinda.
Sesampainya di kamar Belinda kemudian bik Ina menutup kembali pintu kamar dengan rapat secara perlahan membuat Belinda menautkan kedua alis matanya.
__ADS_1
"Bik ada apa? kenapa terlihat gugup begitu?" tanya Belinda pula menoleh sambil menatap serius wajah bik Ina yang celingukan memperhatikan pintu kamar berulangkali.
"Nyonya, saya ingin memberi tahu nyonya sesuatu tetapi saya takut nyonya akan terkejut mendengarnya," monolog bik Ina yang masih terus celingukan ke arah pintu kamar.
"Bilang saja bik ada apa sebenarnya?kenapa bibi panik begitu?" mengulang bertanya bahkan tampak Belinda berusaha bangkit dari kasurnya.
"Nyonya jangan banyak bergerak, tetaplah berbaring saya akan bercerita perlahan tapi nyonya harus janji jangan berbuat hal nekat dan fikirkan lah jalan keluar yang harus nyonya ambil nantinya," cakap bik Ina pula sambil menahan kedua pundak Belinda supaya tetap berbaring dan kini bik Ina pun duduk tepat di sebelah Belinda dengan membuang nafas kasar terlebih dulu barulah dia bercerita perlahan apa yang ia dengar sebelumnya.
Dalam cerita yang di ungkapkan oleh bik Ina membuat Belinda membelalakkan matanya karena sungguh tidak menduga kalau bik Lis dan Ricky telah menyembunyikan hal sepenting itu darinya.
"Pantas saja tadi aku bertanya sikap mereka tidak seperti biasanya menghindariku," gumam Belinda mengalihkan wajahnya sehingga tampak aura sedih dalam sorot matanya sekilas bik Ina melirik Belinda yang tampak sedang melamun.
Apakah wanita yang di maksud bik Ina ialah Ambar? jika memang benar, apa yang harus ku perbuat? ya Tuhan bantu aku dalam masalah ini untuk menghadapinya. Batin Belinda terlihat terpukul sehingga wajahnya sangat lesu apalagi tampak kedua bola matanya sudah bisa di pastikan akan berlinang air mata namun masih dia tahan ketika melihat sang buah hati ada di sampingnya.
"Nyonya, nyonya!" panggilan bik Ina yang sudah berulang kali menggoyangkan tubuh Belinda namun masih belum ada jawaban. "Nyonya!" panggilan bik Ina sekali lagi dengan bersuara sedikit keras barulah Belinda tersadar dari lamunannya.
"Ya, kenapa bik?" tanya Belinda yang sudah tersadar dari lamunan karena mendengar teriakan dari bik Ina.
"Nyonya terlihat sangat sedih, maafkan saya nyonya karena tidak seharusnya saya mengatakan ini semua pada nyonya dan harusnya saya diam saja supaya nyonya tidak sedih begini," cakap bik Ina yang tampak tertunduk karena ikut merasakan kesedihan dari raut wajah Belinda.
"Tidak bik, jangan meminta maaf karena bibik tidak salah apapun justru semua ini harus di katakan lebih cepat jadi aku tahu apa yang harus di lakukan setelah ini dan terimakasih bik sudah memberi tahu hal sepenting ini," turut Belinda mengelus sebelah pundak bik Ina karena ia mencoba meyakini bik Ina kalau dirinya baik-baik saja padahal hatinya sangat terpukul saat ini.
Beberapa saat bik Ina menepuk jidatnya keras. "Oh tuhan, saya sedang memasak bubur di dapur! permisi nyonya, saya harus segera ke dapur," seketika bik Ina bangkit dari duduknya dan bergegas keluar dari pintu kamar secara cepat tanpa menoleh lagi.
Belinda pun tersenyum tipis melihat tingkah bik Ina lalu dia menoleh pada buah hatinya kemudian mengelus perlahan rambut anaknya berulang kali sambil bergumam sendiri. "Sekarang ibu akan memberi mu sebuah nama yang indah sayang, Reini... Ya, itulah namamu sekarang nak."
Belinda berkata demikian sambil meneteskan air mata sehingga air matanya jatuh seketika di wajah Reini.
..........
__ADS_1