Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
KEGELISAHAN


__ADS_3

☘️☘️☘️


Seumpama Ricky tidak didorong keluar oleh ibunya, mungkin saja saat ini dia sudah berkumpul dengan kedua orangtuanya. tetapi tuhan berkehendak lain, Ricky masih diberikan kehidupan sekali lagi untuk terus menjalani setiap amanah yg ditinggalkan ibu dan ayahnya.


Peninggalan dari kedua orangtua Ricky berupa tanah,rumah,emas yg kian tersimpan di suatu brankas, dan sebuah supermart yg didirikan oleh kedua orangtuanya. Andre selama ini tidak pernah berkata apapun tentang hak waris yg jatuh atas nama Ricky, dia ingin melenyapkan Ricky secara perlahan. tetapi ia masih menyempurnakan rencananya. na'as Andre sudah di tahan polisi sebelum rencana itu dia jalankan.


Sungguh Ricky terpelongo setelah semua bukti harta dari orangtuanya begitu banyak. namun, selama ini Ricky diberikan kehidupan yg amat tidak layak. begitu kejamnya perlakuan sang paman terhadap Ricky. dari bukti itulah Ricky baru menyadari kalau Andre tidak pantas di sebut seorang paman.


Semua berkas kembali di susun Ricky dengan rapi, ia memasukkan ke dalam sebuah tas dan akan membawanya ke kantor polisi sebagai barang bukti atas penipuan yg telah di rencanakan Andre.


Raut wajah Ricky mengeras saat ingin keluar dari kamar, tampak juga mengepalkan kedua tangannya. belum lagi dia mengetahui kalau kedua orangtuanya mati karna ulah dari Andre. kalau saja dia mengetahui itu semua, entah apa yg akan terjadi pada Andre.


"Aku harus pergi sekarang," kata Haikal membuka suara setelah suasana hening terjadi beberapa saat.


"Pergilah, kami bisa naik taksi," turut Belinda anggukkan kepala.


"Ricky, kau harus mengontrol emosi mu! jangan kau mengotori tanganmu sendiri," pesan Haikal sebelum dirinya bergerak pergi.


Sekejap Ricky menoleh dan melontarkan senyum tipis di pinggir bibirnya. dia berpura tenang sementara hatinya menggerutu.


"Baiklah, aku pergi. bik, jaga Belinda," lanjut Haikal pula sambil mengelus kepala sang istri sesekali.


"Ya tuan, saya akan menjaga nyonya," bungkuk bik Lis dengan patuh.


Chup


Haikal mencium kening Belinda dan bergegas pergi dari hadapan mereka dengan begitu tergesa-gesa.


Beberapa saat setelah Haikal pergi.


"Saya ingin ke kantor polisi, kalian bisa kembali ke rumah. terimakasih karna kalian selalu membantu saya," cakap Ricky dengan menenteng tasnya begitu erat.


"Kami tidak merasa di susahkan olehmu! kami akan menemani mu ke kantor polisi," protes Belinda pula menatap tajam wajah Ricky yg terlihat mengalihkan pandangan.


"Ricky, kami sekarang adalah keluarga mu! apapun yg akan kau lakukan, kami selalu mendukung mu," lanjut Belinda pula menepuk pelan pundak kanan Ricky.


Seketika Ricky menoleh begitu terkejut dibalut senang setelah mendengar ucapan dari mulut Belinda sendiri. ia memberikan senyuman manis tidak pernah Belinda liat sebelumnya.


"Apa saya layak menjadi bagian keluarga?" tanya Ricky pula masih tidak yakin.


Keduanya manggut dengan cepat, berupaya memberikan semangat pada Ricky yg terlihat sangat dilanda kesedihan.


"Terimakasih, karna kalian begitu baik pada saya." Ricky yg tidak tahan lagi berkata demikian tampak menetes lah air matanya.


Selama hidup dengan Andre, belum pernah sedikitpun Andre menganggap Ricky sebagai keponakannya. Ricky selalu menelan begitu saja perbuatan Andre padanya. makanya Ricky terasa sangat tersentuh ketika Belinda mengatakan hal di luar dugaanya.

__ADS_1


"Sekarang kita harus segera pergi dari sini, karna masa sidangnya sudah akan di mulai," lontar Belinda membuyarkan lamunan Ricky.


"Ya, kita harus cepat," turut Ricky sambil menyeka air mata yg sempat jatuh.


Mereka bertiga mulai bergerak menuju keluar dengan langkah cepat. Belinda merasa lega kalau Ricky sudah bisa menerima takdirnya dan begitu sigap mengambil tindakan yg mungkin sudah lama ia tahankan, seperti itulah pandangan Belinda saat menatap jauh Ricky yg sedang berlari didepannya.


Semuanya pun keluar menuju gerbang yg masih tertutup rapat setelah Haikal berlalu.


Pak satpam yg berjaga mendatangi mereka dengan menggerakkan kedua tangannya terlihat sedang berbicara.


"Kami akan pergi, bukakan gerbangnya," itulah yg dikatakan Ricky menggunakan isyarat tangan supaya pak satpam mengerti maksud pembicaraan Ricky.


Seusai Ricky mengatakan itu, barulah pak satpam manggut dan berlari membuka langsung gerbang dengan mendorongnya kuat. ia pun bungkuk pertanda memberi mereka jalan untuk keluar.


Belinda dan bik Lis merasa bingung, apa yg telah di katakan oleh Ricky pada pak satpam. begitu cepatnya dia mengerti maksud Ricky. keduanya saling berpandang mata terlihat mengangkat bahu seperti tidak tau menahu apa yg dibicarakan Ricky.


Ricky pun langsung mengajak Belinda dan bik Lis keluar untuk mencari taksi, keduanya ikut melangkah cepat dibelakang Ricky.


Di daerah rumah Andre sangat jarang taksi lewat, hanya sebagian orang yg beruntung mendapatkan taksi saat berada di wilayah itu. krna penduduk di situ seluruhnya mempunyai kendaraan. sebenarnya di bagasi rumah Andre juga ada sebuah mobil, tetapi Ricky tidak mempunya kuncinya saat itu.


5 menit berlalu tetapi taksi belum juga mereka dapati. namun, dari kejauhan Ricky melihat mobil berwarna merah pekat sedang melaju mengarah untuk melewati mereka. dari situlah Ricky tidak mempunyai cara lain, mungkin saja mobil itu bisa memberikan tumpangan pada mereka.


Jempol Ricky melambai berulang kali tepat saat mobil itu terus melaju, pertanda bahwa Ricky sedang meminta tumpangan.


Mobil kaca terbuka lebar. dan ternyata seorang wanita yg sedang menyetir seketika menampakkan wajahnya.


"Loh! Ambar?" riuh Belinda terlihat terkejut dengan kehadiran Ambar.


"Belinda, aku tau kalau itu kau! makanya aku berhenti," sahut Ambar dengan kepalsuannya.


"Kalian saling kenal?" tanya Ricky terbengong dan kian malu krna menduga dirinya yg sudah berhasil demikian.


Bik Lis bingung dengan sikap Belinda yg begitu riangnya saat bertemu seseorang. sebelumnya bik Lis belum mengenal Ambar, krna Belinda belum mengatakan apapun padanya.


"Masuk lah! aku akan mengantar kalian," turut Ambar sambil membuka kunci pintu mobilnya dengan otomatis.


Mereka pun manggut, dan bergerak mengikuti Belinda. bik Lis dan Ricky duduk di belakang sementara Belinda duduk bersebelahan dengan Ambar.


Bik Lis menatap tajam wajah Ambar, dia juga harus mengetahui siapa saja yg dekat dengan Belinda.


Setelah mereka semua masuk dengan aman Ambar melajukan mobil dengan pelan.


"Kau sedang apa di daerah sini?" tanya Ambar menoleh ke arah Belinda.


"Sedang ada urusan sebentar! kebetulan sekali kita bertemu di sini. apa rumah mu juga di sekitar sini?" balik tanya pula seakan jalan terlalu mulus untuk Belinda bertemu dengan Ambar di rumah Andre.

__ADS_1


"Ya, setiap harinya aku lewat dari arah sini. rumahku berjarak jauh dari tempat kalian berdiri tadi," beber Ambar berucap dengan santai.


Yang duduk di belakang mendengarkan pembicaraan mereka secara jelas. Belinda seolah melupakan kehadiran Ricky dan bik Lis.


"Oh ya, kenalkan mereka keluargaku," turut Belinda menoleh ke belakang.


"Hai, aku Ambar," ucapnya sambil menyetir tidak menoleh.


"Saya Lis."


"Saya Ricky."


Keduanya memperkenalkan diri dengan bernada rendah. tetapi Ambar melirik bik Lis dengan pantulan kaca yg mengarah didepannya.


Sontak bik Lis terkejut saat Ambar begitu tajam melihat dirinya. bik Lis langsung tertunduk tidak mampu melihat sorot mata Ambar yg begitu membuatnya merasa tertekan. entah apa maksud Ambar menatap tajam bik Lis. seolah dia memberi peringatan pada bik Lis untuk tidak terlalu banyak bertanya pada dirinya.


"Anu, nyonya..." ucap bik Lis kian berhenti dari perkataannya.


"Ada apa bik?" potong Belinda sejenak menoleh ke belakang melihat bik Lis sudah berkeringat.


Bukankah di mobil ini dingin?! kok bik Lis seperti kepanasan!! batin Belinda mulai bingung dengan sikap bik Lis.


Sekali lagi bik Lis melihat pantulan kaca yg mengarah padanya. namun Ambar masih tetap menatap tajam dirinya tanpa sepengetahuan Belinda.


"Apa kau panas Lis?" sambung Ambar berpura santai.


"Ti - tidak! sa - saya tidak panas," gugup bik Lis pula ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak mungkin saat adanya Ambar.


"Bik! apa sedang haus?" tanya Ricky pula buka suara.


"Tidak! saya sedang tidak enak badan saja," gelisahnya pula sambil melirik pantulan kaca itu.


Kenapa dia terus menatapku!! apa yg ingin dia sampaikan padaku?! batin bik Lis sungguh diambang keresahan.


"Bagaimana kalau kalian pulang saja, biar aku antar! sepertinya Lis sedang sakit," timpal Ambar pula sambil menyetir sekilas melihat Belinda yg masih menoleh pada bik Lis di belakang.


Oho!! apakah wanita ini babysiter nya?! memalukan!! batin Ambar menyeringai membuang senyum jahatnya kearah samping kaca mobilnya.


Memang itulah tujuan Ambar, untuk mengetahui di mana letak rumah Haikal sebenarnya. makanya Ambar memancing melalui bik Lis, Ambar diberikan sedikit kekuatan oleh Axel supaya dirinya mempunyai sorot mata yg tajam seperti hal nya Maria.


..............


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2