Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
KOMPAK


__ADS_3

☘️☘️☘️☘️


Markas Vero.


WUUSHH


"Kau sudah mendapatkan jejak mereka?" tanya Eron begitu tajam hidungnya bisa merasakan kehadiran Axel.


"Ya, hampir saja aku di bawa oleh manusia bernama Belinda itu," beber Axel menghela nafas.


"Dimana mereka sekarang?" tanya Eron tampak meremaskan jemari tangannya.


"Mereka sedang dalam perjalanan ke London," ungkap Axel pula saat dirinya berhasil menyamar sebagai kucing.


"Bagus! rencana akan tetap berjalan sampai aku puas hingga mereka terbunuh di tanganku sendiri," geramnya seolah memancarkan mata kebencian.


"Apa kita akan berdiam di sini?" tanya Axel membuat Eron menoleh kebelakang menatap padanya.


"Apa aku salah berbicara?" sambung Axel terlihat gugup saat Eron melangkah untuk mendekatinya.


"Kau benar! kita harus pergi dari sini, karna musuh tidak mungkin mati di tangan kita! tidak boleh membuat mereka sedetikpun merasa bebas!" ucap Eron sesekali menepuk sebelah pundak Axel.


Axel manggut setelah ucapan yg di lontarkan Eron padanya, keduanya saling menatap dan tersenyum seketika karena rencana akan terus berjalan hingga pembalasan dendam Vero dilakukan dengan tuntas.


🌿🌿🌿🌿


Sebuah rumah sederhana di London.


Tidak membutuhkan waktu berhari-hari untuk mereka sampai di negara London, semuanya sudah di persiapkan oleh Haikal sedari awal. mulai dari rumah, perlengkapan kebutuhan, hingga kendaraan yg akan mereka pakai untuk bepergian.


Krek


Pintu terbuka lebar saat Haikal menyetel kunci rumahnya.


"Kal, kau yakin kita akan muat di sini?" tanya Maria heran melihat rumah yg sudah di sewa Haikal, cuma terlihat satu kamar.


"Ya bel, karena..." ucap Haikal terhenti saat itu.


"Yasudah, aku mengerti maksudmu! kau tidak perlu melanjutkannya kembali," sela Maria memahami reaksi Haikal.


"Bel, istirahatlah! bawa Tatan juga bik Lis ke kamar, aku sedang ada urusan dengan kedua lelaki ini," pinta Maria memberi tubuh Tristan perlahan ke tangan Belinda yg masih tertidur pulas.


"Baik nyonya, mari bik! kita ke kamar," patuh Belinda meraih tas bawaannya sambil menggendong Tristan.


"Nyonya biar saya yg membawa semua barangnya," tutur bik Lis menghalangi tangan Belinda yg ingin membawa barang.

__ADS_1


"Biarkan saja bik, nanti saya dan Erlando yg akan membawa masuk," kata Haikal sembari melirik teman lelakinya itu.


Erlando manggut tidak bisa menolak permintaan teman yg sudah dia anggap kerabatnya sendiri.


"Masuklah," sambung Haikal lagi melontarkan senyumnya.


Keduanya manggut dengan patuh selain Maria yg masih ingin membicarakan hal untuk masalah hidup mereka kedepannya.


Saat Belinda dan bik Lis berlalu.


"Kal, Er, apa selanjutnya rencana kalian?" tanya Maria dengan melipatkan kedua tangan di dada bersender di sebuah tembok.


"Lebih enak kalau kita bicara dengan santai, duduk saja Maria. rumah ini sudah di bersihkan sebelum kita masuk," ajak Haikal memberi sebuah bangku untuk Maria.


Sesaat Maria duduk di ikuti juga oleh Erlando dan Haikal.


"Begini Maria, aku sudah bicara empat mata dengan Haikal sebelum kita semua ke sini. kami ingin membangun usaha kecil. dan kalian para wanita pilihlah apa yg kalian suka," kata Erlando membuka bicara.


"Ya Maria, apapun itu asal menghasilkan! karna aku juga tidak mungkin membiarkan kalian untuk tetap tinggal di sini dengan keadaan rumah yg seperti ini," sambung Haikal melirik Maria yg kian serius mendengarkan penjelasan mereka.


"Apa kau tidak berencana menikahi Belinda?" tegas Maria sontak mengejutkan hati Haikal.


"Pasti Maria, tidak mungkin aku melepaskan Belinda! hanya saja, aku belum mampu membahagiakan Belinda dengan keadaan begini," keluh Haikal terdengar lesu.


"Apapun yg kau katakan itu benar Maria, sebenarnya aku ingin segera menikahi Belinda. tetapi saat ini aku belum siap krna masih harus bekerjasama dengan Erlando mengubah hidup kita," perjelas Haikal lagi.


"Ada benarnya apa yg di katakan Haikal. sekarang kau bisa melakukan apapun yg ingin kalian kerjakan, biarkan kami membangun usaha kecil lebih dulu," balas Erlando dengan menatap serius Maria.


"Baiklah, aku akan bicarakan ini pada Belinda! kalian kerjakan apapun rencana kalian, aku masuk deluan," turut Maria setelah memahami maksud keduanya.


Erlando dan Haikal mengangguk pelan tampak membalas ucapan maria. mereka menghembus nafas pelan karna berhasil memberi keyakinan pada Maria.


Tok Tok


"Apa aku boleh masuk ke dalam?" sapa Maria dari luar kamar.


"Masuk saja nyonya, pintunya tidak di kunci," sahut Belinda menoleh pada Maria langsung bangkit dari baringannya.


Maria pun masuk dan menutup kembali pintu kamar.


Dia melihat Tristan masih tertidur dengan pulasnya.


"Bel, terimakasih karna kau sudah banyak menjaga Tristan hari ini," ucap Maria tersenyum pada Belinda.


"Nyonya, apapun yg saya lakukan tidak sebanding dengan kebaikan nyonya pada saya, nyonya jangan pernah menganggap saya orang lain," protes Belinda tidak menerima ucapan Maria.

__ADS_1


"Baiklah! kau paling bisa membuatku merasa tenang." Maria membelai lembut rambut Belinda.


"Nyonya, saya sangat sayang pada kalian semua! kalau tidak ada kalian, mungkin saya akan seorang diri sekarang," tutur Belinda membuat bik Lis juga terbangun mendengar suara perbincangan mereka.


"Nyonya, ada apa ini? sedang membicarakan apa?" tanya bik Lis langsung terduduk dan bangkit dari tidurnya.


"Maaf bik karna sudah membuatmu terkejut," ucap Belinda merasa tidak enak.


"Tidak nyonya, saya memang sudah begini sebelumnya! waktu Ardi sering menendang pintu rumah, saya jadi terbiasa mendengar suara apapun kalau saya lagi tertidur," ungkap bik Lis bergeleng kepala tidak membenarkan ucapan Belinda.


"Sekarang kau bersama kami, kau aman Lis! kau bisa nyenyak saat tertidur," timpal Maria melontarkan senyumnya.


"Nyonya sedang mencari saya?" lanjut Belinda memegang lengan kanan Maria.


"Duduk dulu nyonya, biar kita lebih enak berbicara," pinta bik Lis memegang lengan kiri Maria.


Seketika Maria tersenyum lebar saat keduanya memegang lengan Maria. dia pun menyambut tangan itu dan duduk di antara mereka.


"Aku sudah berbicara pada suamiku dan juga Haikal mengenai hidup kita di sini," ucap Maria melirik keduanya.


"Kita akan tinggal di sini nyonya," sambung Belinda melirik bik Lis.


"Apa yg bisa saya kerjakan di sini nyonya?" tanya bik Lis membuka suara.


"Lis, apa kau bisa memasak?" balik bertnya menoleh pada bik Lis.


"Bisa nyonya, tapi saya tidak yakin kalau masakan saya enak di lidah orang lain," jawab bik Lis merasa tidak yakin pada dirinya.


"Kau tidak perlu cemas Lis, aku dan Belinda yg akan merasakan masakanmu terlebih dulu," usul Maria memegang pundak bik Lis.


Belinda seketika langsung anggukkan kepala dengan girangnya ketika Maria mengajaknya untuk mencicipi masakan bik Lis.


"Lalu, saya harus apa nyonya?" tanya Belinda mengernyitkan dahi.


"Kau akan bersamaku! kita membuat tanaman hias untuk di jual pada orang lain," saran Maria membuat mata Belinda langsung berbinar.


"Tanaman hias?!" riuh Belinda bertepuk tangan perlahan takut membangunkan Tristan sesekali menoleh ke belakang punggungnya.


"Ya, apa kau suka tanaman hias?" tanya Belinda tampak senang saat melihat reaksi Belinda.


"Saya sangat suka tanaman, semua yg ada di istana nyonya saya suka semuanya, apakah nyonya yg merawat semua itu?" balik tanya begitu antusiasnya.


"Iya, aku yg sudah merawat seluruh tanamanku! tapi sangat di sayangkan semuanya tidak ada yg tersisa lagi," sesal Maria tampak sedih.


....................

__ADS_1


__ADS_2