Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
KEGILAAN FIDYA


__ADS_3

☘️☘️☘️


Sehari sebelum Haikal pulang kerumah saat dirinya ditemukan sedang mabuk, disinilah kita kupas pokok permasalahan yg membuat Haikal bingung sedari perjalanan menuju kantor bersama Ricky. dengan lamunan panjangnya ia berusaha keras untuk mengingat kembali kejadian saat dirinya pulang kerumah.


Pagi hari itu didalam kantor.


Tok Tok


"Masuk." Haikal menyahut saat dirinya sedang sibuk melihat berkas para kliennya.


"Pak, hari ini ada meeting penting dengan tuan Richard perusahaan yg baru saja menerima kontrak dari kita," seru Rasel membuat Haikal menatap tajam dirinya.


"Kemana Fidya? kenapa kau yg datang Rasel?" celetuk Haikal dengan tegas.


"A- anu... pak! nona Fidya sedang ada di luar saat ini, dia mengatakan ada hal penting yg harus diselesaikan," turut Rasel tunduk merasa takut pada Haikal.


"Kenapa dia tidak mengatakan apapun pada saya?!" berang Haikal penuh emosional setelah mendengar perkataan dari Rasel.


"Ba- bapak hubungi saja nona Fidya, saya hanya menyampaikan pesannya untuk bapak," keluh Rasel makin merasa takut.


"Sudahlah! kau keluar dulu! lanjutkan pekerjaan mu," titah Haikal menggerakkan tangannya.


"Baik pak, saya permisi dulu," bungkuk Rasel dengan sopan.


Ia pun keluar melangkah secepat kilat karena ketakutan saat berbicara pada Haikal yg terlihat frustasi itu.


Ya, semenjak adanya Fidya didalam kantor. hari hari Haikal menjadi kalut dan tidak ketentuan arah. namun, ia masih bisa bersabar sebelum menemukan pengganti Fidya yg lebih layak bersanding untuk dijadikan sekretaris pribadinya.


"Haaahh, bisa gila aku kalau caranya begini?!" gumam Haikal pula menekankan kedua pelipis matanya hingga melepas kaca mata yg bertengker di batang hidungnya.


"Oh tuhan, apa yg harus ku lakukan jika sudah sampai seperti ini," keluhnya lagi teramat sesak didada saat mengingat akan perjanjiannya pada Fidya, dia menautkan kedua alisnya dan memejam mata.


Sepintas lewat dalam pikirannya untuk menjebloskan Fidya ke dalam penjara karena sudah berhasil memerasnya dengan imingan untuk menyelamatkan perusahaannya. tetapi bukti belum ada, sehingga Haikal merasa diambang kesusahan sendiri. aura ruangan Haikal begitu mencekam karena Haikal penuh dengan rasa amarah yg begitu memuncak.


Sementara itu di bagian sisi lain, Fidya sedang berada di sebuah bar milik temannya, ia bersuka ria sedang menikmati cocktail khusus buatan temannya sendiri di iringi alunan musik menggelegar seisi ruangan itu. musik penikmat saat meminum cocktail sangat tepat bagi semua orang yg berada didalamnya.


Tidak terasa sudah hampir satu jam Fidya menghabiskan waktunya untuk berada di bar itu, ia melihat jam berlapis emas yg melingkar di pergelangan tangannya.


"Astaga! sudah jam segini, mati aku!! bisa bisa aku telat ada meeting hari ini," panik Fidya pula.


Gluk Gluk


Ia pun meneguk sisa cocktail nya yg tidak terlalu banyak lagi, segera ia merapikan bajunya yg terlihat sedikit berantakan dan bergerak dari tempatnya.

__ADS_1


"Fidya... jangan lupa datang lagi kesini kalau kau sudah senggang..." teriak temannya itu pula dari kejauhan.


Fidya melebarkan senyumnya dan melambaikan tangan berulang kali, hingga memberi kecupan dari jauh pula.


Saat berbalik badan, Fidya menabrak seorang wanita dan kening mereka saling berbenturan.


"Ukh! kalau jalan pakai mata dong!! gak punya mata ya?!" amuk Fidya sambil mendengus dan memegang keningnya, tubuhnya pun terhempas ke lantai.


"Kau yg berbalik tidak melihat dulu! kenapa kau menyalahkan aku?!" balasnya pula.


"Lagian aku kesini memang lagi ada urusan dengan mu!!" lanjutnya lagi dengan berusaha berdiri dengan tumpuan kakinya.


Siapa wanita ini?? dari cara berpakaiannya seperti orang terpandang!! batin Fidya melebarkan matanya menatap wanita itu tanpa berkedip.


"Apa kau mau aku bantu berdiri?" sungutnya memberi sebuah tangan untuk diraih Fidya.


"Tidak perlu! aku bisa bangun sendiri," tampik Fidya hingga dia berusaha berdiri dengan bantuan kedua tangannya.


"Kau ada urusan apa denganku?" tanya Fidya setelah bangkit dan mengibaskan bajunya.


"Apa kita bisa berbicara di luar saja? di sini sedikit terganggu," ajaknya pula, sambil melenggang keluar dari bar.


Tentu saja karna rasa penasaran itu Fidya mengikuti langkah wanita tadi yg baru saja ia temui.


Sepertinya aku pernah melihat wanita ini?! tapi di mana ya?? batin Fidya berfokus pada pandangannya saat itu mengamati langkah kaki sang wanita tersebut.


Tok Tok


Ceklek


Tanpa menyapa dari luar Fidya sembrono masuk tanpa izin dari Haikal terlebih dulu. sorotan mata Haikal begitu tajam mengarah pada Fidya yg sudah membuat hari harinya jadi begitu kacau.


"Pak! sekarang sudah waktunya kita meeting dengan tuan Richard," terdengar sopan tetapi itu membuat Haikal menjadi curiga, krna belum pernah Fidya memanggilnya dengan sebutan ( pak ).


"Apa aku tidak salah mendengar kau memanggilku barusan?" lontaran itu membuat alis Fidya naik sebelah.


"Apa kau tidak merasa nyaman jika aku panggil dengan sopan?" balik tanya pula menyilangkan kakinya dan bersender di sebuah tembok ruangan Haikal.


"Ini bukan kantor mu! jadi kau harus menjaga etika mu!! apa kau mengerti?!" hardik Haikal mulai merasa jengkel selalu berhadapan dengan wanita seperti Fidya itu.


"Sudah lah! aku tidak ingin panjang lebar lagi, ini saatnya untuk meeting!!" santainya dengan meninggalkan Haikal, ia pun keluar dari ruangan itu terlihat biasa saja.


Kepalan tangan Haikal semakin menjadi, rasanya ia ingin sekali menghancurkan seluruh wajah Fidya saat itu juga, tetapi ia masih bisa menahan emosinya karna dia tak mampu melawannya mengingat perjanjian bersama Fidya. yeap, Fidya punya hak 10% hasil dari tipu dayanya untuk menghancurkan perusahaan Haikal.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu, mereka berdua akhirnya pergi bersama ke sebuah resto ternama yg dipesan langsung oleh tuan Richard. disitulah mereka meneken kontrak kerjasama untuk membangun sebuah mall pusat perbelanjaan yg lengkap dan tak tertandingi harganya.


Seorang waiter menyuguhkan 3 minuman, terdiri dari lemon, jeruk, dan smoothie tentunya salah satu dari mereka sudah memesan minuman tersebut.


Saat waiter itu memberikan minuman kesetiap tempat, jus jeruk berada tepat dihadapan Haikal saat itu, sementara lemon kesukaannya berada tepat didepan tuan Richard.


"Tunggu! siapa yg sudah memesan jus jeruk ini untuk saya?" tanya Haikal melotot pada waiter itu.


"Nona ini yg sudah memesannya," jawabnya dengan pelan sambil menunjuk ke arah Fidya.


"Kenapa tuan Haikal? apa tuan tidak menyukai jeruk?" tanya tuan Richard tersenyum lebar menyambung percakapan itu.


"Tidak, saya suka. tentu saja suka," jawab Haikal dengan cepat takut tuan Richard merasa tidak nyaman karena dirinya mengeluh hanya sebuah minuman saja.


Dari sudut bibir Fidya ia menyelipkan simpul senyum tanpa diketahui oleh siapapun. entah mengapa senyuman itu penuh arti yg dalam.


"Baiklah! kita lanjutkan perbincangan ini," sambut tuan Richard membuka suara setelah ia meneguk minumannya.


Begitupula dengan Haikal, meneguk berulang kali minuman tersebut karena sangking hausnya, ia juga terpaksa meminum jus itu karena dia lebih suka lemon buatan Belinda saat berada di rumah.


Fidya terlihat menikmati smoothienya dengan begitu nyaman, dari sudut bibir masih saja terlihat jelas bahwa dirinya tersenyum puas entah mengapa.


Tuan Richard dan Haikal berbicara panjang lebar mengenai masalah proyek yg akan mereka bangun, tetapi Fidya terus menatap jus jeruk yg sudah hampir habis di minum oleh Haikal.


"Akh..." jerit Haikal seketika memecah pembicaraan itu.


"Tuan! ada apa?" riuh tuan Richard memegang bahu Haikal.


"Pak! kenapa pak? kenapa bapak mengerang kesakitan?" keriuhan keduanya membuat Haikal bertambah pusing.


"Kepalaku sakit sekali?!" lirih Haikal menekan kepalanya menahan rasa itu.


"Tenang pak! saya akan mengantar bapak pulang!" antusias Fidya mencari muka pada tuan Richard supaya dirinya di cap dermawan menjadi sekretaris Haikal.


"Tidak perlu! saya bisa pulang sendiri dan beristirahat," tolak Haikal menepis tangan Fidya yg memegangi tubuhnya ketika itu.


"Itu tidak baik! tuan jangan menolak pertolongan dari sekretaris tuan sendiri," imbuh tuan Richard membenarkan.


"Haaahhhh,,," rasa sakit itu semakin menjadi, seolah didalam tubuh Haikal seperti rasa terbakar.


"Tuan Richard, kami akan pulang! tuan bisa mengirimkan lewat email saya saja," monolog Fidya tampak panik berusaha menolong Haikal yg sempat mau terjatuh.


"Saya akan bantu sampai depan," turut tuan Richard bangkit dari kursinya dan meraih lengan kanan Haikal, sementara Fidya memegang lengan kiri Haikal.

__ADS_1


Mereka serentak berjalan menuju luar Resto, mata yg tertuju pada mereka saling berbisik dan saling bertanya ada apa dengan Haikal yg tiba tiba saja lemas dan berkeringatan saat meminum sebuah jus yg diberikan waiter itu.


Bersambung...


__ADS_2