Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
SIUMAN


__ADS_3

☘️☘️☘️☘️


Mentari di pagi hari telah menyongsong sinar yg sangat indah, kota Hongkong yg terbilang padat penduduk melakukan aktifitas mereka seperti biasanya.


Begitu juga dengan wanita yg sudah di panggil bik Lis itu tengah berjalan memasuki ruang kerjanya, setelah kejadian kemarin malam Lis tidak mengeluarkan banyak suara kepada rekan kerjanya.


Ruang VVIP pasien.


Begitu pula pada Haikal yg masih belum sadar dari tidurnya saat dokter menyuruh Haikal untuk menjaga Belinda yg sudah menyelesaikan operasi ringan. Haikal kini masih tertidur di sebuah sofa ruang inap Belinda. sementara itu, keadaan Leli terus memburuk hingga di tangani oleh para dokter ahli. darah yg belum juga di dapatkan oleh pihak rumah sakit membuat seluruh perawat kebingungan akhirnya mengambil tindakan terakhir.


"Mmmh... ukh..." desis suara sakit di bagian kepala Belinda terdengar jelas sambil membuka matanya perlahan.


Dia melihat haikal tengah tertidur pulas di sebuah sofa yg tampak begitu lelah.


"Permisi nyonya, saya membawakan bubur untuk nyonya," sapa seorang perawat sambil meletakkan sebuah talam di atas meja.


"Terimakasih sus," sahut Belinda pelan.


"Apa saya harus membangunkan tuan yg berada di sofa itu nyonya?" tanya perawat sambil melirik Haikal yg belum juga sadar.


"Tidak perlu sus! saya bisa makan sendiri," tolak Belinda sambil tersenyum kecil.


Di saat perbincangan mereka, pelipis mata Haikal bergerak sesekali krna mendengar ada suara orng yg sedang berbicara. sehingga dia terbangun dengan perlahan membuka matanya.


"Belinda, kau sudah siuman?" tanya Haikal langsung berdiri dari sofanya.


"Apa saya sudah membangunkan mu?" balik bertnya tampak senyum simpul di wajahnya.


"Tidak Belinda, harusnya kau bangunkan aku! sedari malam aku menunggu mu sadar," ungkap Haikal tampak wajah penuh kecemasan.


"Terimakasih Ren, karna kamu sudah mau menolong saya," lontar Belinda seketika tersenyum menatap wajah Haikal yg terlihat sangat terkejut.


"Kau! tadi memanggil ku dengan sebutan apa?" tanya Haikal masih tidak percaya.


"Rendra, apa panggilan itu salah?" balik tanya sedikit memiringkan kepala.


"Ti... tidak! justru aku sangat bahagia kau sudah bisa memanggil nama ku," jawab Haikal tampak begitu senang.


"Ren, bagaimana kondisi madam saat ini?" tanya Belinda mencoba bangkit dari rebahannya.


"Tunggu Belinda, biar aku membantu mu," antusias Haikal langsung meraih tubuh Belinda perlahan membuatnya duduk bersender.


"Terimakasih," balas Belinda terasa enggan menerima kebaikan dari Haikal.


"Ren, jawab pertnyaan saya? bagaimana keadaan madam?" mengulang kembali dengan raut wajah cemas.


"Nanti akan aku jawab, kau makan saja dulu! krna obat mu harus segera di minum," ucap Haikal sambil meraih mangkuk di atas meja sebelah tempat tidur Belinda.


"Saya akan makan, tapi kamu berjanji untuk memberi tahu saya kondisi madam," nego Belinda tampak mengalihkan wajahnya.


"Baiklah. aku akan memberi tahu mu setelah kau menghabiskan makanan mu," ucap Haikal sambil melirik Belinda yg tidak melihatnya.

__ADS_1


Belinda langsung menoleh pada Haikal krna mendengar kesepatakan yg diberikannya sudah di setujui oleh Haikal.


"Saya bisa makan sendiri," ucap Belinda saat melihat Haikal tengah memegang sendok yg bersiap untuk menyuapinya.


"Kau tenang saja, aku tidak akan meminta biaya apapun karna sudah membantu mu," tutur Haikal sambil menyodorkan sendok yg sudah terisi bubur di hadapan Belinda.


"Hemm... baiklah, asal itu tidak merepotkan mu," akhirnya Belinda mengalah, dan membuka sedikit mulutnya.


"Nah, kalau begini aku jadi senang melihatnya," seloroh Haikal sambil tersenyum lebar.


Tanpa berkata apapun lagi, Belinda terus mengunyah buburnya dengan perlahan. begitu juga pada Haikal yg begitu penuh perhatian menyuapi Belinda hingga tidak hentinya dia memandang wajah Belinda saat sedang sakit pun begitu cantik.


Setelah selesai menghabiskan seluruh buburnya, Haikal pun memberikan Belinda obat untuk di minum. ketelatenan Haikal merawat Belinda membuat jantung Belinda berdegup seketika.


"Ekhem, terimakasih sekali lagi," tutur Belinda mengalihkan topik lamunannya supaya tidak terbawa suasana.


"Itu sudah kewajiban ku untuk merawatmu! karna Maria mempercayakan aku untuk menjagamu," beber Haikal sambil meletakkan gelas kosong yg sudah diminum habis oleh Belinda.


"Nyonya dimana sekarang? apa semuanya tidak ada yg terluka? Tatan bagaimana? apakah dia baik-baik saja?" riuh Belinda begitu panik saat mendengar nama Maria.


"Mereka sudah aman di rumah ku! kau tidak perlu khawatir, yg kau cemaskan diri mu saja, kau harus cepat sembuh supaya bisa berkumpul lagi dengan Maria," jawab Haikal pula menatap serius wajah Belinda.


"Kamu benar, saya juga tidak betah di rumah sakit," protes Belinda seketika.


"Oh ya! sekarang apa kamu sudah bisa mengatakan, bagaimana kondisi madam?" mengulang kembali sampai Haikal menjawabnya.


"Kau tidak perlu memanggilnya madam, panggil saja namanya," lontar Haikal merasa tidak senang.


"Sekarang Leli masih di tangani dokter, tapi...." Haikal ragu untuk mengatakan pada Belinda, takutnya akan syok setelah mendengar jawabannya.


"Tapi apa Ren?" sela Belinda tampak sedikit panik.


"Kau baru saja siuman Belinda, takutnya kau akan sedih mendengar kabar Leli," seru Haikal masih enggan memberi tahu Belinda.


"Tidak mengapa! saya cukup kuat untuk mendengarnya, kalau tidak kamu katakan! itu membuat saya tidak tenang," ungkap Belinda tampak mengingat kejadian yg telah dia lewati saat menolong Leli.


"Leli telah banyak kehilangan darah, tetapi pihak rumah sakit malah tidak memiliki darah yg sama persis dengan Leli," beber Haikal dengan perlahan sambil melirik reaksi dari Belinda.


"Ya tuhan... kenapa bisa rumah sakit sebesar ini tidak memiliki darah untuk pasien yg sedang dalam kondisi berbahaya!" riuh Belinda sejenak terduduk dari senderannya.


"Tenang lah Belinda, kau jangan terlalu lasak dulu! pikirkan sakit mu. kau belum pulih total," sergah Haikal sambil memegang kedua bahu Belinda dengan menyenderkan kembali tubuh Belinda.


"Apa golongan darah yg dimiliki Leli? mungkin saja akan sama dengan saya, tolong panggil suster untuk mengecek darah saya segera," pinta Belinda terlihat jelas sedih dari wajahnya.


"Dia memliki darah AB+. baiklah, aku akan memanggil suster ke sini," Haikal seketika duduk di sebelah Belinda sambil menenangkan kepanikan Belinda.


"Kau tenanglah, aku akan memanggil suster dulu," sambung Haikal langsung bergerak dari tempatnya.


Belinda melihat Haikal sudah keluar dari ruangannya, tampak jelas rasa sedih yg di alami oleh Belinda. dia masih mengingat Leli yg sudah menahan rasa sakit ketika di istana malam itu.


"Tuhan... semoga darah ku sesuai dengannya," gumam Belinda seketika memanjatkan doa sambil menggenggam kedua tangannya dan menutup kedua mata.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian.


"Maaf nyonya, saya di panggil oleh tuan ini untuk memeriksa darah nyonya," tegur seorang perawat itu, seketika Belinda membuka mata perlahan.


"Benar, segera cek golongan darah saya," sahut Belinda dengan cepat.


"Baiklah, saya akan melakukan pengecekan darah nyonya," manggut perawat itu sambil mencari peralatan yg kian dibawanya.


Saat pengecekan berlangsung tampak Belinda menahan sakit krna tusukan jarum suntik tepat di bagian lengan tangannya.


"Saya akan mengecek golongan darah nyonya. mohon menunggu sebentar nyonya," seru perawat itu sambil meletakkan darah yg sudah selesai dia ambil ke dalam sebuah kotak.


Belinda manggut dengan membalas perkataan sang perawat, dan perawat itu pun membalas manggut sebelum melangkah pergi.


"Sekarang kau tenanglah, semoga darahmu cocok untuk Leli," tutur Haikal sejenak mendekati Belinda dengan memegang sebelah bahunya.


"Semoga saja," turut Belinda tampak gelisah mengetahui hasil darahnya.


Sejam kemudian.


"Nyonya... saya sudah memeriksa hasil golongan darah nyonya, mohon di baca dahulu nyonya," kata perawat itu sambil memberikan selembar kertas pada Belinda.


"Terimakasih," tunduk Belinda pelan meraih kertas itu pula.


"Mari nyonya, saya mohon pamit," membalas tunduk dengan sopan.


Keduanya manggut saat perawat itu keluar.


Belinda dengan begitu tergesanya membaca hasil dari tes darahnya sendiri. sesaat dia terdiam tanpa mengatakan apapun.


"Belinda, bagaimana? apa hasilnya sama?" tanya Haikal mulai penasaran dengan reaksi Belinda.


Namun Belinda bergeleng kepala menjawab pertanyaan Haikal.


"Oh tuhan... apa yg harus kita lakukan sekarang?" riuh Haikal seakan tidak percaya dengan kenyataan.


"Maaf nyonya! dokter bagian dalam ingin bertemu dengan tuan Haikal," lontar perawat lain seketika masuk dengan sedikit panik.


"Ya saya sendiri, baik! saya akan segera kesana," sahut Haikal ikut panik.


"Belinda, aku tinggal sebentar! kau jangan banyak bergerak dulu," pesan Haikal sambil memegang lengan Belinda sejenak.


"Ya," jawabnya dengan cepat.


"Mari tuan, dokter sudah menunggu," ajak perawat sedikit terburu.


Haikal langsung meninggalkan Belinda di dalam ruangannya, mata Belinda yg tidak lepas dari belakang punggung Haikal seolah dirinya ingin ikut bersama tetapi tidak mungkin ia lakukan dengan kondisi yg belum pulih.


"Semoga tidak terjadi hal buruk," gumamnya menatap pintu ruangan sambil tertunduk sedih.


.................

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2