
☘️☘️☘️☘️
Rumah sakit Hongkong.
Wiu Wiu
Terdengar suara ambulans untuk membawa korban kebakaran atas informasi yg telah di berikan oleh Haikal.
Tidak mungkin Haikal menceritakan pada pihak rumah sakit bahwa terjadi insiden Antara para vampir yg sudah melakukan pemberontakan.
Sementara itu Maria beserta suami dan anaknya sedang berada di kediaman rumah Haikal dengan ekspresi yg kurang bersemangat akibat mereka tidak diperbolehkan Haikal mengikuti dirinya.
Ruang UGD
"Maaf tuan, kami akan memeriksa secara menyeluruh pada tubuh korban! di harapkan Anda tidak masuk ke dalam. mohon kerjasamanya," cegah perawat itu menghentikan langkah Haikal.
"Baik suster! lakukan apa saja untuk menolong mereka," riuh Haikal tampak raut wajah gelisah.
"Mohon tenang tuan! kami akan melakukan yg terbaik untuk pasien," balas perawat itu dengan perlahan.
Seketika pintu UGD di tutup dengan sangat rapat, tampak Haikal mundur secara perlahan hingga terduduk sambil memanjatkan doa supaya tidak terjadi hal buruk pada Belinda.
Di dalam ruang UGD.
"Dok, ini data pasien yg telah diberikan oleh pihak keluarganya," tuturnya pada sang dokter.
Dokter itu mulai tampak bingung akibat keduanya sudah saling terluka. namun dikarenakan pendarahan hebat dari Leli dia memulai untuk memeriksa kondisi Leli terlebih dahulu.
"Kau panggilkan dokter bedah kepala sekarang!" perintahnya dengan tegas.
Suster itu pun manggut dan bergegas keluar dari ruang UGD dengan langkah yg cepat membuat Haikal berdiri seketika yg sudah terlihat tambah panik.
"Apa terjadi hal buruk di dalam?" gumam Haikal menggigiti kukunya sesekali tampak celingukan mengamati reaksi suster yg berlari di depannya.
Beberapa saat kemudian suster itu kembali lagi dengan membawa seorang dokter lain untuk masuk kembali ke dalam ruang UGD.
"Sus! ada apa? kenapa kau membawa dokter lain? bukankah di dalam sudah ada dokter?" tanya Haikal sejenak menghentikan langkah sang perawat.
"Maaf tuan! saya tidak bisa menjelaskan, akan saya jelaskan kalau sudah ditangani oleh para dokter! mohon pihak keluarga di minta untuk sabar," ungkapnya tergesa sambil melangkah pergi begitu saja menutup ruang UGD.
Beberapa menit kemudian.
Brak
Pintu UGD terbuka lebar, disaat itu tampak Belinda Sedang dibawa pergi oleh beberapa suster dan juga dokter yg akan segera menanganinya.
"Tuan... mari ikut kami," kata dokter itu menegur Haikal seketika.
"Baik dok," turut Haikal dengan patuh.
Beberapa langkah setelah jauh dari ruang UGD.
"Loh! ini kan ruang operasi? ada apa dok?" tanya Haikal merasa panik.
"Mari ikut keruangan saya sebentar," pinta sang dokter perlahan.
"Baik dok," balas Haikal manggut.
"Mari silahkan ikuti saya," langkah sang dokter yg di iringi dengan Haikal di belakangnya.
Ruang dokter bedah.
__ADS_1
"Di sini ada dua wanita yg akan kami tangani, salah satunya yg bernama Belinda juga Leli," ucap sang dokter sambil melihat data diri mereka.
"Benar dok!" manggut Haikal dengan cepat.
"Yg telah kami bawa barusan itu atas nama siapa?" tanya dokter itu pula.
"Atas nama Belinda dok," jawab Haikal masih terlihat cemas.
"Baiklah! ternyata yg saya bawa bernama nona Belinda, baik! kami akan mulai melakukan operasi ringan pada pasien. tetapi kami ingin persetujuan dari pihak keluarganya," tutur sang dokter pula.
"Apakah kepalanya terluka parah dok?" tanya Haikal bertambah panik.
"Tuan jangan panik dulu, operasi ini ringan! karena benturan yg tidak terlalu keras, namun membuat kepala pasien sedikit terbuka saja, kami akan melakukan apapun untuk pasien," jelas sang dokter menenangkan Haikal yg terlihat panik.
"Huufhh... syukurlah dok, lakukan apapun dok! asal itu membuatnya sembuh kembali," tegas Haikal pula sesekali membuang nafas lega.
"Tetapi..."
"Apa dok?" sela Haikal cepat.
"Wanita bernama Leli sudah kehilangan banyak darah, dari hasil pemeriksaan dokter bagian dalam," ungkap sang dokter lagi.
"Langkah apa yg harus di lakukan dok?" tanya Haikal pula.
"Sekarang kami ingin persetujuan anda untuk menandatangani surat pengoperasian untuk nona Belinda, setelah ini anda pergi ke ruang bagian dalam atas nama dokter Fuji," jelas dokter itu dengan lengkap.
"Baik dok," jawab Haikal sambil meraih kertas itu dan segera menandatanganinya.
"Saya permisi dok," bungkuk Haikal langsung melangkah pergi.
Haikal pun keluar dari ruang dokter yg akan mengoperasi Belinda, dirinya tampak lega krna pengakuan dokter itu padanya.
"Syukurlah... tuhan mendengar doa ku," gumam Haikal yg tidak berhenti memanjatkan rasa bahagianya.
Saat Haikal mencari dengan teliti akhirnya dia menemukan ruangan itu tepat mengarah pada lorong rumah sakit.
Ruang Dr Fuji.
Tok Tok
"Ya, silahkan masuk," sahut sang dokter dari dalam.
"Maaf dokter! saya keluarga dari kedua pasien yg masuk hari ini," bungkuk Haikal dengan sopan.
"Duduklah tuan," balas dokter itu dengan nada rendah.
"Ada dua pasien yg anda bawa, anda ke ruangan saya merujuk pada nama siapa?" bertnya sambil memegangi sebuah berkas.
"Nama Leli dok," jawab Haikal dengan bijak.
"Baiklah! saya akan menjelaskan kondisi pasien saat ini, pasien mengalami pendarahan yg cukup banyak karena saya mendapati bagian dalamnya ada yg hancur akibat hempasan dari kebakaran tersebut," kata dokter itu sambil melihat hasil pemeriksaannya.
"Lantas! apa yg harus saya lakukan dok?" tanya Haikal tengah serius.
"Pasien bernama Leli memiliki golongan darah AB+, untuk saat ini pihak rumah sakit tidak memiliki stok darah tersebut," ungkapnya pula dengan perlahan.
"Lalu? bagaimana dok? saya harus mencari di mana?" tanya Haikal lagi.
"Kami akan mencari ke berbagai tempat rumah sakit sekitarnya, dan kami juga mencari di seluruh pasien rumah sakit ini," tuturnya dengan meyakinkan Haikal.
"Lakukan yg terbaik dok! selamatkan dia," kata Haikal tengah merasa sedih.
__ADS_1
"Anda tidak perlu khawatir, kalau ada kabar apapun akan kami sampaikan segera pada anda," balas sang dokter dengan tersenyum kecil.
"Terimakasih dok," tunduk Haikal membalas senyum sang dokter yg tengah memberi ketenangan padanya.
"Baiklah, saya keluar dulu! saya serahkan semuanya pada dokter," tuturnya langsung bangkit dari duduk.
"Silahkan," turut sang dokter membalas dengan sopan.
Haikal serasa bingung dengan ucapan sang dokter barusan, kenapa di rumah sakit sebesar itu stok darah malah kosong. Haikal tampak murung karena tidak bisa berbuat banyak untuk Leli, tidak mungkin dirinya meninggalkan rumah sakit dan mencari darah untuk Leli, dia saja tidak begitu paham dengan arah jalan rumah sakit di kota yg sebesar itu.
"Haih," gerutu Haikal terduduk di sebuah bangku panjang.
"Maaf tuan... apa tuan bernama Haikal yg sudah membawa kedua pasien hari ini?" tanya salah seorang suster memecah lamunan Haikal.
"Ya, benar!" jawabnya sambil berdiri dengan cepat.
"Mari tuan ikut saya untuk melakukan administrasi ny," ajak suster itu dengan bungkuk.
"Baik," patuhnya dengan mengikuti langkah suster itu.
Bukankah harusnya di rawat dulu baru menyelesaikan administrasi?? apakah ini sudah peraturan dari rumah sakit? sungguh aneh!! batin Haikal memastikan penglihatannya ke seluruh area rumah sakit.
Administrasi.
"Silahkan tuan, di lihat dulu," tutur seorang wanita separuh baya memberikan secarik kertas.
Ternyata dalam sehari bisa semahal ini?? batin Haikal membelalakkan matanya krna sedikit terkejut melihat totalnya.
"Ini mbak! pakai debit saya saja," serah Haikal pula menyodorkan sebilah kartu pada kasir itu.
"Baik tuan... mohon di tunggu," pintanya dengan sopan.
Haikal manggut dan terlihat celingukan melihat suasana malam hari di rumah sakit yg baru pertama kali dia kunjungi, selama dirinya hidup hanya malam itu dia menginjakkan kaki di rumah sakit.
"Maaf tuan sudah menunggu lama," tegur wanita itu memecah lamunan Haikal yg tampak mengamati rumah sakit.
"Ah ya," sahut Haikal sambil meraih kartunya kembali.
Kruyuk
Pfft
Suara tawa kecil dari seorang wanita yg terdengar jelas membuat Haikal sedikit tersipu malu.
"Tuan," tegur wanita itu kembali.
"Ya?" sahut Haikal langsung sambil menoleh.
"Apa tuan lapar?" tanya wanita itu tanpa ragu.
"Bisa di bilang begitu," sambung Haikal masih sedikit malu untuk menjawabnya.
"Mari ikut saya tuan..." ajak wanita itu pula tampak tersenyum simpul.
"Kemana?" tanya Haikal pula terlihat ragu.
"Saya akan membuat tuan kenyang. Heheh," lontar wanita itu lagi sambil tertawa kecil.
Dengan rasa malu yg di rasakan oleh Haikal, akhirnya dia mau mengikuti langkah wanita itu tanpa keraguan. Haikal dengan santainya mengiring dari belakang punggung wanita separuh baya itu.
...............
__ADS_1
Bersambung....