
☘️☘️☘️☘️
Dapur istana Marvel
"Waaah, ini dapur nyonya?" tanya Belinda antusias berlari meninggalkan Maria dibelakangnya.
"Ya, kau bisa gunakan dapur ini kapanpun," ucap Maria tersenyum sambil mengikuti langkah Belinda.
"Benarkah? saya tidak pernh melihat dapur semewah ini nyonya, rumah saya saja tidak akan mampu dibandingkan dengan dapur nyonya," riuh Belinda celingukan mengamati isi dapur.
"Ini tidak ada apa-apanya bel, semua ini hanya titipan tuhan. kau tidak perlu merendah seperti itu," tutur Belinda pula.
"Nyonya benar, tetapi saya jujur tidak pernah melihat dapur semewah ini selama hidup saya," kata Belinda tersenyum simpul.
"Sudahlah, kau tidak perlu mengingat kisahmu yg dulu! sekarang kau bisa pergunakan semaumu didalam rumah ini, tapi ingat bel! kau tidak boleh keluar istana tanpa izin dariku, apa kau mengerti bel?" titah Maria dengan tegas.
"Siap nyonya! saya akan mendengarkan perintah dari nyonya," ucap Belinda sigap sambil hormat pada Maria.
"Kau tidak perlu hormat seperti itu bel, kau sudah aku anggap keluargaku sendiri. kau hanya perlu menjaga Tristan saja dirumah ini, sudah ada tugas pelayan masing-masing didalam istana," titah Belinda lagi.
"Terimakasih nyonya atas kebaikan nyonya pada saya. saya tidak mampu membalas melebihi kebaikan yg nyonya berikan," ungkap Belinda merendah.
"Baiklah bel, sekarang aku ingin lihat kemampuanmu dalam membuat cake," timpal Maria memegang pipi Belinda sambil mengalihkan topik pembicaraan.
"Cake? apa itu nyonya?" tanya Belinda mengangkat kedua bahunya seakan bingung.
"Kau tidak tau cake? apa kau tidak sekolah bel?" kembali bertnya tampak raut wajah Maria berkerut.
"Tidak, saya bahkan belum menginjakkan kaki disekolah menengah! saya tamatan Dasarnya saja nyonya," beber Belinda pula.
Ya tuhan... dia bahkan tamatan SD, setidak mampu itukah keluarganya untuk menamatkan sekolah gadis ini?? batin Maria menatap pilu wajah Belinda.
"Apa kau mau aku panggilkan guru privat bel?" tanya Maria meminta persetujuan Belinda.
"Nyonya sudah terlalu baik pada saya, malah ini lebih dari cukup buat saya nyonya. nyonya tidak perlu lagi berbuat hal yg lain," tutur Belinda menolak secara halus.
"Tapi ilmu itu penting bel, kau harus bisa memahami walau setengahnya saja," pinta Maria lagi.
"Itu tidak perlu nyonya, masuk kedalam rumah ini saja sudah membuat hati saya bahagia, nyonya jangan berbuat hal lain lagi. saya tidak mampu membayarnya kelak nyonya," tolak Belinda dengan segan.
Aku pastikan untuk memanggil guru privat untuknya. bagaimana nantinya dia mengurus hidupnya kalau tidak ada ilmu yg nyangkut di otaknya!! batin Maria bertekad tidak mendengarkan penolakan Belinda padanya.
"Baiklah, kalau itu mau mu! sekarang aku beritahu arti cake itu apa. cake berasal dari bahasa Inggris, yaitu kue bolu yg ingin kau buatkan untukku," ucap Maria memperjelas agar Belinda paham.
"Oo, kue bolu toh! kirain apa?" seloroh Belinda menepuk jidatnya sendiri.
Maria tentu saja bergeleng kepala dengan tingkah Belinda yg begitu polosnya membuat Maria sedih bercampur bahagia melihat ada seorang manusia yg jarang sekali Maria temukan semacam Belinda itu.
"Kau ingin membuatkan aku bolu apa?" tanya Maria menarik lengan Belinda supaya terbiasa pada dirinya.
"Emh, saya hanya bisa membuat satu macam saja nyonya," beber Belinda dengan antusiasnya mengingat dengan wajahnya yg lugu.
"Apa itu?" balik bertnya sambil tersenyum heran.
"Baked.... apa ya?" bertnya pada diri sendiri.
"Kau ingin mengatakan apa bel?" saling bertnya pula.
"Tunggu nyonya! saya sedang mengingat nama itu, ibu saya pernah membuatnya! bahkan saya diajari," celoteh Belinda sambil berfikir keras.
__ADS_1
"Coba kau ingat dengan perlahan! aku akan membantumu untuk membuatnya," timpal Maria memegang kepala Belinda pelan.
"Itu gampang kok nyonya, saya bisa mengerjakannya sendiri, nyonya hanya perlu duduk dengan manis! biarkan saya membuat khusus untuk nyonya," seloroh Belinda senyum girang.
"Hehe, Oke. aku akan menanti kue buatan mu! namun sebelum itu kau harus mengingat nama kue yg akan kau buat," kekeh Maria sambil terduduk di sofa sudut dapur.
"Apa ya? kok aku jadi pelupa gini, apa krna aku gerogi ada didekat nyonya?" gumam Belinda sesekali memejamkan matanya.
"Aha! saya ingat nyonya," riuh Belinda mendekati Maria yg tengah sibuk memperhatikannya.
"Baked Flo -"
"Baked flourless kah?" sela Maria pula.
"Yap! Anda benar sekali nyonya. nyonya hebat bisa mengetahui apa yg ingin saya katakan," antusias Belinda mengacungkan kedua jempolnya dihadapan Maria.
"Yasudah, sekarang aku sudah tidak sabar ingin menikmati kue buatanmu! ayo, kau bisa mencari semua bahan yg kau perlukan dilemari bawah pojok itu," ucap Maria menunjukkan arahnya pada Belinda.
"Semuanya? apa nyonya juga suka membuat cake?" tanya Belinda langsung mendekati lemari itu.
Maria manggut dengan mengiyakan pertnyaan Belinda.
"Waah! itu berarti, kegemaran kita sama dong nyonya?" ucap Belinda tampak mata yg berbinar.
"Sekarang kau bisa menggunakan bahan itu sesuai yg kau butuhkan," tutur Maria tersenyum dari jauh.
"Oke nyonya, saya akan membuat cake yg super enak untuk nyonya," riuh Belinda sangking senangnya hampir saja terpeleset dari tempatnya.
"Hahah. kau ini, ada-ada saja." Maria bergeleng kepala sambil tertawa krna tingkah Belinda yg tidak dia duga.
Sambil melihat kegigihan Belinda yg sangat serius dalam meracik bahan untuk memperlihatkan keahliannya dalam memasak, Maria hanya duduk manis menunggu hasil dari jerih payah Belinda saat itu hingga tampak wajah Maria yg begitu bersinar seolah bahagia karna belinda hadir di dalam istananya memberi warna serta kecerian seperti hal nya Tristan memberi kebahagiaan didalam istana itu.
"Anu nyonya, apa nyonya punya kompor?" tanya Belinda yg sudah acakan krna kesibukannya membuat cake.
"Saya tidak bisa menggunakan yg seperti itu nyonya," tutur Belinda bergeleng kepala.
Maria hembuskan nafas perlahan krna Belinda tidak bisa menggunakan oven, tekad Belinda semakin kuat untuk memanggil guru privat memberi pelajaran khusus pada Belinda.
"Baiklah, aku akan membantumu menggunakannya," kata Maria bangkit dari sofanya.
Dengan sigap Maria meletakkan racikan bahan yg sudah disiapkan Belinda didalam loyang. Maria bahkan bergeleng kepala melihat kondisi dapur sudah tengah berantakan akibat aksi Belinda seperkian menit berlalu. namun Maria tidaklah marah, malah dirinya tersenyum simpul melihat perawakan Belinda saat memperhatikan dirinya menggunakan oven pemanggang.
"Oh, begitu ya nyonya? tekan-tekan langsung hidup! sekarang sudah jaman canggih ya nyonya, segala macamnya sudah tidak perlu repot lagi," keriuhan Belinda dengan polosnya.
"Sekarang kita akan menunggu beberapa menit, kau duduk saja! biar pelayan yg akan membereskan dapur," pinta Maria pula.
"Ah! tidak nyonya, ini sudah tugas saya, bahkan dapur berantakan juga krna saya," ucap Belinda memprotes.
"Ibu...." riuh panggilan Tristan sambil berlari dari arah pintu dapur.
"Hai tuan muda," sahut Belinda antusias tersenyum.
"Tante sudah baikan?" tanya Tristan tampak memakan lollipop.
"Hmm. harum sekali Bu, ini bau apa ya? kok Tatan jadi laper," sambung Tristan mendongak pada sang ibu.
"Tristan, siapa yg memberikanmu lolipop? kan sudah ibu katakan, kamu jangan menerima lolipop ini, gigimu bisa rusak," kata sang ibu seakan marah.
"Sini lolipopnya," pinta ibu Maria perlahan.
"Maafkan Tatan Bu, abisnya Tatan tidak tahan melihatnya, makanya Tatan terima pemberian ayah," beber Tristan tertunduk takut.
__ADS_1
"Apa?! ayahmu yg memberikannya?" tanya sang ibu seolah kesal.
"Bel, kau jaga Tristan! aku ingin mencari suamiku sebentar," titah Maria sambil membuang lolipop kedalam tong sampah.
Belinda dengan cepat manggut melihat perawakan wajah kesal Maria.
"Tante, ibu marah seperti serigala," antusias Tristan dengan memperagakannya.
"Tuan muda, kamu jangan berkata begitu dengan nyonya! nanti kamu jadi anak durhaka," balas Maria sambil jongkok.
"Durhaka itu apa Tante?" tanya Tristan serius.
"Perkataan yg tadi kamu bilang itu sudah termasuk durhaka, apa kamu mau menjadi anak yg durhaka?" ucap Belinda seakan tidak tahan melihat wajah Tristan yg teramat tampan.
"Neraka itu apa lagi Tante?" kembali bertnya tampak wajah yg takut.
"Seperti ini. Roaar," raungan singa sengaja menakuti Tristan.
AAAAA
Teriakan Tristan terlihat sangat ketakutan saat melihat wajah Belinda mengaum seperti ingin menerkamnya saat itu.
"Hahaha. tuan jangan takut, saya hanya bercanda," antusias Belinda sambil memeluk Tristan dengan erat.
"Tatan takut Tante, kenapa Tante sengaja membuat Tatan ketakutan?" tanya Tristan menutup matanya dibahu Belinda.
"Maafkan saya tuan muda, saya tidak sengaja ataupun ingin menakuti tuan! maafkan saya," tutur Belinda menepuk pundak Tristan perlahan sambil menenangkan.
"Janji ya? jangan buat Tatan takut lagi," ucapnya pula.
"Iya. saya janji tuan, sebagai gantinya saya akan memberikan tuan bolu buatan saya. apa tuan mau?" tanya Belinda sambil melepas pelukannya pada Tristan.
"Mau, Tatan suka kue," riuh Tristan kegirangan.
"Tapi saya ingin bertanya, kenapa tuan berkata nyonya serigala?" tanya Belinda masih tidak terima orang yg sudah menolongnya dikatai begitu.
"Em. abisnya, ibu melarang Tatan memakan lolipop! ibu bilang bisa merusak gigi," beber Tristan dengan wajahnya yg cemberut.
"Apa yg dikatakan nyonya itu benar, kalau tuan sering makan lolipop bisa membuat gigi tuan rusak! soalnya orang tua saya juga berkata begitu," timpal Belinda meyakinkan Tristan.
"Itu kesukaan tatan, kalau itu juga tidak boleh! tatan makan apa?" protesnya sedih.
"Saya akan buatkan cemilan untuk tuan! jadi, tuan jangan makan lolipop lagi. oke," bujuk Belinda tersenyum simpul.
"Benarkah? Tante akan mengganti lolipop dengan cemilan?" tanya lagi belum yakin.
Belinda manggut sambil tersenyum senang.
"Horee, tatan dibuatkan cemilan oleh Tante cantik," keriuhan Tristan membuat hati Belinda teramat bahagia.
"Janji," ucap Tristan memberikan kelingking kecilnya pada Belinda.
"Ya. saya janji pada tuan," balas Belinda melekatkan jemarinya pada Tristan.
...................
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA 🤭☺️
...👇...
...TETAP STAY TUNED...
__ADS_1
...JADILAH PEMBACA YG BAIK, SERTAKAN KRITIK DAN SARAN DIKOLOM KOMENTAR...
...❤️SALAM SAYANG DARI MAMAK ❤️...