Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
KEBAHAGIAAN BERSAMA


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Ceklek,,,, pintu ruang rawat terbuka perlahan.


"Rei..." sapa Tristan memastikan keadaan Rei.


"Apa yg kalian bicarakan begitu lama?" tanya Rei antusias ingin lebih tahu.


"Tidak ada" kau ingin pulang Rei? aku sudah membuat surat izinmu untuk beberapa hari. kau bisa istirahat dirumah! kau terlihat lelah," seru Tristan pula.


"Tidak! aku tidak lelah.... aku tak ingin berada dirumah." pekik rei padanya.


"Ada apa Rei? ada masalah dirumah?" tanya Tristan sembari mengernyitkan dahi.


"Aku sedang tidak ingin dirumah," pekiknya kembali.


"Aku juga ambil cuti Rei... apa kau mau pergi kerumah ku bertemu ibuku?" pintanya pada Rei berharap peka akan ajakannya.


"Ah. ke- kerumah mu? apa ibumu tidak keberatan dengan kehadiranku?" timpal Rei pula.


Perbincangan mereka terhenti sejenak ketika Rei berfikir keras bagaimana cara untuk menolaknya.


...***...


Namun disisi lain Gisele tengah berduka dan bersedih didalam kamarnya yg tidak kunjung keluar, dia belum bisa menerima kenyataan yg telah terjadi padanya kenapa dia harus dijodohkan oleh orang yg bukan pilihannya sendiri.


Gisele meringkuk tak bersuara sedikitpun dan juga tidak menyentuh makanan yg telah disediakan oleh pelayan rumah.


Wajah pucat tampak seperti mayat sedari pagi tidak memakan apapun untuk mengisi perutnya.


Sepanjang hari dia hanya sibuk melamun memikirkan masa depan yg telah diatur oleh kedua orang tuanya.


Hidup memang terkadang tak selalu sesuai harapan kita. sedih, marah,kecewa sudah pasti terjadi setiap orang pasti memiliki jalan hidup dan juga masalahnya masing-masing. masalah datang satu persatu dalam hidup memang tidak selalu membuat kita dewasa dalam bersikap terkadang pun masalah datang malah membuat kita berubah menjadi semakin bertambah dewasa itulah pikirnya.


Gisele berfikir sangat jauh didalam benaknya dia tidak ingin terus berada dilingkaran yg mencengkramny selama ini.


Ya, dia harus bisa melepaskan cengkraman itu apapun yg akan terjadi pada akhirnya.


Dia beranjak dari kasurnya dengan bergegas keluar dari kamar untuk membuat kesepakatan pada ayahnya yg sedari tadi telah dia pikirkan secara matang.


Diruang makan.


"Yah," panggilnya menghampiri ayah dan Ibunya dimeja makan.


"Kamu tidak lapar? duduk disini kita makan siang bersama," ajak sang ayah sambil menikmati hidangan tanpa melihat Gisele.


"Nak... kamu pucat sekali sel? kamu makan ya sayang..." ajak Ibu Rianti pula meraih tangan Gisele.


"Kalau kamu tidak mau makan, tak perlu kamu berdiri disitu," sarkasnya pada Gisele.


"Roy! Gisele anakmu sendiri. dia bukan orang lain.... kenapa sikap kamu begini dengan anak kita!" protesnya menatap sang ayah yg tidak terima Gisele diperlakukan semena-mena.


"Yah! Gisele akan menyetujui perjodohan yg telah ayh buat," serunya secara tegas.


"Bagus," ucap sang ayah singkat.


"Tapi... Gisele punya syarat!" negonya pula.


"Oh! sekarang kamu sudah pandai membuat tuntutan dengan ayah! baiklah.... katakan apa mau mu," cibirnya dengan tatapan tajam.


"Terimakasih yah! sudah mengizinkan Gisele untuk memberikan syarat. Gisele tidak akan panjang lebar lagi dengan ayah, Gisele tidak ingin mencampuri urusan perjodohan ini dengan kuliah Gisele! Gisele harus menyelesaikan akhir semester ini tanpa diganggu," titahnya pada sang ayah.


"Itu saja? ayah kira sesuatu hal yg besar!" umpat ayah berbalik untuk kembali menikmati hidangan yg sempat terhenti.


"Dan lagi, Gisele belum bisa untuk merubah penampilan gisele! tolong ayah bisa mengerti perasaan Gisele! permisi," celetuknya bergegas pergi dari meja makan.


"Gisele! apa maksudmu? kembali kamu.... dasar anak tidak tau sopan santun!" teriaknya riuh tampak murka.


"Sudah cukup" jangan memaksakan kehendak kamu pada Gisele! lambat laun juga gisele akan mengerti sendiri," pekik Ibu Rianti menahan tangan sang suami yg sedang dibendung kemarahan.

__ADS_1


"Kamu juga! selalu kamu membela anak itu!! makanya dia berani padaku. Aaahhhh...." tuduhnya menghempaskan tangan sang istri dengan kasar serta meninggalkannya begitu saja.


Dibalik kamar gisele bukannya menangis. namun, dia malah tertawa sangat bahagia karna dirinya sudah bisa memantapkan hati untuk berbicara langsung pada ayahnya. saat ini dia tak ingin menangis lagi karna dia tidak mau terus menerus terpuruk dalam keadaan yg membelenggunya selama ini. pastinya akan terus menjalani kehidupan sesuai kemauannya.


Keceriaan kembali hadir dalam dirinya yg sempat membuatnya sulit bernafas, sekarang dia sungguh tak ingin memikirkan hal konyol yg belum tentu terjadi, setidaknya persyaratan itu sudah disetujui oleh ayahnya sendiri.


"Hahaha... sel,sel! kamu pinter banget sih," memuji dirinya sambil tertawa bahagia.


Gisele menghempaskan badannya diatas kasur empuk yg sedari kemarin terasa berduri, kini kasurnya kembali sediakala sambil membanggakan diri karna dia sudah cukup puas dengan keberaniannya pada sang ayah.


"Oh, iya... aku hampir saja lupa! besok adalah ulang tahun Rei," serunya panik sendiri.


Aku mau kasih hadiah apa ya?? gumam Gisele bertanya pada dirinya.


.............


Pukul setengah satu Rei masih juga diruang dokter Rian bersama dengan Tristan dalam lamunan panjang mereka tanpa berkata sedikitpun.


"Rei..." sapa Tristan padanya.


"I- iya? maaf.... kamu dari tadi masih disini?" kelabakan karna baru saja tersadar dari lamunannya.


"Kau dari tadi hanya terdiam saja Rei," serunya bertutur lembut.


"Maaf ya... aku cuma masih bingung aja, karna kau mengajakku kerumahmu..." kilahnya pada Tristan.


"Kalau gitu... apa aku boleh datang kerumahmu?" pintanya pula agak sungkan.


"Ah. tapi.... kau mau ngapain datang kerumahku?" tanya Rei mengerutkan dahi.


"Yaa... aku cuma ingin tau rumah mu saja? sekalian ingin melepaskan keri- maksudnya melepaskan penat saja... pliiss?" pintanya sedikit mode maksa.


"Yaudah kalau itu keinginanmu... tapi tidak boleh terlalu lama," omelnya pula.


"Oke deh..." menaikkan satu alisnya.


"Aku ingin pulang. nampaknya hari sudah semakin siang," ujarnya menurunkan kaki untuk beranjak dari tempat tidur.


"Tidak usah Tristan! aku bisa pulang sendiri. taksi online kan ada," seru Rei menolak secara pelan.


"Kenapa harus naik taksi? apa kamu tidak nyaman aku antar?" bujuknya lagi tampak sedih.


"Bukan begitu? aku tidak ingin selalu merepotkan mu saja," menatap jelih wajah Tristan yg terlihat sedih.


"Aku tidak merasa diganggu atau direpotkan olehmu," berkilah krna pemikiran Rei terhadapnya.


"Hmh.... aku tak bisa lagi berkata apapun padamu! yaudah kalau itu mau mu," serasa sungkan menerima tawaran Tristan.


Apapun perkataan Rei pasti kembali lagi padanya. benar-benar sulit menyingkirkan Tristan walau hanya sesaat.


Mereka langsung beranjak keluar dari ruang rawat yg menjadi tempat dimana kedekatan mereka semakin merajalela.


Rian memang sengaja tidak menggubris mereka sementara waktu. lagipula dia tidak mau mengganggu suasana yg terlihat begitu romantis didepannya saat ini, lagian dia juga hampir terbunuh karna keusilannya sendiri.


Syukur-syukur dia masih diberi ampun oleh Tristan. kalau tidak, tamat sudah riwatnya menjadi dokter tunggal dikota London.


"Dokter Rian.... Terima kasih sudah memberikan tumpangan untuk saya beristirahat Disini?" sapa Rei merendah.


"Oh. iya... itu sudah jadi kewajiban saya sebagai dokter," seru Rian melirik Tristan yg sedang memapah tubuh Rei.


"Apa ada lagi yg ingin kalian bicarakan?" celetuk Tristan jengkel.


"Sudah tidak ada lagi... Kalian boleh kembali sekarang," kilah Rian terpaksa memberi senyuman pada Rei.


"Terimakasih sekali lagi dokter? saya pamit dulu..." timpalnya pula menundukkan kepala ingin pamit.


"Tristan aku akan datang kerumah mu nanti malam! ada yg ingin aku bicarakan padamu," sarkas Rian menghadang langkah mereka.


"Datang saja!" cetus Tristan meninggalkan Rian begitu saja.

__ADS_1


Perse**n dasar pria bajin**n! awas saja kau!!!! batin rian mengumpat Tristan.


Setelah mereka keluar dari ruangan dokter Rian, Rei berjalan tertatih yg masih saja dipapah seperti wanita jompo.


"Tristan, aku bisa jalan sendiri... kau tak perlu memapah ku lagi," pintanya krna sudah risih.


"Apa kau takut dengan pandangan orang terhadapmu?" tuduh Tristan mengerutkan dahi.


"Kau seorang dosen, rektorku! apa pantas kau memapah muridmu sendiri?" timpal Rei meyakinkan Tristan akan posisinya.


"Kau sedang sakit Rei... aku tidak perduli pandangan orang seperti apa? aku tak mau sampai kau terjatuh lagi seperti tadi," bujuknya terus memapah Rei.


Rei semakin tidak bisa menolak keinginan Tristan. entah mengapa dia juga tak Habis fikir dengan dirinya sendiri kenapa begitu susah sekali untuk tidak menuruti kemauan Tristan dari tadi.


*A*pa dia sudah menyihirku? batin Rei mengumpat Tristan.


Mereka terus berjalan menelusuri area gedung, dan apa yg menjadi dugaan Rei itu benar adanya semua orang riuh melihat dengan tatapan sinis membuat Rei sangat risih. entah dari mana asalnya genggaman tangan Tristan membuat dirinya sedikit lebih tenang sehingga Rei tidak lagi peduli pada tatapan disekelilingnya. jelas saja dia melihat orang yg berada tepat disampingnya saat ini sangat berusaha keras untuk menjaganya.


Mata Rei sebentar-sebentar mencuri pandangannya terhadap Tristan, dia pun tak sadar pipinya sudah merah merona mengakui ketampanan yg dimiliki oleh Tristan, wajah Tristan yg serius saja pun sangat tampan baginya.


"Apa kau sudah selesai melihat wajahku Rei? apa aku begitu tampan bagimu?" sarkas Tristan menangkap basah pandangan Rei.


"Ge'er banget sih?!" protes Rei pula.


Apakah dia cenayang? bagaimana dia bisa tau aku menatapnya!! gawat. jantungku mau meledak rasanya!!! batin Rei mengomel.


Rei,Rei, kau tak pandai berbohong! pipimu saja sudah keliatan seperti tomat! batinnya terkekeh melihat reaksi Rei.


Sesampainya mereka ditempat parkiran Tristan bergegas membuka pintu mobil yg terletak dibangku paling depan untuk Rei.


"Masuk Nyonya..." seru Tristan pula.


"Apa aku tidak duduk dibelakang saja?" pinta Rei merasa sungkan.


"Apa aku terlihat seperti seorang supir?" celetuk Tristan sembari membungkukan badan.


Jelas saja Rei terkekeh cuma bisa menggelengkan kepalanya karna tingkah lucu yg ditunjukkan Tristan padanya, dia juga belum pernh merasakan tertawa bahagia dengan seorang lelaki manapun.


Setelah masuk kedalam mobil.


"Rei. tunggu," menggerakkan tubuhnya kearah Rei.


Jantung Rei seperti mau copot rasanya melihat Tristan begitu dekat dengan tubuhnya.


*M*ati aku! mau ngapain lagi dia?!! batinnya panik bukan kepalang.


Tubuh Rei diam seribu bahasa.


Begitu juga dengan Tristan yg menatap peluh mata Rei dari jarak yg sangat dekat dia seperti ingin masuk kedalam diri Rei kalau saja dirinya bisa melakukan hal itu akan segera dia lakukan.


Karna melihat reaksi Rei yg menutup matanya sendiri, Tristan seolah geram ingin segera mencium bibirnya itu kalau saja dia hanya memikirkan dirinya sendiri.


"Sebentar Rei. aku pasangkan beltnya," seru Tristan menahan tawanya.


Huuh.... aku fikir dia mau ngapain?!


batin Rei masih memejamkan matanya membuang nafas perlahan.


"Rei, kenapa kau menutup mata? apa masih ada yg terasa sakit?" tanya Tristan berpura tidak tau.


"Tidak,tidak! kau sudah bisa jalan sekarang," kelabakan mengalihkan pandangannya mengarah kaca mobil.


Jorok banget pikiranmu Rei..?!! batin Rei merutuki dirinya.


Tristan langsung melajukan mobilnya melirik Rei terkekeh mode girang pada sikap yg ditujukan oleh Rei. jelas sekali Tristan terpesona oleh sosok kecantikan yg terpancar dari wajah rei terukir sudah diwajah Tristan bahwa dirinya memang sangat mencintai wanita yg berada disampingnya saat ini.


....................


bersambung....

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA🀭😚


😍πŸ₯°MAMAK SAYANG KALIAN πŸ₯Ίβ€οΈ


__ADS_2