Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
OBAT


__ADS_3

☘️☘️☘️


Tatapan Ambar masih saja sangat tajam, bik Lis juga sempat berfikir kalau dirinya tidak pernah berbuat masalah pada siapapun juga, tetapi berbeda dengan Ambar yg terlihat begitu tidak menyukainya.


"Bik, apa kita pulang saja?" tanya Belinda masih terus melihat bik Lis yg tertunduk entah mengapa.


"Sa- saya..." ucap bik Lis tidak mampu menatap wajah Belinda.


"Kalian pulang saja! sepertinya bibikmu itu sungguh merasa sakit," sambung Ambar pula yg selalu memaksa mereka untuk pulang.


"Ya, yg dikatakan nona Ambar benar! sebaiknya pulang saja," balas Ricky mengiyakan.


Bik Lis tidak mengatakan apapun, dirinya masih berfikir keras ada apa sebenarnya di balik tatapan Ambar itu.


"Baiklah, kita pulang saja!" lontar Belinda pula membuat Ambar tersenyum di balik wajahnya.


"Kalau begitu berikan petunjuk ja-"


"Tidak!!" sergah bik Lis dengan nada tinggi.


"Kenapa bik? apa yg mengganggu pikiran mu?" tanya Belinda semakin aneh melihat sikap bik Lis.


"Saya tidak ingin pulang," gelisah bik Lis pula memiliki filing yg tidak enak.


"Bik, wajahmu pucat sekali," seru Ricky tampak mengamati wajah bik Lis yg memutarkan terus bola matanya.


"Belinda, kau harus segera pulang dan periksakan bibikmu di rumah," lanjut Ambar pula dengan menyeringai menatap pantulan kaca yg bisa melihat wajah bik Lis dibelakang.


"Ya, kita harus pulang sekarang! tidak ada penolakan," titah Belinda pula membuat bik Lis tidak bisa berbuat apapun lagi.


Ricky terus memperhatikan sikap bik Lis itu, dan sesekali melihat kaca yg mengarah pada Ambar. dirinya juga masih bertanya ada apa dengan bik lis semenjak masuk ke dalam mobil sikap bik Lis berubah, dan terlihat pucat pasih.


Ambar kali ini berhasil memperdaya Belinda dengan menggunakan umpan melalui bik Lis, tujuan Ambar memang ingin mengetahui rumah Belinda dan Haikal. supaya rencananya berjalan dengan lancar.


Seringaian di balik bibirnya yg tipis itu membentuk senyuman jahat yg begitu picik. dia melakukan semua itu hanya untuk mendapatkan Haikal kembali.


Ya, Ambar sudah menggugat perceraian dengan suaminya. karena dirinya sama sekali tidak bahagia semenjak pernikahan itu. kedua orangtua Ambar juga menyetujui keputusan Ambar. sebab, Ambar sudah menjelaskan kepada mereka bahwa Haikal lah yg bisa memberikan kebahagiaan untuknya. kekayaan Haikal tidak dapat dibantah oleh orangtuanya, makanya mereka menyetujui hal itu. dari awal Ambar memang terpaksa menikah karna tuntutan dari orangtua, sekarang ia tak bisa lagi menurutinya. dia akan mengejar Haikal apapun yg akan terjadi pada dirinya.


Keberhasilan sudah dipelupuk mata Ambar, dengan gampangnya Belinda memberikan jalan mengarah ke rumahnya.


"Apa ini rumahmu Belinda?" tanya Ambar yg celingukan tak menduga Haikal bisa sekaya itu.


"Ya, ini rumahku! apa kau tidak mau singgah dulu?" balik bertanya pula membuat Ambar tidak bisa menolak.


"Boleh saja, aku pun masih sedikit senggang," turutnya membuka salt belt dan keluar dari mobil.

__ADS_1


Bik Lis perlahan melangkah keluar dan di ikuti oleh Belinda juga Ricky.


Ketika semuanya di luar bik Lis masih tertunduk saja, tidak mau menegakkan kepalanya.


"Bik, masuklah! segera istirahat," ucap Belinda setelah mendekati bik Lis.


"Ba- baik nyonya," patuh bik Lis pula.


"Tunggu Lis," panggil Ambar dengan melangkah ke arah bik Lis.


"A - ada apa nona?" tanya bik Lis dengan gugupnya.


"Aku ingin melihat mata mu saja! sepertinya kau begitu pucat, kau minumlah obat ini," kata Ambar yg langsung membuka mulut bik Lis tanpa sepengetahuannya.


"Apa yg nona masukkan ke dalam mulut saya?" hardik bik Lis tanpa sadar sudah menelan obat itu.


"Hanya obat peringan saja, karna aku juga meminum itu di rumah, jangan khawatir! itu bukan racun," jawab Ambar dengan begitu tenangnya tanpa rasa bersalah.


"Tapi tetap saja! apa anda tidak memiliki sopan santun, memasuki obat kedalam mulut orang lain?!" berang bik Lis dengan tegasnya.


"Bik! jaga ucapanmu, dia teman saya! tidak mungkin Ambar berbuat hal buruk, apa bibik sekarang keracunan? tidak kan?" lontar Belinda membuat bik Lis terpelongo karna Belinda tidak pernah bernada tinggi padanya.


"Maaf! saya masuk dulu," bungkuk bik Lis langsung meninggalkan tempatnya.


"Belinda, aku jadi tidak enak padamu! maafkan aku, aku hanya berniat baik saja. sama sekali tidak melakukan hal buruk pada bibikmu," monolog Ambar memelas merasa dikasihani.


"Tidak, harusnya aku yg minta maaf! karna bik Lis sudah membentakmu," jawab Belinda sambil bergeleng kepala.


"Nyonya, saya masih ada urusan di kantor polisi. sepertinya daerah ini banyak taksi, terimakasih nona sudah memberi tumpangan pada saya," ucap Ricky dengan sopan sambil bergerak dari tempatnya. ia juga bingung dengan situasi yg sebenarnya.


"Hati-hati Ricky, jangan lupa kembali lagi ke sini," teriak Belinda dari jauh saat Ricky berlari kecil.


Ricky melambaikan tangan mengarah pada Belinda dan lontaran senyum kecilnya.


"Belinda, sepertinya aku harus pergi. terimakasih karna kau sudah mengajakku masuk," kata Ambar melanjutkan bicaranya setelah aksinya ia tuntaskan.


"Kau tidak masuk dulu saja, banyak hal yg ingin aku tanyakan padamu," bujuk Belinda terlihat mata berkaca sambil memegangi lengan Ambar.


"Lain kali aku akan mengunjungi mu, sekarang kan aku sudah tau rumahmu," seloroh Ambar menepuk pundak Belinda sesekali.


"Baiklah! tapi kau harus ingat untuk datang ke rumah ku," balas Belinda lagi dengan tersenyum riang terlihat tidak sabaran menanti kedatangan Ambar.


"Aku akan datang! itu pasti," angguk Ambar pula.


"Daa..." lambai tangan Ambar dengan senyum jahatnya dibalik kepolosan dirinya.

__ADS_1


Belinda pun membalas lambaian itu dengan gembira. krna dia merasa mempunyai seorang teman selain Maria. ia juga berfikir tidak mungkin selalu ke rumah Maria yg sudah sibuk mengurus Tristan.


Pasti aku akan datang! dan kau yg akan keluar dari rumah itu, hahah... karna aku yg pantas menjadi nyonya!! batin Ambar melirik Belinda dengan polosnya melontarkan senyum senang.


Belinda terlalu polos menghadapi Ambar, krna kelicikan Ambar yg begitu halus tidak terlihat, sehingga Belinda tidak menyadari kejahatan Ambar.


"Aku harus melihat bik Lis, mungkin saja dia sudah istirahat di kamarnya," gumam Belinda melangkah masuk ke halaman rumahnya setelah Ambar berlalu pergi.


Saat memasuki rumah Belinda langsung mengarah ke kamar bik Lis.


Krek


"Bik, apa sudah tidur?" tegur Belinda saat membuka separuh pintu kamar bik Lis.


Dia melihat bik Lis sudah berbaring dan menutup matanya, dia menduga bik Lis sudah sangat terlelap karna benar-benar merasa sakit. akhirnya Belinda menutup kembali pintu kamar perlahan takut menggangu ketenangan bik Lis, itulah fikirnya.


Disepanjang perjalanan Ambar begitu terbahak dengan kekehnya. begitu mudah baginya menghadapi Belinda yg seperti kecoak tidak bisa berbuat apapun dengan kecerdikannya.


Ckit


Mobil Ambar pun berhenti di tepian karna sedang melihat Axel berdiri tepat didepan mobilnya saat itu. Ambar keluar dengan sigap karena ia merasa Axel ingin bertanya sesuatu padanya.


"Xel, apa yg kau lakukan?! berbahaya kalau orang lain melihatku di sini?!" berang Ambar pula merasa kesal.


"Kau tidak pantas mengguruiku! aku cuma ingin mengawasi mu! apakah pekerjaan mu beres?!" dengus Axel dengan tatapan tajam.


"Tentu saja! satu kecoak sudah aku bereskan!!" turut Ambar menyilangkan kakinya bersender di mobil miliknya.


"Bagus! sedikit lagi kau akan mendapatkan keinginanmu dan aku mendapatkan target ku," timpalnya seketika menghilang tanpa pamit.


"Dasar sialan!! bisakah kau pergi memberitahu ku dulu?! vampir sial!!" gerutu Ambar terlihat jengkel saat Axel pergi begitu saja.


Dengan rasa kesal Ambar kembali masuk dalam mobilnya dan melajukan dengan kecepatan tinggi.


.............


Bersambung...



DUKUNG TERUS KARYA OTHOR YA 🙏🥰


KASIH LIKE,KOMEN,JADIKAN FAV KALIAN🙏🤗😘


SELALU NANTIKAN KISAH HALU DARI OTHOR YG AKAN MEMBUAT KALIAN KLEPEK-KLEPEK 😅🤭

__ADS_1


__ADS_2