Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
KISAH BIK LIS


__ADS_3

☘️☘️☘️☘️


Halaman rumah Haikal.


Karena beberapa hari Belinda berada di rumah sakit, keluarga Maria menetap untuk sementara di kediaman Haikal. setelah kejadian kebakaran istanya melalap habis tidak ada yg tersisa. tepat hari dimana Belinda keluar dari rumah sakit, mereka membawa bik Lis yg masih belum di ketahui oleh Maria juga Erlando.


Blam


Terdengar suara pintu mobil membuat penghuni rumah keluar seketika.


"Tante cantik...." riuh Tristan tampak berlari merentangkan kedua tangannya ingin di peluk.


"Tatan, jangan berlari. nanti kamu jatuh," sambut Belinda dengan begitu ceria.


"Heheh, Tante cantik sudah sembuh?" tanya Haikal tampak melengketkan keningnya pada Belinda.


"Sudah Tatan," riang Belinda pula dengan menciumi kedua pipi Tristan.


"Bel...." sapa Maria tampak mata berkaca.


"Nyonya," sahut Belinda sambil melepaskan pelukan Tristan perlahan, mendekati Maria dan memeluknya erat.


"Terimakasih bel. karna kau berusaha untuk menyelamatkan Tatan, akhirnya kau yg terluka," tutur Maria hingga menetes air matanya dalam pelukan Belinda.


"Tidak nyonya! apa yg saya lakukan tidak sebanding dengan kebaikan nyonya untuk saya," tampak Belinda juga meneteskan air mata sangking terharunya Maria mau menyambut pelukannya.


"Kal, mari kita ke dalam! biarkan mereka melepas rindu, ada yg ingin aku tanyakan," ajak Erlando memegang sebelah bahu Haikal.


"Oke Lan," turut Haikal bergerak mengikuti Erlando.


Haikal juga Erlando pergi dari keharuan itu, krna mereka tidak ingin menjadi pengganggu.


"Tante, orang ini siapa?" tanya Tristan mengintip dari belakang badan Belinda.


"Oh, saya hampir lupa," ucap Belinda sambil melepaskan pelukan dari Maria dan menyeka air matanya.


"Bel, Leli dimana? apakah masih di rumah sakit?" tanya Maria pula celingukan melihat ke arah luar.


"Nyonya. ceritanya panjang, Leli sekarang sudah bersama Tuhan," tunduk Belinda terlihat sedih.


"Maksudmu, Leli..." balas Maria mengernyitkan dahi.


"Ya, nyonya. maafkan saya karna tidak bisa menyelamatkan Leli," timpal Belinda merasa bersalah.


"Bel, kau tidak boleh bicara begitu! semua sudah tuhan yg mengaturnya, kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri," protes Maria sambil memegang bahu Belinda.

__ADS_1


"Ya nyonya... maafkan saya," patuh Belinda sambil tersenyum kecil.


"Dan ini saya kenali pada nyonya, namanya Lis, kami memanggilnya bik Lis... bik Lis yg telah banyak menolong kami nyonya.." lontar Belinda sambil menepuk kedua pundak bik Lis sesekali.


"Benar begitu Lis?" tanya Maria melirik bik Lis yg tengah tunduk.


"Tidak nyonya! saya melakukan sesuai kemampuan saya saja, nyonya Belinda terlalu berlebihan memuji saya," jawab bik Lis melontarkan senyum kecil.


"Tatan, kamu bisa memanggilnya bibik," kata Belinda mengelus kepala Tristan.


"Hai bibik, kenalin... aku Tatan," bungkuk Tristan dengan sopan.


Ya tuhan. tampan sekali, ibunya juga sangat cantik!! kenapa mereka terlihat seperti di negri dongeng, dari keluarga yg cantik juga tampan!! batin bik Lis berbinar melihat Tristan yg menyambutnya.


"Bik, kenapa melamun?" tanya Belinda melambaikan tangan didepan wajah bik Lis


"Oh, tidak nyonya! saya hanya senang saja melihat wajah tampannya," lontar bik Lis menatap Tristan dengan mata yg masih berbinar.


"Benarkah? bibik juga boleh panggil Tatan, jangan sampai salah ya..." girang Tristan membuat semua mata tertuju padanya.


Sehingga mereka tertawa bersama karena melihat Tristan sudah mulai bisa menerima keberadaan bik Lis yg baru di kenalnya.


"Tatan, pergilah sama ayah. ibu ingin berbicara dengan Tante," titah Maria pada Tristan yg masih saja menempel dengan bik Lis.


"Baik bu," patuhnya langsung berlari menghampiri sang ayah


"Bel, apakah Leli ada mengatakan sesuatu sebelum kepergiannya?" tanya Maria menyentak hati Belinda.


"Ada nyonya. tetapi sebelum itu saya ingin mengobati bik Lis terlebih dulu," kata Belinda menatap wajah bik Lis yg belum terbiasa dengannya.


"Apa kau terluka Lis?" tanya Maria melirik Belinda sesekali.


"Ti- tidak parah nyonya! hanya ringan saja," jawab bik Lis masih saja tertunduk.


"Kita ke ruang istirahat saja, biar kau bisa mengobati lukanya dan setelah itu kita bicarakan masalah Leli," ajak Maria pula.


"Baik nyonya," sahut Belinda juga bik Lis.


Mereka pun berlalu dan beranjak ke ruangan yg lebih nyaman untuk berbincang.


Sebelum Belinda dan Haikal sampai di rumah, saat di dalam mobil Belinda sudah mengobati luka kecil di kening Haikal. Belinda mengoleskan salep itu hingga menutupi lukanya. maka dari itu tidak ada yg sadar kalau Haikal sampai terluka.


Sampai lah Belinda, Maria juga bik Lis ke ruangan kedap suara tempat kediaman Haikal.


"Bel, sebelum Haikal menetap di rumah sakit. dia membeli kami kebutuhan sehari-hari krna barang yg ada di dalam istana sudah tidak ada yg tersisa lagi, kalau kau membutuhkan pakaian ganti, kau pakailah baju yg sudah di siapkan oleh Haikal," beber Maria pula sambil membuka lemari yg sudah dipenuhi baju untuk Maria juga Belinda.

__ADS_1


"Baiklah nyonya," balas Belinda menatap lemari itu.


"Nyonya, apakah saya bisa kembali ke rumah?" tanya bik Lis membuka suara.


"Kenapa bik Lis mau kembali ke rumah itu lagi?" balik tanya tampak Belinda mengernyitkan dahinya.


"Saya belum mengeluarkan barang-barang saya nyonya, apalagi foto anak saya belum di bawa," tutur bik Lis merasa enggan untuk berbicara.


"Oh, baiklah! saya akan memberi tahu Ren nanti," ucap Belinda pula mengiyakan tanpa sadar membuat Maria terkejut krna panggilan untuk Haikal.


Ren?! bukankah itu nama belakang Haikal?? apakah ada kemajuan setelah beberapa hari mereka bersama? ya semoga saja. batin Maria tampak senang dengan panggilan yg di lontarkan Belinda sehingga dia tersenyum sendiri di dalam hatinya.


"Bik, bisakah saya mengobati bibik sekarang?" pinta Belinda mendekati bik Lis.


"Tapi nyonya. sepertinya tidak pantas nyonya mengobati saya, biar saya sendiri saja yg melakukannya," tolaknya dengan pelan.


"Bik... jangan begitu pada saya, krna bibik sudah bnyak menolong saya juga Ren, tolong izinkan saya mengobati bibik," bujuknya lagi terlihat pula mata yg berkaca.


Karena tidak tega melihat wajah Belinda akhirnya bik Lis manggut dan menerima tawaran dari Belinda. sebenarnya dirinya juga segan, apalagi selama ini belum ada yg menyentuh tubuhnya maupun Fey yg sudah seperti keluarga sendiri.


Bik Lis pun duduk di sebuah kursi kayu dengan membelakangi Belinda. perlahan dia menarik bajunya sedikit demi sedikit seperti ada suara desis menahan sakit yg terdengar oleh Belinda juga Maria.


"Astaga bibik...." riuh Belinda terkejut melihat tubuh bik Lis yg sudah tidak terlihat lagi warna kulitnya.


"Kenapa bisa seperti ini Lis? kau bilang hanya ringan!!" panik Maria pula yg tidak menduga kondisi tubuh bik Lis.


"Maaf nyonya! saya tidak ingin orang lain terbebani," tunduk bik Lis merasa segan pada mereka.


"Bik, kenapa bisa sampai parah begini?" tanya Belinda pula.


Bik Lis hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan dari Belinda yg sudah merasa sedih melihat kondisi bik Lis. tubuhnya semua di penuhi memar, dan juga ada luka bakar yg masih belum kering.


"Saya akan ambil air hangat dan handuk dulu," ucap Belinda dengan bergerak cepat.


Maria masih mengamati luka yg ada di punggung bik Lis, dirinya hanya bergeleng kepala seakan tidak sanggup melihatnya.


Beberapa menit kemudian Belinda balik lagi ke ruangan dengan membawa sebaskom air hangat dan handuk lembut.


Belinda membasuh semua memar di tubuh bik Lis, dan luka bakarnya tidak sama sekali dia sentuh. begitu berhati-hatinya Belinda mengurus bik Lis. tampak rasa sedih yg jelas di wajah Belinda mengingat akan dirinya dahulu, tetapi tidak sampai separah bik Lis.


"Ssssh," desis bik Lis menahan rasa pedih.


"Tahan bik, ya tuhan. kenapa tega sekali orang yg berbuat begini pada bibik," lontar Belinda merasa tidak terima.


"Apakah orang terdekat yg sudah melakukan semua ini?" tanya Maria terlihat merasakan sakit yg di alami bik Lis.

__ADS_1


.................


__ADS_2