
ππππ
Ruang tamu.
Saat semuanya sudah beres, Rei mondar mandir karna Tristan belum juga ada kabar, apalagi hari sudah semakin sore.
Kemana sih! ini kan udah jam dua sore. gumamnya begitu panik.
Dia pun keluar dari kamarnya mengarah keruang tamu terduduk disofa empuk sambil menunggu kabar dari Tristan.
Ting. new message.
Tristan sebelumnya telah meminta nomor handphone Rei untuknya. lagipula dia hanya berpura memintanya langsung memakai alasan bisa menghubunginya, padalah Tristan sudah mendapatkan nomor Rei dari data pribadinya. namun, malah Rei yg lupa meminta nomor Tristan kembali. makanya sedari tadi Rei bingung bagaimana cara menghubunginya.
"Kok Tristan belum jemput juga ya! apa tidak jadi menjemputku?" gumam Rei yg masih terduduk dikursi sofa rumahnya tidak melihat ponsel sudah bercahaya diatas meja.
Karna Rei panik maka dia langsung ngecek ponsel yg sudah diambang penasaran kenapa jam segini Tristan belum juga sampai kerumahnya ataupun menghubungi dirinya.
Ternyata ada pesan masuk yg belum dia buka, pesan itu dari nomor tidak dikenal lalu Rei langsung sigap membuka pesan dengan wajah yg panik mungkin saja dari orang yg dia harapkan.
0800 12xxxxx Rei. aku minta maaf karna gak bisa jemput kamu! apa kamu bisa langsung ke Restauran royalti? aku tidak akan lama Rei, mungkin aku akan telat sekitar 5 menit.
Rei membuang nafas perlahan karna dia sudah berfikir tristan akan membatalkan pertemuan dengannya, ternyata dugaannya telah salah tak lupa juga dia menyimpan nomor ponsel Tristan kedalam kontak pribadinya.
"Bik...." panggilan Rei dari ruang keluarga.
"Iya non... bibi datang..." berlari menghampiri Rei.
Saat bik Lis diruang keluarga.
"Bik, Rei pergi dulu ya..." ujarnya terlihat senang.
"Loh! non Rei naik apa? apa non tidak bilang ke Ricky agar menjemput non Rei," seru Bik Lis pula.
"Tidak usah bik! Rei bisa pergi sendiri, rei pamit ya bik..." timpalnya memeluk Bik Lis sebentar dan melangkah kearah pintu keluar rumah.
"Non yakin pergi sendiri?" teriak Bik Lis dari jauh yg berwajah khawatir.
"Daaa .... muah." Rei yg hanya melambaikan tangan sembari kecupan dari jauh.
"Hati-hati dijalan non Rei...." teriak Bik Lis lagi terlihat bahagia Rei memperlakukan dirinya dengan baik.
Sesampainya Rei dibundaran taman pekarangan rumah, dirinya terlihat bingung bagaimana dia pergi terus naik apa. tidak mungkin juga Rei menghubungi Ricky, dia tak ingin merepotkan Ricky kemungkinan Ricky juga sedang sibuk.
Jalan keluarnya cuma bisa memesan taksi online yg akan membawanya ke Restauran royalti tempat tujuannya.
Dengan sigap Rei mengotak Atik ponsel pintarnya bergegas memesan taksi memakai aplikasi miliknya.
Setelah beberapa menit.
Bim Bim
Suara taksi terdengar oleh Rei.
"Waw.. cepat banget nyampenya! seperti cahaya kilat! whooosshhh...." girangnya terjingkat bertingkah konyol.
"Hati-hati non," sapa pak pon menahan tawa.
Rei hanya manggut karna ketahuan melakukan hal diluar nalarnya.
Buru-buru dia masuk kedalam taksi karna sudah sangat malu didepan pak pon.
"Jalan pak," titah Rei pada pak supir.
"Baik nona..." sahut pak sopir menundukkan kepala dengan sopan.
Taksi pun berlalu dari rumah Rei dan segera membuka sedikit jendela kaca taksi agar udara masuk kedalamnya, angin yg berhembus menerbangkan rambut panjangnya sesekali.
*H*arum sekali nona ini. seperti membuat hati tenang mencium aromanya. Gumam pak sopir yg hampir tak konsen menyetir karna melirik Rei dari kaca yg memantulkan kearah tempat duduk Rei.
*H*arum, cantik, sangat indah dipandang mata. beruntung sekali lelaki yg bisa mendapatkan nona ini. gumam pak sopir lagi yg terus memuji Rei dalam benaknya.
__ADS_1
Pak sopir terus melajukan mobilnya dan tak mau lagi melirik Rei karna takut tak bisa konsen menyetir pada akhirnya langsung fokus menatap arah lalu lintas.
Menit berlalu.
"Nona... sepertinya kita sudah sampai," sapa pak sopir melirik Rei dari arah kaca.
"Iya pak, terimakasih" sahut rei nada sopan.
"Iya nona sama-sama," timpalnya terlihat tersenyum simpul.
Rei turun dari taksi dengan memandangi restauran yg dikatakan oleh Tristan padanya.
Sungguh diluar dugaan seolah tak percaya kalau Tristan membawanya kerestauran yg begitu sangat mewah baginya. sampai terlintas dipikirannya kalau tristan terlalu berlebihan membawanya ketempat seperti itu.
Aula gedung.
Dengan memasuki ruang restauran itu dia melihat nuansa yg sangat megah berhiaskan lampu kristal. perlahan dia menelusuri dengan langkah kakinya, terus celingukan kekanan dan kiri sambil mencari tempat duduk yg telah direservasi Tristan Di sebelah mana. bagaimana caranya dia tau kalau nama Tristan tidak ada dimeja manapun, tidak mungkin Dirinya hanya berkeliling jatuhnya seperti kincir angin yg hanya mutar-mutar.
Rei memang wanita pemalu, dia tidak akan bertanya pada orang yg tidak dia kenal. hal itu jangan harap dia lakukan.
Mana sih.... kok gak ada juga?! letak kek nama Tristan diatas meja!!!! huuhhh.. gumamnya ngomel sendiri.
"Apa benar nona Reini?" sapa pelayan restoran membuyarkan lamunan Rei yg celingukan.
"Ah, iya.... saya Reini," sahut Rei tersenyum lebar.
"Mari nona? silahkan duduk... tempat ini sudah direservasi atas nama tuan Tristan," menggeser kursi memberi jalan untuk Rei duduk.
"Terimakasih..." ujar Rei dengan sopan sembari duduk.
"Saya akan kembali lagi, akan saya bawakan hidangan pembuka untuk nona. saya pamit dulu..." ucap pelayan membungkukkan badan ingin pamit undur diri.
"Iya. silahkan.... " seru Rei pula.
"Pasti sebentar lagi Tristan segera datang. katanya tadi agak terlambat sih! mungkin akunya yg datang terlalu cepat. gumam Rei sambil melihat jam yg melekat ditanganya.
Masih celingukan melihat sekitar area restoran.
"Loh! itu sepertinya Gisele deh?" Rei mengucek matanya perlahan karna belum yakin yg dilihatnya adalah Gisel. "apa benar Gisele berpenampilan begitu?" tambahnya lagi merasa yakin itu bukan Gisele. "Tak mungkin Gisele ada direstoran ini apalagi seorang diri. Gisele gadis tomboy, mana suka dia memakai baju feminim," tutur Rei dalam benaknya meyakinkan diri.
...***...
"Kalau bukan karna bujukan ibu! aku tak mau ketempat begini. ditambah lagi harus memakai baju yg ribet! seumur hidupku hanya sekali memakai baju gaun seperti ini. tak mau lagi aku! sial benget hidupku tuhan...." Gisele berceloteh pada diri sendiri.
"Ah. ternyata sudah sampai kamu nak?" sapa Ibu Rianti tersenyum manis melihat kedatangan Gisele.
Gisele yg masih tertunduk malu karna disuruh berdandan seperti ini membuat dirinya merasa tak percaya diri karna bukan dari kemauannya sendiri.
Aku harus melakukan ini untuk terakhir kalinya! Batinnya menggerutu sangat jengkel.
"Ini anak kamu jeng?" sapa salah seorang perempuan separuh baya dengan make up nya yg norak menurut Gisele.
"Iya jeng... cantik kan?" jawab Ibu Rianti meraih tangan Gisele untuk segera duduk.
"Angkat kepalamu," terdengar oleh Gisele bisikan dari seorang lelaki.
Seketika gisele juga ikut mengangkat kepalanya dan tak menduga dengan apa yg dilihat tepat didepan mata.
"Loh! Leo? Gisele?" saling menunjuk.
*K*alau aku tau dari awal wanita yg dijodohkan denganku sitomboy ini. lebih baik dihapus saja namaku sekalian!!! batin Leo ngedumel.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya ibu Winda.
"Gisele... kamu kok diem aja? Tante bertanya pada kamu tuh," seru sang ibu menyentuh lengan Gisele pelan.
Gisele hanya tertunduk kehabisan suara seakan mati suri. matanya serasa dibakar dengan kemarahan yg sudah mulai menumpuk, yg akan meledak dengan hitungan menit.
__ADS_1
*Yan*g benar saja aku dijodohkan sma si Leo ini !!!! apa dunia ini akan kiamat? mengapa gitu banyak lelaki malah si kerdil ini yg jadi sumber perjodohan!!! aahhhh.... bisa gila aku?! batin gisele menahan amarah.
HAHAHA
tertawa serentak oleh para orang tua.
Apalagi yg diketawain petuah ini. memangnya kami lagi melawak!!! batin Gisele mengomel.
"Kalau sudah saling mengenal begini... kita jadi tidak perlu repot lagi memperkenalkan putra putri kita ya?" kata Ibu Winda si menor.
"Iya... bagus,bagus," sahut bahagia dari para orang tua lelaki.
Apanya yg bagus?? bunuh aja aku sekalian!! daripada dijodohin sama si kerdil ini. batin Gisele merutuki Leo.
"Jadi kapan kita mulai membuat acara pernikahan mereka?"
Blaamm
"Apa!" serentak antar Gisele dan Leo memukul meja.
"Apa-apaan kamu Gisele! tak sopan kamu begitu! duduk kamu," sarkas sang ayah membentak Gisele keras.
"Om, Tante! saya ada urusan dengan Gisel sebentar. kami pamit dulu," meraih tangan Gisele ingin membawanya pergi.
Gisele juga tidak punya pilihan lain lagi untuk menolak ajakan Leo padanya pada akhirnya mengikuti kemauan Leo agar Leo bisa segera membawanya dalam situasi konyol itu.
Setelah beberapa langkah.
"Lepas." Gisele menghempaskan tangan Leo setelah berada di suatu ruangan terbuka.
"Apa kau pikir aku mau dijodohkan denganmu? aku juga korban!" protesnya membela diri sendiri.
"Hah! pusing aku kalau udah gini," bentaknya pada Leo.
Ingin rasanya gisele melemparkan tubuh sikerdil sejauh mungkin, krna dirinya berkata telah menjadi korban padahal ini juga bukan kemauan untuknya.
"Apa rencana kita selanjutnya," sarkas Leo yg memicingkan mata kearah gisele.
"Tapi tunggu dulu! apa benar kau ini Gisele?" seloroh Leo menahan tawanya melirik pakaian Gisele.
"Kau! jangan memancing aku! ini juga krna paksaan, aku tak suka pakaian ini," gaduhnya menggerutu tak terima.
"Jadi, apa rencana kita selanjutnya?" ucap Leo yg mengulang pertanyaannya kembali.
"Aku punya ide, bilang saja kau punya kekasih. gimana?" menggerakkan kedua alisnya keatas.
"Aku juga udah nolak dengan cara itu! tapi tak mempan, malah aku diancam akan dihapus dari keluarga mereka," timpal Leo yg terdengar putus asa.
"Hemh... jadi gimana? otakku tak bekerja memikirkan hal begini," omelnya yg sudah semakin jengkel.
"Apa kita ikuti saja! mereka juga gak mungkin nikahkan kita. kita kan masih kuliah," ujar leo pula memberikan idenya.
"Jadi maksudmu... kita ikuti acara perjodohan ini?" tanya gisele lagi menatap tajam Leo.
"Iya... setelah kita tamat kuliah, kita harus membubarkan perjodohan ini. aku pun tak mau menikah dengan wanita tomboy," timpal Leo yg menyeringai.
"Apa kau bilang! Aku juga ogah nikah denganmu." Gisele mengepalkan tangan ingin memukul kepala Leo.
Dasar cowok kerdil !!! batin Gisele mencibir.
"Sabar,sabar! sekarang ini masalahnya kau setuju tidak?" bujuknya lagi membuat Gisele berfikir sejenak.
*B*etul juga kata si kerdil ini, mana mungkin para petuah itu menikahkan kami saat masih kuliah! ternyata otaknya encer juga!! batin Gisele terkekeh.
"Oke! aku setuju," timpal gisele tak berfikir panjang lagi.
Leo memberi tangannya tanda perjanjian yg harus mereka lakukan. tak bnyak fikir lagi Gisele pun menyambut tangan Leo seketika.
"Sepakat," sumpah serapah.
..............
__ADS_1
Bersambung....