Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
PESAN ERLANDO


__ADS_3

☘️☘️☘️


Halaman taman rumah.


Terdapat beberapa lampu hias yg sudah tersusun di setiap sisi tanaman bunga dengan mengelilinginya dan memberikan kesan terlihat indah saat cahanya membuat pantulan pada taman tersebut. bunga bermekaran sudah sejak lama dirawat bik Lis juga Belinda. mereka benar-benar menjaga tanaman tersebut dengan begitu baik.


Seusai mereka makan, Belinda,Maria, Tristan sedang menikmati buah yg sudah disediakan oleh Belinda untuk disantap bersama. tetapi para lelaki lebih memilih keluar tidak ingin mengganggu suasana hangat itu. Tristan yg begitu lengket pada Belinda membuat dirinya jadi merasa terlatih saat akan menjadi seorang ibu nantinya.


"Ren, apa kau tidak makan buah terlebih dulu?" tanya Belinda seketika menghentikan langkah Haikal yg ingin keluar rumah.


"Kalian saja, aku sudah kenyang. aku ingin mengajak Erlando cari angin di luar," jawab Haikal dengan menoleh kebelakang menatap ceria wajah Belinda.


Belinda membalas senyuman itu sesaat, setelah perbincangan kedua orng itu selesai. Haikal melanjutkan langkahnya untuk keluar bersama Erlando.


Akhirnya waktu bagi Maria dan Belinda untuk melepas rindu semakin banyak. lagipula ada Tristan di tengah mereka dan menemani malam mereka.


Erlando dan Haikal berdiri tepat di taman depan rumah mencari posisi yg lebih nyaman untuk bersantai.


"Lan, ada hal penting yg harus ku bicarakan padamu," kata Haikal membuka suara sambil menoleh ke balik punggungnya takut terdengar oleh yg lain.


"Kenapa kau terlihat seperti menyembunyikan sesuatu?" lontaran Erlando merasa Haikal sangat waspada dengan situasi.


"Begini Lan, apa kau ingat dengan Ambar? yg pernah aku ceritakan padamu sewaktu aku berkunjung ke istana mu," gelisah Haikal sesekali melihat ke belakang.


"Ya, aku ingat! kau tidak perlu khawatir begitu, tidak akan ada yg keluar, santai saja. karna aku bisa merasakan kehadiran seseorang! kau bicaralah dengan tenang," kata Erlando membuat Haikal menatap serius temannya itu.


"Benarkah kau bisa melakukan itu?" tanya Haikal masih belum percaya.


Erlando manggut menjawab tanpa berbicara.


"Huufhh, baguslah kalau begitu! aku bisa sedikit tenang bicara padamu," riuh Haikal yg begitu takut kalau ceritanya didengar oleh Belinda.


"Sekarang, apa masalahmu? ceritakan saja semua, mungkin aku bisa membantu mu," lanjut Erlando menatap kegelisahan diraut wajah Haikal.


Setalah pertnyaan dari Erlando, Haikal menceritakan setiap kejadian yg dia alami. mulai dari Belinda, hingga dirinya bisa ada di rumah sakit. Erlando begitu menyimak cerita dari Haikal. temannya itu terus mendengarkan setiap keluh kesah Haikal tampak tidak membalas pembicaraan Haikal. ia ingin mendengarnya sampai selesai supaya bisa memahami apa yg akan dia lakukan selanjutnya.


"Apa kau memahami ceritaku Lan?" tanya Haikal pula yg sudah selesai berkeluh kesah dengan apa yg dialaminya.


"Sekarang wanita itu ada dimana?" balik bertnya dengan mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Terakhir aku melihatnya sedang bersama lelaki sedang menuju atap gedung rumah sakit," ungkap Haikal mengingat dengan keras.


"Apa kau melihat jelas siapa lelaki yg bersamanya?" tanya Erlando lagi masih ingin mengorek lebih dalam.


"Aku tidak ingat dengan pasti, tapi... yg terlintas di ingatanku lelaki memakai jubah berwarna hitam," beber Haikal melangkah setapak dari tempatnya dengan menatap kedepan.


"Apa istrimu di rumah sendiri?" kata Erlando mengikuti langkah Haikal didepannya.


"Bik Lis selalu menjaganya," seru Haikal merasa aneh dengan semua pertnyaan Erlando.


"Apa kau mengenal lelaki yg aku ucapkan barusan?" sambung Haikal melirik wajah Erlando yg mengadah ke langit malam.


"Ya, seperti yg kau katakan! itu bisa saja musuh bebuyutanku," lanjut Erlando sambil memegangi dagunya terlihat sedang berfikir.


Apa itu Axel? darimana dia mengetahui kalau aku sudah ada di London?!! atau jangan-jangan... batin Erlando mengingat kejadian saat istananya terbakar.


"Kal, apa kau masih ingat! kalau Leli menuliskan surat terkahir pada Belinda dan berkata harus berhati-hati pada Axel yg sudah bekerjasama dengannya menjebak Belinda," cakap Erlando pula menyentak hati Haikal.


"Ya, aku ingat itu." Haikal tampak manggut dengan cepat lontaran dari Erlando.


"Ayo kita masuk! karna ada yg ingin aku tanya pada istrimu," ajak Erlando dengan menarik tangan Haikal supaya mengikutinya.


Begitu patuhnya Haikal tanpa marah pada Erlando krna begitu erat memegang tangannya saat masuk ke rumah.


"Wah, apa yg kalian ceritakan sampai bahagia seperti itu?" tanya Haikal dengan seloroh mendekati Maria dan istrinya.


"Urusan wanita! kau tidak perlu tau," tandas Maria pula membuat Haikal tidak berkutik.


"Haaa... yasudah! aku tidak ingin berdebat," ucap Haikal mode mengalah saja.


"Bel, Erlando ingin bertanya sesuatu padamu! kau harus menjawab apapun yg kau ingat," lanjut Haikal menoleh pada istrinya setelah bercanda dengan Maria.


"Ada apa? kenapa serius begitu?" tanya Belinda merasa bingung dengan tatapan keduanya.


"Belinda, aku ingin bertanya! sebelum kejadian istana terbakar, kau pergi kemana?" tanya Erlando pula tampak serius.


"Ketika itu aku sedang mengikuti langkah Leli menuju ruang gaun," jawab Belinda dengan mengingat jelas kejadian itu.


"Siapa yg menyuruhmu untuk mengikutinya?" tanya Erlando lagi.

__ADS_1


"Maria yg menyuruhku untuk mengikuti Leli," jawab polos Belinda.


Sejenak mata Erlando menoleh pada Maria.


"Sekarang aku ingin bertanya padamu Maria, apa yg kau lakukan bersama Leli sebelum kau memerintahkan Leli untuk membawa Belinda ikut bersamanya," tanya Erlando membuat alis mata Maria naik.


"Sebenarnya apa yg ingin kau cari Lan? apa aku bisa mendengar intinya saja," celetuk Maria mulai jengah dengan suaminya yg begitu banyak bertnya seperti densus 88.


"Bukan begitu! aku ingin memastikan dulu saja, nanti akan aku ceritakan setelah tebakan ku benar," timpal Erlando pula.


"Hah, baiklah... sebelum aku menemui Leli, aku memberi seekor burung padanya untuk dia rawat dan kasih makan, aku menyuruhnya untuk meletakan burung itu di dalam kamarnya saja," ungkap Maria berkata sambil berdiri dari duduknya.


"Darimana kau dapatkan burung itu?" tanya Erlando lagi.


"Kau tanya pada Belinda, krna dia yg sudah mengobati luka di kaki burung itu," jawab Maria melirik kearah Belinda.


"Ya, aku menemukan burung itu sedang terjatuh. kakinya terluka! aku mengobati lukanya dan memberikan sangkar untuknya membawa ke dalam istana." Belinda tidak berani menatap Erlando yg begitu serius berbicara padanya.


"Dari situ aku bisa ambil kesimpulan, bahwa burung itu berwujud Axel! apa kalian tidak ingat? bahwa Leli bekerjasama dengan Axel dan dia mengatakan bahwa Axel bisa merubah wujudnya sesuka hatinya," beber Erlando berbalik arah dan berbicara dengan melangkah sedikit demi sedikit.


"Axel?" geram Maria pula menggertakkan giginya.


"Ya, apa kalian masih ingat? kalau aku hampir menabrak seekor kucing ditengah pasar besar," perjelas Erlando lagi supaya mereka memahami maksudnya.


"Itu berarti Axel mengetahui keberadaan kita di sini?" tanya Maria dengan mengepalkan tangannya mengingat kehancuran istananya diakibatkan perbuatan Axel.


Keduanya manggut mengiyakan perkataan Maria.


"Aku melihatnya saat berada di rumah sakit," kata Haikal pula.


"Sekarang Axel sedang berkeliaran di luar! kita tidak tau pasti kalau dia merubah wujudnya dalam bentuk apapun yg dia mau," lanjut Erlando lagi.


"Jadi, apa yg harus kita lakukan sekarang?" tanya Maria tidak sabaran untuk melenyapkan Axel.


"Kau tenang Maria, semua akan kita hadapi bersama! aku akan memikirkan rencana kita selanjutnya, sekarang aku hanya minta pada kalian! terutama kau Haikal dan Belinda. berjaga jarak pada sesuatu yg mengganjal bagi kalian," pesan Erlando berkata dengan tegas.


Semuanya manggut mendengar perintah dari Erlando. krna kejadian sebelumnya sudah menjadi pelajaran bagi mereka. tampak Erlando begitu geramnya saat mendengar nama Axel. ingin sekali dia mencabik tubuh Axel melalui tangannya sendiri.


AXEL... batin Erlando tampak begitu marahnya membuat pancaran matanya sedikit merah pekat.

__ADS_1


..............


Bersambung....


__ADS_2