Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
JEBAKAN


__ADS_3

☘️☘️☘️☘️


Malam hari didalam kastil.


Belinda tampak kebingungan didalam kamarnya, mengingat ucapan Maria padanya saat ditaman. Belinda sedikit ragu dengan ajakan Haikal, tidak tau mengapa dirinya sangat berat untuk melangkahkan kaki keluar dari istana. Belinda tengah di kejar oleh seorang lelaki yg ingin mencelakainya pada waktu itu. rasa cemas sangat menghantui fikirannya.


Krek


"Bel, kau masih disini?" tegur Maria yg baru saja masuk kedalam kamar.


"Tante cantik, kenapa cemberut?" tanya Tristan seketika menatap wajah Belinda.


"Saya...."


"Kenapa bel? apa ada sesuatu yg mengganjal hati mu?" lirik Maria saat Belinda mengalihkan wajah.


HOAM


Terdengar suara nguapan yg dikeluarkan oleh Tristan.


"Tatan ngantuk Bu! apa Tatan boleh tidur sebentar?" berjalan sambil mengarah ke kasur.


"Tidurlah, nanti ibu nyusul," jawab Maria pula.


Tristan pun dengan patuh mendengarkan perkataan sang ibu.


"Bel, kau kenapa masih di sini? bukankah seharusnya sekarang kau bersiap-siap? mungkin Haikal sebentar lagi akan menjemputmu," tutur Maria memegang lembut tangan Belinda.


"Saya sedikit takut nyonya," wajah Belinda tampak berkerut.


"Kenapa? kau bisa cerita padaku?" tanya Maria memegang sesekali rambut Belinda yg terurai.


"Mengingat kejadian sebelumnya, saya sempat dicelakai oleh orang yg tidak saya kenal," jawabnya tampak sedikit gemetar.


"Bel... aku tidak mungkin membiarkanmu pergi kalau orangnya bukan Haikal, karna aku yakin! Haikal bisa menjagamu dan membawamu kembali dengan selamat, percaya padaku bel," ungkap Maria meyakinkan sejenak agar Belinda tenang.


"Apakah benar begitu nyonya?" tanya Belinda masih ragu.


Maria bisa memahami rasa trauma yg telah di alami oleh Belinda sejak kejadian malam itu, Maria juga tidak mungkin mengekang Belinda di dalam istananya. tidak menutup kemungkinan Belinda juga pasti akan segera keluar dari kastilnya setelah lamaran Haikal berjalan lancar.


"Nyonya. kenapa anda terdiam?" tanya Belinda lagi memecah keheningan.


"Tidak ada, sekarang kau bersiaplah! sebentar lagi Haikal akan menjemputmu," bujuk Maria dengan tersenyum.


"Baiklah nyonya," patuhnya membalas senyuman Maria.


Tok Tok


"Masuk!" sahut Maria dari dalam kamar.


"Maaf nyonya! saya mengganggu," ucap Leli sambil menundukkan kepala perlahan.


"Apa kau sudah menyiapkan tugas yg saya berikan?" tanya Maria pula.


"Sudah nyonya, saya kesini ingin membawa nona Belinda untuk ke ruang gaun," jawab Leli masih tunduk.


"Bel, sekarang kau ikuti Leli. dia akan membawamu bertukar pakaian," sambung Maria menoleh pada Belinda.


"Gaun?" tanya Belinda bingung.


Selama dirinya hidup, belum Pernah sekalipun memakai gaun, apalagi baju yg pantas. dia mengenakan baju seadanya saja.


"Ya bel, kau harus tampil cantik malam ini," balas Maria tengah memegang pipi kanan Belinda.


"Hmm, baiklah! saya akan mengikuti permintaan nyonya," seru Belinda tampak menghembuskan nafas pelan.


Maria hanya manggut melihat Belinda yg tengah tersenyum padanya, dia juga tidak sabar melihat kecantikan yg terpancar dari Belinda setelah memakai gaun di dalam kastilnya.


Lain dari pandangan Leli saat itu, dirinya terlihat melirik sinis mendengar perbincangan kedua orang itu, seakan kebencian dari Leli untuk Belinda semakin menjadi.


"Mari nona ikut saya," pinta Leli dengan wajah yg penuh kepura-puraan.


Belinda yg tidak tahu menahu soal Leli ikut mengiringi langkahnya dari belakang punggung Leli.


"Kita mau kemana?" tanya Belinda celingukan mengikuti langkah Leli.

__ADS_1


"Ruang gaun!" jawabnya terdengar jengkel.


"Apakah masih jauh dari kamar?" tanya Belinda lagi.


"Ikuti saja! tidak usah banyak bertnya!" cetusnya menyentak hati Belinda.


Mengapa perkataannya sedikit berbeda ya?? apa hanya perasaanku saja?!! batin Belinda melirik Leli yg tengah terdiam.


Sesampainya di ruang gaun.


"Masuklah," ucap Leli singkat.


Belinda manggut mengikuti perintah Leli padanya, dirinya pun tidak mengerti kenapa sikap Leli begitu dingin padanya.


"Kenapa gelap se-"


Bruk


"Huh... hampir saja aku gagal," ucap Leli setelah memukul leher Belinda dengan kayu hingga jatuh pingsan.


Leli mendapat perintah dari Axel untuk melakukan rencana yg akan mereka mainkan. akhirnya Leli berhasil membuat Belinda masuk didalam jebakannya.


"Bagus! sekarang aku hanya perlu karung untuk membawa wanita gembel ini keluar istana! ya, aku masih punya waktu beberapa menit lagi," gumam Leli yg tengah sibuk mencari sebuah alat untuk mengangkut Belinda.


Tap Tap


"Nyonya ratu, tuan Haikal sudah ada di luar," ucap Usy berlari mendekati Maria yg tengah keluar dari kamarnya saat menidurkan Tristan.


"Suruh masuk," sahut Maria sambil menutup pintu kamar.


"Baik nyonya," patuh Usy menundukkan kepala.


Maria juga bingung kenapa Belinda lama sekali di dalam ruang gaun, sehingga dia bergegas mencari keberadaan Belinda.


"Bel...." panggilan Maria di ruang tamu.


"Loh, kenapa kau hanya berdiri saja di situ? apa yg kau lakukan di tempat gelap ini?" tanya Maria saat menemukan Belinda tengah berdiri di depan ruang gaun.


Namun Belinda tidak menjawab sepatah katapun, dirinya hanya tersenyum tanpa berbicara.


Belinda hanya manggut tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


Tentu saja Maria sedikit bingung, tetapi Maria tidak mau banyak bertanya lagi pada Belinda. mungkin saja Belinda gugup atau canggung saat bertemu Haikal nantinya.


"Yasudah! aku akan membawamu kedepan, karna Haikal sudah menunggumu," seru Maria meraih lengan Belinda seketika.


Awalnya Belinda menolak untuk dipegang oleh Maria, akhirnya Belinda berjalan sendiri tanpa memikirkan Maria yg masih berada di belakangnya.


Sontak Maria terdiam dengan sikap Belinda malam itu, dirinya tidak menduga kalau uluran tangannya di tolak oleh Belinda.


"Apa hanya perasaanku saja? kenapa tangan Belinda terasa dingin sekali..." gumam Maria sambil mengelus lehernya sesekali.


"Bel... tunggu aku," teriak Maria kian di belakang Belinda.


Sesampainya di ruang tamu.


"Hai Belinda," sapa Haikal tampak senyum ceria.


Tentu saja Belinda masih sama balasannya hanya terdiam dan juga manggut tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Kal, bagaimana menurutmu?" tanya Maria yg baru saja sampai di tengah mereka.


"Apanya Maria?" balik bertanya tampak bingung.


"Belinda cantik, kan? malam ini," riuh Maria sambil memegang sebelah pundak Belinda.


Serasa badan Belinda keras ya?!! batin Maria sesekali mengamati wajah Belinda yg masih saja terdiam.


"Ekhem, kau benar Maria. Belinda hari ini seperti tuan putri saja," ucap Haikal mengalihkan wajahnya karna tersipu malu.


"Sekarang kalian pergilah! jangan pulang larut malam," titah Maria sambil mendorong tubuh Belinda perlahan mendekati Haikal.


"Baiklah. kami pamit dulu," balas Haikal manggut.


"Kalian hati-hati di jalan," lontar Maria mengiringi langkah mereka.

__ADS_1


"Aku akan menjaganya! kau jangan cemas," seru Haikal meyakinkan Maria.


"Aku percaya padamu kal," jawab Maria mengiyakan ucapan Haikal sambil tersenyum.


"Bel... jaga dirimu," pesan Maria memegang sebelah pipi Belinda.


Belinda masih sama saja, tidak berkata malah membalas dengan senyuman.


Akhirnya Haikal membawa Belinda mengarah ke luar istana. namun, Maria masih saja berdiri sampai mereka menghilang dari pandangan matanya.


"Firasat ku kenapa tidak enak," gumam Maria terlihat cemas.


"Ah, mungkin cuma perasaanku saja! Belinda merasa canggung jadinya hanya terdiam tidak mau bicara, ada-ada saja anak itu," gumamnya lagi bergeleng kepala sambil tersenyum sendiri.


Tap Tap


"Nyo- nyonya...." Isak Usy yg tengah berlari menghampiri Maria.


"Kau kenapa Usy? berlari sampai sesak begitu," kata Maria mengernyitkan dahinya.


"I,ini, nyonya!" ucap Usy sambil memberikan secarik kertas pada Maria.


"Apa ini?" tanya Maria kebingungan.


"Nyonya baca saja dulu, karena saya mendapatkan ini dari ruang gaun," jawab Usy lagi.


"Ruang gaun? apa hubungan dengan kertas ini?" kata Maria semakin bingung.


"Saya tidak sengaja masuk ke ruang gaun untuk menutup pintu! karna saya melihat pintunya terbuka, setelah saya masuk ke dalam ruangan itu saya melihat kertas ini ada di atas kursi," perjelas Usy pula.


"Nyonya harus segera membacanya," pinta Usy sudah tampak keringatan.


"Baiklah," balas Maria mencoba untuk tenang sambil membuka kertas yg diberikan oleh Usy.


𝑲𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒌𝒂𝒖 𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒏𝒚𝒂𝒘𝒂 𝑩𝒆𝒍𝒊𝒏𝒅𝒂, 𝒌𝒂𝒖 𝒅𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒆 𝒉𝒖𝒕𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒎𝒑𝒂𝒕 𝒅𝒊 𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒌𝒂𝒖 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒖𝒏𝒖𝒉 𝑽𝒆𝒓𝒐. 𝑲𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒌𝒂𝒖 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒅𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈! 𝑱𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒌𝒖 𝒚𝒈 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒉𝒂𝒃𝒊𝒔𝒊 𝒘𝒂𝒏𝒊𝒕𝒂 𝒊𝒏𝒊. 𝑯𝒂𝒉𝒂𝒉𝒂


"Bangs*t kau Eron, kau hanya berani mengancamku," geram Maria sambil meremas kertas itu dengan penuh amarah.


"Usy, saya perintahkan kalian untuk menjaga Tristan! jangan kalian membiarkan satupun yg masuk kedalam istana ini, apa kau mengerti yg saya katakan!" titah Maria sambil menggenggam tangannya sekuat tenaga.


"Baik nyonya ratu! saya akan menjalankan perintah nyonya," jawab Usy tengah ketakutan melihat wajah Maria yg terlihat sangat marah.


"Saya akan keluar istana sebentar, kau tetap menjaga Tristan! biarkan pengawal menjaga di depan," titahnya lagi bergegas dari tempatnya untuk menghampiri sang suami yg masih di dalam kamar.


Usy pun manggut dengan patuh hingga tertunduk sampai Maria meninggalkan nya.


"Huuh, nyonya seram sekali kalau sudah marah," gumam Usy sesekali mengelus dadanya.


Brak.


"Kau kenapa Maria?" tanya Erlando terkejut karena Maria masuk dengan tergesa-gesa.


"Er! kau dengarkan aku, sekarang Belinda dalam bahaya," ucap Maria sangat cemas.


"Apa maksud mu? bukankah tadi aku melihat mereka sudah pergi?" tanya Erlando heran mendengarkan ucapan istrinya.


"Aku juga tidak tau pasti itu Belinda atau bukan! tapi aku merasakan dari awal kalau yg dibawa Haikal itu bukanlah Belinda yg asli," lontar Maria lagi terlihat gelisah.


"Kau tenang dulu, aku belum paham apa yg kau katakan," kebingungan melanda Erlando malam itu.


"Kau baca saja surat ini Er," kata Maria sambil memberikan langsung ke tangan suaminya.


Setelah Erlando meraih kertas itu dan dengan tenangnya dia membaca isi dari surat yg tertera di dalamnya.


"Kurang ajar! ini pasti perbuatan Eron!" sergah Erlando pula.


"Ya, aku yakin itu dia! pasti dia membalaskan dendam untuk Vero," sambung Maria masih gelisah.


"Sekarang kita harus bergerak cepat Er, kalah tidak! aku akan kehilangan Belinda," tampak raut wajah Maria yg tidak tenang.


"Baiklah, kita tuntaskan mereka malam ini," balas Erlando terlihat geram.


Akhirnya Maria dan Erlando bergerak secepat angin untuk sampai di dalam hutan tempat mereka membunuh atasan dari klan Vero.


................

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2