Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
KEBAKARAN ISTANA


__ADS_3

☘️☘️☘️☘️


Belakang pintu rahasia istana.


"Huh, akhirnya aku bisa kembali dengan selamat setelah membuang wanita gembel itu," hela Leli saat memasuki istana secara diam-diam.


"Madam dari mana? kenapa masuk dari arah sana?" tanya seorang pelayan pada Leli membuatnya terkejut seketika.


"Aku hanya membuang sampah! sudah pasti dari arah ini," ucap Leli tampak sedikit terkejut dengan kemunculan pelayan itu.


"Bukankah semua sampah sudah kami bereskan? lagian ini sudah malam," kata pelayan itu seolah merasa aneh dengan sikap Leli.


"Pekerjaan kalian tidak beres! masih saja ada sampah di dalam istana ini," lontarnya sedikit jengkel hingga berjalan meninggalkan pelayan itu begitu saja.


Sang pelayanan bertambah bingung dengan perkataan atasannya itu, dirinya sesekali melirik Leli yg tengah pergi begitu saja tanpa berbicara lagi.


BUK, DHUAK!


"Ah, itu suara apa ya?" tanya Usy saat keluar dari kamar Tristan yg masih tertidur pulas.


Setelah dia mendengar suara yg keras dari arah luar istana seketika pintu istana terbuka dengan sangat lebar.


AAAAAAA


Jeritan Usy seketika menghentakkan semua pelayan keluar dari tempatnya masing-masing. riuh suara jeritan saling beradu satu sama lain. namun, Leli belum mendengar jeritan yg dikeluarkan Usy ketika itu dirinya tergeletak di atas kasur kamarnya.


"Ka- kalian siapa?" tanya Usy tercengang melihat kemunculan para vampir yg begitu memadati seluruh area istana


Usy juga melihat para pengawal yg terbilang serigala itu hancur di tangan para vampir yg terlihat sangat sangar.


"Inilah kediaman raja dan ratu yg kalian banggakan!" kata Eron membuka bicara.


"Cuih! kalian para manusia, enyahlah!" hempas salah satu vampir yg terlihat marah menolak Usy hingga terjatuh.


"Akh! kalian mau apa dengan kami," desis Usy menahan sakit di lengannya.


"Kalian panggilkan raja dan ratu yg melanggar peraturan itu!" dengus vampir itu pula.


"Ternyata kau benar Eron! selama ini pasangan itu sudah menghianati aturannya sendiri," sambung vampir itu lagi.


"Sudahlah! bukan saatnya kita berbincang, segera kita musnahkan istana ini beserta isinya," balas Eron tampak puas di matanya.


"Ya! kau benar," manggutnya pula membenarkan.


"Tidak! kalian tidak bisa berbuat itu pada kami," cegah Usy dengan menarik kaki salah satu vampir yg sempat mendorongnya.


"Ha... ah... kau berani menarik kaki ku! apa kau mau mati?!" tendangnya hingga Usy terpental membenturkan kepalanya.


"Usy, Usy, bangunlah Usy. kau terluka! kepalamu berdarah," riuh Sisil menahan darah yg dikeluarkan Usy di saat itu.


"Si.... s.. si..l... ka...u... jag...a.... tuan!" seketika Usy pingsan tidak melanjutkan perkataannya.


"Hei, Usy. bangunlah! ku mohon..." jerit Sisil dengan sangat keras hingga membangunkan Leli saat itu.


"Cuih! dasar manusia lemah!!" cecarnya dengan menghina para pelayan yg tengah berduka sudah kehilangan salah satu rekannya.


Eron tampak puas dengan peristiwa itu, dirinya hampir berhasil memusnahkan pasukan yg selama ini menentangnya.


"Kalian sedang ap-"


"Loh! ini kenapa?" sambung Leli setelah melanjutkan rasa terkejutnya melihat keributan di dalam istana.

__ADS_1


Leli mengingat perkataan dari Axel kalau salah satu vampir akan menghancurkan istana, yg bernama Eron. Leli di beri jaminan palsu oleh Axel bahwa dirinya akan di selamati olehnya.


"Tunggu! ini ada apa?" tanya Leli merasa tidak mengerti.


"Apakah kau Eron?" tanya Leli dengan menunjuk tepat ke arah Eron.


"Aku tidak mengenalmu," cetus Eron pula mengabaikan ucapan Leli.


"Aku adalah orangnya Axel! tolong keluarkan aku dari sini," beber Leli di saat itu mengejutkan para pelayan.


"Madam! kenapa madam kenal pada mereka?" tanya Sisil pula sambil terisak memangku kepala Usy.


"Maafkan aku! krna aku tidak ingin mati," timpal Leli menatap Sisil yg tengah sedih.


"Hahah, apa kau menganggap aku akan menolongmu? kau sama saja! kau juga akan mati di sini," dengus Eron membelalakkan matanya.


"Aku yg membantu kalian menjebak tuanku! kenapa kalian malah ingin menyakiti ku," serang Leli melototi Eron dengan tajam.


"Hahah." Eron hanya tertawa hingga keluar menutup pintu istana dan membiarkan semua pelayan berada di dalamnya.


"Tunggu! tunggu, aku ingin keluar dari sini," jeritnya memukul pintu istana.


"Tidak! aku tidak mau mati sia-sia di sini," panik Leli hingga berlari menuju pintu rahasia istana tempat dirinya keluar saat membuang Belinda.


Rasa takut menghantui para pelayan hingga suara tangis meliputi mereka yg tengah melihat Usy berlumuran darah.


"Aku harus membangunkan tuan muda," ucap Sisil saat mengingat perkataan Usy padanya.


"Kau lihatlah Usy, aku ingin ke kamar tuan muda," pintanya sambil meletakkan kepala Usy perlahan di pangkuan pelayan lainnya.


Seketika itu Sisil langsung berlari mengarah ke kamar Tristan yg belum juga terbangun.


"Tuan... tuan muda bangun," sekuat mungkin Sisil menggoyangkan tubuh Tristan hingga panggilannya berulang kali.


"HOAM," suara nguapan dari Tristan yg tengah terbangun dari tidurnya.


Dengusan bau asap tercium masuk ke dalam hidung Tristan saat itu. membuat dirinya batuk sesekali.


Uhuk .. Uhuk...


"Kalian masak apa? kenapa bau asap?" tanya Tristan pula yg masih setengah sadar.


"Tuan! sekarang kita harus keluar dari kamar ini secepatnya," panik Sisil saat melihat api yg tengah membara di balik kaca kamar Tristan hingga tanpa sadar dirinya mendekap Tristan.


"Kau kenapa? ibuku di mana?" tanya Tristan bingung di dekapan Sisil yg sangat erat.


"Nanti saya akan menjelaskan semuanya pada tuan! sekarang kita harus keluar dulu dari sini," bujuk Sisil dengan cepat.


Crack


Crang!


Gedebug!


"Hei,hei, bangun..." teriak Tristan saat terlepas dari Sisil yg tertimpa sebuah benda berat.


Sisil mendorong tubuh Tristan agar dirinya saja yg kena benda itu supaya Tristan bisa selamat.


"Tu... an... la...r...i...." sepenggal kata terakhir Sisil untuk Tristan.


Tentu saja Tristan mulai ketakutan layaknya anak kecil walaupun dirinya separuh vampir. rasa ketakutan itu membuatnya terduduk sambil mendekapi kedua lututnya dengan berulang kali menyebut nama sang ibu.

__ADS_1


"Ibu... Tatan takut... ibu dimana?" gumam Tristan mulai merengek sendiri krna sudah melihat Sisil tidak sadar diri lagi.


"Bu, selamatkan Tatan dari sini..." rengeknya lagi tidak ada yg mendengarkan.


Disaat yg bersamaan Leli tengah melarikan diri untuk keluar dari istana. hingga dirinya menuju pintu dimana yg bisa membawanya terbebas didalam istana.


Sesampainya di pintu.


"Loh! kenapa pintu ini tidak bisa dibuka?" gumam Leli panik berulang kali menggerakkan gagang pintu itu.


"Tidak! tidak! aku harus bisa selamatkan diri dari sini," kepanikan terus membuat nya cemas.


Karna pintu itu tidak bisa di buka, akhirnya Leli kembali mengarah ke ruang istana tempat di mana para pelayan berkumpul.


Disaat yg bersamaan Haikal tengah sampai di area istana. dia melihat kastil tempat temannya tinggal sudah terbakar dengan api yg begitu besar.


"Astaga! ada apa ini? kenapa istana ini bisa terbakar!" gumam Haikal dengan panik melihat sekeliling istana yg sudah di balut api.


Di dalam kamar Tristan.


Uhuk... Uhuk...


"Ibu. dimana," gumam Tristan lagi sambil menahan nafas dengan menutup hidungnya.


"Aku harus keluar dari sini," gumam Tristan saat melihat jendela kacanya mengarah keluar istana.


Crang!


Suara pukulan kaca yg sudah dilakukan oleh Tristan untuk menyelamatkan dirinya.


"Ya tuhan, bukankah itu Tristan! apa yg akan di lakukannya?" gumam Haikal sambil berlari mengarah di bawah kamar Tristan.


"Tristan! cepat turunlah," teriak Haikal tanpa diketahui oleh para vampir lainnya.


"Om ikal! Tatan takut," balas Tristan dengan teriak.


"Kau ambil lah kain di dalam kamar mu! om ikal akan menampung mu dari bawah," jerit Haikal lagi hingga Tristan mengerti.


Sreek


Suara gorden yg di koyak oleh Tristan agar dirinya bisa membuatnya menjadi sebuah tali. Tristan yg cerdik itu membuat simpul di dalam kamar dengan memanjangkan gorden hingga kebawah.


"Om ikal... " teriak Tristan saat memegang kain gorden itu dengan sangat kuat.


Haikal yg tengah sibuk memegang kain itu agar seimbang dengan badan Tristan. sedikit demi sedikit Tristan hampir mendekati ke bawah dengan kecepatan yg tidak bisa di lakukan oleh anak seusianya. Tristan tidak mungkin melompat begitu saja tanpa adanya bantuan, tentunya Haikal tidak akan bisa menyambut Tristan dari arah gedung yg terbilang tinggi. makanya Haikal menyuruh Tristan untuk mencari sesuatu yg bisa dia gunakan untuk turun ke bawah.


"Kau tenang saja Tristan, sedikit lagi kau akan sampai ke bawah," teriak Haikal mendongakkan wajahnya ke atas.


Bruugh


"Haaahhh, akhirnya kau selamat Tristan," riuh Haikal tampak senang saat meraih tubuh Tristan hingga menimpa badannya sambil menyeka keringatnya sendiri.


"Terimakasih om ikal sudah menyelamatkan Tatan," dekap Tristan merasa gemetaran.


"Om akan membawamu dari sini," seru Haikal sambil menggendong Tristan yg tengah ketakutan.


"Tunggu!" sergah Eron saat mengetahui Haikal bersama anak dari kedua pasangan yg sangat di bencinya.


...............


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2