
☘️☘️☘️☘️
Siang hari di sebuah rumah sakit.
Semua perawat di dalam rumah sakit sedang sibuk serta panik karena pasien bernama Leli sudah masuk dalam kondisi memburuk. pihak rumah sakit terpaksa memberi informasi kepada seluruh pengunjung ataupun pasien untuk segera mengecek darahnya. sedari masuk hingga kini darah yg sama dengan Leli belum juga kunjung di dapatkan. Haikal pun sudah diberi informasi oleh dokter yg telah menangani Leli. seluruh perawat diberikan tugas masing-masing untuk mengecek seluruh golongan darah yg ada di rumah sakit.Tetapi belum juga di temukan golongan yg sama.
Bagian administrasi.
"Fey, kenapa semuanya seperti sedang panik?" tanya Lis yg baru saja datang tampak memegang sebuah rantang.
"Oh, tadi aku mendengar kalau pihak rumah sakit sedang membutuhkan darah secepatnya," jawab Fey yg seumuran dengan Lis.
"Darah?" balik tanya seolah bingung.
"Ya, mungkin saja ini keadaan darurat untuk pasien," jawabnya lagi sambil berdiri dari kursi.
"Lis, aku pergi ke kamar mandi dulu," serunya langsung bergerak meninggalkan Lis.
"Cepat baliknya, aku ada urusan sebentar," pesan nya dari jarak jauh.
Apa mungkin....itu kerabat dari tuan Haikal?? batin Lis sambil mengingat memory ketika dirinya berbincang pada Haikal malam itu.
Beberapa menit kemudian.
"Fey, kau makan deluan saja! aku ada urusan sebentar," ucap Lis sembari menyodorkan rantang berisi makanan yg dia bawa.
Lis memang setiap harinya membawa makan siang untuknya juga Fey, krna Fey sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri. Lis memang tidak pelit untuk berbagi, makanya Fey selalu membantunya di saat dia susah.
"Baiklah! kau cepat kembali, jangan terlalu lama untuk mengisi perut mu," lontarnya memberi pesan supaya Lis tidak lupa.
Lis manggut membalas perkataan Fey sambil tersenyum simpul. dia pun keluar dari ruang administrasi dengan bergerak lebih cepat mencari seseorang yg sudah ada di dalam benaknya sedari tadi.
"Lis,Lis. kau memang selalu ikut campur masalah orang lain! kau sendiri tersiksa orang lain malah tutup telinga," jengah Fey ketika Lis tidak ada tampak heran hingga geleng kepala sampai mengembuskan nafas pelan sesekali.
Area rumah sakit.
"Ren...." panggilan Belinda dari jarak terbilang jauh, duduk di kursi roda terlihat di dorong oleh seorang perawat.
"Loh, kenapa kau di sini Belinda? kau seharusnya istirahat saja! biar aku yg mewakili Leli," sahut Haikal seketika mendekat pada Belinda dengan mengernyitkan dahinya.
"Saya cemas Ren, tidak bisa berdiam saja setelah mendengar informasi dari luar," tutur Belinda pula.
"Aku mengerti kau khawatir, tapi aku juga mencemaskan mu Belinda... kau itu masih sakit," pungkas Haikal menatap wajah Belinda sambil menumpukan kedua kakinya.
"Saya sudah sembuh Ren. kamu jangan khawatir lagi," tutur Belinda sambil tertunduk takut.
"Kalau kau sudah sembuh, kau tidak akan duduk di kursi roda ini Belinda!" timpal Haikal menyela perkataan Belinda padanya.
"Tapi-"
"Maaf, apa anda tuan Haikal?" tegur seorang wanita dari balik punggung Haikal.
"Sia..." sahut Haikal terhenti saat menoleh wanita yg menyapa nya.
"Tuan Haikal, saya sudah berusaha mencari tuan! ternyata kita bertemu di sini," balas Bik Lis itu pula.
__ADS_1
"Ada apa bibik mencari saya? ada masalah apa bik?" tanya Haikal tampak bingung bik Lis menemuinya.
"Saya mendengar ada yg sedang membutuhkan darah, saya mengingat perkataan tuan kemarin malam kalau kerabat tuan ada yg sedang kekurangan darah," jawab Bik Lis lagi.
"Ya benar Bik, saya sedang mencari golongan darah yg sama dengan kerabat saya," balas Haikal tambah bingung.
"Tapi kenapa bibik bertanya pada saya tentang ini?" sambung Haikal menatap serius wajah Bik Lis.
"Sebenarnya malam itu saya ingin memberi tahu tuan, kalau darah saya sama persis dengan darah kerabat tuan," beber Bik Lis sambil bungkuk perlahan.
"Maaf, saya tidak tahu kalau darah yg cocok belum di temukan hingga kini," bungkuknya lagi.
"Tidak bik! semua bukan salah bibik, Tuhanlah yg sudah mengatur semuanya bik! terimakasih bik krna bibik mau menolong kerabat saya," lontar Haikal sambil memegang kedua pundak bik Lis.
"Sus, informasikan kepada dokter! kalau golongan darah AB+ sudah ada yg ingin mendonorkan," titah Haikal dengan cepat.
"Baik tuan, saya akan segera kembali," patuh perawat itu langsung bergegas pergi.
Haikal manggut setelah perawat itu pamit pergi.
"Tuan... sebanyak apapun darah saya, akan saya berikan untuk menolongnya," ucap bik Lis terlihat merasakan kesedihan itu.
"Terimakasih, karna sudah mau menolong teman saya," tutur Belinda sedikit bungkuk di atas kursi roda.
"Nyonya tidak perlu sungkan dengan saya, panggil saja saya Lis! pertolongan itu datangnya dari Tuhan, saya hanya perantara saja nyonya... semoga darah saya bisa menolong teman nyonya," balas Bik Lis terlihat senang saat menatap wajah Belinda.
Ya tuhan, wanita ini sungguh cantik!! mereka sangat serasi sekali. batin bik Lis sesekali melirik perawakan dari Haikal juga Belinda.
"Panggil saya Belinda saja,maaf saya sudah merepotkan," lontar Belinda lagi mengulang bungkuk sesekali
Beberapa menit kemudian.
"Maaf tuan, saya sudah menginformasikan pada dokter! bagi pendonor mari ikut saya ke ruang UGD," tegur perawat itu pula.
"Baik," patuh bik Lis dengan manggut.
"Tuan. saya pamit dulu," ucap bik Lis menundukkan kepala pelan.
"Kami akan menunggu di sini Bik," balas Haikal pula dengan tunduk pelan.
Begitu pula dengan Belinda yg terlihat senang krna ada yg ingin menolong Leli.
Terimakasih tuhan... batin Belinda memuji tampak menutup mata perlahan.
Saat bik Lis pergi dari hadapan mereka, Belinda dan Haikal Kembali ke ruang inap, Haikal tampak mendorong kursi roda Belinda perlahan.
Sesampainya di ruang inap.
"Belinda, kau istirahat saja. biar aku yg menghampiri bik Lis untuk mengucapkan terimakasih," kata Haikal sambil membopong Belinda naik ke atas tempat tidurnya.
"Sampaikan juga rasa terimakasih saya padanya," seru Belinda sambil tersenyum simpul.
"Kau panggil saja dia bik Lis, anggap dia bibik kita! karna orangnya sangatlah baik," beber Haikal mengingat malam itu saat bersama bik Lis.
"Dari mana kamu mengenalnya?" tanya Belinda memiringkan sedikit kepalanya.
__ADS_1
"Saat aku membayar biaya rumah sakit ke administrasi, dia menawariku untuk kerumah nya," turut Haikal sambil duduk disebelah Belinda.
"Sedang apa di rumahnya?" tanya Belinda lagi penasaran.
"Dia menawariku makan! karna perut ku terasa lapar, sungguh mulia hatinya. aku juga tidak menduga kalau dia juga sudah memiliki anak," ungkapnya terlihat menatap kosong.
"Anak? apakah rumahnya di dekat sini?" kembali bertnya.
"Ya, di luar rumah sakit ini ada sekelompok rumah susun yg masih berdiri kokoh, tapi seperti tidak layak di tempati lagi(kumuh)," serunya tampak lirih.
"Tapi bik Lis mengakatakan kalau anaknya sudah meninggal Beberapa tahun yg lalu," sambung Haikal lagi.
"Kenapa?" tanya Belinda semakin penasaran dengan cerita Haikal.
"Dia tidak mengatakan penyebab anaknya meninggal, dan hanya menyalahkan dirinya saja! aku tidak begitu paham dengan kesalahannya itu seperti apa," lontar Haikal sambil menaikkan kedua bahunya.
"Mungkin dia tidak ingin orang lain sampai mengetahui kejadian yg sebenarnya, atau dia tidak ingin orang lain mengasihaninya," balas belinda seolah bisa merasakan kepedihan yg di alami oleh bik Lis.
"Mungkin saja begitu," kata Haikal pula.
"Apakah bik Lis seorang diri?" tanya Belinda lagi.
"Ya, aku melihat dia hanya seorang diri di rumah! tapi...." ucap Haikal terhenti.
"Ada apa? kenapa tidak di lanjutkan?" sambung Belinda pula.
"Oh, tidak ada! sekarang kau istirahat saja. karna aku ingin keluar sebentar," jawab Haikal tampak mengalihkan wajah.
"Apa yg kamu sembunyikan?" lirik Belinda dengan heran.
"Tidak ada! sudah, kau jangan banyak berfikir lagi. sekarang istirahat! masalah Leli aku saja yg mengurusnya," titah Haikal sambil merentangkan tubuh Belinda, tidak lupa juga Haikal menyelimuti supaya Belinda merasa nyaman.
"Terimakasih Ren," seru Belinda menatap Haikal dengan mata berkaca.
"Sama-sama... aku keluar dulu," ucap Haikal membalas senyum belinda pula.
"Ren," panggil Belinda menghentikan sejenak langkah Haikal.
"Ya?" sahut Haikal menoleh ke belakang.
"Ah! tidak ada," ucap Belinda terlihat gugup.
Haikal tersenyum simpul seketika bergerak dari tempatnya dan segera keluar dari ruangan Belinda.
Sesaat di luar.
"Bik..." sapa Haikal sambil berlari mendekati bik Lis yg berjalan keluar dari UGD.
"Oh tuan masih menunggu saya?" sahutnya dengan tersenyum.
"Apa semuanya lancar bik?" tanya Haikal membalas senyuman bik Lis.
"Lancar tuan! saya ingin kembali ke ruang administrasi, apa tuan ada yg ingin di katakan pada saya?" balik tanya sambil memegang sebungkus obat.
.................
__ADS_1