
πΊπΊπΊπΊ
Tap Tap
"Lapor nyonya ratu, didepan ada seorang lelaki bernama tuan Haikal ingin bertemu yang mulia. namun masih dihalang oleh para pengawal," kata Usy dengan tergesa.
"Biarkan masuk, itu bukan orang lain," tutur Maria memberikan titahnya.
"Baik nyonya ratu," patuhnya pula dengan bergegas pergi dari tempatnya.
Pelayan bernama Usy langsung memberi tahu titah dari Maria. dia menyampaikan pada para pengawal untuk memperbolehkan lelaki itu masuk ke dalam istana.
"Silahkan masuk tuan," seruan Usy memberi hormat.
"Terimakasih," balas lelaki itu tersenyum.
"Hai. apa kabar mu?" tanya Maria langsung menyapa Haikal.
"Wah! kau semakin cantik saja Maria, apa rahasianya?" seloroh Haikal dengan riuh.
"Apa kau mau ku beri tahu?" tanya Maria seketika mendekati Haikal untuk menakutinya.
"Tentu saja, apa rahasianya?" balasnya dengan sedikit menantang.
"Menghisap darah manusia!" bisiknya dari dekat.
"Pfftt, ahahaha! humor mu tidak pernah hilang ya Maria! kau sadis sekali, iiiihhh celem," kekeh Haikal pula.
"Ya. kau kan sudah tau aku tidak meminum darah manusia lagi, aku hanya menggertakmu saja," timpal Maria merasa terkalahkan.
"Aku siap kalau kalian menghisap darahku hingga habis," ungkap haikal dengan serius.
"Ahahah, sekarang kau yg bercanda padaku! darahmu itu sudah tidak segar lagi. hahah," gelak tawa Maria hingga memegang perutnya.
"Enak saja kau! darahku ini segar, setiap hari aku berolahraga," protesnya tidak terima.
"Yasudahlah! serius banget, sekarang kau duduklah. aku akan memanggil teman seangkatan mu itu," ucap Maria menyeka air mata yg keluar akibat tawanya.
"Kemana dia?" tanya Haikal serius.
"Ada dikamar," jawab Maria pula.
"Lagi ngapain?" tanya Haikal lagi.
"Biasalah, aku habis menghajarnya," beber Maria memiringkan kepala pelan.
"Ya tuhan, kau menghajarnya? hahah, kalian ini tidak pernah berubah dari dulu," seloroh Haikal kembali tertawa.
"Itu salahnya, karna membuatku marah!" ucap Maria seakan puas.
"Kau ini, selalu saja bisa mengelak," tutur Haikal pula.
"Yasudah, aku akan panggilkan dia dulu. kau duduk saja," titah Maria pada haikal.
"Usy, kau sajikan minuman untuk tuan Haikal," sambung Maria pula pada pelayan yg sedari tadi masih berdiri di tengah perbincangan mereka.
"Baik nyonya, akan segera saya siapkan," patuhnya dengan bergerak cepat.
Maria pun langsung pergi meninggalkan Haikal yg tengah duduk diruang khusus.
Haikal dan Erlando sudah berteman sejak di masa perkuliahan dulu, mereka berdua selalu kompak maupun saling membantu satu sama lain. Haikal juga datang di hari pernikahan Erlando bersama Maria. Haikal seumuran dengan Erlando, tetapi Haikal belum juga menikah lantaran masih meniti karir yg terbilang sederhana.
"Bro! apa kabarmu?" riuh Erlando dari kejauhan sambil mengarahkan kedua tangannya.
"Ya tuhan, kau semakin sukses saja Lan," ucap Haikal antusias menyambut Erlando.
"Kenapa kau tidak pernah datang kesini?" tanya Erlando pula.
"Tuan. silahkan nikmati hidangannya," kata Usy menyuguhkan teh hijau dan juga beberapa makanan kecil.
"Terimakasih," sahut Haikal.
"Sama-sama tuan, saya pamit dulu yang mulia," balas Usy menundukkan kepala langsung pergi.
__ADS_1
"Maria kemana?" tanya Haikal celingukan.
"Dia lagi dikamar Tristan," jawab Erlando.
"Aku sudah lama tidak melihatnya, apa dia sedang dirumah?" antusias Haikal terlihat senang.
"Ya. ini hari weekend, sudah pasti di rumah," sambung Erlando pula.
"Duduklah, kita sudah lama tidak bertemu! kau sudah terlihat berbeda saja," timpal Erlando mengajak Haikal untuk duduk bersamanya.
"Tumben kau ke istana ku? ada apa kal?" tanya Erlando serius.
"Aku bingung Lan," ungkap Haikal terlihat resah.
"Ada apa? hal buruk terjadi padamu?" bertnya dengan mengamati wajah Haikal.
"Apa kau masih mengingat Ambar?" balik bertnya pula.
"Gadis yg pernah kau bawa ke pernikahan ku," jawab Erlando sambil melontarkan ingatannya.
"Ya, kau benar Lan," ucap Haikal mengiyakan.
"Terus, apa masalahnya Kal?" tanya Erlando semakin bingung dengan pengakuan Haikal.
"Begini Lan, aku sudah menjalin hubungan bersama Ambar selama dua tahun, setelah aku memantapkan hati untuk menikahinya. orang tua dari Ambar tidak menyetujui lamaranku," beber Haikal tampak raut wajah sedih.
"Bukankah kau bilang sudah dua tahun bersamanya! kenapa orangtua itu tidak menerimamu? aku semakin bingung kal," lontar Erlando terheran.
"Mereka awalnya tidak mengetahui usahaku Lan, setelah aku mengatakan kalau aku masih meniti karir. dari situlah aku ditentang untuk menikahi Ambar! mereka bilang hidup anaknya akan susah kalau bersanding denganku," lontar Haikal seketika berdiri tampak kekesalan diwajahnya.
"Jadi bagaimana? apa yg bisa aku bantu untuk menghilangkan kekecewaanmu?" tanya Erlando ikut berdiri sambil menepuk sebelah pundak Haikal.
"Sekarang di mana wanita itu?" tanya Erlando lagi melirik dari samping.
"Dia sudah dinikahi dengan seorang lelaki yg mapan Lan, aku kalah bersaing dengannya! ya... mau bagaimana? aku harus mengalah demi kebahagiaan Ambar," ucap Haikal menjelaskan lebih rinci.
"Berarti kau bukan jodohnya kal, masih banyak wanita diluar sana yg lebih baik dari si Ambar itu! sudah lah, tidak perlu kau memikirkannya lagi," tutur Erlando memberi semangat pada Haikal sambil menepuk sebelah pundak Haikal sesekali.
"Aku sudah berumur Lan, belum juga mendapatkan wanita yg menerima aku apa adanya," kata Haikal tertunduk sedih.
"Kau benar Lan, tetapi sekarang ini aku memang lagi mencari seorang wanita yg siap untuk meniti karir bersama ku," ungkap Haikal serius.
"Akan ada wanita yg datang tanpa kau cari kal, aku yakin itu! kau bersabarlah," pungkas Erlando tetap meyakinkan.
"Kalau tidak di cari, bagaimana bisa datang? apa turun dari la -"
Brak
Suara keras menghentikan perbincangan Erlando dan juga haikal. mereka langsung melihat ke arah asal dari suara itu.
"Tante, kenapa kakinya?" tanya Tristan yg tengah berlari mendekati Belinda.
"Tidak ada Tatan, saya hanya terpeleset saja kurang berhati-hati," jawab Belinda masih terduduk di lantai.
"Kaki Tante berdarah," riuh Tristan sambil menutup hidungnya agar tidak merasakan bau darah dari Belinda.
Disaat Tristan menjerit, Haikal dengan sigap menggopong Belinda ke bangku panjang yg terbilang besar. keriuhan Tristan membuat Maria ikut turun untuk melihat peristiwa yg membuat dirinya terkejut seketika.
"Ada apa ini?" tanya Maria dari kejauhan.
"Bel, kau kenapa? lututmu berdarah," sambung Maria terkejut melihat Belinda memegangi lutut belinda.
"Apa ada kota P3K?" tanya Haikal tanpa sadar dirinya telah menggendong Belinda sebelumnya.
"Ada, Usy...." teriak Maria pula.
"Saya nyonya ratu, ada yg bisa saya bantu?" sahut Usy dengan sigap mendekati Maria.
"Sekarang kau ambilkan kotak obat, cepat!" titah Maria.
"Baik nyonya," patuhnya langsung bergegas.
"Tatan, kamu pergilah ke kamar," pinta Maria supaya Tristan tidak melakukan hal di luar kendalinya.
__ADS_1
"Baik Bu," ucap Tristan sambil berlari dengan menutup hidungnya.
"Bel. apa masih sakit?" tanya Maria sambil memegang tangan Belinda.
"Sepertinya lukanya cukup besar, selagi kotak obat kalian lengkap. aku bisa mengobatinya tanpa ke rumah sakit," ungkap Haikal sambil menahan darah Belinda dengan tisu.
"Nyonya jangan khawatir, saya baik-baik saja," tutur Belinda sambil tersenyum terlihat biasa saja.
Dengan luka yg begitu serius dia bilang tidak masalah? ya tuhan... wanita ini begitu kuat, ditambah lagi dia wanita yg sangat cantik!! batin Haikal terus menatap wajah Belinda.
"Nyonya. ini kotak obatnya," kata Usy langsung memberikan ke tangan Maria.
"Terimakasih! kau sudah boleh kembali," ucap Maria meraih kotak obat itu.
Usy langsung menundukkan kepala dengan pamit pergi.
"Ini Kal, kau bisa gunakan semua yg kau perlukan disini," kata Maria menyerahkan kotak obatnya pada Haikal.
Haikal manggut dengan mengambil kotak obat yg diberikan Maria, begitu sigapnya Haikal menggerakkan kedua tangannya untuk mengobati luka Belinda, sebenarnya Haikal bukan berasal dari bidang kedokteran melainkan bidang bisnis. namun, dirinya mampu seakan membuat Erlando dan juga Maria tercengang melihat kecepatannya dalam mengobati Belinda.
"Wah! aku baru tau Kal, kalau kau belajar kedokteran," seloroh Maria dengan sengaja.
"Ini keadaan darurat Maria, siapa saja bisa melakukannya!" sergah Haikal merasa canggung karna ucapan Maria.
Erlando melihat sedari samping sikap Haikal yg terlihat malu didepan Belinda. Erlando hanya tersenyum melihat perhatian Haikal pada seorang gadis yg baru saja ditemui oleh temannya itu.
"Ssss," desis Belinda menahan sakit.
"Apakah sesakit itu?" tanya Haikal sedikit ragu.
"Sedikit, tetapi apa itu yg tuan pakai? terasa dingin," berbalik tanya dengan polosnya.
Apakah dia tidak mengetahui kalau ini alkohol??! batin Haikal sesekali memberi salep di lutut Belinda tampak mengernyitkan dahinya.
"Ekhem. ini alkohol bel, kau tahan ya sakitnya! sebentar lagi selesai kok," jawab Maria setelah mengetahui reaksi dari Haikal.
Belinda manggut dengan patuh krna perkataan Maria padanya, dirinya juga melamun dikarenakan Haikal yg begitu perhatian padanya.
Mengapa dia baik sekali mau mengobati ku? Seperti malaikat penolong saja!! batin Belinda mengamati perawakan Haikal yg begitu serius.
"Sudah selesai," kata Haikal setelah memberi sedikit perban di lutut Belinda.
"Perkenalkan, nama saya Belinda! terimakasih karna tuan sudah berbaik hati mau menolong saya," ucap Belinda memberikan tangannya dengan tersenyum manis.
"Saya Haikal, itu tidak masalah! semoga kau lekas sembuh," balas Haikal tampak merona diwajahnya karena senyum belinda yg begitu cantik.
"Ekhem," dehem antara Maria dan juga Erlando.
Seketika Haikal melepaskan genggaman tangan Belinda disaat dirinya sadar sudah memegang tangan Belinda beberapa saat.
"Kau bisa berjalan bel?" tanya Maria mendekati Belinda.
"Bisa nyonya, saya tidak terluka parah kok, nyonya jangan khawatir lagi ya..." tutur Belinda membuat Maria tidak bisa berkata apapun lagi.
"Aku akan membawa mu ke kamar, pegang tanganku," pinta Maria sambil memegang lengan Belinda.
"Terimakasih nyonya atas kebaikannya," balas Belinda merendah.
"Tuan Haikal, sekali lagi terimakasih atas bantuannya pada saya. kalau bukan karna tuan mungkin kaki saya akan semakin parah," sambung Belinda menatap wajah Haikal.
"Iya. kau beristirahatlah," lontar Haikal seakan terlihat malu.
"Mari tuan besar, tuan Haikal," kata Belinda memberi salam pada keduanya.
"Aku antar Belinda dulu, lanjutkan saja perbincangan kalian lagi," ucap Maria pula.
Keduanya manggut membalas ucapan Maria. tetapi Haikal masih saja melihat Belinda yg tergopoh-gopoh saat berjalan, seolah dirinya mampu untuk kembali menggendong Belinda sampai ke dalam kamarnya.
"Apa kau menyukai wanita itu?" lontaran Erlando yg sangat blak-blakan.
"Apa? suka?!" protes Haikal menyangkal.
Suka? batin Haikal tersenyum kecil.
__ADS_1
.................
Bersambung.....