Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
MISTERI JUS JERUK


__ADS_3

☘️☘️☘️


Keheningan didalam ruang rapat membuat semua karyawan terlihat merasa takut apalagi mereka satu persatu dilirik dengan lontaran tajam.


Yap, kini Belinda sedang berdiri tepat di tengah mereka semua. ia merasa ada hal yg mengganjal setelah Fidya berada di dalam ruangan Haikal tadi.


"Rasel, apa kau bisa menjelaskan secara detail. pokok masalah yg terjadi didalam kantor ini?" pertnyaan Belinda yg tegas itu membuat bulu kuduk Rasel berdiri, ia bahkan tidak sanggup menatap langsung mata Belinda.


"Sa... sa ya..." gugup nya seakan susah berbicara.


"Jawab!!" hentak Belinda memukul meja dengan keras.


Alangkah terkejutnya mereka ketika mendengar pukulan itu, membuat semuanya keringat dingin tidak berani menegakkan kepala.


"Se... sebentar nyonya! saya akan membawa berkas yg harus nyonya baca," turut Rasel dengan bungkuk berulang kali.


"Cepat!! saya ingin hari ini kalian semua menjelaskan apapun pada saya," lontaran belinda penuh penekanan.


"Baik nyonya, saya akan segera kembali," pamit Rasel pula dengan bergerak cepat dari tempatnya keluar ruangan.


Rasel berlari secepat kilat tidak ingin di salahkan oleh Belinda lagi, bagaimana pun Rasel juga menjadi karyawan kepercayaan Belinda juga Haikal.


Usai beberapa menit kemudian Rasel kembali dengan membawa berkas yg ia pernah berikan pada Haikal sebelumnya.


Rasel memberikan dengan tangan yg gemetaran dan sama sekali tidak berani melihat wajah Belinda yg sangat diambang kemarahan.


Belinda meraih beberapa berkas yg tidak pernah Haikal ceritakan sebelumnya. satu persatu ia lihat dengan begitu seksama.


Sungguh diluar dugaan Belinda, ternyata Fidya hanya memanfaatkan kelemahan dari Haikal. Belinda terus mengepalkan tangannya setelah selesai membaca semua berkas itu. ia merasa khawatir setelahnya karena bingung apa yg harus dia lakukan untuk menghadapi wanita seperti Fidya.


Karena Belinda mengetahui kalau Fidya seorang hacker yg bisa saja membuat perusahaan hancur seketika. ia terus memejamkan matanya sedang berfikir keras apa yg ingin dia rencanakan untuk mendepak Fidya dari kantornya.


Suasana mencekam di ruang rapat dan semua karyawan sesekali melirik ke arah Belinda yg masih saja terdiam, tampak juga Rasel yg terus saja berdiri didepan Belinda setelah memberikan berkas padanya.


Sekian menit berlalu Belinda membuka matanya dan mengamati seluruh karyawannya yg sudah berdiri tanpa bergerak sedikitpun.


"Kalian boleh keluar dulu, saya ingin sendiri," kata Belinda membuka suara setelah keheningan, sambil duduk dikursinya dan mengurut dahinya krna begitu terasa pusing.


"Baik nyonya," turut mereka dengan serentak.

__ADS_1


Dirinya sadar, kalau masih dipuncak kemarahan akan berdampak pada seluruh karyawannya. makanya Belinda menyuruh para karyawan untuk segera keluar, begitupula dengan Rasel yg mengikuti langkah mereka. sejenak Rasel menoleh pada Belinda yg kembali menutup matanya sambil mengurut dahinya. ia juga sedikit merasakan kegelisahan yg sama dengan Belinda.


Semenjak Fidya masuk kembali ke kantor, mereka seperti diperbudak oleh Fidya. disuruh ini dan itu, mereka seperti ingin memberontak tetapi tidak bisa. mereka sangat membutuhkan pekerjaan apalagi mereka memliki bos yg begitu baik, mereka semua bertahan bukan karena tidak mau mencari pekerjaan lain, tetapi mereka bertahan karena masih memandang kebaikan dari Haikal dan Belinda. tentunya mereka semua terus menjadi karyawan tetap untuk Haikal dan Belinda. itulah tekad mereka dengan begitu kompaknya.


Belinda begitu memahami semua sikap karyawannya. ia juga menyadari bahwa mereka sangat bersungguh sungguh dalam bekerja, tidak seperti Fidya yg hanya memanfaatkan untuk kepentingannya sendiri.


...🍁🍁🍁...


"Mmhh," geliat Haikal membuka mata perlahan.


"Sudah bangun tuan?" tanya Ricky seketika berada di depan kamar mereka.


"Ricky?" paniknya sejenak berdiri dari kasur dan berlari menuju luar kamar.


"Kenapa kau bisa ada sini?" tanya Haikal menutup kembali kamarnya.


"Loh! tuan tidak ingat?" lontar Ricky pula mengernyitkan dahi.


"Ingat apa? memangnya apa yg sudah terjadi padaku?" sambil menggaruk kepala dan celingukan.


"Belinda kemana?" tanya Haikal merasa bingung hanya ada Ricky di rumahnya.


"Oh, nyonya? saya tadi di hubungi nyonya menyuruh saya ke sini, karena nyonya mau ke kantor," ungkap Ricky pula membuat mata Haikal melotot dan mulut menganga.


"Apa tuan tidak ingat? kalau semalam tuan sudah mabuk berat," berusaha menyadarkan Haikal.


Kenapa aku bisa mabuk? bukankah semalam aku hanya diberikan jus jeruk saja? setelah bertemu klien dengan Fidya?!! batin Haikal sambil menjambak rambutnya sendiri dengan berusaha mengingat kejadian semalam.


"Apa mobilku ada di depan?" tanya Haikal panik seketika.


"Tuan tidak pulang dengan mobil, kami menemukan tuan sudah tergeletak didepan rumah," seru Ricky menjelaskan secara rinci.


"Aku pulang naik apa?" gumam Haikal bertambah bingung.


"Ricky! sekarang kau harus mengantarku ke kantor," lontar Haikal langsung tersadar akan Fidya apalagi mengetahui Belinda sudah ada di kantor saat ini.


"Bukankah sudah ada nyonya disana? kenapa tuan juga mau kesana?" tanya Ricky menggaruk kepalanya merasa bingung.


"Sudah tidak ada waktu menjelaskan di sini, aku bersiap dulu! kau tunggulah di luar," pesan Haikal langsung cepat melangkah masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Begitu juga dengan Ricky yg melangkah pergi dari tempatnya menuju kamar bik Lis.


Setelah masuk ke dalam Ricky mengelus punggung tangan bik Lis, sontak Ricky terkejut saat bik Lis tersenyum lebar padanya.


"Bik, apa bibik sudah sembuh?" tanya Ricky merasa senang seketika.


Bik Lis menganggukkan kepala dengan perlahan.


"R..ic..ky!" panggilan samar itu terdengar jelas ditelinga Ricky walaupun begitu pelan.


"Ya bik! ini Ricky, bibik mau apa?" tanya Ricky begitu terlihat bersemangat.


"A..mb..ar!" berusaha berbicara dan Ricky mendekatkan telinganya ke arah mulut bik Lis.


"Ya, Ambar! kenapa dengan Ambar? bukankah itu teman Nyonya, saat kita berkenalan dengannya di dalam mobil?" angguk Ricky mengorek lebih dalam lagi.


"Di..a! ma..u, mem..bu.." belum sempat berbicara dengan lengkap bik Lis merasa sesak didalam dadanya.


"Bibik tenang, bibik berbicaralah dengan perlahan, ini bik minum dulu." Ricky menyuguhkan bik Lis air minum yg sudah diberi sedotan untuk memudahkan bik Lis meminum air.


"Bik, apapun yg ingin bibik katakan saya akan mendengarkannya," turut Ricky pula sambil meletakkan gelas itu di atas meja setelah bik Lis selesai minum.


Anggukan kepala bik Lis membalas perkataan Ricky.


"Ricky! sekarang kita harus pergi," tegur Haikal dari belakang punggungnya.


"Bik Lis kita tinggal sendirian tuan?" tanya Ricky pula membuat Haikal jadi bingung.


"Kita kunci saja rumah ini, kalau sudah berada di kantor. aku akan menyuruh Belinda pulang bersama mu," turut Haikal secara tergesa, karna ia tak ingin Belinda dalam bahaya menghadapi Fidya.


"Baiklah!" angguk Ricky pula.


"Bik, kami pergi sebentar! Belinda juga akan pulang," kata Haikal dengan berpamitan dulu.


Ricky mengelus punggung tangan bik Lis dan berlalu pergi, ia menoleh sebentar saat bik Lis menatap dirinya dari jauh, mungkin perkataan yg belum sempat bik Lis katakan tadi membuat dirinya begitu penasaran.


Mereka pun keluar dari rumah, dan Haikal mengunci pintu. sementara Ricky mengeluarkan mobil dari halaman rumah. pak pon membukakan gerbang dengan lebar, Haikal juga memberi pesan kalau siapa saja tidak boleh masuk kecuali tuannya. mengingat Ambar sudah mengetahui dimana rumahnya, ia sangat begitu mewaspadai gerakan Ambar kalau saja nantinya dia akan melukai orang disekitar Belinda.


Setelah mendapat pesan dari Haikal, pak pon menggembok gerbang itu dengan rapat, dia tak ingin melakukan kesalahan terhadap tuannya. begitulah kesetiaan pak pon pada Haikal dan Belinda. pak pon jarang tidur untuk memberi keamanan mereka saat diluar ataupun berada didalam rumah. pak pon di kenal sebagai orang yg dermawan, jujur, tegas, dan tidak pandai berbohong. makanya Haikal sangat menyegani pak pon.

__ADS_1


...........


Bersambung..


__ADS_2