
πΌπΌπΌπΌ
Saat keheningan dalam mobil.
"Rumahmu dimana?" tanya Rian memberanikan diri.
"Lurus aja! nggak jauh lagi," celetuk Gisele jengkel.
"Apa kau kurang nyaman aku antar?" bertanya lagi.
"Bisakah kau diam? mulutmu bau kecoak!" gerutu Gisele blak-blakan.
Masa sih!! apa iya sebau itu?! batin Rian merasakan hembusan nafasnya.
"Turunkan aku ditepi sebrang itu! tidak usah Sampai rumah," pinta Gisel pula mulai jengah.
"Kau tidak mau aku antar sampai rumah?" tanya Rian merasa gugup.
"Tidak perlu! jadi gunjingan orang klau kau antar aku kerumah," ketusnya pula.
Baru kali ini aku ditolak mentah-mentah oleh wanita. biasanya wanita itu sendiri yg ingin lengket padaku!!! apa dia bukan wanita?? jangan-jangan.... siluman kera!!! batin Rian menyeringai.
"Woy! kau tidak dengar aku mengatakan apa! turunkan aku ditepi itu," celetuk Gisele sangat jengkel.
Tanpa bersuara lagi Rian segera menepikan mobilnya mengikuti apa yg diperintahkan Gisele padanya.
"Makasih! lain kali kau akan ku traktir minum! aku tidak mau ada hutang budi pada orang lain," sarkasnya turun dari mobil.
Dasar wanita LabiL!!! gumam Rian geleng kepala.
Bajing*n itu pasti sengaja buat aku berhutang budi padanya!!! gumam Gisele mengomel sepanjang jalan.
ππππ
Menjelang sore hari.
Entah mengapa suasana hati Rei terlihat begitu ceria setelah masuk kedalam rumah. wajah semrawutnya tidak terlihat lagi seolah menghilang begitu saja.
Perasaan terpuruk dihatinya sudah terobati seketika krna kebahagiaan teramat dia rasakan. dan baru pertma kalinya melambaikan tangan pada lelaki yg baru dia temui sungguh suatu hal aneh membuatnya berfikir lebih dalam menelusuri hatinya yg tentu saja belum dia ketahui apa faktor dari penyebab itu semua.
Jantungnya pun berdetak hebat jikalau Tristan berada didekatnya maupun memberikan perhatian padanya tanpa dia sadari, tristan telah masuk dalam kehidupannya.
Selain gisele aku sudah memiliki seorang sahabat dan teman lainnya. makasih tuhan.... kau pertemukan aku dengan orang-orang baik. gumam rei terduduk disofa empuknya memejamkan mata.
Setelah dirinya membuka mata maka dia pun segera bangkit dari Sofanya bergegas kemeja makan krna teringat situasinya pasti masih berantakan.
"Loh! udah bik Lis rapikan ternyata," ujarnya bicara sendiri.
"Oh iya," gumamnya pula.
Bahkan Rei baru saja mengingat perkataan Tristan sebelum pulang kalau Tristan akan menjemputnya sore ini. namun, ini sudah hampir pukul dua sore. bagaimana bisa dirinya melupakan hal itu.
Memang benar dirinya belum pernah sama sekali diajak kemanapun oleh seorang pria hanya sang ayah yg sering membawa dirinya pergi keluar.
Saat sampai dikamarnya.
Zruk Zruk
Membongkar semua bajunya yg telah tersusun rapi dilemari.
"Duh.. mau pakai baju apa ya? gumam Rei menggigit ujung kukunya karna kecemasan terlihat diwajahnya.
Tok tok
"Masuk aja bik," sahut Rei terduduk di tumpukan baju.
Ceklek,,,,pintu terbuka.
"Lo,loh! ada apa ini non Rei? baju non berserakan... Non Rei sedang mencari apa?" tanya Bik Lis mengernyitkan dahi karna melihat nonanya sedang tampak kebingungan.
__ADS_1
"Ah - ." Rei terduduk menggigit bibir bawahnya dan mulai terlihat cemberut.
"Ada apa non? kok cemberut gitu?" tanya Bik Lis mendekati Rei karna penasaran.
"Ini bik... Rei lagi bingung sekarang," seru Rei sedih.
"Cerita sama bibi. kenapa non bingung?" tanya Bik Lis memegang pundak Rei lembut.
"Rei gak tau mau pakai baju apa bik! Rei gak punya baju untuk pergi hari ini," pekiknya mengamati semua baju.
"Non Rei mau pergi kemana?" tanya Bik Lis melirik Rei.
"Itu.... Rei diajak pergi sama temen Rei yg datang barusan bik," mata Rei berkeliling tak berani melihat Bik Lis.
N**onaku ternyata mau kencan? hahah sangat lucu melihat wajahnya yg merah merona begini. aku harus melakukan sesuatu untuk nona. aku harus membuatnya terlihat sempurna!! batin Bik Lis semangat empat lima.
"Oh... non Rei mau pergi? sebentar ya, bibi ambil sesuatu! nanti bibi balik lagi," ujar Bik Lis memegang pipi Rei bergegas pergi dari kamar.
Bik Lis mau kemana ya? huffhh!!! bik Lis gak kasih saran nih sma Rei. duh! gimana ya??gumam Rei semakin panik.
...***...
ππππ
Suasana Rumah kaca.
Sementara itu, Tristan yg baru keluar dari mobil berlari dari pekarangan rumahnya, yg sudah terlihat dari kejauhan olehnya lord berdiri didepan pintu rumah.
"Tuan? kenapa anda berlarian?" tanya Lord melirik Tristan yg sudah seperti orang asma.
"Agh! lord, gak ada waktu untuk berbincang! ibu dimana lord?" tanya Tristan dengan menekan pelipis matanya.
"Seperti biasa, Nyonya sedang ada ditaman tuan," seru Lord yg mengamati wajah serius Tristan.
"Baiklah! makasih lord," bergegas lari begitu saja.
A**pa ada hal yg sangat penting sampai segitunya ekpresi wajah tuan? tak pernah aku melihat tuan seperti orang panik!! atau mungkin saja ada masalah serius! tidak, tidak, semoga apa yg kupikirkan tidak jadi kenyataan! gumam Lord memandangi punggung Tristan yg sudah jauh.
"Ibu," sapa Tristan langsung memeluk ibunya dari belakang.
"Tristan kamu keringatan begini? ada apa nak? ayo tarik nafas dulu," timpal Ibu yg terlihat panik.
"Bu, aku bahagia Bu! sangat bahagia..." masih memeluk ibunya erat.
"Lepas dulu.... ibu gak bisa bernafas kalau kamu peluk erat begini?" menggeliat berusaha melepaskan pelukan Tristan.
"Maaf Bu.... aku terlalu bersemangat! jadi gak sadar kalau terlalu erat memeluk ibu." Tristan langsung melepaskan pelukannya.
"Sini... duduk disebelah ibu, ada apa nak?" meraih tngan Tristan untuk duduk dengannya.
"Bu, aku sudah menemukan gadis yg selama ini aku cari Bu... gadis kecil yg selama ini aku tunggu Bu," lirihnya dengan mata yg berbinar.
"Apa benar itu nak? kamu sudah bertemu anak kecil itu, Dimana dia sekarang? ibu ingin bertemu dengannya...." antusias sang ibu memaksa Tristan tak sabar ingin mengajak bertemu.
"Bu, selama ini gadis kecil itu sudah ada didekatku sejak kemarin," hikmad Tristan berkata lirih.
"Siapa nak? apa...."
"Rei Bu, Rei adalah teman kecilku Bu... teman yg selama ini aku cari," pekiknya tak sadar telah meneteskan air mata.
"Astaga nak... apa benar begitu? ibu tak menyangka itu Tristan..." wajah bahagia terpampang jelas dari sang ibu.
"Hari ini Tristan akan membawa ibu bertemu dengannya! apa ibu mau?" ujarnya berharap akan jawaban Ibu Maria.
"Mau nak... ibu mau," seketika memeluk Tristan yg dilihatnya sudah sangat bahagia.
Keharuan yg mereka rasakan terlihat oleh lord. lord sempat minitikkan air mata karna tuannya sudah menemukan gadis yg selama ini dia cari.
Terima kasih Tuhan! gumam Lord menyeka air mata.
__ADS_1
"Sekarang ibu siapkan diri, aku ingin memberi kejutan yg lainnya untuk Rei," riuhnya berdiri dari tempat duduk.
"Iya nak... ibu siap-siap dulu," ujar sang ibu pula.
Ibu Maria begitu sangat terharu melihat kekuatan cinta dari anaknya itu, sangat tidak menduga anaknya bertemu dengan anak kecil yg sekian lama sulit dia temukan. tuhan telah mempertemukan Tristan pada kebahagiaanya lagi.
Saat Tristan berlalu pergi, ibu Maria meletakkan pot bunga diatas meja yg belum selesai dia tata, malah begitu saja dia tinggalkan hanya demi untuk bertemu pada gadis yg bernama Rei itu. anak kecil yg dia lihat sudah menjadi wanita secantik apa, sehingga membuat anaknya begitu mencintainya.
...***...
Kembali disebuah kamar yg berantakan.
Tok tok
"Iya? masuk bik," sahut Rei sedang celingukan memilih baju.
"Non... bibi ada sesuatu buat non." Bik Lis menyimpan kedua tangannya dibelakang badan.
"Apa itu bik." Rei yg sangat penasaran menyipitkan matanya.
"Ini non.... buka aja," memberikan sebuah kado ketangan Rei.
"Ini apa ya bik? kok sepertinya berat," sambil membuka bungkus kado yg diberikan Bik Lis.
Haaaa....
Waahhhh...
Rei sampai menganga melihat isi kado yg diberikan bik Lis, sungguh sebuah hadiah yg sangat indah baginya. sehingga dia terharu mengamati gaun yg dia pegang ditangannya.
"I- ini buat Rei bik?" bertanya masih tidak yakin.
"Iya non... ini hadiah dari bibi, bibi punya sedikit uang membeli semua bahannya! bibi buat dengan tangan bibi. meski sederhana tapi bibi puas karna sudah bisa memberikan langsung dihari ulang tahun nona." bik Lis yg tidak sadar telah menitikkan air mata.
"Hah .... bik... ini lebih dari cukup." Rei memeluk bik Lis dengan tubuhnya yg mungil.
"Ini sangat indah bik... Rei suka bik baju buatan bibi, makasih bik? bibi sudah sangat menyayangi Rei," memeluk Bik Lis dengan erat.
"Sudah Non.... sekarang non Rei harus cepat bersiap! bibi akan bantu membereskan baju non yg berserakan ini," melepaskan pelukan Rei perlahan.
"Iya bik. makasih ya bik sekali lagi?" Timpalnya menyentuh pipi Bik Lis dengan rasa harunya dan segera bergegas mempersiapkan diri.
"Non Rei cantik gak ya memakai baju itu? semoga saja cocok dipakai olehnya! non Rei pakai baju apa aja tetap cantik. aku tak ingin meragukan kecantikan non Rei," gumam Bik Lis sekaligus memungut baju Rei yg masih berserakan.
Setelah beberapa saat kemudian..
"Bik..." panggilnya setelah keluar dari kamar mandi.
"Apa begini sudah benar?" bertanya tampak mata berbinar.
PROK PROK
Tepukan tangan tanpa disadari oleh bik Lis. tangan itu bergerak sendirinya krna melihat wanita bagai bidadari turun dari surga.
"Cantik bener... sangat cantik," Terus menepuk tangan tampak matanya yg berkilauan melihat kecantikan yg sempurna.
"Apa sih bik! buat malu Rei aja," protesnya terlihat merona karna reaksi Bik Lis yg berlebihan.
"Nona memakai baju apa aja tetap cantik non! bik Lis gak tau lagi harus berkata apa? non Rei terlihat sangat anggun sekali..." sangat antusias mengacungkan kedua jempolnya tak terlepas dari pujian.
"Sudah ah, bik! Rei kan jadi malu...." gerutu Rei sudah dibuat malu oleh Bik Lis.
...........
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YAππ€
__ADS_1
ππ₯°MAMAK SAYANG KALIAN π₯Ίβ€οΈ