Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
TARING TAJAM


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺


Kepanikan yg dialami oleh Tristan membuatnya kehilangan akal sehat, dia berfikir untuk melanggar prinsip yg telah dibuatnya sendiri. seakan tidak sanggup lagi melihat Rei dalam keadaan mimpi buruk, Tristan memantapkan jiwanya untuk melakukan hal diluar kendalinya.


Setelah dia menghembusan nafas yg panjang dia tak punya pilihan lain lagi kecuali mengeluarkan taringnya lalu menggigit leher Rei secara lembut sambil memejamkan matanya perlahan, terlebih lagi Rei tidak menunjukkan tanda bahwa dirinya sedang kesakitan.


Dengan menghisap darah Rei tidak dia biarkan setetes pun terjatuh, darah Rei terus mengalir langsung masuk kedalam tubuhnya serasa terhanyut oleh kenikmatan yg tak pernah dirasakan sebelumnya.


Selama ini cukup hanya meminum darah hewan saja, kali ini sungguh terasa sangat berbeda baginya. pernah sewaktu ketika dia kehilangan tenaganya krna menolong lord, dari itu lord memberikan seorang wanita untuk dihisap darahnya. namun, darah yg Tristan hisap tidak senikmat darah yg dimiliki oleh Rei. sungguh, setetes darah Rei memberikan kekuatan penuh pada tubuh Tristan seperti tersihir tidak ingin melepaskannya. tetapi tristan bukanlah lelaki jahat yg mementingkan semua itu, dia hanya ingin Rei tersadar akan gigitannya.


Setelah dia melepaskan gigitannya perlahan menatap wajah Rei yg terlihat sedikit lebih tenang.


*A*da apa dengan Rei? kenapa dia tidak merasakan sakit? batin Tristan sembari mengernyitkan dahi.


Kalau saja Rei mendengarkan isi hatinya seolah ingin sekali membawa Rei pergi jauh bersama dirinya. lagipula, dia sudah merasa nyaman jika berada didekat Rei.


Setelah beberapa saat kejadian berlalu.


"A- aku... dimana?" tanya Rei pada diri sendiri sembari perlahan membuka mata.


Bola mata Rei mengamati setiap isi ruangan yg tidak pernah dia datangi sebelumnya, tertata dengan sangat rapi apalagi dia mencium aroma bunga mawar yg sangat pekat.


Saat dia ingin menggerakkan tubuhnya, terasa seperti aliran darah lancar dan badan terasa lebih segar. namun, dia masih tidak menyadari apa yg telah terjadi dengannya.


"Ekhem" kau sudah bangun Rei," sengaja berdehem agar Rei sadar bahwa dirinya sudah ada didekatnya sejak tadi.


"Pa- maksudnya.... Tris- Tan?"


Aku ngmong apa sih... kok kayak gak jelas gini?! batin Rei sembari mengalihkan pandangan terlihat malu.


"Rei... beginikah sikapmu dengan orang yg sudah merawatmu sejak tadi?" menggerakkan dagu Rei agar menatap wajahnya yg sudah terlihat sangat cemas.


"Ka- kau.... mau ngapain?" tanya Rei begitu panik tidak bisa mengelakkan wajahnya.


"Tidak ada," singkatnya.


Setelah puas menatap, Tristan begitu saja mencium kening Rei tanpa paksaan siapapun. seperti ada sebuah dorongan melalui hatinya untuk melakukan hal itu.


Deg


Rei membelalakkan matanya seperti membeku tidak bisa berkutik sama sekali dengan sikap Tristan yg sudah tidak sopan terhadapnya. namun, dirinya tidak memiliki perlawanan untuk membalas Tristan, dia hanya membisu seolah mati kutu.


Apakah ini rasanya dicium? batin Rei tampak mata melotot.


"Ka- kau," sarkas Rei gelagapan.


"Rei... aku tidak bermaksud membuatmu marah, aku hanya ingin membuatmu merasa nyaman jika berada didekatku! itu saja," menjelaskan pada Rei secara lembut.


"Kau jangan berbuat hal itu lagi," ucapnya tegas mengalihkan wajah yg tampak merah.


"Kau lucu banget Rei.... wajahmu sampe merah begini." Tristan tersenyum manis menatap wajah Rei.


"Apanya! Eng- engak ada kok," kegugupan membuat Rei tersipu malu.


Karna reaksi Rei seperti itu membuat Tristan ingin sekali mencubit pipinya di saat itu juga sangking gemasnya Tristan pada Rei. namun, masih bisa tertahankan sampai dirinya mendapatkan Rei sepenuhnya.


Kegilaan Tristan membuat Rei semalu itu, apalagi seorang Tristan yg tidak pernah berbuat hal senekat tadi pada setiap wanita malah dengan gampangnya melakukan hal-hal diluar kendalinya terhadap Rei.


Padahal Tristan itu seorang vampir berhati dingin. namun, setelah dia mengenal Rei. hati itu berubah menjadi sehangat mentari. keberadaan Rei membuatnya sedikit memiliki harapan yg sebelumnya telah kosong tanpa arah.


Bermainlah lamunan panjang itu didalam pikiran Tristan, sehingga dia melupakan semangkuk bubur yg tergelatak diatas meja bundar tepat didepan matanya.


Membuyarkan lamunannya sendiri bergegas merangkul pinggang Rei agar membuatnya duduk dengan senyaman mungkin.


Jelas saja Rei terkejut dengan perlakuan yg diberikan Tristan padanya dia merasa ada yg aneh dari sikap Tristan semenjak dirinya terbangun dari tidur.


Mau melawan pun percuma saja, krna dirinya saat ini hanyalah seorang pasien tidak mungkin membantah seseorang yg kian tulus merawatnya.


"Itu apa?" tanya Rei pada Tristan yg sedang memegang mangkuk ditangannya


"Tadi sebelum kau sadar, aku menyempatkan waktu untuk membuatkan bubur untukmu." Tristan menatap Rei tampak wajah berseri.

__ADS_1


"Kau pandai memasak?" bertnya seakan tidak percaya.


"Sudah.... jngn berbicara lagi, Buka mulutmu! Aaak....." menyuguhkan sendok yg sudah terisi bubur dihadapan Rei.


"Aku bisa makan sendiri kok," ujar Rei mencoba untuk meraihnya tapi tidak diberikan oleh Tristan.


Rei bersikeras masih tidak mau membuka mulutnya.


"Apa aku harus menyuapimu dengan mulutku," ucap Tristan menurunkan bubur dengan mengernyitkan wajahnya.


Deg


"A- apa sih yg kamu katakan," terasa kepala Rei mau meledak saat mendengar ucapan Tristan padanya.


"Rei, ayo dong.... tanganku pegal nih," memaksa Rei dengan rayuannya sembari menyuguhkan sendok berisi bubur.


Akhirnya keras kepala Rei lunak seketika mencair karna rayuan Tristan terhadapnya.


"...."


"Gitu dong..." ucap Tristan pula tampak senang.


Rei mengalihkan matanya sambil mengunyah bubur yg dibuat khusus untuk dirinya, seakan tidak yakin ini kebetulan saja atau cuma singgah didalam hidupnya. sampai dia berfikir kalau saja Tristan adalah kekasihnya.


*T*uhan... apa yg sudah kupikirkan? yg benar saja pikiranku ini?! batin Rei menggerutu sendiri.


"Enak Rei?" tanya Tristan agar Rei tetap fokus padanya.


"Enak," singkatnya sembari mengunyah.


"Suka?" bertanya lagi tampak senyum jahil.


"Su- ," sejenak terdiam.


"Kenapa kau diam... kau suka buburnya?" bertnya lagi seolah puas menggoda Rei.


"Ah! i- iya, maksudnya aku suka kok buburnya...." memiringkan kepala karna tak bisa menatap wajah Tristan lagi.


"Kalau enak harus dihabiskan, biar kau tidak lemas lagi..." ujar Tristan pula


"Kau tidak ingat?" balik bertanya sembari terus menyuapi Rei.


"Ingat sedikit... terakhir kali aku lagi pemanasan saja. setelah itu aku gak tau lagi apa yg terjadi," ucap Rei sedang berusaha untuk kembali mengingat.


"Kau tadi terjatuh dilantai, aku langsung membawamu kesini. aku tidak bisa hanya berdiam diri untuk melihatmu yg sudah tak sadarkan diri," kata Tristan pula menjelaskan agar Rei bisa mengerti.


"Ja- jadi.... kau yg menggendong aku sampai kesini?" gugup tak percaya sudah terjadi hal seperti itu padanya.


"Iya... kau berat sekali rei, hahaha..." selorohnya sengaja berbuat usil pada Rei.


"Apa sih! Aku tidak seberat itu kok," memasang wajah cemberut.


Ceklek,,,,, pintu kamar ruang rawat terbuka tanpa diketuk.


"Sudah bangun rupanya.... perbincangan kalian terdengar sampai luar," sapa rian sedang melangkah masuk.


"Kamu siapa?" tanya Rei tampak kening berkerut.


"Aku dokter Rian. aku yg memeriksa kondisi kamu tadi." Rian menyeloteh sendiri tanpa memandang Tristan yg ada didekatnya.


"Kamu dari kelas mana?" bertanya lagi sembari melirik Tristan yg sedang terdiam membisu.


"Saya dari ruang kelas bisnis! dan juga- " pertnyaan Rei terhenti sejenak.


"Ada yg mau kamu tanyakan?" timpal Rian menyela.


"Bapak siapanya Tri- maksud saya? bapak siapanya dosen pembimbing saya?" semakin gugup bertnya krna Rei melihat Tristan tidak berbicara apapun.


"Dia temanku." Tristan menoleh kesamping dengan tatapan tajam sehingga membuat Rian merinding ditatap olehnya.


"Ah, Hahaha" yaa.... begitulah," ekspresi Rian tumpul karna nyawanya mulai terancam.

__ADS_1


"Oh! nama kamu Si -"


"Pak dokter," panggil Tristan menyela pertnyaan Rian.


"I- iya..." jawab Rian yg sudah merasakan hawa dingin dipundaknya.


"Bisa anda ikut saya keluar sebentar?"


Tanpa basa-basi lagi Tristan menarik lengan Rian dengan cepat.


"Lain hari kita akan bertemu lagi ya....." teriak Rian pada Rei melambaikan tangan.


Mereka kenapa ya? gumam Rei pelan.


Setelah mereka keluar dari ruangan itu, Tristan menatap mata Rian seperti seorang pembunuh berantai. dia juga meletakkan kedua tangannya dipundak Rian secara kuat seakan Rian mati hanya dari pelupuk mata Tristan saja.


"Kamu sudah bosan hidup rupanya? hah?!"


Menghentakkan tangannya dengan memukul dinding tepat dibelakang Rian, sangat bringas sekali ekspresi yg ditunjukkan Tristan padanya.


"Tidak, tidak! aku masih ingin hidup." Rian yg sudah merasakan hawa dingin itu menurunkan tangan Tristan perlahan dari pundaknya.


Yang benar saja si breng**k ini mau membunuhku hanya karna manusia biasa?!


batin Rian menatap wajah Tristan dengan seksama.


Rian Tetap mengamati wajah Tristan yg terlihat jelas ada kobaran api didalam diri Tristan, seperti seorang pacar yg sedang dilanda cemburu tingkat akhir.


Hahaha sudah jelas dari wajahnya kalau dia menyukai wanita itu! semakin aku ingin menggodanya saja. batin Rian sembari menyeringai.


"Apa yg kau tertawakan! kau pikir aku badut!" hardiknya memelototi Rian merasa jengkel.


"Kau sedang cemburu?" sengaja mengorek kejujuran Tristan.


ZLEEPPP


Mendengar pertnyaan yg dilontarkan Rian padanya membuat Tristan terdiam tak bisa memberi jawaban apapun, karna dia masih belum mendapatkan cinta Rei hingga kini cuma bisa mendekatinya dan tidak ada haknya untuk sekarang mengatakan kalau dirinya memang sedang cemburu.


"Oh! aku sudah mengerti sekarang," ujarnya pula seperti bermain tebakan.


"Apa yg kau pahami?" ketus Tristan menatap tajam Rian.


"Dari caramu menatapku! aku sudah tau, kalau kau sedang jatuh cinta padanya," mengorek lebih dalam lagi sampai Rian puas.


"Apa kau sedang menjebakku?" tanya Tristan memicingkan sebelah matanya.


"Kau pasti belum mendapatkan cintanya! tapi.... sebelum kau mendapatkannya, berarti aku berhak untuk mendekatinya!"


sengaja berkata lantang agar Tristan murka ditambah lagi kemarahan itulah yg menjadi jawaban untuk Rian.


ZREEKK


"Kau sedang menguji kesabaranku?!" mencekik leher Rian keatas dengan sekuat tenaga.


"Akh! Tristan... turunkan aku sekarang! kau hampir membunuhku, aaaa...." jerit Rian sudah kehilangan nafasnya karna kekuatan begitu besar yg dikeluarkan oleh Tristan.


Beberapa menit berlalu Setelah Tristan puas dengan perbuatannya lagipula Rian pun nampaknya sudah lemas akhirnya segera menurunkan Rian kembali.


"Uhuk.uhuk" hah...hah... kau! kau tega sekali padaku Tristan!" berusaha bicara dengan mengumpulkan nafasnya yg sudah teramat sesak.


"Salahmu sendiri. lagian kau tak akan mati begitu saja," ucap Tristan dengan santai seolah puas dihatinya.


"Baiklah! aku tak akan berani mengganggu mu lagi, puas kau." Rian pergi begitu saja dari hadapan Tristan dan kembali keruangannya.


*D*asar! lelaki gak waras! breng***!!! awas saja kau nanti. batin Rian menggerutu sembari mengurut lehernya.


Tristan sudah tidak ambil pusing lagi dengan tingkah Rian yg membuatnya marah, setelah Rian berlalu darinya diapun beranjak dari tempatnya untuk kembali kekamar rawat Rei.


..............


bersambung....

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA😚🤭


🥰😍MAMAK SAYANG KALIAN ❤️🥺


__ADS_2