
...^^^...
Tin Tin
Suara bunyi klason mobil sedang berada tepat didepan gerbang rumah Haikal dan Belinda. dari kejauhan bik Lis memandang mobil berwarna biru tua terlihat mewah sekali, karena dirinya sedang menyiram tanaman di halaman rumah.
Ternyata ia melihat seorang lelaki memakai kacamata berwarna hitam bertengker dibatang hidungnya, hingga tersenyum manis melihat bik Lis yg ketika itu terheran siapa yg datang begitu pagi pagi sekali.
Senyuman terlukis dibibir bik Lis ketika ia mengetahui bahwa yg datang itu ialah Ricky, sudah sejak lama ia berbaring lemah tidak pernah berbicara lagi padanya. segera ia meletakkan teko yg berisi air penyiraman bunga dibawah. ia pun berlari menghampiri pak pon untuk meminta membukakan pintu gerbang supaya Ricky bisa masuk ke dalam halaman rumah.
Seusai gerbang terbuka, mobil Ricky melaju masuk ke halaman rumah mereka. setelah ia memberhentikan mobilnya, ia pun keluar dengan sigap dan membuka kaca mata yg ia pasang sebelumnya.
"Selamat pagi bik," bungkuk Ricky dengan sopannya.
"Selamat pagi juga, apa kau baik baik saja?" tanya bik Lis memegang sebelah pundak Ricky.
"Harusnya, saya yg tanya! apa bibik sekarang sudah lebih baik?" imbuhnya dengan tatapan bahagia.
"Tentu saja, apa kau tidak lihat! aku sekarang sudah jauh lebih baik," kata bik Lis hingga memutarkan tubuhnya.
"Syukurlah, saya sampai tidak menduga bibik bisa lebih sehat seperti sekarang ini," turut Ricky pula.
"Kau sudah lama tidak kelihatan, apa kau sedang sibuk sekarang?" tnya bik Lis sambil celingukan melihat ke arah dalam rumah yg kian terbuka lebar.
"Ada sesuatu yg harus saya lakukan bik, makanya saya tidak ada waktu datang kesini," ucap Ricky terheran dengan tingkah bik Lis.
"Ada apa bik? sepertinya ada sesuatu yg ingin bibik sampaikan pada saya," lanjut Ricky lagi yg masih mengamati gerak gerik bik Lis.
"Sebenarnya.."
"Siapa bik?" tanya Belinda dari kejauhan dengan perut yg sudah terlihat membesar.
"Loh! apa itu kau Ricky?" tanya Belinda terheran melihat style seorang Ricky yg begitu rapi.
"Ya nyonya, apa kabarmu?" bungkuk Ricky begitu sopan.
"Kau darimana saja? sampai kami semua mencari mu, bik! kenapa Ricky tidak di suruh masuk?" tanya Belinda menoleh pada bik Lis yg sedang menatap Ricky.
"Ah, ia nyonya. Ricky juga baru saja sampai," turut bik Lis menoleh pada Belinda seketika.
"Ayo Ricky, masuklah! kita sarapan bersama," ajak Belinda yg melangkah masuk kedalam rumah.
Ricky tidak mungkin menolak ajakan Belinda, karena dirinya juga ada hal penting yg ingin ia bahas.
Tampak bik Lis dibelakang Ricky sedang ingin berbicara tetapi keburu Belinda datang ditengah mereka. akhirnya bik Lis mengundurkan niatnya saja sampai memiliki waktu yg tepat.
Sementara itu, mereka bertiga masuk kedalam rumah. dan bik Lis mempersiapkan dengan menu hidangan berupa Pancake, salad dari ( karbohidrat, protein, lemak, vitamin, hingga mineral) untuk Belinda. serta teh hijau terletak di atas meja hidangan. setelah bik Lis pulih, makanan Belinda sangatlah dijaga untuk asupan didalam perutnya, makanya Belinda sangat senang bik Lis bisa hadir ditengah keluarga mereka lagi.
"Ricky, kau duduklah disini. aku ingin memanggil Haikal, sepertinya dia sudah selesai aku mau mengajaknya sarapan bersama," cakap Belinda dengan nada pelan.
__ADS_1
"Baiklah," turut Ricky bergerak duduk kemeja hidangan itu.
Karena Belinda pergi dari hadapan Ricky, disitulah kesempatan bik Lis untuk menghampiri Ricky setelah tau Belinda sudah berlalu. dengan begitu cepat bik Lis melepas celemeknya dan berlari mendekati Ricky hingga meraih tangan Ricky sangat eratnya.
"Ikut sebentar!" lengan Ricky ditarik dan ia tak bisa mengelak ataupun sempat bertanya.
.
.
.
Bik Lis mengajak Ricky ke belakang halaman yg sedikit jauh dari arah meja makan.
"Kenapa bik? kok bibik menarik saya sampai sini?" tanya Ricky membuat geram bik Lis.
"Ssst, kecilkan suaramu! nanti kita ketahuan sedang ada disini," katanya sambil mengintip di balik tembok melihat situasi.
"Kemarikan telingamu!" sambung bik Lis lagi.
"Kenapa bik?"
"Sudah, sinikan!!" kuping Ricky ditarik tanpa banyak berkata lagi.
Bik Lis membisikkan sesuatu hal yg begitu penting untuk diketahui oleh Ricky, karena dia yakin. bahwa Ricky bisa membantunya untuk menyelamatkan Belinda dari serangan Ambar.
Seusai bisikan itu, Ricky membelalakkan matanya sangking terkejutnya mendengar semua perkataan yg dilontarkan oleh bik Lis. hingga ia tidak menyangka bisa sampai sejauh itu Ambar melangkah.
"Hei, apa kau dengar yg aku tanyakan," celetuk bik Lis menyikut lengan Ricky supaya dia cepat sadar dari lamunan.
"Ya! saya mengerti bik," turutnya pula mengangguk cepat.
Beberapa saat kemudian terdengar suara Belinda memanggil Ricky dari dalam rumah.
"Kemana perginya Ricky?" gumam Belinda saat melihat Ricky tidak ada dimeja makan.
"Apa benar anak itu kesini?" tanya Haikal sambil merapikan dasinya yg mengikat dikerah bajunya.
"Aku yakin, tadi sudah aku suruh dia untuk menungguku disini," turut Belinda celingukan melihat semua sisi rumahnya.
Setibanya Ricky hadir dari arah yg tak disadari oleh keduanya.
"Maaf nyonya, saya tadi mencari kamar mandi," tegur Ricky dari belakang mereka.
"Kapan kau sampai?" sambut Haikal antusias memeluk sejenak tubuh Ricky.
"Baru saja tuan," ia pun menyambut pelukan itu dengan hangat.
"Duduklah dulu, kita sarapan bersama," ucap Belinda sambil bergeleng kepala melihat Ricky yg muncul tiba tiba.
__ADS_1
"Bik..." panggil Belinda dari arah meja hidang.
"Saya nyonya," sahut bik Lis sambil berlari mendekati Belinda.
"Apa bibik sudah sarapan?" tanya Belinda yg masih berdiri disamping Haikal yg kian duduk.
"Sudah, tadi saya sudah sarapan seusai membereskan kerjaan rumah," ungkap bik Lis bernada rendah.
"Yasudah, bibik jangan terlalu lelah dulu! istirahatlah dikamar." Belinda mengelus pundak bik Lis dengan lembutnya.
"Baik nyonya, saya pamit dulu," bungkuk bik Lis pelan.
Belinda membalas dengan senyuman hangat membuat Ricky merasa nyaman saat melihat wajah Belinda saat itu. sehingga membuat kepalan tangannya menjadi semakin kuat saja.
"Ricky, apa yg kau rencanakan setelah lulus kuliah?" tanya Haikal membuka suara.
Saat perbincangan dengan bik Lis, Belinda duduk disamping Haikal dan meraih gelas berisi susu untuk dia minum.
"Tuan, saya ingin masuk ke dalam kantor tuan," cakap Ricky membuat Belinda terhenti sejenak.
"Apa yg kau katakan?" tanya Haikal pula mengernyitkan dahinya.
"Bukankah tuan sedang mencari seseorang yg bisa dipercaya untuk berada disamping tuan?" tanya Ricky tertunduk takut melihat tatapan tegas dari Haikal.
"Kau kan sudah tau, sekarang ini aku memiliki sekretaris bernama Fidya, tidak mungkin aku mengeluarkannya tanpa sesuatu yg jelas," lontar Haikal sambil menekan pelipis matanya.
"Fidya sudah ada ditangan saya tuan," jelas ucapan itu membuat keduanya merasa terkejut.
"Apa yg kau katakan barusan, kenapa bisa?" tanya Haikal mulai kebingungan.
"Saya sudah tau semua permasalahan tuan dengannya," jawab Ricky sambil melekatkan semua jemari tangannya dan memainkannya perlahan.
"Kau! tau semua tentang Fidya?" tanya Belinda merasa tidak paham ucapan Ricky.
"Ya nyonya, sekarang Fidya sudah berada di dalam rumah saya! dan sekarang saya harus membereskan urusan saya dengannya," beber Ricky dengan lebih jelas.
"Kau hebat Ricky! aku saja sampai tidak menduga kau bisa melacak Fidya sejauh ini," tutur Haikal menepuk pundak sebelah Ricky.
"Saya sampai memergoki Fidya sedang bersama seorang lelaki didalam bangunan tua, saya juga ada bukti percakapan mereka untuk menjatuhkan nama baik tuan hingga menghancurkan rumah tangga tuan dan nyonya," cakap Ricky pula membuat jantung Belinda berdetak hebat.
"Jadi, apa dibalik Ambar semua ini?" ucap Belinda terlihat lemas tak bisa berkata apapun lagi.
"Ricky, mulai sekarang kau akan bekerja di kantor! tetapi untuk sementara kau menjadi karywan dulu, supaya bisa melatih mental mu dalam bekerja," ucap Haikal menoleh pada Ricky dengan serius.
"Baik tuan, akan saya lakukan sesuai perintah tuan," angguk Ricky dengan cepat.
Percakapan hangat itu dibarengi dengan suara kunyahan keduanya yg terlihat sedikit akrab.
Belinda yg tak mendengar perbincangan mereka, dia hanya menatap kosong entah mengapa dan apa yg ia pikirankan. sehingga dia punya firasat akan ada peristiwa besar menimpa keluarga kecilnya. ia begitu tampak gemetaran dengan menyembunyikan kedua tangannya di bawah meja. dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Ambar yg pernah menjadi teman baiknya itu.
__ADS_1
...........
Bersambung...