Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
RUMAH SUSUN


__ADS_3

☘️☘️☘️☘️


Luar area rumah sakit.


Berjarak sekitar 10 meter terdapat rumah susun yg masih berdiri tegak dengan pondasi yg tampak masih kokoh. rumah yg terlihat sunyi itu sudah biasa bagi seorang wanita berumur 38 tahun yg saat ini bekerja di sebuah rumah sakit Hongkong sebagai kasir, pekerja shift hingga lembur pun dia lakoni.


Dari depan rumah itu terlihat juga sebuah teras yg tidak terlalu lebar, hanya muat untuk dua orang kalau ingin berkunjung.


"Tuan duduk di sini dulu saja, maaf kalau saya lancang membawa tuan ke rumah saya! karna tempat makan di sekitar rumah sakit tidak ada, jarang keluarga pasien makan di dalam rumah sakit, mereka malah rela pergi jauh untuk mencari makan," bebernya pula sambil membentangkan sebilah tikar dan juga meja bulat miliknya.


Haikal malah celingukan tanpa mendengar ocehan wanita itu, dia melihat daerah rumah yg terasa sangat sunyi seperti kuburan saja.


"Tuan, apa yg anda lihat?" tanya wanita itu memecah lamunan Haikal.


"Apakah di sini tidak ada penghuni?" balik bertanya masih celingukan.


"Kalau malam memang suasananya begini tuan, tetapi kalau di pagi hari semuanya pasti keluar untuk menjalani aktifitas seperti biasanya," ungkap wanita itu sambil melirik Haikal sesekali yg masih terlihat celingukan.


"Apakah anda tinggal sendiri di rumah ini?" tanya Haikal sambil menatap serius.


"Benar tuan," tuturnya sambil membungkuk perlahan.


"Oh, kalau begitu... apa tidak masalah saya duduk di rumah anda?" tanya Haikal lagi merasa segan.


"Saya tahu, tuan bukan orang jahat, sebentar ya tuan. saya siapkan dulu makanan untuk tuan," tuturnya dengan tersenyum simpul.


"Apakah tidak merepotkan Anda?" tanya Haikal lagi, namun wanita itu tidak menjawab.


"Aneh, kenapa dia pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan ku!" gumam Haikal melihat pintu yg sedikit terbuka saat wanita itu masuk ke dalam rumah.


Haikal menatap penuh mengarah ke balik pintu itu. dia mengamati ada sebingkai foto anak kecil yg sangat cantik. namun, di depan bingkai itu terletak salib dan juga lilin yg berjejer menerangi bingkai foto itu.


Mata Haikal terus menatap serius pada bingkai foto yg membuatnya sangat penasaran. pertnyaan mulai muncul di kepalanya hingga saat itu.


Seng Seng


Terdengar suara ribut mengarah dari arah dapur hingga mengeluarkan aroma harum yg menembus masuk ke dalam hidung Haikal.


Kruyuk


"Duh! perut ini kenapa berbunyi terus," gumam Haikal tampak tertunduk malu karna dirinya sendiri.


"Mana baunya harum lagi, perut jadi lapar," gumamnya lagi sambil mengelus sesekali perutnya tanpa disadari wanita itu sudah menahan senyum karna reaksi Haikal yg sudah sangat kelaparan.


"Tuan, maaf! krna saya lama menyiapkan makanannya," tegur wanita itu dengan sengaja.

__ADS_1


"Oh, i - iya... tidak masalah," gelagap Haikal tampak menahan malu krna ketahuan sedang lapar.


Di atas meja sudah tersedia menu yg lezat hingga lengkap dengan buahnya.


"Maaf saya merepotkan Anda," tutur Haikal merendah merasa tidak enak.


"Tidak tuan. saya ikhlas melakukannya tanpa paksaan," serunya meyakinkan Haikal.


"Mari tuan... nikmati hidangannya," pintanya sambil menyodorkan sebuah piring dan sendok pada Haikal.


"Terimakasih banyak," tunduk Haikal dengan sopan.


"Santai saja tuan, panggil saja saya Lis. mungkin umur kita tidak jauh berbeda," ucapnya sambil meraih centong nasi untuknya mengisi piring Haikal yg kosong.


"Saya Haikal Rendra. umur saya 30 tahun," balasnya tampak bungkuk krna kebaikan dari wanita itu padanya.


"Kalau saya boleh tahu, umur anda berapa?" tanya Haikal pula dengan sopan.


"Saya berumur 38 tahun," jawabnya pula.


"Kalau begitu apa saya boleh panggil bik lis? karna anda mirip dengan bibik saya yg sudah tiada," bebernya pula terlihat ragu.


"Baiklah kalau itu yg tuan ingin," manggutnya pula tersenyum kecil.


"Apa saya boleh bertanya bik?" tampak Haikal sambil melihat ke arah dalam rumah.


"Kalau saya boleh tahu, foto yg ada di dalam itu anak siapa?" tanya Haikal merasa enggan tapi rasa penasaran mendorongnya untuk bertanya.


"Bibik tidak perlu menjawab kalau merasa pertanyaan saya salah," sambungnya lagi dengan riuh.


"Semua orang yg melihat foto itu, pasti akan bertanya! tidak masalah tuan, saya akan menjawabnya," ucapnya pula tampak menghentikan makanannya.


Haikal melihat raut wajah sedih dari wanita yg sudah dia anggap sebagai bibinya itu, entah mengapa wanita itu mirip sekali dengan mendiang bibinya.


"Foto itu anak saya tuan," bebernya dengan suara yg terdengar lirih.


"Bik lis sudah punya anak?" tanya Haikal tampak tidak percaya.


Panggilan bik Lis pertama kali yg di ucapkan oleh Haikal itu hanya manggut membalas pertanyaan dari Haikal. raut wajahnya yg menahan luka dalam seakan ingin menjerit sekuat tenaga.


"Sekarang anak bibi dimana? kenapa..."


"Anak saya sudah meninggal tuan, sudah beberapa tahun yg lalu," sela bik Lis menoleh ke arah bingkai foto itu.


"Maaf bik, saya sudah keterlaluan bertanya terlalu banyak," tunduk Haikal sesekali memohon maaf.

__ADS_1


"Tuan tidak salah, seharusnya saya tidak menunjukkan kesedihan saya begini," ungkapnya tampak pilu.


"Semua yg pergi memang terasa menyakitkan bik! tapi kalau kita mampu melewatinya, semua pasti akan berjalan dengan sendirinya," ucap Haikal menenangkan sambil menepuk sesekali pundak wanita yg sudah dia anggap bibinya itu.


"Terimakasih, tuan sudah menghibur wanita tua ini. dari dulu saya selalu menatap bingkai fotonya dengan rasa bersalah yg sudah saya buat," bebernya tampak menetes air mata.


"Setiap manusia pasti melakukan kesalahan, tidak ada manusia yg tidak berdosa. semua sudah ada yg mengaturnya bik, tidak boleh menyalahkan diri sendiri, semua takdir yg mengaturnya! kita hanya bisa menjalani hidup sesuai takdir kita bik," jelas Haikal masih menenangkan dengan berusaha sebisanya.


Lis manggut dengan cepat karena merasa ada seseorang yg bisa memberikan ketenangan walau dikatakan pertemuan pertama kali dengan Haikal.


"Tuan orang yg baik, tetapi... kenapa tuan ada di rumah sakit ini? apa keluarga tuan ada yg sakit?" tanya Lis menyeka air mata yg sempat menetes.


"Saya membawa kedua wanita yg sudah terluka parah akibat kebakaran bik," bebernya tampak mengalihkan wajah.


"Apakah begitu parah?" tanya Lis lagi melirik wajah Haikal yg sedikit murung.


"Ya bik, salah satu wanita mengalami pendarahan hebat. dan yg satu lagi harus menjalani operasi walaupun dikatakan ringan," ungkapnya dengan tertunduk lesu.


"Ya tuhan! kasian sekali mereka, apakah sanak saudara tuan yg terluka itu?" riuh Lis sambil terkejut mendengar keluh Haikal.


"Yg satu bernama Belinda bik, dia wanita yg saya cintai. yg satu lagi kerabat dari teman saya," jawabnya dengan menatap sedih Lis.


"Kenapa tuan tampak sedih?" merasa enggan bertnya namun heran dengan ekspresi yg di lontarkan Haikal.


"Pihak rumah sakit mengatakan tidak memiliki darah AB+, sementara itu kerabat saya sangat membutuhkannya," seru Haikal terdengar lirih seperti putus asa.


Di saat tengah perbincangan mereka, sejenak terdengar suara seorang lelaki dengan kerasnya memanggil nama Lis dari kejauhan.


"Liiiisss..." jeritnya dari kejauhan tampak berjalan tidak beraturan.


"Tuan! tuan sekarang pergi, jangan di sini lagi. ayo cepat pergi," riuh Lis seketika berdiri dengan mendorong tubuh Haikal secara kuat membuat Haikal merasa bingung.


"Kenapa bik? siapa lelaki itu?" tanya Haikal merasa panik hingga ikut berdiri.


"Saya tidak bisa jelaskan! pergi sekarang tuan. saya tidak mau tuan celaka," riuhnya lagi mendorong tubuh Haikal berulang kali sambil menyodorkan sebuah rantang berisi makanan untuk di bawa oleh Haikal yg dia siapkan sebelumnya.


"Liiiiss... siapa itu?!" bentaknya yg masih berjalan seperti orang yg lagi mabuk.


"Cepat tuan! pergi dari sini," bujuk Lis memohon dengan wajah yg cemas penuh rasa takut.


Namun Haikal masih saja berdiri dengan menatap wajah bik Lis yg terlihat ketakutan, dirinya juga melihat lelaki itu semakin dekat menuju rumahnya.


Dengan berat hati Haikal meninggalkan bik Lis ketika itu, dia pun melangkah cepat sambil mengelus sesekali pundak lehernya krna merasa kebingungan seketika bik Lis mengusir dirinya dan sempat memberikan ia makanan untuk di bawa.


...............

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2