
☘️☘️☘️☘️
Maafkan ayah Rei.. ayh tidak bisa berkata terlalu bnyak denganmu, karna ayah sudah berjanji dengan Gisele sebelumnya. batin ayah.
"Oh iya Rei... tadi ayah ketemu sama teman lama ayah. dia sudah jadi klien ayah sekarang," mengalihkan topik agar Rei tidak bertanya terlalu jauh.
"Bagus dong yah? jadinya ayah ada temen ngobrol Disini," riuh Rei pula.
"Kamu sudah tidak ingat lagi ya Rei?" tanya ayah Haikal.
"Ingat apa yah?" balik bertnya dengan mengamati perkataan ayahnya.
"Dulu... kamu itu berteman dengan anak lelaki teman ayah itu. umur kamu sekitar 7 tahun saat itu," menjelaskan agar Rei ingat.
"Rei tidak ingat lagi yah.... makanya Rei tidak mau meninggalkan album ibu! takutnya Rei tidak ingat lagi kenangan lama Rei sama ibu," tampak wajah Rei sedih.
"Kami berjanji akan mempertemukan kalian lagi. itu yg ayah bicarakan tadi sama temen lama ayah," ujarnya pula.
"Apa kamu mau Rei? bertemu dengan teman lamamu?" tanya sang ayah masih menunggu keputusan Rei.
"lain kali aja deh yah... Rei belum siap untuk ketemu lagi dengannya," rengek Rei pada ayahnya.
"Satu hal lagi- " perkataan ayah Haikal terhenti sejenak.
"Ada apa yah? katakan saja! Rei siap mendengarkan cerita ayah," senyum manis terukir diwajah Rei.
"Kamu sudah selesai makannya?" tanya sang ayah terlihat wajah yg tegang.
"Sudah yah." Rei melirik ayahnya sembari mengerutkan kening.
"Mari ikut ayah sebentar keruang tamu," mengajak Rei pergi dari meja makan.
Rei mengikuti langkah sang ayah untuk menuju ruang keluarga yg berukuran sangat terbilang luas mereka duduk santai disofa dengan menikmati udara sejuk didalam rumah.
"Nak... ayah mau memberi tahumu satu hal," ujarnya membuka pembicaraan terlebih dulu.
"Iya yah? apa itu," menatap sang ayah tersenyum.
"Ayah ingin memberikanmu seorang ibu Rei," lirih ayah Haikal tampak rasa takut yg terlukis diwajahnya.
BLEDARRR
"......"
Sangat jelas ekspresi Rei mengeras, wajah Rei tampak sangat menegang dengan senyuman yg telah pudar.
"Ayah bukan memberikan kamu ibu yg tidak baik Rei..." masih menunggu jawaban dari Rei sembari berusaha memegang tangan Rei dengan lembut.
"Ada apa ini yah? ayah mau menggantikan posisi ibu," senyuman Rei mulai tergelincir.
"Ayah ingin kamu bahagia mempunyai seorang ibu, ayah bukan mau mengganti posisi ibumu Rei..." berusaha menenangkan Rei dengan penjelasannya.
"Siapa wanita itu! kenapa Rei selama ini tidak tau tentang ayah," erangnya menggertakkan gigi teramat kesal.
"Dia wanita yg bersama ayh dulu... orangtuanya tidak menyetujui hubungan kami, sebelum ayah bersama ibumu! dia merelakan ayah untuk bersanding dengan ibumu agar ayah bahagia..." lirihnya lagi mengatakan yg sebenarnya.
"Yah! Rei mau pergi ke kamar dulu." Rei meninggalkannya begitu saja mengepalkan tangan.
"Tapi Rei...."
BRAAKKK
Suara bantingan pintu yg sangat keras terdengar oleh bik Lis sedang berada dihalaman belakang rumah.
Bik Lis terkejut mendengar suara keras itu, kemudian dia berlari mencari asal dari suara tersebut didalam rumah.
__ADS_1
"Tu...." sapa Bik Lis terhenti.
Haikal menganggukkan kepala sembari memberi isyarat tangan pertanda tidak ingin bicara apapun saat itu.
☘️☘️☘️☘️
PLAAKK
"Dasar! kamu anak yg tidak bisa berbakti. ayah sudah membiarkan kamu dulu kabur dari rumah?!" senggak sang ayah pada Gisele.
"Udah Roy... kita bisa bicarakan dengan gisele perlahan? jangan kasar begini dengannya." Ibu Rianti berusaha menghentikan sang suami.
"Nak... sekarang kamu kembali kekamar ya? biar ibu yg bicara sama ayahmu..." tutur Ibu Rianti membelai rambut Gisele.
Gisele cuma bisa terdiam merasakan perih dipipinya yg dia tahan hingga rasanya tak sanggup untuk berdiri.
"Jngn bergerak kamu! ayah belum selesai ngmong!" Membentak keras Gisele.
"Kamu masih juga memakai baju seperti ini.... buat malu saja! kamu itu perempuan... apalagi kamu kabur diperjodohan yg udh ayah buat untukmu?!" katanya lagi dengan membentak Gisele.
"Roy... cukup! biar aku yg bicara sama gisele! Kau jngn terlalu keras sma gisele!" air mata yg tak bisa dibendung lagi Ibu Rianti mendekap tubuh Gisele.
Rianti tak kuasa menahan tangisnya dan berusaha memopong Gisele kedalam kamar, apalagi Gisele hanya terdiam tidak berkata apapun padanya.
"Gisele, maafkanlah ayahmu ya nak? dia juga melakukannya tanpa sadar sel..." membujuk Gisele yg sedang duduk menangis terisak didekapannya.
"Ayahmu melakukan perjodohan itu karna dia ingin menyelamatkan perusahaannya... karna mereka sudah berinvestasi dengan perusahaan ayahmu. kalau perjodohan ini batal, mereka akan mencabut investasinya" tolong mengerti ya nak... ini juga masa depan untukmu sel?" panjang lebar berbicara supaya Gisele bisa mengerti.
"Masa depan kata ibu! aku juga bisa mencari masa depanku Bu," semakin terisak tak bisa dia bendung lagi.
"Bu! aku mau istirahat!" ucap Gisele singkat mengalihkan pandangannya.
"Ibu akan mengompres pipi kamu sel..." berusaha membujuk Gisele.
"Tidak Bu! aku butuh sendiri," cetus Gisele pula.
...****...
Bik Lis terlihat bingung pada situasi rumah saat ini, dia coba memantapkan hatinya untuk kearah kamar Rei mungkin saja dapat jawaban dari situ.
TOKK.TOKK
"Non... ini bibi non...." panggilan Bik Lis sembari mengetuk pintu kamar Rei.
*K*ok gak ada jawaban ya?! batin Bik Lis.
"Non... non sudah tidur ya?" tampak wajah yg sangat khawatir.
Ceklek,,,, pintu terbuka sendirinya tanpa ada sahutan.
"Aduh non rei.... kenapa jendelanya dibuka? apa yg terjadi non? kenapa non Rei menangis?" tanya Bik Lis menatap Rei yg dibanjiri dengan air mata.
"Rei kangen ibu bik," menjawab dengan suara Isak tangis sambil menyenderkan tubuh kejendela menatap kearah langit.
"Ada apa non Rei? non bisa cerita sma bibi? mungkin saja itu membuat non sedikit lega," memberikan perhatian semampu Bik Lis.
"Rei ingin ibu kembali bik... hiikss." Rei berlari memeluk Bik Lis.
Saat ini bik Lis mengikuti keinginan Rei tak mungkin mendorong Rei dari tubuhnya, dia segera mengarahkan tubuh Rei untuk duduk bersamanya diatas tempat tidur.
Tanpa keraguan Bik Lis memukul pundak Rei secara perlahan agar merasa lebih tenang berada didekatnya.
"Non... ibu non orang yg baik, sudah pasti ibu non merasakan kebahagiaan disana. non Rei juga harus bisa bahagia disini," ujar Bik Lis yg mencoba menenangkan Rei.
"Rei gak ingin kebahagiaan dari orang lain, cukup ibu dihati Rei bik..." air mata berderai dipipinya.
__ADS_1
"Iya non Rei... bibi mengerti perasaan non Rei sekarang? tidak ada seorang anak yg bisa melupakan ibunya walaupun sudah tiada," terbawa suasana sehingga Bik Lis ikut menangis.
"Bibi juga dari kecil ditinggal ibu bibi non," kata Bik Lis lagi dengan suara serak.
"Bibi salut sama non Rei. non Rei bisa kuat menghadapi semuanya sendiri," memberi semangat pada Rei.
"Kenapa ayah harus menikah lagi bik... Rei gak mau! haaaa....Hiksss," suara lirih tangisan terdengar semakin kuat.
"Non... denger bibi non! tidak ada seorang ayah yg mau menjerumuskan anaknya sendiri? bibi yakin itu," mengelus kepala Rei perlahan.
"Rei tetep gak mau posisi ibu digantikan di rumah ini bik..." Isak tangis Rei semakin menjadi.
Bik Lis bisa merasakan kesedihan yg sangat dalam dari diri Rei saat ini.
"Non? mungkin tuan ingin membuat non bisa merasakan sosok ibu kembali... pasti tuan ingin non Rei tidak kesepian lagi? percaya sma bibi ya non," memeluk Rei sangat erat seperti anaknya sendiri.
"...."
Sejenak Rei terdiam.
Bik Lis berusaha menenangkan Rei dalam pelukannya, air mata yg terus keluar dihapus oleh tangan bik Lis secara langsung seperti seorang anak ditenangkan oleh ibunya.
"Non..." panggilan dari Bik Lis yg masih menepuk pundak Rei perlahan.
Panggilan bik Lis tidak dijawab oleh Rei karna dia telah tertidur sedari bik Lis memenangkan Rei dengan kasih sayangnya.
Bik Lis menarik nafas panjang karna telah berhasil membuat Rei tenang bersamanya.
Non... bibi akan terus menjaga non sampai kapanpun? itu janji bibi pada non rei... batin Bik Lis meneteskan airmata.
Bik Lis membaringkan Rei perlahan diatas kasurnya dan tak lupa juga dia menghapus air mata yg telah membasahi wajah Rei dengan tersenyum.
Bergegas menutup jendela yg telah lama terbuka serta menghidupkan lampu tidur agar Rei tidak terbangun, perlahan meninggalkan Rei dikamarnya dengan menutup pintu secara pelan agar Rei tidak terkejut krna langkah kakinya.
Tiba-Tiba..
"A- duh! copot, eh copot..." Spontan mengejutkan Bik Lis dengan kehadiran tuannya tepat berada didepan kamar Rei.
"Kenapa bik Lis terkejut sekali saya berdiri disini," tanya ayah Haikal menatap Bik Lis mengernyitkan alis.
"Tidak tuan? bibi memang orangnya gampang terkejut tuan," ujar Bik Lis dengan membungkuk pelan.
"Apa Rei sudah tertidur?" tanya lagi tampak raut wajah sedih.
"Sudah tuan... non Rei baru saja tertidur," menundukkan kepala sembari menjelaskan.
"Makasih ya bik... bibi selalu baik dengan keluarga saya," tuturnya dengan merendah.
"Tidak tuan? saya tidak melakukan hal besar... ini memang sudah tugas saya untuk menjaga non Rei. karna almarhum nyonya berpesan pada saya untuk selalu menjaga non rei," jawab Bik Lis pula.
"Yasudah bibi istirahat saja lagi. saya tinggal dulu," ucap ayah Haikal segera beranjak dari tempatnya.
"Tu- " sempat terhenti tak bisa berkata karna merasa takut.
"Ada apa bik?" menghentikan langkahnya karna panggilan Bik Lis.
*A*panya mulut ku ini... sembarangan saja memanggil, bagaimana ya... apa aku tanya saja? batin Bik Lis panik.
"Kenapa bik? kok terdiam... ada yg ingin bibi tanyakan pada saya?" kembali bertnya mengamati wajah Bik Lis karna penasaran.
"Ti- tidak ada tuan? maaf tuan? mulut bik Lis ini sembarang memanggil tuan.... bibi pamit dulu tuan." bik Lis membungkukkan badan karna ingin pamit pergi dengan langkah yg cepat.
Ayah Haikal tidak mengerti maksud dari panggilan bik Lis membuatnya curiga, dia tetap berdiri menatap punggung bik Lis yg sudah pergi begitu saja, sebenernya apa yg mau ditanyakan bik Lis padanya.
................
__ADS_1
Bersambung....