Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
KABAR BURUK


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€β˜˜οΈ


Tepian jalan.


"Kau yakin aku antar sampai sini?" tanya Leo mengarah keluar kaca mobil.


"Ya," cetus Gisele pula.


"Yakin nih... ntar Segede gaban tuh betis! Pfftt," ujar Leo terkekeh.


"Gua tabok mulut Lo ntar! kau jangan memancingku Leo, kalau bisa ku lempar kau bersama mobilmu ini," hardik Gisele mulai kesal.


"Kan kalau bisa! hahahah...." ledeknya pula.


"Hiiiihhh.... pergi gak Lo! gua lempar ni," bentaknya melepas high heels miliknya.


"Coba aja kalau bisa! weekkk..." ejeknya lagi berlalu pergi.


BRUMM


"Uhuk,uhuk! Dasar sia**n .... awas aja kau! akan kubalas dikampus," jeritnya seakan geram.


"Kurang ajar banget si kerdil itu! berani kali dia membuang asap mobil didepanku," gerutunya sepanjang jalan.


Sesampainya didepan pintu rumah.


PLAK


"Apa lagi ini?!" bentak Gisele menatap tajam.


"Roy... udah Roy... tahan emosimu...." pekik Ibu Rianti menghalangi.


"Awas kau! biar aku mengajari anak tidak tau diri ini," jeritnya membentak sang istri.


"Dimana letak kesalahanku, ha?!" menampik perlakuan sang ayah.


PLAK


Seketika Gisele terjatuh tidak bisa menopang tubuhnya krna rasa sakit yg teramat dia rasakan.


"Berani kau membentak orang tua!! anak macam apa dirimu," teriak sang ayah meremas lengan Gisele.


"Udah....." jerit Ibu Rianti telah habis kesabaran.


"Kau! sama anak ini. sama saja," tuduhnya pula menekan kedua pipi Ibu Rianti.


"Cukup! kau sakiti aja aku! jangan ibuku," tantangnya berderai air mata.


"Kau- "


Saat sang ayah ingin memukul pipinya kembali, gisele menangkis tangan sang ayah dengan sangat kuat. tangan sang ayah tidak berkutik sama sekali krna ditahan oleh gisele, sudah muak gisele melihat ayahnya bahkan sangat jijik telah berbuat kasar padanya. dia pun menghempaskan tangan sang ayah diambang rasa geram yg sangat dalam.


Dari sisi lemah Gisele selama ini hanya karna sang ibu yg telah melahirkannya, kalau dirinya tidak memikirkan ibu dan sahabatnya Rei. sudah sedari dulu dia ingin memberontak krna perlakuan sang ayah terhadapnya.


"Bu, pergilah kekamar! aku ingin keluar sebentar," titahnya memapah Ibu Rianti.


Saat Ibu Rianti tengah berjalan mengarah pergi kekamar, malah gisele keluar rumah dengan membanting pintu.


BRAKKK


"Mau kemana kau! kembali kau..." teriaknya mengejar Gisele namun tak dapat dihentikan.


Saat sang ayah kembali masuk mendekati Ibu Rianti.


"Apa kau mau miskin lagi, hah?!" bentaknya lagi pada sang istri yg tertunduk takut.


"Haaaahh.... kerjaan mu hanya nangis,nangis! tak ada yg bisa kau lakukan!" riuhnya lagi meninggalkannya begitu saja.


"Hiks," tetesan air mata mengalir dipipinya seolah tidak kuat lagi menahan perlakuan suaminya.


...***...


NGUNG...NGUNG


Telinga Rei seakan berdengung memantulkan gelombang panas, seolah ada nafas yg masuk melalui gendang telinganya.


DEG


Tatkala saat itu Mata Rei terbuka lebar karna mendengar suara yg sangat membuatnya terkejut sehingga telinganya memerah disaat yg bersamaan.


Pada saat Rei menoleh kearah samping, kebetulan sekali Tristan memang membisikkan pada arah yg dituju rei. sudah jelas mata mereka saling bertatapan sehingga hidung mereka menempel cukup dekat, bahkan hembusan nafas mereka silih berganti seakan bibir mereka sedikit lagi akan saling bersentuhan. mereka terhanyut dalam suasana yg hening hanya terdengar suara detak jantung yg tidak bisa disembunyikan lagi.


"Hem,Hem." Ibu Maria berdehem karna sudah tidak tahan lagi melihat kejadian didepan matanya.


Mereka tersadar akan suara yg dikeluarkan oleh ibu Maria yg membuat lamunan mereka buyar seketika. mereka pun saling mengalihkan pandangan satu sama lain terlihat sudah diambang keresahan.


"Apa kalian sudah puas saling memandang?" selorohnya menahan tawa.

__ADS_1


"Ah, Ti- tidak Bu! Rei terkejut krna tristan ada disebelah Rei," ucapnya kelabakan dengan memegang lehernya krna sudah sangat tegang.


Kalian seperti anak kecil berumur lima tahun!! hihihi.. batin Ibu Maria gemas seketika menyubit pipi Rei.


"Ibu kenapa menyubit pipi Rei?" tanya Rei sembari memegang pipinya.


"Ibu gemas lihat wajah kamu sayang.... kamu wanita yg sangat cantik," paparnya melontarkan pandangan pada Tristan.


"Benar kan Tristan?" sengaja menyapa Tristan terlihat sedang mengalihkan wajahnya.


"I- iya Bu.... cantik," menjawab tapi masih tidak melihat sang ibu.


"Siapa yg cantik?" seloroh Ibu Maria agar Tristan melihat dirinya.


"Re- rei yg cantik Bu," malah menatap wajah Rei seketika.


"Dengar kan Rei... ibu tidak bohong, kamu memang cantik," tukas Ibu Maria terus terang.


"Bu.... sudah, Rei malu Bu...." protesnya sudah tersipu malu.


"Iya cantikku..." pukas Ibu menyubit kembali pipi Rei karna gemas melihat ekspresi yg sungguh manis.


"Kau suka kalungnya Rei?" tanya Tristan salting menatap Rei.


"Suka... semua yg kau berikan membuatku sangat bahagia," melontarkan jawaban membuat Tristan semriwing.


"Satu lagi Re- "


DRRETTT... DRRETTT...


"Tristan. aku ingin angkat telepon dulu," memotong perkataan Tristan.


Seketika membuka layar ponselnya sudah sedari tadi Ricky menghubunginya. namun, belum sempat terangkat malah panggilan itu berhenti.


Ada apa ya? tumben Ricky nelpon?! bukannya aku tadi naik taksi. batinnya sedikit panik.


"Ada apa Rei? apa ada yg menghubungimu?" tanya Tristan sudah terduduk kembali.


"Kamu hubungi saja lagi Rei... mungkin saja ada hal penting," sambung Ibu Maria membelai rambut Rei lembut.


"Baiklah Bu," ujarnya pula.


Agar kekhawatirannya terjawab, Rei mencoba menghubungi kembali Ricky dibalik ponsel pintarnya.


TUT..TUT..


"Halo non! sahut ricky dengan suara yg sesak disebrang sana.


..."Ada apa Ricky? maaf, saya tidak dengar kamu nelpon! ada apa kamu menghubungi saya berulang kali?" tanya Rei cemas....


"Saya coba cari nona dirumah, tapi nona tidak ada, makanya saya berulang kali hubungi nona Rei," suara yg masih sesak disebrang.


..."Ricky ada apa? kenapa Suaramu begitu?" tanya Rei lagi bertambah panik....


"Non... Tuan besar masuk rumah sakit," balasnya pula disebrang.


..."A- apa?!" jawabnya begitu panik seketika bangkit dari duduknya....


"Non... nona tenang ya... Tuan besar sekarang sudah dirawat," menjelaskan pada Rei perlahan.


..."Bagaimana mungkin! sekarang ayah ada dimana Ricky?" tanya Rei yg sudah berderai air mata....


"University College Hospital non. tuan besar sudah ditangani... non jngn khawatir, saya akan tunggu non disini," jawab Ricky berusaha menenangkan Rei.


..."Baiklah! saya akan segera kesana," balasnya menyeka air mata....


Ketika pembicaraan terputus Rei terduduk kembali dengan wajah yg dipenuh air mata.


"Ada apa nak?" tegur Ibu Maria menepuk pelan punggung Rei.


"Katakan Rei ada apa? ayahmu kenapa?" tanya Tristan menghampiri Rei.


"Ayah masuk rumah sakit Tristan. hiks.." Rei yg tak tahan lagi terus mengeluarkan air mata.


"Tenanglah Rei..." Tristan meraih badan Rei untuk bersender ditubuhnya.


Dikarenakan Rei terpukul oleh kabar itu makanya dia mengikuti gerakan tangan Tristan dan juga dia butuh ketenangan dahulu agar bisa segera pergi melihat sang ayah.


"Dimana ayahmu dirawat nak?" tanya Ibu Maria perlahan mengusap air mata Rei.


"University College Hospital Bu," balasanya dengan Isak tangis.


"Aku tau tempat itu! aku segera bawa kau kesana Rei...." timpalnya memegang pundak Rei perlahan.


"Ibumu bagaimana Tristan?" tanya Rei langsung menoleh kearah Ibu Maria.


"Ibu bisa minta jemput supir nak? kau jngan cemaskan ibu, kalian pergilah sekarang,"

__ADS_1


pungkas Ibu Maria meyakinkan Rei dengan sentuhannya.


"Aku akan hubungi lord untuk segera menjemput ibu disini," ucap Tristan meraih ponselnya menghubungi Lord.


TUT..TUT..


..."Halo tuan muda! sahut Lord dari sebrang sana....


"Lord apa sekarang kau ada dirumah?" tanya Tristan pula.


..."Iya tuan, saya ada dirumah....


"Bagus! sekarang kau jemput ibu direstoran royalti," tegas Tristan agar Lord mengerti.


..."Baik tuan, saya akan segera kesana....


Tristan langsung memutuskan sambungan telepon genggamnya.


"Bu, lord sudah bergerak! ibu tunggu disini saja," ujarnya menjelaskan pada sang ibu.


"Baiklah... kalian harus segera pergi," tukasnya meraih lengan Tristan agar segera membawa Rei.


"Bu... Rei pamit dulu,"


"Iya Rei... kau harus bisa sabar, titip salam ibu untuk ayahmu ya nak..." meraih tubuh Rei segera memeluknya.


"Iya Bu," sahutnya berlinang air mata.


"Masih ada ibu nak... kau bisa berbagi kesedihanmu pada ibu," sambung Ibu Maria mengelus pundak Rei.


"Terimakasih Bu...." lirihnya semakin erat memeluk Ibu Maria.


Rei berdiri dari tempatnya setelah pelukan yg sudah berlangsung beberapa saat membuat dirinya merasa lebih tenang.


"Bu kami pamit dulu," tuturnya memegang sebelah pundak Rei.


"Kalian kabari ibu kalau sudah sampai, sekalian bawa buket bunga mu ini Rei..." pesan Ibu Maria sembari memberikannya ketangan Rei.


"Makasih Bu," balas Rei pula sambil menerimanya.


"Ibu tunggu kabar kalian," pesannya lagi.


"Baiklah Bu," sahut mereka serentak.


Ibu Maria tersenyum lebar setelah melihat mereka sudah melangkah jauh dari pandangannya.


Keluar area restoran.


"Rei... apa kau bisa berjalan?" tanya Tristan memegang sebelah lengan Rei.


"Bisa... aku wanita kuat! bukan lemah," sarkasnya pula memaksakan senyum.


Tidak Rei. kau lemah! kau memang tidak menunjukkannya padaku, tapi aku bisa merasakan bahwa kau lemah Rei, aku akan berikan semua kekuatan yg kumiliki untukmu! batin Tristan terpukul.


"Kau pelan saja jalannya Rei... kau jangan cemas. aku yakin tidak terjadi hal buruk pada ayahmu," ujarnya berusaha memberikan perhatian agar Rei sedikit tenang.


"Iya Tristan," ucapnya menoleh Tristan tampak senyum diwajahnya.


"Rei, kau tunggu saja disini.... aku segera kembali," membawa Rei untuk bersender disebuah batu berbentuk singa.


Sedangkan Tristan bergegas lari untuk segera sampai ke parkiran mobil. dengan mengamati sekelilingnya agar tidak menjadi bahan perhatian, kecepatan lari Tristan tidak pernah dimiliki oleh seorang manusia. jarang sekali dia melakukan hal seperti itu kalau tidak dalam keadaan terdesak.


Sesampainya diparkiran mobil, dia pun meletakkan buket bunga itu tepat dikursi belakang, tak lama kemudian Tristan melajukan mobilnya untuk menjemput Rei yg sudah menunggunya. namun, disaat Tristan membunyikan klakson berulang kali Rei masih saja bersender tanpa bergerak sedikitpun. sehingga Tristan ambil tindakan menghampiri Rei dan merangkulnya tanpa disadari oleh Rei.


Sepanjang jalan.


Secara perlahan Tristan membuka gagang pintu mobil serta memegang atas kepala Rei agar tidak terhantuk. sungguh dirinya sangat berhati-hati sekali agar Rei aman masuk kedalam mobil. setelah beres Tristan menutup pintu mobil milik Rei kembali, dirinya pun bergegas masuk ke tempat duduknya.


Setibanya mereka didalam mobil malah Tristan melihat Rei yg sudah tampak menatap kosong.


"Rei..." sapa Tristan menyentuh lembut pipi Rei.


Rei menoleh tanpa menyahut panggilan tristan untuknya, seakan Rei tidak merasakan sentuhan tangan Tristan sedikitpun.


"Kau tenang ya Rei... kita akan segera pergi dari sini," tuturnya mengelus pipi Rei dengan menatap lembut.


"Kita akan sampai berapa lama?" tanya Rei mengalihkan pandangannya terhadap Tristan.


"Dua puluh menit Rei. aku akan usahakan membawanya lebih cepat! kau jngan khawatir," tukasnya membelai perlahan kepala Rei.


"Itu artinya aku bisa istirahat sebentar! aku sangat lelah," ucap Rei sambil memejamkan mata.


Wajar saja jika sikap Rei begitu pada Tristan, kegelisahan hatinya nampak jelas dari raut wajahnya maupun tatapan yg tidak ada cerianya lagi, Tristan hanya bisa mengamati Rei dari samping seolah marah pada diri sendiri krna tidak bisa berbuat terlalu bnyak.


Bila perlu kau bisa bersender dipundakku Rei... batinnya lirih sungguh ikut merasakan kesedihan itu.


.............

__ADS_1


__ADS_2