
☘️☘️☘️☘️
Lorong rumah sakit.
"Bik, itu obat apa?" tanya Haikal pula.
"Ini obat yg di berikan suster untuk mengontrol darah kembali supaya normal," jelas bik Lis sambil tersenyum simpul.
"Bik, bisakah kita duduk sebentar di kursi itu?" pintanya dengan perlahan.
"Ada apa tuan?" balik tanya menatap penuh wajah Haikal.
"Saya ingin bertanya sesuatu pada bibik, bisa luangkan waktu sebentar saja bik?" rayunya sambil bungkuk pelan.
"Baiklah," manggut bik Lis menyetujui permintaan Haikal.
Saat keduanya duduk bersebelahan di sebuah kursi.
"Bik... apa bibik mau ikut bersama saya?" tanya Haikal sambil memegang punggung tangan bik Lis dengan sopan.
"Apa maksud tuan?" balik tanya merasa bingung dengan perkataan Haikal.
"Bagini bik. saya itu sudah berumur, sudah waktunya untuk saya menikah," bebernya pula.
"Tuan akan menikah?" riuh bik Lis tampak senang.
"Benar Bik, wanita yg bibik lihat tadi orang yg akan saya nikahi nantinya," ungkapnya sambil memukul punggung tangan bik Lis perlahan.
"Jadi..."
"Ya, bibik sudah saya anggap bibik saya sendiri. bisakah bibik ikut saya untuk menemani istri saya ketika di rumah?" pinta Haikal sedikit merayu.
"Tapi, saya tidak mungkin meninggalkan rumah saya tuan," tolaknya pula sambil melepaskan pegangan tangan dari Haikal.
Dengan reaksi bik Lis, Haikal bukannya malah mundur. dirinya makin berusaha untuk membujuk bik Lis.
"Bik. bukankah bibik tidak punya siapa-siapa lagi di rumah? bibik bisa membawa foto anak bibik," bujuknya lagi sambil memegang kembali punggung tangan bik Lis.
"Tidak tuan! saya tidak bisa pergi dari rumah itu," tolak bik Lis lagi dengan tertunduk seperti takut.
"Kenapa bik? apa yg membuat bibik tidak bisa pergi dari rumah itu?" tanya Haikal bertambah besar tekadnya untuk membawa bik Lis.
"Karena...." ucapnya terhenti.
"Apa bik?" sela Haikal mengernyitkan dahinya.
"Tuan, saya harus kembali ke ruangan saya! karna sudah waktunya untuk saya berjaga," ucapnya dengan mengalihkan topik sambil berdiri tampak bungkuk ingin pamit pergi.
"Tunggu dulu bik..." teriak Haikal pula krna dirinya di tinggal begitu saja.
Apa karena lelaki itu? aku tidak bisa membiarkannya!! batin Haikal sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Maaf tuan haikal, darurat! tuan harus segera ke ruang UGD," kata perawat yg muncul begitu saja mengejutkan Haikal.
"Ada apa sus?" tanya Haikal terlihat panik.
__ADS_1
"Mari tuan ikut saya," ajak perawat itu sambil berlari cepat.
Haikal yg kebingungan dengan reaksi perawat itu akhirnya ikut berlari mengiring dari belakang.
Ruang UGD.
"Tuan, nyonya Leli sudah sadar! tapi jantungnya tidak normal, dia berusaha berbicara terus memanggil nama Belinda," kata dokter Fuji menjelaskan.
"Belinda sedang ada di ruangannya dok! apa saya bawakan Belinda ke sini?" tanya Haikal langsung mendekat pada Leli yg hanya menyebut nama Belinda.
"Tidak tuan, biarkan suster yg membawanya! di sini harus ada wali untuk nyonya Leli," titah dokter Fuji pada Haikal.
"Sus, cepat bawa nyonya Belinda ke ruangan ini, segera!" sambung dokter Fuji pula.
"Baik dok," patuhnya langsung bergegas pergi.
Saat perawat itu keluar dari ruang UGD.
"Sebenarnya ada apa dok?" tanya Haikal pula terlihat khawatir.
"Saya sudah menangani nyonya Leli sedari malam, nyonya Leli kondisinya makin buruk walaupun darah sudah masuk ke dalam tubuhnya! jantungnya melemah, tetapi yg dia sebut hanya Belinda. ingin bertemu Belinda katanya," ungkap dokter Fuji dengan jelas.
"Leli... ini aku, apa kau tidak mengenalku? bertahanlah Leli..." ucap Haikal menatap wajah Leli yg melotot tanpa berkedip.
"Tuan bisa geser sebentar, saya akan memicu jantungnya kembali," pinta dokter Fuji sambil memegang alat yg ingin dia gunakan.
"Sus! tolong lihat titik jantungnya," ucap dokter Fuji sembari meletakkan alat itu di atas jantung Leli.
Berulang kali dokter Fuji melakukan alat pemicu jantung untuk Leli. namun, sama saja seperti sebelumnya. yg membuat aneh dokter Fuji kalau sudah melemah harusnya berbicara pun sudah semakin sulit. tetapi tidak untuk Leli, dirinya terus memanggil nama Belinda tanpa henti.
Sementara itu pintu UGD terbuka, tampaklah Belinda di atas kursi roda sedang di dorong oleh perawat yg membawanya.
Haikal hanya terdiam menatap Belinda yg sudah tampak sedih saat melihat keadaan Leli.
"Pasien menyebut nama Belinda, sepertinya ada yg ingin pasien sampaikan," jelas dokter Fuji pula.
Tanpa membalas perkataan dokter Fuji Belinda mendorong kursi rodanya dengan tangannya sendiri untuk mendekati Leli.
"Leli... apa kamu baik-baik saja?" sapa Belinda memegang tangan Leli.
"Be........l...." seraknya pula tampak berusaha berbicara.
"Iya! saya di sini, tenanglah! kamu harus kuat. jangan lemah," ucap Belinda sesekali mengelus punggung tangan Leli.
"Be.....Lin.....da....a....kku! mm....inta... ma...a...f," balasnya dengan begitu sulit mengucapkan beberapa kata.
"Kamu tidak salah apapun pada saya! jangan meminta maaf, kamu tidak pernah menyakiti saya," kata Belinda sambil mengelus kening Leli berulang kali.
Dikarenakan Leli susah untuk berbicara dia akhirnya menunjuk sebuah pena yg terlihat di saku baju dokter Fuji.
"Apa nyonya memerlukan ini?" tanya dokter Fuji mengerti isyarat yg diberikan Leli.
"Sus! ambilkan kertas," titah dokter Fuji pula.
"Baik dok," patuhnya dengan tunduk langsung bergerak pergi.
__ADS_1
Semenit kemudian.
"Ini nyonya," kata perawat itu memberikan secarik kertas dan pena yg sudah kian diberikan dokter Fuji.
"Terimakasih," balas Belinda meraih kertas itu.
"Leli, apapun yg ingin kamu katakan tulis lah di atas kertas ini," ucap Belinda langsung meletakkan pena di jemari tangan Leli, Belinda juga menahan kertas itu supaya Leli mudah saat menulis.
Dengan perlahan Leli menulis apa yg ingin di katakannya, krna dirinya sudah sangat sulit untuk berbicara terlalu banyak.
𝑺𝒆𝒃𝒆𝒍𝒖𝒎𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒌𝒖 𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒎𝒂𝒂𝒇 𝒑𝒂𝒅𝒂𝒎𝒖 𝑩𝒆𝒍𝒊𝒏𝒅𝒂, 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒂𝒘𝒂𝒍 𝒂𝒌𝒖 𝒔𝒂𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒆𝒏𝒄𝒊 𝒎𝒖. 𝑨𝒌𝒖 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒚𝒂𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒌𝒂𝒖 𝒕𝒆𝒓𝒏𝒚𝒂𝒕𝒂 𝒘𝒂𝒏𝒊𝒕𝒂 𝒚𝒈 𝒃𝒆𝒓𝒉𝒂𝒕𝒊 𝒎𝒂𝒍𝒂𝒊𝒌𝒂𝒕. 𝑲𝒂𝒖 𝒎𝒆𝒏𝒐𝒍𝒐𝒏𝒈𝒌𝒖 𝒔𝒂𝒎𝒑𝒂𝒊 𝒔𝒆𝒌𝒂𝒓𝒂𝒏𝒈, 𝒂𝒌𝒖 𝒔𝒖𝒏𝒈𝒈𝒖𝒉 𝒃𝒆𝒓𝒕𝒆𝒓𝒊𝒎𝒂𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒑𝒂𝒅𝒂𝒎𝒖. 𝑨𝒌𝒖 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒘𝒂 𝒑𝒆𝒏𝒚𝒆𝒔𝒂𝒍𝒂𝒏. 𝑲𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊𝒍𝒂𝒉 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒌𝒐𝒕𝒂 𝒊𝒏𝒊 𝒔𝒆𝒋𝒂𝒖𝒉 𝒎𝒖𝒏𝒈𝒌𝒊𝒏, 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝑨𝒙𝒆𝒍 𝒔𝒆𝒅𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒊𝒏𝒄𝒂𝒓 𝒌𝒂𝒍𝒊𝒂𝒏. 𝑫𝒊𝒂 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒎𝒆𝒓𝒖𝒃𝒂𝒉 𝒘𝒖𝒋𝒖𝒅𝒏𝒚𝒂 𝒔𝒆𝒔𝒖𝒂𝒊 𝒌𝒆𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂, 𝒊𝒔𝒕𝒂𝒏𝒂 𝒕𝒆𝒓𝒃𝒂𝒌𝒂𝒓 𝒋𝒖𝒈𝒂 𝒂𝒌𝒊𝒃𝒂𝒕 𝒌𝒆𝒓𝒋𝒂𝒔𝒂𝒎𝒂 𝒌𝒖 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏𝒏𝒚𝒂. 𝑴𝒂𝒌𝒂 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒊𝒕𝒖 𝒂𝒌𝒖 𝒊𝒏𝒈𝒊𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒎𝒂𝒂𝒇 𝒑𝒂𝒅𝒂𝒎𝒖 𝒅𝒂𝒏 𝒔𝒆𝒎𝒖𝒂 𝒚𝒈 𝒔𝒆𝒅𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒂𝒍𝒂𝒎 𝒃𝒂𝒉𝒂𝒚𝒂 𝒌𝒂𝒓𝒆𝒏𝒂 𝒖𝒍𝒂𝒉𝒌𝒖, 𝒂𝒌𝒖 𝒎𝒐𝒉𝒐𝒏 𝒎𝒂𝒂𝒇𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒌𝒖, 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂𝒕 𝒕𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍 𝑩𝒆𝒍𝒊𝒏𝒅𝒂.. 𝒌𝒂𝒖 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒘𝒂𝒏𝒊𝒕𝒂 𝒚𝒈 𝒃𝒂𝒊𝒌 𝒅𝒂𝒏 𝒋𝒖𝒈𝒂 𝒔𝒂𝒉𝒂𝒃𝒂𝒕 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒂𝒎𝒂 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒌𝒖.
Uhuk Uhuk
Terdengar jelas suara batuk serta sesak dari Leli hingga mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Sus, batuknya mengeluarkan darah," panik Belinda sangat cemas.
"Cepat bersihkan darahnya," titah dokter Fuji pula.
"Baik dok," patuhnya sambil melakukan perintah dari dokter Fuji.
Setelah perawat itu menyelesaikan tugasnya, Perlahan Leli memberikan kertas itu ketangan Belinda dengan tersenyum bahagia. Belinda tampak sedih melihat perawakan dari Leli yg begitu menahan sakit di dalam tubuhnya.
Belinda pun meraih kertas itu dari tangan Leli. namun, senyuman itu luntur dan tangan Leli terjatuh hingga penanya terlepas begitu saja.
"Leli.... Leli... sadar lah! Leli..." riuh Belinda menggoyangkan tubuh Leli sesekali.
"Sebentar nyonya, saya akan memicu jangtungnya sekali lagi," lontar dokter Fuji bersiap dengan alatnya.
Sekali hingga kedua kali dokter Fuji tampak berusaha sekuat tenaga untuk menormalkan kembali detak jantung Leli, tetapi tuhan berkehendak lain. jantung Leli sudah tidak mendeteksi lagi.
Garis lurus yg sangat jelas terlihat oleh Belinda, hingga suaranya membuat Belinda seketika meneteskan air mata.
"Maaf nyonya, tuan, kami sudah berusaha semampu kami untuk menolong pasien! tapi Tuhan lebih menyayanginya," tutur dokter Fuji merasa sedih.
"Tidak dok! dokter sudah berusaha keras, ini sudah jalan dari tuhan, tidak perlu menyalahkan diri lagi," balas Haikal sambil mendekati Belinda untuk menenangkannya.
"Kami permisi dulu tuan," kata dokter Fuji pamit pergi.
"Terimakasih dokter," turut Haikal tunduk perlahan.
Salah satu perawat menutup jenazah Leli, dan tampak sibuk mengurus berbagai hal lainnya.
"Belinda, kita balik ke ruangan mu," bujuk Haikal memukul kedua pundak Belinda perlahan.
Tanpa bersuara Belinda manggut membalas ucapan Haikal, dirinya masih saja menangis tanpa adanya suara sedikitpun sambil memegang kertas dari Leli yg belum sempat di bacanya.
Keluar dari ruang UGD.
"Belinda. kau jangan banyak berfikir lagi, semua sudah ada tuhan yg mengaturnya! kita hanya bisa mendoakan Leli supaya lebih tenang di alam sana," ungkap Haikal mengelus kepala Belinda dengan lembut.
Haikal hingga kini belum mendengar suara Belinda saat keluar maupun sampai di dalam ruangannya. Belinda masih saja melamun dan memegang kertas itu dengan begitu erat.
"Belinda, kau istirahatlah. besok kita akan makamkan Leli," pinta Haikal sambil menumpu kedua kakinya menatap wajah Belinda yg sedang sedih.
__ADS_1
"Belinda, apa kau mendengar aku berbicara?" tanya Haikal mulai gelisah dengan ekspresi Belinda yg hanya diam saja.
...............