Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
REBUTAN


__ADS_3

☘️☘️☘️


Kesunyian kelas bisnis.


Rei elok berbicara dengan Ricky dibalik ponsel pintarnya, sementara Tristan menatap tajam seolah dirinya sedang dicuekin begitu saja. Tristan coba untuk menerima kehadiran Ricky yg dianggap Kakak lelaki oleh Rei. namun, dirinya belum bisa untuk menerima dengan tangan terbuka dikarenakan Ricky seorang lelaki muda,selalu berada ditengah keluarga Rei, apalagi menjadi kepercayaan dari ayahnya Rei. rasa takut terus menghantui Tristan dikala Rei asyik mengobrol tidak memikirkan Tristan yg sedari tadi melihatnya dari balik punggung.


Apa aku harus diam saja? sama seperti patung kalau hanya berdiam diri begini. batin tristan mulai merasa jengah sambil mengelus leher belakangnya karna mulai menegang.


"Rei..." sapa Tristan nyaring.


Ah, sebentar ya kak.


...Iya Rei....


"Ada apa Tristan? tunggu sebentar ya? kakakku lagi bebicara soal penting," sahut Rei pula sambil menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Cepat sedikit! waktu tidak bnyak lagi," protes Tristan merasa ter asingi.


"Oke. sebentar," jawab Rei cepat.


Kak, udah dulu ya.. aku mau pergi ke rumah sakit ingin melihat kondisi ayah.


...Tapi, Rei......


Ada apa kak? kenapa kakak berhenti berbicara?


...Tidak apa-apa Rei. aku juga mau bergerak ke rumah sakit....


Yaudh, kita ketemu disana aja ya kak?


...Iya Rei. kakak tunggu kamu....


Tristan masih menatap tajam Rei yg telah selesai berbincang dengan Ricky seolah rasa marahnya akan meledak dalam hitungan detik.


Sehabis Rei menutup teleponnya dan langsung meletakkan ponsel kedalam tas dia pun segera melihat Tristan yg masih saja berdiri menunggunya sedari tadi, sehingga Rei bisa mengerti tatapan itu bahwa Tristan sedang marah padanya.


"Tristan, maaf! karna aku sudah membuatmu menunggu, kakak tadi bilang. ada masalah sedikit di kantor selama ayah terbaring dirumah sakit," beber Rei tampak mata berkaca.


"Masalah apa Rei?" tanya Tristan spontan mengubah raut wajahnya yg sedang marah menjadi rasa prihatin pada Rei.


"Aku juga belum ngerti dengan Masalah kantor, kakak bilang aku harus secepatnya masuk kantor karna harus ada yg menggantikan posisi ayah diperusahaan," seru Rei pula.


"Kau kan masih kuliah! kau juga masih semester tiga. tidak bisa lulus begitu saja," pungkas Tristan Mengernyitkan dahi.


"Kau benar! aku juga berharap kakak bisa menghandle semua tugas yg ada dikantor."


"Kau fokus saja dengan kuliahmu Rei.. biarkan Ricky yg mengurus semuanya," pungkas Tristan pula.


Kalau kuliahmu sudah selesai, selesai juga masa lajangmu Rei, karna aku akan secepatnya menikahimu!!! batin Tristan menatap Rei tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum melihatku? apakah ada kotoran diwajahku?" tanya Rei merasa panik meraba-raba wajahnya yg terus diperhatikan oleh Tristan.


"Hehe. Tidak Rei, kau cantik! makanya aku kagum melihat wajahmu," seloroh Tristan tertawa kecil.


"Kau juga tampan tristan," gumam Rei tidak sadarkan diri.


"Apa yg kau bilang barusan?" tanya Tristan berpura tidak dengar.


"A, tidak! a - aku, tidak berkata apapun!" sarkas Rei mengalihkan wajahnya.


Gemes!! batin Tristan sambil menyentuh hidungnya sendiri krna menahan kegeramannya terhadap Rei.


"Apa kita bisa pergi sekarang?" tanya Rei yg sudah terlihat merona dipipi.


"Yuk. kita berangkat," ajaknya sambil tersenyum melangkah pergi.


Rei hanya manggut mengiring langkah Tristan dari belakang punggungnya.

__ADS_1


Aku ingin menggenggam tanganmu kembali rei pada waktu hujan turun diawal pertemuan kita, tapi hari ini tidak ada alasan bagiku untuk menggenggam tanganmu. justru itu akan membuatmu merasa tidak nyaman padaku!!! aku akan terus bersabar Rei, sampai kau mengetahui siapa aku sebenarnya. batin Tristan tertunduk merasa gelisah.


Bau parfum mu wangi banget Tristan, seakan aku nyaman rasanya berada didekatmu, andai saja aku bisa menjadi lebih dari sekedar sahabat,, apa itu mungkin?!! ah!! tidak,tidak. apa lagi sih otakmu Rei, dilabrak kekasihnya baru nyahok lo!!! batin Rei merutuki dirinya sambil menepuk jidat sesekali.


☘️☘️☘️


Sementara itu suasana diruang dokter Rian.


"Siluman kera! kau tidak perlu berpura lagi menutup matamu. cepat buka matamu atau aku akan mencongkelnya," celetuk Rian menyilangkan tangan didada.


Pada saat gisele mendengar teguran Rian padanya, gisele langsung membuka matanya perlahan yg sudah sejak awal merasa lega bahwa Rian tidak melakukan hal bodoh pada dirinya.


"Aku mau pulang! kau jangan cegah aku lagi untuk keluar dari sini," cetus Gisele bangkit dari sofanya.


"Aku akan mengantarmu sampai kerumah. karna aku juga melewati jalan itu," timpal Rian pula.


"Tidak! aku bisa pulang sendiri, bye!" tolak Gisele langsung bergegas kearah pintu keluar.


"Kau, jangan membuatku marah! atau tidak..." pungkas Rian menahan tangan Gisele.


"Atau apa? ha?! kau mau mengancamku? tidak akan mempan!" sarkas Gisele menyeringai.


"Oh. kau tidak takut, oke! aku akan beberkan kesemua orang didalam kampus, kalau kau sudah tidur denganku..." jerit Rian pula.


"Ssttt, kau gi*a ya? wah! kau mau membuat image ku buruk?!" hardik gisele membungkam mulut Rian.


"Kenapa? kau takut? kalau kau tidak takut, kau boleh keluar! aku berikan dua pilihan, keluar atau kau ikut pulang denganku," goda Rian sambil melepaskan bungkaman tangan Gisele padanya.


"Oke, kali ini kau Menang! aku akan turuti kemaunmu, puas kau!" erang Gisele merasa sangat jengkel.


"Bagus, sebentar! aku ambil tas lalu kita keluar dari sini," seru Rian merasa puas.


Berhasil, ronde satu!!! hahah... batin Rian terkekeh.


Gisele cuma bisa terdiam dan manggut mengikuti perintah Rian padanya, kalau dia menolak sudah pasti Rian akan melakukan hal nekat dan membuat imagenya hancur lebur karna ulah Rian.


Nah, gitu dong. nurut!!! hahah, batin Rian kegirangan.


Ditengah perjalanan keluar dari gedung kampus, gisele dan juga Rian berpapasan pada Tristan dan Rei yg tengah berjalan bersama hendak keluar dari lorong kampus.


"Loh, kalian...." teguran dari Rei sambil menunjuk ke arah mereka.


"Rei, kenapa kau sama pak dosen? kalian mau kemana?" tanya Gisele mengalihkan topik.


"Aku mau pulang," jawab Rei.


"Aku juga mau pulang," balas Gisele tengah malu sudah terlihat Rei bahwa Rian menggandeng tangannya.


"Dokter Rian, kok..." ucap Rei terhenti sambil melirik tangan Rian menggenggam tangan Gisele.


"Oh." Rian cepat melepaskan tangannya dikarenakan malu pada Rei.


"Khem, apa kalian sudah jadian?" tanya Tristan dengan sengaja.


Si ulat bulu ternyata suka dengan Gisele??? batin Tristan menahan senyumnya.


"Ti- tidak pak! kami tidak jadian," sergah Gisele dengan cepat.


Kau sengaja kan pria breng*ek!! kita liat saja nanti siapa yg akan deluan bersanding!!!batin Rian menyeloteh menatap tajam Tristan.


"Pffttt." Tristan terlihat menahan tawa.


"Kamu kenapa tertawa? apa ada yg lucu?" tanya Rei terheran.


"Tidak Rei. aku merasa mereka ini pasangan yg serasi," seloroh Tristan antusias.


Katanya tidak level dengan manusia. ini buktinya apa? dasar ulat bulu!!! batin Tristan merutuki Rian.

__ADS_1


"Bapak bicara apa sih! gak mungkin saya sma lelaki ba- "


"Hah... hah... Gisele, kau kemana saja? aku capek dari tadi mencarimu," sapa Leo sambil berlari terlihat nafas sesak.


"Kau! Kenapa mencariku?" tanya Gisele pula.


"Apa kau sudah lupa bahwa kita akan be-"


"Ah! ahahaha. iya,iya! kau deluan saja belajarnya. nanti aku akan nyusul," seru Gisele menyela ucapan Leo dengan menutup mulut Leo agar tidak ceplos.


"Kalian mau belajar dimana? kok aku gak diajak?" tanya Rei pula dengan polosnya.


"Ahahah, belajar bahas materi pak dosen Rei, kau kan sudah belajar tadi. aku kan ketinggalan pelajarannya," sambung Gisele berkelit.


"Oh, aku kira pelajaran lain."


"Yuk sel. kita pulang sekarang," seru Leo langsung meraih lengan Gisele.


"Dia pulang bersama saya," ucap Rian menahan tangan Gisele.


"Loh, dokter Rian kan berbeda arah dengan gisele! biar saya saja yg mengantarnya." Leo menarik kembali lengan Gisele.


"Saya saja yg antarkan! itu sudah tugas saya," beber Rian menarik lengan kanan Gisele.


Tugas apa yg dimaksudnya!!! batin Leo mulai protes.


"Tidak perlu dokter, itu akan merepotkan dokter rian. biar saya saja yg antar gisele,"


"Saya saja," tarik Rian.


"Saya saja dokter." Leo ikut menarik lengan Gisele.


Tristan maupun Rei menjadi penonton ditengah keributan mereka, sehingga Tristan bergeleng kepala sementara Rei terbengong melihat ekpresi gisele yg berada diambang kemarahan.


Mereka bertiga terlihat sedang memperebutkan Gisele. sebenarnya ada apa dengan mereka? apa aku ketinggalan berita? batin Rei maupun Tristan secara bersamaan.


"AAAAA," jeritan Gisele begitu melengking sehingga memekakan telinga Rei, Tristan, Leo juga Rian.


"Kalian kira ini 17 Agustus apa! noh, tali tambang ada di gudang. ambil sana! jangan aku yg ditarik, sakit tau! serasa mau putus tanganku," sembur Gisele menghempaskan tangan mereka sambil mengelus kedua lengannya.


"Kau pulang denganku saja sel, cepat!" ajak Leo kembali.


"Tidak! dia akan tetap pulang dengan saya," sergah Rian lagi.


"Cukup! aku bukan barang yg bisa kalian rebutkan. Leo, sekarang kau pulang saja! nanti kita ketemu dirumahku," perintah Gisele merasa kesal.


"Kau katakan saja padanya, kau akan pulang dengan siapa," sambung Rian merasa menang.


"Leo, kau pulanglah! aku akan pulang dengan dokter Rian," titah Gisele menekankan.


"Tapi..."


"Kau tidak dengar? dia akan pulang bersama saya," tampik Rian mengingatkan Leo.


"Baiklah," ucap Leo mengalah.


Kok aku marah begini karna gisele pulang bersama dokter Rian? bukankah harusnya aku senang?!! tidak ada pengganggu lagi.. batin Leo merasa aneh pada dirinya yg terlihat risih dengan kehadiran Rian.


..................


Bersambung...


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA 😚🤭


...👇...


...TETAP STAY TUNED...

__ADS_1


...❤️ saranghae dari mamak❤️...


__ADS_2