
☘️☘️☘️☘️
Ruang IGD suasana keheningan dibalut kesedihan.
Dari awal Rei masuk kedalam ruang IGD dirinya telah banyak mengeluarkan air mata, rasa takut akan kehilangan sang ayah muncul didalam hati dan fikirannya. akan tetapi, pada saat ini Rei tidak ingin terus memikirkan hal yg belum pasti terjadi, di dalam diamnya dia terus memanjatkan do'a agar sang ayah diberikan kesembuhan.
"Rei... ikut saya keluar sebentar," bujuk Rian kembali secara pelan.
"Baiklah dok," balas Rei dengan melepaskan genggaman tangannya pada sang ayah.
Tidak lama kemudian, disaat yg bersamaan Rian maupun Rei keluar dari ruang IGD.
"Rei... kenapa matamu bengkak begini?" tanya Tristan tampak panik.
"Aku hanya sedikit menangis saja Tristan," jawab Rei lirih.
"Apa disini tidak ada es batu untuk mengompres mata Rei?" tanya Tristan menatap Rian.
*A*pa dia kira ini rumah susun?! mimpi apa ni orang dirumah sakit nanya es batu!! kalau nanya air panas mungkin masuk diakal. lah ini.... batin Rian ngedumel.
Pffttt.. seketika Ricky tertawa kecil mendengar pertnyaan Tristan.
Mata mereka bertiga tertuju melihat Ricky yg sedikit tertawa karna perkataan Tristan.
*K*enapa mereka semua menatapku? apa mereka sadar aku tertawa tadi??? batin Ricky mengalihkan pandangan.
"Aku baik-baik saja Tristan... kau jangan terlalu khawatir," ucap Rei memaksakan tersenyum.
Namun, Tristan tak mendengar perkataan Rei padanya. malah dia menatap Rei penuh kepedihan, sehingga tekadnya kuat untuk melakukan sesuatu sesuai kehendaknya saat ini.
Fuuu...Fuuu...
Seketika Tristan tanpa pamit menghembuskan nafas dari mulutnya untuk meniup kedua mata Rei yg sudah terlihat membengkak, rasa sedihnya sudah tidak bisa dia kendalikan seolah hanya perhatian kecil ini yg bisa dia lakukan untuk membuat Rei menghilangkan perih dimatanya.
Deg
"Tristan, kau sedang apa?" tanya Rei terheran.
Rian maupun Ricky tercengang karna perlakuan Tristan pada Rei yg begitu lembut. mulut mereka menganga seakan sedang melihat pasangan Romeo and Juliet yg aslinya.
"Ekhem,Hem." Rian sengaja berdehem.
Sial*n lelaki breng*ek ini !! apa dia sengaja menunjukkan keromantisannya didepanku yg jomblo ini?! awas saja kau kalau aku punya pasangan akan kubuat kau iri sepanjang abad!! batin Rian menatap tajam Tristan.
*J*omblo dilarang lihat!! batin Ricky tersindir.
"Sudah ah Tristan! gak enak diliatin sma Ricky juga dokter Rian," menghindar selangkah dari Tristan.
Wajah Rei sedikit terlihat merona krna perbuatan Tristan didepan orang yg dikenalnya.
"Oh iya dok, gimana masalah penyakit ayah saya?" tanya Rei sedikit mendekati Rian.
Tristan terlihat puas krna dirinya sudah melakukan sesuai nalurinya, dia sudah merasa sedikit tenang krna tristan sudah memberikan sedikit energi miliknya melalui hembusan nafasnya yg tadi masuk kedalam mata Rei.
Ya, Tristan memiliki kemampuan untuk memberikan sedikit energi kepada siapapun. mau itu manusia, kaumnya, atau binatang sekalipun. namun, hanya bisa dia lakukan melalui mata saja. dahulu juga dia melakukan itu pada lord setelah lord kehabisan energi melawan musuh terberat.
"Masalah ayahmu itu sudah saya tangani, tapi - "
"Tapi apa dokter Rian?" tanya Rei menyela langsung.
"Saya harap kamu bisa lebih sedikit tenang ya Rei, setelah mendengarkan penjelasan ini..." tutur Rian pula memegang berkas.
"Ini Rei, kamu baca saja hasil pemeriksaan yg saya lakukan tadi," ujarnya menyuguhkan sebuah berkas dilapis amplop biru.
Rei segera meraih berkas itu dari tangan Rian seketika dia membuka perlahan isi pada setiap lembarnya.
...ᵀᵉˢ ᵈᵃʳᵃʰ...
ˢᵉˡ ᵈᵃʳᵃʰ ᵐᵉʳᵃʰ \= 4,32-5,72 ʲᵘᵗᵃ/ᵐⁱᵏʳᵒˡⁱᵗᵉʳ
ˢᵉˡ ᵈᵃʳᵃʰ ᵖᵘᵗⁱʰ \= 3.400-9.600/ᵐⁱᵏʳᵒˡⁱᵗᵉʳ
__ADS_1
ˢᵉˡ ᵏᵉᵖⁱⁿᵍ ᵈᵃʳᵃʰ\=135.000-317.000/ᵐⁱᵏʳᵒˡⁱᵗᵉʳ
...ˢⁱⁿᵃʳ-ˣ ᴿᵃʸ...
ᴶᵃⁿᵗᵘⁿᵍ ᵖᵉʳˡᵘ ᵐᵉᵐᵒᵐᵖᵃ ᵈᵃʳᵃʰ ˢᵉᵇᵃⁿʸᵃᵏ ˢᵉʳᵃᵗᵘˢ ʳⁱᵇᵘ ᵏᵃˡⁱ ˢᵉᵗⁱᵃᵖ ʰᵃʳⁱⁿʸᵃ. ᵈᵃʳᵃʰ ⁿᵃⁱᵏ ᵗᵘʳᵘⁿ ˢᵉʰⁱⁿᵍᵍᵃ ᵒᵗᵒᵗ ʲᵃⁿᵗᵘⁿᵍ ᵇᵉᵏᵉʳʲᵃ ˡᵃᵐᵇᵃⁿ.
...ᴱˡᵉᵏᵗʳᵒᵏᵃʳᵈⁱᵒᵍʳᵃᵐ ᴱᴷᴳ...
ᴾᵉʳᵘᵇᵃʰᵃⁿ ᵘᵏᵘʳᵃⁿ ᵈᵃⁿ ᵇᵃᵗᵃˢ ʲᵃⁿᵗᵘⁿᵍ, ᵇⁱˢᵃ ᵐᵉⁿʲᵃᵈⁱ ⁱⁿᵈⁱᵏᵃˢⁱ ᵃᵈᵃⁿʸᵃ ᵍᵃᵍᵃˡ ʲᵃⁿᵗᵘⁿᵍ, ᵏᵉᵇᵉʳᵃᵈᵃᵃⁿ ᶜᵃⁱʳᵃⁿ ᵈⁱ ˢᵉᵏⁱᵗᵃʳ ʲᵃⁿᵗᵘⁿᵍ, ᵃᵗᵃᵘ ᵐᵃˢᵃˡᵃʰ ᵏᵃᵗᵘᵖ ʲᵃⁿᵗᵘⁿᵍ.
...ᴱᶜʰᵒᶜᵃʳᵈⁱᵒᵍʳᵃᵐ ᴱᶜʰᵒ...
ᵐᵉⁿᵈᵉᵗᵉᵏˢⁱ ᵃᵈᵃⁿʸᵃ ᵍᵃⁿᵍᵍᵘᵃⁿ ᵃˡⁱʳᵃⁿ ᵈᵃʳᵃʰ ᵏᵉ ᵒᵗᵒᵗ ʲᵃⁿᵗᵘⁿᵍ ˢᵉʰⁱⁿᵍᵍᵃ ᵇⁱˢᵃ ᵐᵉⁿⁱᵐᵇᵘˡᵏᵃⁿ ʳᵉˢⁱᵏᵒ ˡᵉᵐᵃʰ ʲᵃⁿᵗᵘⁿᵍ.
...ˢᵗʳᵉˢˢ ᵗᵉˢᵗ...
ᴬˡᵃᵗ ᵖᵉⁿᵈᵉᵗᵉᵏˢⁱ ᵗᵉʳᵖᵃˢᵃⁿᵍ ᵈⁱᵇᵃᵍⁱᵃⁿ ʲᵃⁿᵗᵘⁿᵍ. ᵍᵘⁿᵃ ᵘⁿᵗᵘᵏ ᵐᵉˡⁱʰᵃᵗ ᵖᵉʳᵍᵉʳᵃᵏᵃⁿ ᵖᵃᵈᵃ ᵒᵗᵒᵗ ʲᵃⁿᵗᵘⁿᵍ. ᵗᵉʳˡⁱʰᵃᵗ ʲᵃⁿᵗᵘⁿᵍ ˢᵘᵈᵃʰ ᵗⁱᵈᵃᵏ ⁿᵒʳᵐᵃˡ.
Perlembarnya Rei mengamati satu persatu untuk bisa mencerna apa yg dimaksud hasil dari tes yg sudah dilakukan oleh dokter Rian pada ayahnya.
"Apakah kamu sudah paham Rei maksud dari tes yg sudah saya lakukan?" tanya Rian memecah lamunan Rei.
"Ayah saya lemah jantung, dokter?" balik bertanya seperti menahan sedih.
"Ya Rei. ayah kamu terserang penyakit Kardiomiopati," ungkap rian dengan jelas.
"Apa itu dok?" mengernyitkan dahi.
"Itu penyakit paling berbahaya jarang ditemui oleh para dokter dikota ini, otot jantungnya lebih besar dan kaku. makanya sulit memompa darah ke seluruh tubuh dengan baik," ujar Rian menjelaskan secara detail.
"Jadi... apa ayah saya bisa tertolong dok?" tanya Rei meneteskan air mata.
Tristan maupun Ricky mendengar perbincangan mereka sehingga Tristan juga bisa merasakan rasa kesedihan yg dialami Rei sedari tadi.
"Saya tidak bisa menjamin, karna yg sudah saya bilang tadi. 50% keselamatan untuk penyakit ayahmu," seakan enggan mengatakannya kembali.
"Tapi, kamu jangan khawatir Rei, kamu hanya perlu berdoa saja. biar saya yg menangani ayahmu ini," timpalnya pula memberi semangat pada Rei.
"Hiks, apa benar begitu dok? jika saya terus berdo'a ayah saya akan sembuh kembali?" tanya Rei terdengar Isak tangisnya.
"Tuhan akan mendengar do'amu Rei... kamu jangan berlarut dalam kesedihan," tutur Rian ikut merasakan sedih.
"Ayahmu akan dirawat disini agar saya bisa terus memantaunya," sambung rian pula.
"Lakukan apapun untuk kesembuhan ayah saya dokter..." pinta Rei dengan memohon.
"Kamu jangan cemas Rei, serahkan saja pada saya semuanya," jawabnya cepat.
Tumben anak ini berwibawa?! batin Tristan mengamati wajah Rian.
"Tristan, ada yg ingin ku bicarakan padamu, ikut aku sebentar," ajak Rian berbalik ingin pergi.
"Tunggu ya Rei... aku akan kembali," seru Tristan tersenyum kecil.
Rei hanya manggut tanpa adanya suara sahutan.
Setelah Tristan dan Rian berlalu pergi. Rei dan Ricky duduk di kursi depan ruang IGD tanpa berbicara apapun.
*A*pa aku katakan saja sma nona ya? atau nanti saja setelah tuan besar sembuh? batin Ricky serba salah.
"Ricky, kau umur berapa sekarang?" tanya Rei namun tetap menatap kosong kedepan.
"Dua puluh delapan tahun non Rei..." jawab Ricky pula.
"Kenapa kau tak bilang umurmu lebih tua dariku?" tanya Rei merasa kaget krna sedari awal sudah salah tebak.
"Em.. nona tidak harus tau umur saya! panggil saja saya seperti biasanya," tukas Ricky kembali.
"Apa aku boleh memanggilmu kakak?" tanya Rei menatap Ricky.
"Jangan non.. saya tidak pantas menjadi kakak, apalagi nona anak bos besar saya! apa kata tuan besar nanti non?" protesnya menyadarkan Rei.
__ADS_1
"Aku ingin memiliki seorang kakak laki-laki," ucapnya tersenyum kecil.
Ricky hanya terdiam mendengar cerita Rei padanya.
"Sudah berapa lama kau bersama ayahku?"
"Sejak umur saya 21 tahun sudah bekerja dikantor tuan besar non! tapi saya masih jadi karyawan saja saat itu," bercerita layaknya teman.
"Kenapa kau sekarang jadi supir ayah?" tanya Rei mengernyitkan dahi.
"Anu non.. saya itu sebenarnya asisten ayah nona sudah lima tahun," berkata seadanya.
"Itu berarti...."
"Ya non... saya ini yg mengurus semua keperluan tuan besar, apapun masalah dikantor saya yg selesaikan non," cerita panjang lebar.
"Berarti kau sudah lama bekerja dengan ayahku?" tanya Rei lagi
"Iya non, tapi... masalah sakit ayah non, saya tidak pernah tau non... saya liat tuan baik-baik saja," jelasnya pula.
"Apa kau tidak pernah melihat ayah minum obat?"
"Pernah non kemarin, setelah saya ingin memberikan berkas dari klien," ucapnya sambil mengingat.
"Berapa kali kau melihat ayah minum obat itu?" mengorek lagi.
"Cuma sekali itu aja non... setelah itu tidak ada?" ujar Ricky sambil garuk kepala pelan.
"Maksih ya Ricky... kau selalu menjaga ayahku," timpal Rei tampak senyum kecil.
"Itu sudah tugas saya non," seru Ricky merendah.
"Apa kau tidak keberatan aku panggil kakak?" kembali bertanya sedikit merayu.
"Apa kata orang lain majikan sma pekerja memanggil akrab?" tuturnya memprotes.
"Kau memang kakak ku! kalau tidak, kau tidak akan repot-repot membawa ayahku kerumah sakit ini," timpal Rei pula.
Sejenak Ricky terdiam krna perkataan Rei padanya, apa yg harus dijawabnya kembali. karna memang sedari dulu Ricky sudah mengganggap ayah Rei seperti ayahnya juga.
Apakah tidak akan menjadi masalah kalau aku menerima tawaran nona Rei?? batin Ricky berfikir sejenak.
Sekian menit berjalan.
"Kalau itu kemauan nona, saya harus bilang apa lagi..." paparnya seolah tidak percaya.
"Beneran boleh?" tanya Rei terlihat senang.
Ricky tampak bahagia saat manggut menatap wajah Rei yg sudah terlihat kesenangan. belum pernah sekalipun semenjak dia kehilangan semua keluarganya akibat kecelakaan beberapa tahun silam, dia juga menginginkan seorang adik yg bisa membuatnya tertawa.
"Saya harus panggil apa non?" tanya Ricky memecah lamunannya.
"Rei, panggil aku Rei kak...." jawabnya antusias.
"Baiklah, re - i .... " terbata belum biasa.
"Nah, lama-lama juga pasti bisa! semangat kakak... Heheh," tertawa kecil pengobat kesedihannya.
Entah kenapa perbincangannya pada Ricky membuat Rei begitu bahagia, sehingga semangat untuk menjadi kuat kini telah bangkit. ya, Rei kini sudah mempunyai seorang kakak yg selama ini dia impikan.
Mereka tertawa bersama saat bercerita masa lalu mereka masing-masing, terlihat sepasang Kakak beradik yg baru bertemu sekian lamanya.
.............
Bersambung...
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA🤭😚
😍🥰MAMAK SAYANG KALIAN😁🥺
DUKUNG TERUS KARYA MAMAK DENGAN VOTE SEBANYAKNYA.... 🙏
__ADS_1