Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
FILING YG SAMAR


__ADS_3

☘️☘️☘️


Craaangg


Suara gelas terjatuh yg begitu deras terdengar oleh telinga Belinda, ia sedang berada didalam kamar bik Lis. dikarenakan Ambar pergi ke toilet meninggalkannya Beberapa menit lalu. setelah itu belum juga kembali, malah Belinda mendengar suara pecahan mengarah ke dapur. ia sempat gelisah karna Ambar belum juga kembali. akhirnya Belinda berlari kecil dan menuju dapur, dengan baju yg menutupi perut besarnya ia menjadi lebih bebas bergerak.


Sampailah Belinda di dapur dengan mata terbelalak melihat gelas yg terhambur bagai puing puing yg sudah berserakan. air lemon yg dia buat bersatu dengan kaca pecahan itu. ia juga melihat Haikal melotot mengarah pada Ambar. sementara Ambar tertunduk seperti ketakutan melihat reaksi Haikal yg menatapnya tajam.


"Ka- kalian sedang apa? Ren, kenapa kau menjatuhkan gelas ini?" tanya Belinda sempat melangkah ke arah Haikal.


"Berhenti bel, jangan mendekat. di sini banyak pecahan kaca," senggak Haikal membuat batin Belinda terhentak.


Ambar masih terus melirik Haikal. ia juga tak menduga kalau reaksi Haikal begitu terkejut setelah melihat dirinya berada di dalam rumah mereka.


"Aku akan membersihkan pecahan kaca ini, kau pergilah dulu! aku akan menyusul," pinta Haikal tampak juga melirik tajam Ambar namun masih ia tutupi agar tidak terlalu mencolok di depan Belinda.


"Apa kau terluka Ren? bagian mana yg terkena pecahan kaca?" keriuhan Belinda membuat Ambar risih dan akhirnya ia pergi meninggalkan mereka berdua di tempat ia pun mengarah kembali ke ruang tamu.


Tentu saja Belinda merasa heran kalau Ambar pergi begitu saja tanpa berbicara apapun.


"Ren, apa ada yg terluka?" sambung Belinda lagi dengan kepanikan memeriksa kedua tangan Haikal.


"Aku baik baik saja, kau pergilah dari sini. nanti kau jadi terkena pecahan kaca! aku akan menyusul," lontar Haikal membawa Belinda perlahan ke luar dari arah dapur.


Belinda ingin membantu tetapi Haikal enggan menerimanya. ia pun melangkah pergi dari hadapan Haikal dan menghampiri Ambar yg meninggalkannya deluan.


Tap Tap


Ambar terus mengarah ke ruang tamu dengan mulut yg komat Kamit hingga wajah yg merah padam.


Sial!! kenapa aku harus menyaksikan percintaan mereka berdua!! harusnya aku yg ada di posisi itu!! dasar wanita sial!! batin Ambar menggerutu dengan kepalan tangannya tampak begitu kuat.


Seketika Belinda mengejutkan Ambar dengan kehadirannya.

__ADS_1


"Ambar! apa kau terluka?" tanya Belinda dari balik punggung Ambar dengan menyentuh sebelah pundak Ambar, ia juga melihat Ambar sedang menggenggam kedua tangannya.


"Aku tidak ada yg luka, oh ya! sepertinya aku harus pergi sekarang, ini sudah hampir larut," jawabnya dengan meredam kemarahan dibalik wajahnya.


"Kenapa begitu cepat? kita belum makan bersama! tunggu sebentar lagi saja, sampai Rendra kembali," bujuk Belinda memastikan pandangannya terhadap Ambar sewaktu ia mendekati Ambar.


"Tidak Belinda, aku sudah kenyang! lain kali aku luangkan waktu untuk kita makan bersama," ucap Ambar dengan penolakan yg begitu halus.


"Apa kau yakin tidak ingin makan dulu?" tanya Belinda langsung meraih jemari tangan Ambar seperti berusaha membujuk.


Entah apa yg dipikirkan oleh Belinda, ia merasa bahwa sikap Ambar berubah setelah bertemu dengan suaminya di dapur tadi.


"Bel," sapa Haikal yg sudah berdiri sejak perbincangan mereka.


"Ren, kau sudah kembali," turut Belinda melontarkan senyum kecilnya. ia pun menarik jemari tangan Ambar yg masih melekat di tangannya. dia membawa Ambar berjalan mendekati Haikal.


"Ren, perkenalkan in -"


"Kenalkan! aku Ambar Januarta," sungut Ambar melepaskan tangannya dari Belinda dan mengadahkan ke arah Haikal. ia juga tersenyum santai tanpa paksaan.


"Bel, kau kenal dengan wanita ini?" tanya Haikal pula menoleh ke arah Belinda belum juga menyambut tangan Ambar.


"Ka - kami..."


"Aku teman baik Belinda," cocotnya dengan memotong ucapan Belinda.


"Aku tidak bertanya padamu! aku bertanya pada istriku," lontar Haikal menatap tajam Ambar serasa ingin menendang Ambar keluar dari rumahnya.


"Ren, yg dikatakan Ambar memang benar adanya. dia lah orang yg selalu berada disaat aku membutuhkan bantuan," ungkap Belinda merasa takut dengan tatapan tidak suka dari Haikal.


Tangan Ambar masih saja terabaikan, ia pun merasa menjadi orang yg bodoh sudah menunggu Haikal untuk menyambut tangannya. makanya ia turunkan dengan rasa marah yg kian dia tahankan.


"Ren, Ambar orang yg baik! kau jangan merasa takut padanya," lanjut Belinda membuat Ambar besar kepala.

__ADS_1


Apa aku harus mengatakan yg sebenarnya pada Belinda?! aku takut Belinda syok mendengar pengakuan dari ku!! aku tidak ingin hal buruk terjadi pada istriku!! aku harus segera menyingkirkan wanita licik ini dari Belinda!! batin Haikal berbicara seolah lontaran matanya membuat Ambar menyadari bahwa Haikal akan memisahkan dirinya pada Belinda, mata Haikal seperti memancarkan bara api yg membuat Ambar berkeringat.


Dengan begitu Ambar berpura memeluk tubuh Belinda dengan erat. Belinda yg belum juga mengerti maksud perlakuan Ambar merasa teharu mempunyai teman sebaik Ambar. tetapi lontaran senyum Ambar untuk Haikal belum bisa Belinda lupakan. ia bingung dengan sikap Haikal juga Ambar. terlihat seperti orang yg sudah lama saling mengenal.


"Hiks, hiks, Bel... kau jangan pernah pergi dariku. karna aku tidak punya siapa siapa," keluh Ambar serasa air mata buaya.


Dari jarak yg tidak terlalu jauh, Haikal mengepalkan tangannya melihat senyuman licik dari Ambar mengarah padanya. ia ingin sekali melemparkan Ambar saat itu juga. namun tak dapat ia lakukan karna Belinda masih belum mengetahui wanita seperti apa Ambar itu.


"Kau tenang saja Ambar! aku tidak akan pergi dari mu," turut Belinda menepuk berulang kali punggung Ambar sehingga ia bisa merespon kegelisahan Ambar saat itu.


"Terimakasih Belinda! kau wanita yg baik," kata Ambar lagi dengan begitu erat memeluk Belinda, ia pun memberi isyarat kecupan dari bibirnya untuk Haikal yg terus melihat aksinya itu.


Cih!! dasar wanita gi*a!! tidak waras!! kalau mereka sudah sedekat ini bagaimana aku akan memisahkannya?!! batin Haikal merutuk Ambar yg tersenyum bahagia melihat dirinya.


"Ambar! aku begitu terasa sesak kau peluk dengan erat," keluh Belinda berusaha melepas pelukan dari Ambar yg sengaja berbuat begitu.


"Ah maaf! aku tidak bermaksud menyakiti mu," katanya pula merasa sedikit berpuas diri bisa menatap langsung Haikal saat pelukan tadi.


"Bel, sekarang aku harus pulang! kalau ada waktu aku akan bermain ke rumah mu lagi," lanjut Ambar membuat Haikal merasa jengah mendengar celotehan Ambar.


"Aku akan menunggu mu Ambar! seringlah datang ke sini," ucap Belinda merasa senang Ambar meluangkan waktu untuknya.


"Pasti. aku akan selalu datang jika kau ingin," seru Ambar membuat pundak leher Haikal merasa panas.


Haikal masih belum mengetahui kalau Ambar bekerjasama dengan Axel untuk menyusun rencana. yg ia tau Ambar ingin mendekatinya dengan maksud lain dan niat yg jahat. itulah pikir Haikal.


Ia berusaha keras mencari sebuah tindakan yg tepat untuk menjauhkan Ambar dari Belinda. ia kini berfikir untuk meminta bantuan dari Maria. semenjak kejadian Ricky, Maria belum juga terlihat atau memberi kabar pada mereka. ia bermaksud mendatangi rumah Maria esok hari dan meminta jalan keluar dari Maria juga Erlando. itulah salah satu jalan supaya Belinda tidak masuk perangkap Ambar.


Belinda dan Ambar sejenak berpelukan melepas kerinduan. krna Ambar ingin berpamitan pulang. Ambar yg terlihat begitu santai membuat Haikal merasa muak dan sangat jengkel. sehingga tekad Haikal bertambah kuat untuk menjauhkan keduanya. sebelum peristiwa yg besar terjadi.


Tepat dibelakang punggung Belinda, ia melihat lambaian tangan Belinda untuk Ambar yg sedang berlalu pergi. entah kenapa Haikal merasa takut dengan sikap Belinda yg sudah nyaman berada di samping Ambar.


............

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2