Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
DENDAM


__ADS_3

πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Atap kampus


Terletak dibagian paling atas gedung kampus dengan nuansa yg menyejukkan serta pemandangan sangat eksotis sehingga terlihat jelas bangunan yg ada disekitarnya. bangunan yg berkisar tinggi 100meter mencapai 360 kaki, tidak heran ribuan orang bisa memasuki gedung kampus dengan luasnya gedung tersebut.


"Kita kenapa harus pakai tangga darurat sih! kan ada lifnya juga," gerutu Rei terasa sesak menaiki anak tangga.


"Sedikit lagi. pelan-pelan saja Rei," ujar Tristan terus melangkah naik.


Apa dia gak merasa lelah? kenapa dari tadi biasa aja?? batin rei ngedumel sendiri.


"Apa kau mau ku gendong Rei?" tanya Tristan terhenti sejenak menoleh kebelakang.


Deg


"Tidak! aku bisa naik sendiri," sarkasnya cepat.


Duh, ngapain pakek ngaduh sih sama lelaki ini. jadi jantungan lagi, kan??? batin Rei merasa nyesal.


Tristan hanya bergeleng kepala krna perhatiannya ditolak oleh Rei, sehingga dia melanjutkan langkahnya yg sempat terhenti. sesekali Tristan memperhatikan Rei yg berada dibelakangnya, tampak wajah Rei berkeringat seperti sedang kelelahan. andai saja Tristan diperbolehkan untuk menggendong Rei, mungkin saja mereka akan lebih cepat sampai ke atas. sebenarnya Tristan mempunyai alasan kenapa tidak ingin menaiki lift, takutnya akan menjadi bahan perhatian orang-orang yg ada didalam gedung.


Sekian menit berlalu.


"Haaah. lelah banget naik tangga," timpal Rei menyeka keringatnya.


"Tunggu Rei," seru Tristan mengeluarkan sapu tangan dibalik sakunya.


Dengan begitu penuh perhatian Tristan menyeka seluruh keringat yg ada diwajah Rei, senyuman manis yg dilontarkan Tristan membuat jantung Rei berdetak lebih kencang sehingga sulit untuk dikontrol kembali.


Glup


Ya tuhan, tampan sekali Tristan kalau dilihat dari dekat, bulu matanya sangat lentik!! bola matanya jika dilihat lebih jelas begitu indah, jarang sekali aku menemukan bola mata seperti ini. batin Rei terhanyut dalam tatapannya.


Terdengar jelas ditelinga tristan, bahwa Rei menelan air ludahnya sendiri dengan menatap mata Tristan tanpa berkedip sedikit pun.


"Rei," petikan jemari tangan Tristan untuk menyadarkan lamunan Rei.


"Ah. i - iya," kelabakan sendiri langsung mengalihkan pandangannya terlihat rona merah dipipinya.


"Waahhhh, tempat apa ini?" tanya Rei melangkah pergi dari hadapan Tristan.


Rei yg baru saja tersadar dari lamunannya terheran krna ternyata dirinya sudah berada ditempat paling atas gedung kampus.


"Ini tempat rahasiaku Rei. tidak ada yg boleh masuk kesini tanpa izin dariku," ujarnya terus terang.


"Kenapa begitu?" tanya Rei terheran.


Bukankah aku orang lain? kenapa aku diajak kesini??! aneh!! batin Rei menggaruk kepala pelan.


"Hanya orang yg spesial untukku! akan aku bawa kesini," jawabnya terus terang.


"Ahahahah. kau bercanda," seloroh Rei agar suasana tidak canggung.


"Aku tidak bercanda Rei," tukas Tristan menatap serius.


"Ah, sepertinya itu ada meja deh! yuk kita kesana," celetuk Rei mengalihkan topik.


Aku buatkan memang khusus untukmu Rei, krna aku ingin menyatakan perasaanku, mungkin saja belum waktu yg tepat!!! aku harus bersabar sedikit lagi. batin Tristan mengamati bahu Rei yg berlalu darinya.


"Waw, ini apa Tristan? kau menyulap meja ini seperti terlihat disebuah restoran," riuh Rei merasa kagum.

__ADS_1


"Kau duduklah," pintanya dengan menarik kursi untuk Rei.


"Makasih," jawab Rei senang hati.


"Begitu indah disini Tristan, apa kau sering ketempat ini?" antusias Rei celingukan begitu senangnya.


"Aku sering ketempat ini, kalau hatiku sedang tidak baik! tempat ini jadi pelarianku saat aku ingin sendiri," paparnya mencurahkan isi hati.


"Apa kau merawat tempat ini?" timpal Rei menatap Tristan.


"Ya Rei, aku selalu merawat tempat ini... tak pernah kubiarkan begitu saja," seru Tristan tersenyum manis.


"Ini apa Tristan?" tanya Rei yg sudah menyentuh sebuah kotak bekal makanan.


"Itu masakan ibuku! kau buka saja," titahnya menjelaskan.


Setelah Rei membuka kotak bekal itu, dia melihat menu makanan yg sangat dia sukai apalagi makanan itu sering dibuat oleh bik Lis, saat dirinya berada dirumah.


"Bukankah ini...."


"Makanan itu khusus ibuku buatkan untukmu Rei, lagipula makanan itu juga sering dibuatkan ibuku untukku diwaktu kecil," tukasnya sengaja ingin membuat Rei peka dengan perkataannya.


"Kau suka makanan ini?" tanya Rei keheranan.


Apa hanya kebetulan saja kah??? batin rei bertanya-tanya.


"Kenapa Rei? bukankah aku melihat dihari ultahmu kau memakan ini?" kembali bertanya dengan sengaja.


"Ini memang makanan kesukaanku Tristan, kalau begitu! makanan favorit kita sama dong," seloroh Rei begitu antusias.


Apa Rei sudah lupa?? bahwa ibuku lah yg pertama kali membuatkan makanan ini diwaktu dia kecil!!! batin tristan memastikan sikap rei padanya.


"Bik Lis selalu membuatkan ini untukku! katanya sih, ibuku yg memberi tahunya kalau aku suka dengan makanan ini." seru rei sambil tersenyum.


"Tristan, kau kenapa? apa kau kurang sehat?" tanya Rei cemas.


"Tidak Rei. kau makanlah," pinta Tristan pula.


Disaat bersamaan mereka menikmati hidangan yg telah dibuatkan oleh ibu maria sendiri.


"Nyam,nyam, hemm... enak banget Tristan! sedikit berbeda dari masakan bik Lis," tutur Rei riuh menikmati kunyahannya.


"Apa benar begitu?" tanya Tristan merasa senang.


"Benar Tristan, ibumu jago sekali masak! lidahku seperti tidak asing lagi dengan rasa ini. tetapi, kok bisa berbeda ya antara buatan bik Lis dengan ibumu! seakan aku lebih mengenal makanan dari ibumu," cerocos Rei heran sendiri.


Karna memang dari awal ibuku yg membuatkan untukmu hampir setiap hari Rei. batin Tristan terus memandangi wajah Rei seakan ingin mencurahkan isi hatinya.


"Tristan, kenapa kau tidak bersemangat?"


Teng Teng


"Loh, itukan bunyi lonceng masuk! Tristan, kita harus cepat turun. bukankah kau bilang ada sesi kedua pelajaran darimu," desak Rei berdiri seketika.


"Kau deluan saja Rei, aku nanti nyusul. kau keluar dari sini sebelah kanan sudah ada lift," titahnya pula ikut berdiri.


"Baiklah! bye... makasih ya hari ini, aku senang," teriak Rei sambil berlari.


Tristan hanya melambaikan tangan tidak menjawab seruan dari teriakan Rei padanya hingga Rei berlalu pergi meninggalkan Tristan diatas gedung.


Tuhan... berikan lebih banyak kesabaran bagiku!! aku ingin bersama gadis yg selama ini selalu bersamaku, apa aku tidak layak bahagia??? gumam Tristan tertunduk sedih.

__ADS_1


Tristan memandangi pemandangan yg terdapat dibawah gedung. sejenak menenangkan hatinya yg terlihat sedih, karna teman semasa kecilnya sudah tidak lagi mengingat akan dirinya yg sekian lama telah mencarinya hingga sedewasa itu. besar harapan Tristan agar Rei bisa mengingat kembali diwaktu mereka kecil dulu.


Beberapa menit kemudian Tristan turun dari tangga dengan berlari lebih cepat dan tidak membutuhkan waktu yg lama untuk dirinya sampai kebawah.


Namun disatu sisi lain.


"Leo, apa kau mau kalau pertunangan itu dilangsungkan?"


"Siapa yg akan bertunangan?" tanya Rian menerobos masuk ditengah mereka.


"Do - "


"Kau ikut denganku sekarang!" sarkas Rian menarik lengan Gisele.


"loh, kalian mau kemana? kok main tinggal gitu aja," teriak Leo yg mulai bingung dengan sikap Rian yg tiba-tiba saja muncul.


Sementara itu Leo melihat liona menatap dirinya setajam pisau yg akan menancapkan jantungnya seketika.


"Kau lihat apa, ha?!" hardik Leo menatap sinis Liona melangkah pergi.


"Berhenti."


"Apa? kau mau ngapa - "


Disaat itu Liona mencium bibir Leo tanpa memikirkan rasa malunya lagi, terlihat kepalan tangan Leo yg akan meninju wajah Liona secepat mungkin.


"Kau gila ya?!" bentak Leo menjambak Liona.


"Ukh, sakit Leo!" desah Liona menahan perih di rambutny.


"Kau! jangan berbuat se-enaknya padaku. aku selama ini tidak pernah kasar terhadapmu! sekali lagi kau begini, kau! akan habis ditanganku," sergah Leo dengan geram.


Setelah jambakan itu terlepas.


"Apa kau tidak pernah tau aku suka padamu Leo!" bentak Liona lirih.


"Tau, aku tau itu! tapi, aku tidak pernah ada perasaan apapun padamu! apa kau paham?!" cetusnya mulai jengkel.


"Kau jahat Leo, apa krna dia! kau begini padaku," hardiknya tidak terima.


"Apa urusannya denganmu! hal pribadiku, tidak perlu kau C.A.M.P.U.R.I, apa kau mengerti Liona?!" bisiknya memperingati Liona dengan tegas.


Leo berlalu begitu saja tanpa menggubris Liona lagi, begitu pula dengan Liona yg menangis krna sikap Leo yg sedari dulu acuh tak acuh padanya. jantungnya yg sesak seakan ingin menjerit sekuat tenaga.


"Aku bersumpah! akan membuat orang yg merebutmu sengsara dengan caraku sendiri," gumam Liona sangat geram mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Apa katanya? tunangan? heh! tidak akan aku biarkan itu terjadi," gerutu Liona menatap tajam Leo yg sudah pergi.


"Gisele! kau tunggu saja. krna kau yg memulai pertikaian ini," gumam Liona begitu tampak murka.


.................


Bersambung.....


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA 😚🀭


😁IKUTI TERUS KISAH MEREKA😌


...πŸ‘‡...


...TETAP STAY TUNED...

__ADS_1


...❀️ saranghae ❀️...


__ADS_2