
ππππ
Sudut lorong ruang keluarga
"Tristan... ada apa? kenapa kau melihat foto keluargaku dengan wajah panik begitu?" panggilan Rei sudah kesekian kali, namun Tristan tidak merespon.
Batin Tristan terkejut melihat bingkai foto yg terpampang jelas didepan matanya, bukan karna terkejut oleh panggilan Rei tentu hal itu yg membuat dirinya tidak menduga sama sekali akan dipertemukan disaat hatinya mulai mencintai Rei. pada saat Tristan memandangi wajah teman masa kecilnya itu dia lebih yakin lagi kalau lelaki yg berada disamping Rei ialah ayah kandungnya.
Seperti pepatah mengatakan "Asam di Gunung Garam di Laut Bertemu Dalam Satu Belanga" [Kalau sudah jodoh dimanapun berada atau berjauhan pasti akan tetap bertemu juga]. sangat tepat bagi Tristan yg telah menemukan teman kecilnya sekaligus wanita yg membuat dirinya jatuh cinta.
Tuhanku... terimakasih, karna aku sudah dipertemukan kembali oleh seseorang yg sekian lama susah payah aku mencarinya. ternyata dia tepat berada disampingku sekarang ini, aku sangat mencintainya kali ini aku takkan bisa melepaskannya lagi. batinnya sembari menatap hangat.
"Hei. kau kenapa Tristan..." panggil Rei kembali berusaha membuatnya sadar.
Andai saja aku bisa mengatakan yg sebenarnya pada Rei saat ini juga apakah dia akan senang sepertiku?! atau... kebalikannya Rei tidak terima kalau aku adalah teman masa kecilnya?! batin Tristan gerutu pada sesuatu yg belum pasti terjadi.
"Ah tidak! aku hanya kagum melihat foto keluargamu Rei... kalian tampak begitu harmonis," ujaranya sekilas tampak mata berbinar.
Dia sudah menjadi gadis yg sangat cantik seakan aku tidak bisa menahan kerinduan ini lagi, Rei aku rasanya ingin segera memelukmu!! Batinnya berusaha menahan gejolak.
"Iya... tapi sekarang ayahku sudah menikahi wanita lain," sarkasnya menatap bingkai terlihat jelas begitu sedih.
"Rei... aku tau apa yg kau rasakan sekarang, aku akan selalu ada untukmu Rei," timpalnya sambil tersenyum sembari membelai Kepala Rei lembut.
Disaat itu pula Rei tersipu malu dan pipinya juga mulai merona kembali, dengan mata telanjang dia mengamati mata Tristan yg siap untuk menemaninya kapanpun dia butuhkan serasa bagai bermimpi bisa bertemu dengan orang sebaik dan setulus Tristan.
"Apa yg baru saja kau katakan Tristan?" tanya Rei ingin memastikan telinganya tidak salah mendengar dan dirinya tidak sedang bermimpi.
"Aku,,,,"
"Rei. ternyata kau disini, dari tadi aku mencarimu. buruan dong," sapa Gisele dari balik tembok.
"Ah! iya sel.... sebentar lagi aku datang," sahut Rei melirik Tristan yg terdiam.
"Jangan terlalu lama, ntar yg ketiga set*n. xixixi..." seloroh Gisele pula.
"Ya! kau orang ketiganya," membalas seloroh Gisele padanya.
"Dasar kau! buruan," celetuk Gisele berlalu pergi.
Tristan dan Rei saling menatap bersamaan setelah Gisele menghilang dari peredaran.
"Tristan, apa ada yg ingin kau katakan padaku?" tanya Rei kembali.
"Ehm... setelah ini kau akan kemana Rei?" balik bertnya dan tidak menjawab pertanyaan Rei malah melirik penuh keraguan.
"Tidak ada sih! memangnya kenapa?" jawabnya pula.
Sebenarnya Rei masih penasaran pada pertanyaan yg belum dijawab oleh Tristan, Apalagi seperti dengan sengaja mengalihkan topik lain.
"Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat, apa kau mau Rei?" tertunduk malu seakan tidak siap mendengar jawaban dari Rei.
"Boleh saja.... kemana?" seru Rei tersenyum melihat Tristan yg tak berani menatapnya.
"Apa benar kau mau Rei?" antusiasnya cepat angkat kepala terlihat wajah berseri.
"Sebahagia itu kah kau? memangnya kita mau kemana?" sarkasnya sembari mengulang pertanyaan.
"Rahasia," candanya mengedipkan mata dan meninggalkan Rei begitu saja.
Dasar anak ini !!! sama saja tingkahnya seperti Gisele. gumam Rei pelan.
Baru saja Rei tersadar bahwa Tristan menghilang begitu saja, dengan cepat dirinya menyusul langkah Tristan dibelakang yg sudah tertinggal jauh.
Ruang meja makan.
"Kalian lama banget sih! dari tadi dipanggilin juga," celetuk gisele melirik Rei tepat dibelakang Tristan terlihat merona.
Dari tadi wajah Rei merah terus ya! apa ada sesuatu yg membuat hatinya berdebar? tuduhnya dalam benak.
"Nona,tuan... silahkan nikmati hidangannya, kalau ada yg diperlukan panggil saja bibi ya..." ujar Bik Lis tersenyum ceria.
"Bibi mau kemana?" tanya Rei sambil meraih tangan Bik Lis.
"Bibi disini aja! sama kita," timpalnya pula terus menahan tangan Bik Lis.
"Gak non? bibi sudah tua.... tidak mungkin bibi bergabung sma yg muda," menolak secara lembut.
__ADS_1
"Bibi kan sudah menjadi bagian keluarga Rei, apa bibi sudah lupa?" tanya Rei mengernyitkan dahi.
Sekilas Tristan mendengar perkataan Rei yg terucap dari bibir indahnya seakan dia tak menduga gadis kecilnya sungguh berhati mulia dan tidak memandang rendah orang lain.
Haah.. semakin aku mencintaimu gadis kecilku!! batin Tristan dengan menumpu kedua tangannya tersenyum lembut memandang wajah rei.
Kenapa lagi anak ini ?! senyum sendiri, sudah kayak orang gak waras!! bener kan memang gak waras lelaki breng**k ini !! umpat Rian dalam hati.
"Rei... bik Lis mungkin berfikir gak pantes aja kalau berkumpul sama anak muda seperti kita" lagian disini tidak ada yg sebaya dengan bik Lis..." ujar Gisele memegang pundak kanan Rei.
"Begitu ya? baiklah... tapi bibi jangan lupa makan ya?" titah Rei pada Bik Lis.
"Iya non... bibi pamit dulu ya?" melepas tangan Rei perlahan pamit undur diri.
Bik Lis salah satu anggota keluarga bagi Rei. krna sedari melihat bik Lis dia sudah menganggap bik Lis orang terdekat baginya. mungkin saja kalau tidak ada bik Lis hidupnya seakan sepi jika sendirian berada dirumah besar.
Dimeja makan telah tersedia menu kesukaan Rei yg selalu bik Lis buatkan untuknya. Bubble and Squek terbuat dari kentang tumbuk rebus seperti kacang polong, wortel, kol. itu merupakan makanan favorit Rei sedari kecil. setelah itu ada juga sajian untuk semua teman Rei, seperti Puding Yorkshire,Pie and Mash dll.
Nyam-Nyam terdengar suara kunyahan saat menyantap makanan mereka dan menikmati secara bersama.
"Bukankah itu Bubble and Squek?" tanya Tristan sembari mengunyah.
"Bagaimana kau bisa tau? ini makanan...."
"Makanan favoritmu"
"Ah, ka - "
"Ekhem! Rei, apa aku boleh bertanya sesuatu?" sarkas Rian menyela pembicaraan mereka.
D**asar ulat bulu!! mengganggu saja kau!! batin Tristan sebal.
"Boleh... ada apa dokter Rian?" menoleh Rian sesekali melirik tristan.
"Ib...."
BLAM
"Akhh..."
"Ada apa dokter Rian? apa kau sedang sakit?" tanya Rei secara panik.
Lelaki breng**k ini kenapa menginjak kakiku sangat kuat, sialan kau akan kusuntik kau sampai mati !!!! batin Rian sangat jengkel.
Hahah... Salahmu menjadi temanku!!! batin Tristan kekeh.
Semuanya menatap Rian karna merasa kesakitan, tapi tidak untuk Tristan yg dengan santainya mengunyah terlihat sangat menikmati makanannya.
"Pak dokter tadi mau bertanya apa?" tanya Rei kembali.
"Ah, tidak ada? aku sudah lupa Rei mau bertnya apa...." timpal Rian merasakan sakit dipunggung kakinya.
"Heleh! gak jelas banget nih dokter gadungan," sambung gisele mengejek.
"Apa maksudmu," seru Rian mengernyitkan dahi.
"Noh! kamar mandi dibelakang!" celetuknya menunjuk kearah toilet.
Kenapa gadis ini berfikir aku sedang sakit perut? sama saja seperti Tristan yg gak waras ini !!! batin Rian mencibir.
Tiba-Tiba saja situasi tak terkendali malah terjadi.
PROOOOOOTTTT...
Semua mata tertuju pada Rian yg sedang membuang angin tanpa merasakan sakit terlebih dulu, ada apa dengan Rian mengapa dia jadi beneran sakit perut?
Oh tuhan... sambarlah aku dengan kilatmu agar aku mati ditempat!!! dimana wibawaku lagi sebagai dokter aku tak ingin hidup lagi.... menundukkan kepala tak berani mengangkatny krna sudah terlanjur sangat malu, alisnya bertautan,hanya bisa memejamkan mata dan terus memaki diri sendiri didalam hati.
PFFTTTT
Apa anak ini sudah gila?! buang angin disini!!! salahku membawa anak sial*n ini kerumah Rei. batin Tristan tertunduk menahan malu.
Semuanya menahan tawa terkecuali Tristan, seperti otot rahangnya sudah mengejang melihat tingkah temannya itu tampak juga sudut mata Tristan berkerut. bagaimana bisa Rian si ulat bulu menjadi temannya.
HAHAHAH... HAHAHHAHA...
Suara tawa terbahak tidak tertahan lagi oleh Leo, Liona, maupun Gisele. hanya Tristan dan Rei yg tidak tertawa.
__ADS_1
"Kan sudah aku bilang! kamu pergi ke toilet.... gak percaya sih? Buahahah...."
Gisele yg tertawa lebar hingga terbahak keluar air mata.
Rian tertunduk keringat dingin mendengar suara keras yg menertawakannya, ingin dia segera pulang memeluk guling kalau bisa minum racun sekalian. masih sempatnya Rian memikirkan hal itu disituasi memalukan.
"Gisele, udah ah! temani dokter Rian ke toilet. tunjukkan dimana tempatnya," pinta Rei menahan tawa tampak memaksakan senyumnya.
"Kok aku sih... kan ada liona?" cerocos Gisele sambil menyeka air mata yg keluar karna tawanya yg hebat.
"Kenapa jadi aku," protes Liona tidak terima jadi kambing hitam.
"Leo saja kalau gitu," timpal Liona menunjuk kearah Leo.
"Kok jadi aku sih liona? aku mana tau dimana tempatnya! aku juga baru kali ini kerumh Rei," omelnya menolak keras tak mau dilibatkan.
"Gisele. kamu bisa bertanya sama bik Lis didapur! ayo cepat," perintah Rei menolak tangan gisele.
"Yaudah, iya.... ah elah! bikin repot aja sih," merasa sebal pada akhirnya mengalah.
"Bisa jalan kan? apa perlu pakai kursi roda... Pfftt,,," cibirnya menahan tawa.
"Gisele? udah! hentikan candanya... jngan usilin dokter Rian lagi," menyela Gisele krna sudah tidak enak pada Tristan.
Gisele berlalu pergi dari meja makan sedangkan Rian melangkah cepat mengikuti Gisele dibelakang terlihat penuh keringat diarea wajahnya.
Sampailah mereka untuk mendatangi bik Lis.
"Bik...." panggilan Gisele kearah dapur.
"Ada apa non?" sahut Bik Lis keluar dari kamarnya yg tidak jauh dari arah dapur.
"Toilet dimana bik?" tanya Gisele pula.
"Ah. kok non Gisele bersmaan dengan tuan ini? apa,,," menghentikan pertnyaannya krna dia melihat lelaki itu sudah tertunduk keringatan.
"Dia yg mau ke toilet bik! bukan Gisele," sarkasnya memberi isyarat mata.
"Oh... sebelah sini non Gisele," bergerak pergi menuju arah toilet.
Mereka pun mengikuti langkah bik Lis dari belakang.
"Ini toiletnya non... bik Lis tinggal dulu ya non? bibi balik kedapur lagi," ujar Bik Lis membungkuk pelan.
"Udah! masuk sana? apa mau aku temani juga sampai kedalam..." tuduh Gisele sudah sebal melihat tampang Rian.
Sepertinya ada sesuatu yg bergerak dileher Gisele.
Aaaarrgghhh
"Laba-laba dileherku... " teriak Gisele menggeliat ketakutan.
"Awas..."
Gedebug
Apa?! kenapa aku gak merasakan sakit ya?kenapa kepalaku rasanya ada yg menahan?! ternyata....Gisele membuka matanya perlahan.
"Kamu gak papa?" tanya Rian masih memandangi wajah gisele dari jarak 1cm.
Hidungnya dan hidung Gisele saling bersentuhan, dan tatapan yg sangat tajam dari mata Rian seakan tidak berkedip sedikitpun.
"Kau mau berapa lama lagi menindihku! Dasar bajingan!" gaduh gisele memaki Rian.
BUUGHH
"Akh! kau," pekik Rian.
"Rasain tuh! sakit kan tuh kepala! makanya... jngn ambil kesempatan dalam kesempitan," ejeknya meninggalkan Rian dengan berlari cepat.
Dak Dig Dug
SEERRR... 100% gula darah naik.
Kenapa jantungku berdetak hebat gini !!! aaahhh gak bener ini !!! udah gila apa dia?!pria bajing*n !!! gumam Gisele mengelus dadanya yg sempat sesak.
......................
__ADS_1
Bersambung...