Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
KASUS TERKUAK


__ADS_3

☘️☘️☘️☘️


Setelah Maria menyelesaikan aksinya pada Ardi, dia pun mengangkat Ardi untuk duduk kembali di kursi memakai satu tangannya. darah Ardi tampak menetes berceceran di lantai sehingga Maria terpaksa mengeluarkan sepotong kain yg sudah kian ada di dalam saku bajunya.


Maria membersihkan ceceran darah tersebut supaya tidak mengundang perhatian petugas.


Puk


Belinda melempar sekotak tisu tepat di atas meja ruangan yg sudah tersedia.


"Kau basuh darah mu itu! jangan ada sisa darah sedikitpun, karna aku tidak ingin petugas curiga dengan tampang kau yg begini," lontar Maria sambil menatap tajam Ardi.


Sejenak Ardi melirik Maria penuh rasa amarah namun dia tidak bisa berbuat banyak atau membalas perbuatan Maria, dirinya hanya mengikuti semua perintah Maria.


Sial!! kenapa wanita begitu kuat!! siapa dia sebenarnya?!! batin Ardi di penuhi rasa kejengkelan karna dirinya kalah dengan seorang wanita.


"Aku tau isi kepalamu! jangan kau berfikir aku wanita yg mudah di tindas dengan lelaki bia*ab seperti kau!!" berang Maria masih tampak kesal melihat tampang Ardi.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Ardi memberanikan diri.


"Apa kau penasaran? apa kau yakin ingin tau siapa aku?" jawab Maria pula.


"Ya, aku ingin tau siapa kau sebenarnya! kenapa kau berusaha membantu wanita mura*an itu!!" dengus Ardi membuat Maria mengepalkan tangannya.


Saat Ardi berkata demikian, Maria tidak bisa menahan amarahnya lagi. belum cukup perbuatan Maria yg sudah membuatnya terluka, bahkan lelaki itu sanggup menyinggung bik Lis di depan Maria.


"Kau berani berkata seperti itu di depan ku!!" cekik Maria hingga Ardi mengerang kesakitan.


"Ukh, a- ampun..." pekik Ardi menahan sakit.


"Kalau bukan karna Lis memohon untuk tidak membunuhmu, mungkin sekarang kau sudah mati di tanganku! jangan pernah kau menyebut Lis wanita mura*an!! apa kau paham?!" bentak Maria dengan geram namun tetap mencekik Ardi.


"Ya, ya, aku janji. tolong lepaskan tanganmu!!" hentak kaki Ardi tampak sulit bernafas.


BUGH


Ardi terjatuh saat Maria melepaskan tangannya dari leher Ardi.


"Kau tetap di sini, jangan pernah berkata apapun selain perbuatan yg kau lakukan! apa kau mengerti ucapanku?!" titah Maria memegang kuat dagu Ardi yg sudah kembali duduk dengan susah payah.


"Ya, a- aku mengerti," patuh Ardi merasa takut dengan mata Maria yg sesekali berubah warna.


"Bagus!!" ucap Maria langsung bergerak keluar untuk memanggil bik Lis.


BLAM


Suara pintu yg membuat Ardi terkejut karna maria sudah membuatnya tidak berkutik.

__ADS_1


"Pak, saya menemukan bukti dari tersangka bernama Ardi, bapak boleh merekam percakapannya dan itu menjadi kunci untuk menangani kasus yg sudah tertutup lama," lontar Maria mendekati meja petugas.


"Baik! saya akan mengambil sebuah rekaman, mohon di tunggu," balas petugas itu bergerak cepat.


Sebelum petugas itu kembali, Maria menghampiri bik Lis juga Belinda yg sudah menunggu di luar.


"Lis, sekarang kau bisa berbicara pada suami mu, kau akan menemukan kebenaran atas pembunuhan putri mu selama ini," kata Maria saat sampai di tempat mereka menunggu.


"Nyonya, apa maksud anda?" tanya bik Lis merasa heran.


"Kau akan menemukan jawaban dari mulut suami mu sendiri," ucap Maria lagi dengan serius.


"Apakah sudah di temukan siapa dalangnya nyonya?" tanya Belinda ikut bicara.


"Biarlah suaminya sendiri yg berbicara, aku hanya cukup membantu saja," jawab Maria melirik bik Lis yg tengah tertunduk.


"Lis, kau jangan pernah menundukkan kepalamu di depan suami mu! kau harus menunjukkan padanya bahwa kau kuat! tidak lemah seperti yg dia katakan," tegas Maria pula menghentak batin bik Lis.


"Baiklah nyonya," sambut bik Lis langsung menegakkan kepalanya merasa ada dorongan kuat dalam dirinya.


"Nah, kalau begitu kau ikut aku! karna dia sudah menunggu," ucap Maria lagi langsung bergerak dari perbincangan mereka.


Bik Lis dan Belinda mengikuti langkah Maria dari belakang dengan saling memandang satu sama lain.


Belinda melirik bik Lis yg sudah terlihat berkeringat saat berjalan di sebelahnya, sesekali Belinda mengelus punggung bik Lis dengan perlahan. dan memberikan senyum cerianya sehingga rasa takut itu hilang dalam sekejap. bik Lis merasa ada yg siap melindungi di belakangnya, yaitu semua orang yg baru saja dia kenal. rasa tentram muncul di dalam hatinya di saat itu.


Beberapa detik kemudian.


Maria kembali menghampiri meja petugas yg sebelumnya dia datangi dengan membawa Belinda juga bik Lis.


"Pak, saya ingin meminta waktu sedikit! ini istrinya, yg ada di dalam itu adalah suaminya sendiri. suaminya ingin memberikan kebenaran tentang kasus yg lama di tutup! mohon kerjasamanya," ungkap Maria tampak berdiri tegas.


"Baikalah!" turut petugas itu sambil membawa sebuah rekaman untuk menjadi bukti pembicaraan Ardi nantinya.


Saat petugas itu membuka ruangan kosong yg sudah di tunggu oleh Ardi, bik Lis di biarkan masuk atas permohonan dari Maria.


Tetapi untuk petugas, Maria dan juga Belinda hanya berdiri melihat dari kaca yg bisa menembus ruangan untuk menyaksikan dari jarak jauh.


Bik Lis memberanikan diri untuk mendekati Ardi yg kian tunduk ketakutan melihat tatapan tajam dari Maria. seolah dirinya sama sekali tidak bisa berbuat banyak.


"Ardi, apa kau makan dengan baik di sini?" tanya bik Lis kian duduk di depan Ardi.


Karena masih perbincangan yg hangat petugas tidak menyetel alat perekam itu, kalau sudah di singgung masalah kasus sebenarnya barulah petugas merekam kebenaran dari mulut Ardi sendiri.


"Ya, terimakasih kau sudah melihatku di sini," jawab Ardi masih tertunduk kaku.


"Apa kau bahagia di sini?" tanya bik Lis merasa hatinya tertusuk duri melihat Ardi yg lebam di bagian wajah tampak lesu.

__ADS_1


"Ya, aku bahagia! begitupula denganmu, pasti kau bahagia karna aku tidak menggangu mu lagi," ucapnya masih tertunduk tidak melihat bik Lis sama sekali.


"Kita sudah berumah tangga begitu lama, apakah tidak ada sedikit harapan untuk kau bisa berubah seperti dulu lagi?" tanya bik Lis masih menatap pilu.


"Tidak! aku lebih baik di sini daripada di luar yg hanya menyulitkan mu," jawabnya pula.


"Aku sudah memaafkan mu! sekarang kau katakan, apa yg telah kau perbuat dengan anakmu sendiri?" tanya bik Lis sambil memberi isyarat tangan supaya petugas merekam pengakuan dari Ardi.


Maria dan Belinda hanya menatap dari jauh saja, biar bik Lis mengetahui yg sebenarnya.


Petugas pun menyetel alat perekam yg sudah dia bawa. Ardi melirik Maria seketika saat itu pula Maria merubah warna matanya. Ardi kian tunduk kembali seakan sulit bernafas jika melihat pancaran mata dari Maria.


"Silahkan," ucap petugas setelah selesai mengerjakan tugasnya.


"Awalnya aku tidak ingin berbuat hal yg bisa melukai putri kita, tapi aku tidak punya pilihan lain lagi," ucapnya sambil tertunduk menahan rasa takut karna perbuatannya.


"Apa yg telah kau lakukan?" tanya bik Lis menahan amarahnya.


"Aku bermain judi, karna kalah aku membiarkan teman judiku untuk mengambil taruhannya," katanya pula.


"Kau mempertaruhkan putri kita?" kesal bik Lis mengepalkan kedua tangannya di meja.


Ardi hanya manggut krna terlihat takut dengan tatapan Maria yg masih mengarah padanya.


"Kau jangan hanya mengangguk saja! katakan, apa kau mempertaruhkan anak kita?" hentak bik Lis memukul meja dengan keras.


"Ya! aku sudah pusing karna kalah judi, aku tidak punya uang lagi. makanya aku menyerahkan Mona pada temanku yg mengalahkan aku!!" ucapnya dengan suara yg terdengar jelas hingga mendengungkan telinga bik Lis.


"Setelah itu, apa lagi yg dia perbuat? kenapa anakku bisa mati?" hentak bik Lis menatap tajam penuh kebencian.


"Aku bilang terserah mau melakukan apapun, asal dia tidak membunuhku! kalau tidak aku bisa mati di tangannya," balasnya pula terlihat tidak bersalah.


"Lebih baik kau mati saja! dasar lelaki picik, licik,jahat! kau pantas mati Ardi, kau pantas matiiii," amuk bik Lis menjambak rambut Ardi sekuat tenaga dan tidak ada perlawanan dari Ardi hingga menggerakkan petugas dan juga Maria sesaat langsung masuk ke dalam ruangan.


"Tenangkan dirimu Lis, biarkan hukum yg berjalan," tutur Maria memegang tubuh bik Lis yg sudah mengamuk tidak sadar lagi.


Belinda menatap wajah Ardi dengan rasa muak, karna seorang ayah tega berbuat demikian pada putrinya sendiri.


Rintihan tangis bik Lis berdengung di telinga Ardi dan petugas pun mematikan rekaman itu sambil membawa Ardi balik ke dalam sel.


Saat berjalan keluar ruangan mereka bertiga duduk di sebuah kursi yg sudah tersedia.


"Tenanglah Lis, kau harus kuat! dan kau harus bisa melepas anakmu, dia anak surga Lis, anak yg tidak berdosa! ini bukan kesalahanmu, kau layak bahagia Lis," bujuk Maria saat bik Lis bersender di atas bahunya.


Belinda turut sedih dengan kejadian yg menimpa bik Lis, dirinya ikut merasakan bagaimana perasaan seorang ibu yg di tinggal mati anaknya karna perbuatan suami sendiri. Belinda sesekali mengelus punggug bik Lis agar sedikit tenang.


................

__ADS_1


__ADS_2