
☘️☘️☘️
Menjelang dua hari tepat dimana bik Lis masih berjuang untuk sadar kembali. Haikal dan Belinda tidak tau harus berbuat apa. mereka hanya berdua saja di rumah tidak mampu membopong bik Lis untuk ke rumah sakit, pada akhirnya mereka merawat bik Lis dari rumah saja. dengan berbagai alat yg kian terpasang di tubuhnya.
Terutama Ricky yg tidak kelihatan batang hidungnya. mungkin sudah bermeditasi di gua. itulah pikir Belinda mengingat Ricky yg belum juga menampakkan wujudnya.
Awalnya Ricky memang berniat ke rumah Belinda sehabis dari kantor polisi. tetapi dia mendapatkan telepon dari seseorang yg sangat penting. makanya dia ulurkan niat itu untuk kembali. apalagi dirinya lupa memberikan nomor telepon pada Belinda. sudah pasti mereka tidak mengetahui kabar dari Ricky.
Belum lagi Maria, yg tengah sibuk mengurus Tristan dan tanaman hias yg dilakoninya, sangking banyaknya pesanan sehingga Maria tidak punya waktu senggang. tetapi, mereka berkata akan menjenguk bik Lis kalau ada waktu luang. mereka hanya memberikan doa dari jauh supaya bik Lis cepat pulih.
Dokter mengatakan bik Lis koma beberapa saat, dikarenakan bik Lis tidak bisa makan dan minum melalui mulut. perawat memberikan nutrisi melalui selang infus. sekujur tubuh bik Lis terasa dingin, sesekali dia mengalami kejang yg tak beralasan. sama sekali dokter tidak bisa menyimpulkan penyakit yg diderita oleh bik Lis. hanya saja dokter meminta kerabat mendoakan kesembuhan bik Lis.
Belinda begitu sedihnya melihat kondisi bik Lis saat ini, dia hanya bisa tertunduk lemas mengingat kesalahannya menegur bik Lis kemarin. andai saja dia berkata lembut seperti biasanya, mungkin bik Lis tidak sesakit itu. pemikiran Belinda semakin hari semakin kalut terus menyalahkan dirinya.
Pagi hari sekitar jam sembilan.
"Bel, aku berangkat kerja dulu," tegur Haikal mendekati Belinda yg kian duduk di samping bik Lis.
Belinda anggukkan kepala tidak berbicara.
"Kau tidak boleh seperti ini, kau juga harus jaga kesehatan! bagaimana kalau nantinya kau juga sakit?" protes Haikal dengan menumpukan kedua kakinya menatap tegas Belinda.
"Aku baik-baik saja," ucap Belinda mengalihkan wajahnya ke arah bik Lis.
"Lihat aku!" cakap Haikal langsung memegang dagu Belinda.
"Bik Lis pasti kuat! kau juga harus kuat, tidak boleh begini terus," sambungnya lagi.
Belinda menepis tangan Haikal pelan.
"Kau pergilah, aku ingin sendiri," kata Belinda membuat Haikal enggan berangkat kerja.
"Apa kau yakin mau sendiri? atau aku cancel meeting hari ini dengan klien?" tanya Haikal menaikkan satu alisnya.
"Jangan! kau harus tetap pergi, aku bisa urus diriku! kumohon, biarkan aku sendiri," keluh Belinda tertunduk lesu.
"Baiklah! aku akan memberikan waktumu sendiri, tapi ingat! kalau makanan mu tidak kau sentuh, aku akan marah padamu," titah Haikal tampak tegas membuat Belinda mengerutkan keningnya.
Belinda hanya manggut tidak menampakkan wajahnya. di balik itu Haikal tersenyum kecil melihat istrinya begitu perhatian terhadap orang lain. walau dibalut kesedihan pun ia tetap menyiapkan sarapan Haikal, menyiapkan baju, tanggung jawab sebagai istri tidak pernah ia lupakan. dia juga yg mengurus keadaan rumah semenjak bik Lis tidak sadar.
Chup
Kecupan dari Haikal terdengar jelas di telinga Belinda. sebelum dirinya melangkah pergi, saat Haikal bangkit Belinda masih saja menatap sendu wajah bik Lis.
Haikal tidak ingin bertnya lagi, akhirnya dia pergi dan mengelus rambut Belinda sesekali. Haikal melenggang keluar pintu kamar sambil menoleh ke arah Belinda. sekilas Haikal memperhatikan Belinda dari balik sela pintu karna tidak ada reaksi dari Belinda. Haikal pun menutup rapat pintu itu.
Sesaat setelah Haikal berlalu pergi, barulah Belinda menatap ke arah pintu dengan mata yg sudah berkaca-kaca. alis yg saling bertautan, bibir mulai berkerut.
"Hiks , Hiks..." rintihan tangis Belinda yg sudah sejak tadi ia tahan akhirnya keluar juga, ia mendekap wajahnya dibalik tubuh bik Lis.
Dirinya tidak tau harus berbuat apalagi selain menangis krna melihat kondisi bik Lis saat ini. wajah bik Lis yg sedikit kurus, warna kulit tampak pucat, mata yg terus tertutup, bibir yg begitu kering.
Hanya menangis yg dapat meringankan rasa penat setelah beberapa hari bik Lis berbaring lemah. biasanya bik Lis selalu ada disamping Belinda, memberikan semua yg Belinda butuhkan untuk menjaga kandungannya. bik Lis lebih memperhatikan Belinda daripada Haikal yg terus sibuk di kantor. namun, tidak untuk saat ini. Belinda lah yg menemani bik Lis Sampai sadar. itulah tekadnya yg kuat.
__ADS_1
Sehabis menangis, Belinda terpejam tidak sadarkan diri. karena kelelahan mengeluarkan air mata, ia merasa sendirian di dalam rumah besar itu tanpa kehadiran bik Lis. Belinda tertidur di lengan bik Lis dengan suasana yg hening.
...°°°°...
Kantor utama Gran Cord.
Tok Tok
"Masuk!" sahut Haikal dari ruangannya.
Seorang karyawan bernama Rasel tengah membuka pintu setelah mendapatkan aba aba dari Haikal. ia tampak memegang sebuah berkas hasil meeting bersama klien beberapa hari lalu.
"Pak, saya ingin menyampaikan sesuatu," kata Rasel gemetaran memegang berkas yg ada ditangannya itu, takut kena sembur Haikal.
"Apa yg kau pegang?" tanya Haikal sambil melepaskan kaca matanya yg sebelumnya terpasang dan sejenak meninggalkan pekerjaanya.
"I - ini berkas penolakan dari klien kita pak," cakapnya sambil gugup bukan kepalang melihat lontaran mata Haikal yg tajam.
"Berikan pada saya," sungut Haikal mulai memainkan jemari tangannya meminta berkas itu.
"Mohon dilihat pak," turut Rasel pula terasa sempoyongan menghadapi Haikal.
Setelah berkas itu berada di tangan Haikal. terlihatlah aura yg begitu menyeramkan seakan seisi ruangan itu terasa melayang ke udara. Haikal masih terdiam mengamati berkasnya yg membuat dirinya sakit kepala membacanya.
"Brak!! Apa apa-an ini?! bagaimana caranya data kita untuk klien bisa bocor begini?! bagaimana cara kerja kalian!! ha?! ini klien lama kita!!" bentak Haikal merasa diambang kemarahan memuncak dan melemparkan berkas itu di atas mejanya.
"Ma... ma- maf pak! kami juga tidak menduga data yg kita berikan sama persis dengan perusahaan lain," jawabnya kelabakan penuh keringat bercucuran.
"Kerjakan tugasmu!!" titah Haikal membuat Rasel sontak kaget dan berpamitan membungkukkan badannya bergegas keluar dari ruangan Haikal.
Saat Rasel berlalu pergi, Haikal menghempaskan tubuhnya duduk di kursi dengan amarahnya yg masih membludak.
"Haaahh... kalau saja ada Belinda, ini pasti tidak akan terjadi, ya! aku harus segera cari sekretaris yg profesional menggantikan sementara posisi Belinda! kalau tidak perusahaan ini akan hancur," keluh Haikal tampak resah menghadapi masalahnya semenjak Belinda resign dari kantor krna hamil.
Tok Tok
"Baik! saya akan keluar," sahut Haikal sambil membawa berkas yg diberikan Rasel tadi.
Kriet
"Pak, semuanya sudah berkumpul di ruang rapat," ucap Rasel pula yg sama sekali tidak berani menatap mata Haikal.
"Ikut saya!!" titah Haikal melenggang ke arah ruang rapat dengan gagahnya membawa berkas ditangannya.
Sesampainya di ruang rapat.
"Selamat siang pak," sambut para karyawan dengan hormat.
"Siang! kalian semua duduklah," lanjut Haikal pula merasa jengah dengan masalah besar itu.
Semua karyawan duduk di posisi masing masing, mereka terdiam saat Haikal memperhatikan dengan tatapan tajamnya. para karyawan tidak punya mental untuk menatap wajah Haikal yg terlihat sangar bagai seekor singa yg ingin menerkam kapan saja.
"Apa kalian tau masalah yg ada saat ini?" tanya Haikal membuka suara dengan lantang mengamati reaksi karyawan satu persatu.
__ADS_1
Semuanya tertunduk takut tidak menjawab lontaran dari Haikal.
"Kenapa diam?! jawab!!" hentak Haikal memukul meja dengan keras.
"Maaf pak, ini sudah kelalaian saya! harusnya saya mematikan laptop saya pak," lontar dari seorang karyawan yg membuat data yg diberikan oleh Haikal.
"Bawa cctv ke ruangan ini. cepat!!" lontar Haikal dengan mendengus tampak begitu mengerikan.
Tentu saja Rasel dan segenap karyawan lain tidak bisa berbicara melihat Haikal yg begitu marah.
"Rasel, kenapa kau terdiam?! pergi keluar! ambilkan cctv di kantor ini," ucap Haikal begitu murkanya.
"Ba... baik pak! akan saya ambilkan," patuh Rasel langsung berdiri dari kursinya dan berlari cepat membuka ruang pintu dan menutupnya kembali.
Haikal melipat kedua tangannya di kening, begitu terlihat frustasi karna karyawannya bisa begitu lalai dalam menjaga data yg dia berikan.
Beberapa menit kemudian.
Krek
"Pak! ada yg ingin bertemu bapak," ucap Rasel sambil menenteng salah satu laptop yg dia ambil dari ruangan cctv.
"Saya sedang rapat! jangan ada yg mengganggu!!" berang Haikal terlihat kesal dengan berdiri dari kursinya menggenggam tangannya di atas meja.
"Tapi pak," protes Rasel pula.
"Apa kau tidak dengar?!" lontar Haikal penuh penekanan.
"Kau yakin tidak ingin bantuan ku?" tanya seorang wanita yg membuat Haikal terpelongo.
"Kau?" ketus Haikal merasa tidak menduga seorang wanita bisa masuk ke dalam kantornya.
"Ya! ini aku," lanjutnya dengan nada santai dan melangkah masuk ke ruangan. terdengar pula suara ketukan sepatu haihils yg dia kenakan.
"Kita bertemu lagi," ucapnya dengan memegang dagu Haikal. melontarkan senyum kecil. membuat para karyawan menganga menyaksikan semua itu.
............
Bersambung....
...TETAP STAY TUNED...
...IKUTI TERUS KISAH OTHOR YG PENUH KEHALUAN INI😄🙏🙏...
JANGAN LUPA LIKE,FAV,KOMEN,RATE 5
...RIDER OTHOR YG SETIA BAIK HATINYA🙏🥰😍...
...TERUS DUKUNG NOVEL KECE OTHOR...
...SALAM HANGAT 🙏🙏...
__ADS_1