Vampir Yang Sangat Lembut

Vampir Yang Sangat Lembut
PERDEBATAN


__ADS_3

☘️☘️☘️


Haikal kini masih terus berusaha mengingat sebenarnya ada kejadian apa waktu itu sebelum dirinya pulang ke rumah. namun, ingatan itu masih saja samar tidak terlalu jelas. berulang kali ia mengurut keningnya dengan rasa gelisah.


.


.


.


"Apa ada yg tuan fikirkan?" tanya Ricky memberanikan diri untuk bicara karena sedari tadi kegelisahan Haikal terlihat begitu jelas.


"Aku masih saja berfikir, ada apa denganku? kenapa aku bisa sampai mabuk saat pulang," lontar Haikal menekan pelipis matanya.


"Apakah sama sekali tuan tidak ingat?" bertnya lagi yg tampak serius menyetir mobil.


"Aku cuma mengingat saat bersama Fidya di resto bertemu klien, lainnya aku masih belum ingat," imbuh Haikal pula dengan menaikkan kedua bahunya.


"Tuan bisa bertanya pada sekretaris yg ada disamping tuan saat itu," sesekali Ricky menoleh pada Haikal yg terlihat sangat gelisah.


"Sepertinya dia tidak akan berkata apapun jika aku bertanya." Haikal menatap bangunan yg memenuhi ruas sisi jalan tanpa melihat Ricky.


"Kenapa begitu? bukankah dia lebih mengetahuinya?" lontaran pertnyaan Ricky membuat Haikal semakin kesal jika membicarakan tentang Fidya.


"Sudahlah! aku tidak ingin membahas wanita itu," celetuk Haikal.


Ada apa dengan mereka?? kenapa seperti terlihat begitu kesal setelah aku membicarakan sekretarisny!! batin Ricky menoleh pada Haikal yg membuatnya penasaran.


Saat lontaran Haikal terakhir, Ricky pun tidak bertanya apapun lagi, karena dia bisa merasakan suasana hati Haikal yg terlihat tidak baik. makanya Ricky hanya fokus menyetir saja dengan begitu tenang.


Beberapa saat kemudian.



Berhentilah sebuah mobil Royce Wraith berwarna biru tua yg berhenti di parkiran depan kantor Grand Cord London. Yap, itu mobil Ricky yg dia beli hasil kerja kerasnya selama beberapa bulan ini, ia berusaha mengembangkan supermart peninggalan kedua orangtuanya. kini Ricky hidup kecukupan tidak lagi bergantung pada orang lain.


Sungguh membuat semua para remaja di kampusnya membuat iri dengan kegigihan Ricky, ia mampu berusaha tanpa campur tangan oranglain dan dia juga sangat cerdas memiliki otak yg begitu encer.


Belinda dan Haikal belum mengetahui kalau Ricky adalah seorang lelaki yg pintar juga memiliki kelebihan tersendiri melebihi orang lain pada umumnya. karena Ricky belum mengatakan apapun pada mereka, tentang dirinya.


Ricky membuka salt beltny begitupula dengan Haikal yg tampak terburu buru keluar secara sigap. Ricky begitu aneh melihat sikap Haikal yg tidak bisa lebih tenang, entah mengapa Ricky menjadi penasaran sehingga dia mengikuti kecepatan Haikal pula.


"Tuan, apa saya ikut masuk?" tanya Ricky setelah mereka keluar dari mobil.


"Tentu, kau juga harus masuk," ajak Haikal pula melangkah deluan dari Ricky.


Saat yg bersamaan, Ricky mengejar Haikal dari belakang. ia celingukan melihat suasana depan kantor Haikal yg begitu banyak bangunan tinggi ternama. belum pernh Ricky mengunjungi kawasan itu sehingga dia berjalan sambil memperhatikan sekelilingnya.


Tibanya mereka memasuki kantor, Ricky yg hanya memakai kaus oblong putih dan celana Jogger itu tampak seketika malu menatap dirinya sendiri. tetapi apa boleh buat, karena Haikal begitu tergesa mengajaknya ke kantor sehingga dia tidak memiliki waktu untuk berganti pakaian dahulu. lain hal dengan Haikal yg begitu rapi dalam berpakaian.


Dasar Ricky!! kau memalukan !! batinnya sendiri mencibir dengan menepuk jidatnya.

__ADS_1


Disaat Haikal melangkah dengan cepat dari kejauhan ia melihat para karyawannya bergerombol menutupi ruang pribadi miliknya. begitu tampak jelas raut wajah Haikal semakin cemas.


Terdengar pula suara saling berbisikan satu sama lain, terasa memenuhi kantor saat itu.


Tentu saja Ricky bingung dengan situasinya, ia terus memperhatikan dari kejauhan saja karena masih belum terbiasa dengan suasana kantor.


"Apa yg kalian lakukan di sini?" tegur Haikal dengan salah satu karyawannya.


"A.. anu pak! di dalam ada nyonya dengan nona Fidya," sahut Rasel sejenak mendengar teguran dari Haikal tepat di belakangnya dan cepat menepi dari Haikal.


"Apa kalian tidak punya pekerjaan lain? di kantor ini bukan tempat untuk bergosip!!" senggak Haikal mulai merasa marah melihat para karyawannya.


"Maafkan kami pak," bungkuk mereka secara bersamaan dan berlomba lomba pergi dari hadapan Haikal sangking takutnya melihat aura dari Haikal.


Ketika semuanya sudah kembali, Haikal membuka pintu ruangannya dengan cepat. saat yg bersamaan Ricky berlari mendekati Haikal karena ia juga ingin masuk kedalam.


Ceklek


Keduanya langsung menatap kedatangan Haikal. Belinda sudah berlinang air mata, sementara Fidya tertawa kecil dibalik wajahnya yg jahat.


"Ada apa Bel-"


Plak


Suara tamparan yg menggelar memecah keheningan ruangan itu.


Belum selesai Haikal berbicara tetapi tangan Belinda sudah melayang ke pipi Haikal.


Ricky yg berada di situ merasa tercengang melihat perbuatan Belinda dan menyaksikannya dengan jelas kalau Belinda begitu terlihat marah.


"Karna kau pantas! kau pantas mendapatkannya!!" hardik Belinda sambil menyeka sisa air matanya sambil menunjuk didepan wajah Haikal.


"Bel, ada apa denganmu?! tolong jelaskan? aku tidak mengerti sama sekali?!" lontar Haikal membujuk Belinda yg diambang kemarahan, ia berusaha memegang tangan Belinda namun langsung di tepis.


"Ricky! aku mau pulang, kau bisa antarkan aku?!" Isak tangis Belinda terdengar sampai ke telinga Haikal saat itu.


Dari kejauhan ia melihat Fidya duduk di sofa dengan begitu santai sambil menikmati secangkir teh hangat yg dibuatkan Rasel.


"Belinda! tunggu dulu, kau bisa jelaskan? sebenarnya ada apa ini?!" bujuk Haikal merasa bingung dengan sikap Belinda yg begitu marah padanya.


Tap Tap


Belinda melangkah ke arah Fidya dengan begitu cepat.


"Kemarikan ponsel mu!!" cetus Belinda.


"Untuk apa meminta ponselku?" tanya Fidya pula sambil meneguk teh miliknya.


"Apa kau tidak dengar? kemarikan ponsel mu!!" berang Belinda terlihat mengepalkan tangannya.


"Nah! cepatlah, aku masih ada urusan," imbuhnya pula.

__ADS_1


Belinda pun langsung merampas ponsel itu dari tangan Fidya setelah ia memberikannya.


Ia berjalan mendekati Haikal kembali dengan membawa ponsel yg sudah ia ambil ditangan Fidya.


Sementara itu, Belinda mencari sesuatu yg ditunjukkan pada Fidya melalui ponsel miliknya, ia tampak serius mengutak Atik ponsel itu dengan cepat.


Baik Ricky maupun Haikal begitu bingung dengan sikap Belinda yg sudah mengamuk tiba tiba.


Tetapi Ricky masih ingin melihat situasinya saat itu, ia melihat Fidya dari jauh yg begitu santainya terlihat seperti tidak ada kejadian apapun.


Bagaimana bisa seorang wanita enaknya duduk meminum secangkir teh?!! pasti ada yg tidak beres ini?!! batin Ricky menatap tajam Fidya yg sama sekali tidak terbawa suasana.


"Apa kau butuh kejelasan dariku lagi setelah melihat ini?!" teriak Belinda dengan begitu geram.


Yap, sebuah video yg menunjukkan Haikal sedang berada di atas ranjang bersama seorang wanita. ya, wanita itu jelas orang yg mereka kenal. apalagi begitu dekat dengan Belinda.


"Ambarita Januarta!! itulah wanita yg ada didalam video ini?!" serang Belinda lagi dengan murkanya.


"A... apa apaan ini?! aku tidak tau menahu dengan video ini?!" betapa terkejutnya Haikal menyaksikan dirinya ada didalam video itu sudah bertelanjang dada.


"Apa yg sudah kau lakukan padaku Fidyaaaaa...." teriak Haikal pula begitu marahnya sehingga seisi ruangan menggelegar suaranya.


Berniat menghancurkan ponsel itu dari tangan Belinda, tetapi Fidya sudah merampasnya deluan. begitulah kecepatan Fidya sebelum Haikal bertindak lebih jauh.


"Apa kalian sudah puas melihat video ini?! aku ingin pergi, ada urusan," santainya pula sambil memasukkan kembali ponselnya kedalam tas.


Betapa geramnya Haikal saat itu, amarahnya seperti tidak dapat ia tahan lagi.


"Aaaa... dasar wanita gila!!" masih bergerak ingin memukul Fidya, Ricky langsung menghentikan langkah Haikal pula.


"Tenang tuan! tidak ada gunanya tangan tuan mengotori wajah wanita seperti dia," seketika tangan Haikal ditahan oleh Ricky ia juga bisa merasakan kesedihan dari Belinda saat itu.


"Kau siapa lagi? berani ikut campur," cetus Fidya menyilangkan kedua tangannya dibawah dada.


"Aku keluarganya?! apa kau bermasalah dengan itu?" tegas Ricky melangkah maju dari Haikal.


"Hmh... kau bukan jadi penghalang untukku! dasar sampah," cibirnya dengan menghina Ricky karna ia melihat pakaian Ricky saja tidak ada rapinya.


"Ckck," decak Fidya bergeleng kepala melihat Ricky dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


"Udara serasa pengap! aku pergi dulu, berhati hatilah, kalau suasana hatiku tidak baik. maka video berdurasi 5 menit, akan tersebar di akun sosial media malam ini," kekeh Fidya pula dengan melambaikan tangan.


Belinda hanya terisak di sudut ruangan Haikal. tak dapat Haikal pungkiri jika itu emng benar dirinya. tetapi ia masih bingung kenapa dia bisa ada didalam video itu. bagaimana caranya Fidya menjebak dirinya.


Dari kejauhan tatapan Belinda begitu tajam mengarah pada Fidya yg baru saja keluar dari ruangan itu, dan tidak berapa lama ia menatap Haikal dengan rasa kecewa. antara percaya dan tidak tetapi hatinya saat ini teramat sakit.


Ricky yg melihat keadaan Belinda dan Haikal berjarak seperti itu, terlihat sangat prihatin dan akan bisa merusak hubungan mereka kalau dirinya tidak bisa berbuat sesuatu.


Tentu saja, Ricky adalah bagian keluarga mereka. ia mengepalkan tangannya dan bertekad untuk memberi pelajaran pada Fidya. Ricky bergegas dari tempatnya dan mengejar Fidya yg sudah berlalu dari mereka. begitu cepatnya ia berlari tak ingin kehilangan jejak sedikitpun.


...........

__ADS_1


Bersambung..



__ADS_2