
πΊπΊπΊπΊ
Flash back 10 tahun lalu.
"Bu... kita mau kemana?" tanya Rei yg telah menggandeng seorang wanita.
"Kita mau pergi jalan-jalan," ucap wanita itu pada Rei.
"Belinda! kau mau kemana? bukankah aku sudah mengatakan kalau besok adalah hari pernikahanku yg sudah kita bicarakan jauh sebelumnya?" tanya lelaki itu padanya setelah keluar dari pintu rumah.
"Aku tidak akan lari, kau jangan cemaskan aku yg hanya membawa Rei keluar sebentar!" sarkasnya pula.
"Aku akan antarkan kau pergi," timpal lelaki itu yg tak lain ialah ayah dari Rei.
"Tidak perlu! aku bisa pergi dengan Ricky," hikmad wanita itu.
Seorang wanita bernama Belinda ialah ibu kandung dari Rei, wanita itu sudah berusia 40 tahun sedangkan umur sang suami hanya berselisih sekitar lima tahun, namun wajah mereka tidak dapat dibedakan karna masih terlihat awet muda diusia yg sudah semakin senja.
"Aku akan antarkan kemanapun kau pergi. aku tidak tenang kau pergi malam hari begini," timpalnya menahan lengan sang istri.
"Apa kau tidak paham! aku akan pergi dengan ricky, kau masih harus mengurus semua pernikahanmu!" hardiknya melepaskan genggaman tangan sang suami.
"Ayah, ibu... kalian kenapa berteriak? telinga Reini jadi sakit," seru Rei menutup kedua mata dengan tangannya.
"Sayang, ayah dan ibu tidak berteriak, Reini jangan takut ya..." ucap sang Ibu membelai rambut Rei lembut.
Rei pun memeluk sang ibu krna dirinya sedari tadi melihat pertengkaran antara ayah dan ibunya.
"Nyonya, mobil sudah saya siapkan! mari nyonya?" sapa Ricky mendekati Ibu Belinda yg tengah memeluk Rei.
"Kau tunggu saja di mobil, saya akan segera menyusul," titahnya melirik sang suami yg sudah kian marah.
Sejak saat Rei masih berumur 10 tahun, Ricky sudah menjadi bagian dari keluarga mereka. sedari awal Ricky masuk kerumah mereka menjadi guru privat untuk Reini pada saat usianya yg masih belia. Ricky di kala itu berumur 20 tahun, namun kegigihannya dalam mendidik Rei bisa diacungi jempol bagi orang tua Reini. dikarenakan Ricky bisa membuat Reini menjadi anak yg penurut, pintar,sopan, ramah terhadap orang lain. bukan hanya ilmu saja yg diajarkan oleh Ricky, tetapi dia mampu mengubah anak kecil seperti Reini menjadi seorang yg begitu hebat.
Dari umur Rei 9 tahun Ricky sudah berhasil menjadi guru privat pribadi untuk Reini. sampai usia Reini menginjak 10 tahun. Ricky dan bik Lis juga yg membantu mengurus keperluan Reini selagi orang tuanya sibuk membangun perusahaan.
"Aku pergi dulu, kau tidak usah menungguku pulang," katanya pada sang suami.
"Aku akan terus menunggu! aku harap kau akan hadir di pernikahanku besok," ucap sang suami tampak mata berkaca.
"Sayang, jangan nakal ya sama ibu? jaga ibumu," seru sang ayah sambil mencium kening Reini.
"Ayah tidak ikut? kenapa ayah sedih?" tanya Rei menyentuh pipi sang ayah.
"Ayah tidak sedih, ayah bahagia punya anak seperti Reini," tuturnya mengelus kepala Rei sambil melirik istrinya.
"Reini. yuk kita pergi," kata sang ibu menarik tangan Rei perlahan.
"Da ayah! tunggu Reini pulang ya yah," seru Rei sambil mencium kedua pipi ayahnya.
__ADS_1
Sang ayah pun kembali mencium kedua pipi anaknya itu yg sudah ingin pergi dari hadapannya.
Lambaian tangan itu masih berlanjut sampai Rei tidak terlihat lagi oleh matanya.
Didalam mobil.
"Om cheri.... " sapa Rei dengan begitu girang setelah berada dimobil.
"Hai nona kecil, apa nona hari ini belajar?" tanya Ricky menoleh kebelakang.
"Tentu saja, Reini akan terus belajar supaya bisa jadi pintar seperti om cheri. Heheh," ucap Rei begitu antusiasnya.
"Jalan Ricky," titah Ibu Belinda.
"Baik nyonya, kita akan kemana nyonya?" tanya Ricky perlahan.
"Kau jalan saja dulu," pintanya lagi.
"Baiklah nyonya."
"Om cheri, hari ini tidur dirumah Reini ya,ya," seru Rei terjingkat sambil memohon.
"Om cheri bilang apa kemarin lusa? hayo... masih ingat?"
"Apa ya? om cheri bilang kalau Reini gak boleh lompat-lompat," ucap Rei sambil memegang kening dengan jari telunjuknya.
"Tuh, nona tau! jadi, gak boleh melompat didalam mobil. nanti bisa terjedut kepalanya, terus mewek minta dibelikan es cream," selorohnya sambil terkekeh.
"Janji," seru Ricky memberi jari kelingkingnya.
"Janji om cheri," balas Rei dengan tersenyum manis melekatkan kelingkingnya pada Ricky.
"Ricky, kamu ambil arah kanan. kita pergi ke jalan utama Whitehall setelah mentok nanti ada parliament square kau ambil arah kiri setelah itu lurus saja," titah Ibu Belinda memberi petunjuk pada Ricky.
"Baik nyonya," patuhnya pula.
Bukankah itu rumah nyonya Maria? kenapa nyonya ingin kerumah mereka malam hari begini?? batin Ricky menatap sesekali dibalik kaca pantulan.
Ibu Belinda terus menatap mengarah ke luar kaca mobil, sehingga Reini merasakan bahwa sang ibu tengah larut dalam kesedihan.
"Ibu kenapa sedih? ibu marah sma Reini?" tanya Rei sambil memegangi kedua pipi sang ibu dengan wajahnya yg lucu.
"Tidak, ibu tidak sedih sayang... justru ibu bahagia bisa sedikit meluangkan waktu bersama anak ibu yg sangat ibu sayangi ini," seru sang ibu langsung mendekap tubuh kecil Rei.
"Tapi, kenapa ada air mata di wajah ibu?" tanya Rei lagi memandangi mata sang ibu.
"Ah iya. mata ibu kemasukan debu sayang," balasnya mencari alasan supaya Rei tidak sadar kalau dirinya teramat sedih.
"Om cheri tidak dengar? ibu matanya kemasukan debu, tutup kacanya om cheri..." pinta Rei pula dengan bijaknya.
__ADS_1
"Baiklah tuan putri," jawab Ricky sambil tersenyum.
"Sini Bu! biar Rei hembus mata ibu," ucap Rei mendekati mulutnya ke mata sang ibu.
fuuh fuuh
Rei mengembus kedua mata sang ibu dengan wajah polosnya itu, tatkala sang ibu tidak kuasa menahan rasa sedihnya saat sang anak memberikan perhatian yg begitu tulus pada dirinya.
Sang ibu langsung mendekap Rei disepanjang perjalanan mereka dengan menepuk pundak Rei sesekali, dengan bangganya dia memiliki anak seperti Reini yg sulit didapatkan orangtua lainnya.
"Ibu, Reini sayang ibu. ibu jangan pergi dari Reini ya Bu..." rengek Rei pula dipelukan ibunya.
Ibu Belinda tidak menjawab rengekan Reini padanya, dia menahan Isak tangis yg tidak ingin ia keluarkan agar Rei tidak menyadari bahwa dirinya sudah mengeluarkan air mata.
"Bu, kenapa ibu tidak jawab?" mendongak melihat sang ibu.
"Ibu nangis? Reini ada salah ya Bu," sambungnya lagi sambil menyeka air mata sang ibu.
"Om cheri kita nanti belikan ibu ice cream ya? biar ibu gak nangis lagi," ucap Rei merengek pada Ricky dengan wajahnya yg cemberut.
"Nona... orang dewasa tidak suka ice cream, nanti om cheri belikan untuk nona saja ya," jawab Ricky lembut.
"Siapa bilang ibu tidak suka, kemarin Reini belikan ibu ice cream sepulang sekolah. ibu juga memakannya sma Reini kok," cerocos Reini terlihat sebal krna ucapan Ricky padanya.
"Bu. ibu suka ice cream, kan? iya kan Bu." sambung Rei pula sambil menggoyang lengan sang ibu perlahan.
"Iya sayang. Reini suka, pasti ibu juga suka," ucap sang ibu mengelus kepala Rei sambil mendekapnya erat.
"Tuh kan! om cheri harus percaya sama Reini, om cheri sih."
"Beli sekarang ya om ice creamnya," seru Rei pula.
"Baiklah nona kecil, om cheri ngaku kalah deh," jawab Ricky tersenyum sesekali melihat Reini yg sudah terlihat sangat bijak.
"Horeee, om cheri yg terbaik," antusias Rei kegirangan tampak mata yg berbinar.
Ricky dan ibu Belinda hanya bergeleng kepala melihat reaksi Reini kalau sudah mendengar kata ice cream. hanya diberikan hal kecil namun dirinya sudah sangat bahagia. tingkah Rei membuat semua orang gemas ingin mencubit pipinya yg sudah terlihat chuby apalagi kelucuan yg setiap hari dia lontarkan pada semua orang yg ada didekatnya.
Selama di perjalanan, Rei tertidur dipangkuan sang ibu. begitu nyenyaknya rei sehingga tidak sadarkan diri lagi. sang ibu terus membelai rambut Rei sehingga Rei terhanyut dalam keheningan dipangkuan yg selalu memberikan kasih sayang terhadapnya.
Begitu juga pada Ricky yg hanya fokus melajukan mobil tidak berbicara sedikitpun karna takut membuat terbangun nona kecil yg sudah memberikan warna didalam kesehariannya. terlihat raut wajah bahagia Ricky saat melihat Rei tertidur sangat pulas.
.................
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA π€π
...π...
...TETAP STAY TUNED...
__ADS_1
...β€οΈ saranghae dari mamak β€οΈ...