
Cicit burung gereja berterbangan diluas pekarangan istana Marvel. pagi yg cerah hingga kesejukan sangat terasa di tubuh Belinda, dirinya kian diberikan kamar bersama dengan Tristan, Maria tidak mungkin membedakan Belinda yg sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.
Setelah pertemuan Haikal dan Belinda didalam istana, Maria juga Erlando berniat untuk mendekatkan mereka secara diam-diam, karena Maria dan Erlando mengetahui sifat pemalu dari sahabatnya itu, Haikal tidak akan bergerak lebih dulu sebelum adanya pancingan serta dorongan yg akan membuat dirinya lebih berani lagi.
Keseharian Belinda cukup terbilang cepat dalam membiasakan dirinya didalam istana, sungguh Belinda tidak dibiarkan untuk berkeliaran diluar istana. malah Tristan berangkat sekolah pergi bersama sang ayah, karena Maria masih takut kalau saja musuhnya akan mengancam nyawa Belinda. Tristan diberikan pengertian oleh ibunya beralasan bahwa Belinda tidak tau arah jalan pulang.
Tap Tap
"Nyonya... tuan Haikal ada didepan," sapa Sisil pelayan istana.
"Persilahkan masuk," sahut Maria sambil membaca majalah.
"Baik nyonya," jawab Sisil pula dengan patuh.
Sejenak pelayan itu berlari untuk menghampiri Haikal yg tengah berdiri didepan istana.
"Nyonya," sapa Belinda berjalan perlahan, karena dirinya sudah merasa baikan.
"Kau sudah lebih baik bel?" tanya Maria pula dengan meletakkan majalahnya setelah Belinda mendekati dirinya.
"Duduk disini bel," ajak Maria memegang lengan Belinda.
"Iya nyonya," ucap Belinda tersenyum seketika duduk bersebelahan dengan Maria.
"Apa kau tidur dengan nyenyak akhir-akhir ini bel?" bertnya sambil merapikan rambut Belinda yg sedikit kusut.
"Saya sungguh merasa aman disini nyonya! karna semua orang disini sungguh baik," tutur Belinda menatap wajah Maria.
"Baguslah, aku fikir kau tidak akan betah disini," kata Maria yg terdengar lega.
"Nyo-"
"Hai Maria, kalian disini?" tanya Haikal langsung menyapa.
"Waw. kau terlihat tampan Haikal, good job," antusias Maria memberi jempolnya.
Sebenarnya Erlando dan Maria sudah menceritakan kisah pertemuan mereka dengan Belinda, Haikal menanyakan siapa Belinda, asal usulnya, dll. Haikal mengaku hanya penasaran, tetapi Erlando dan Maria bisa merasakan bahwa Haikal ingin mengenal Belinda lebih dekat lagi. itu suatu hal yg lumrah bagi setiap lelaki normal pada umumnya.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Haikal memandangi keduanya.
Namun, Belinda tidak menjawab. malah dirinya tercengang melihat ketampanan dari Haikal sehingga membuat mata Belinda tak berkedip.
"Hei, hei. kau kenapa?" tanya Haikal memetik jemari tangannya didepan wajah Belinda.
"Pfftt," Maria tengah menahan tawanya.
"Bukankah tuan ini, yg kemarin?" tanya Belinda masih menatap serius wajah Haikal.
"Iya benar, apa kau sudah lupa?" berbalik tanya pula.
"Bel, hari ini Haikal resmi menjadi guru privat mu," pungkas Maria cepat.
"Ha? gu - guru? apa maksud nyonya?" tanya Belinda bingung.
"Kemarin aku sudah mengatakan klau kau akan menjalani pelajaran didalam istana ini," timpal Maria lagi.
"Nyonya?" protes Belinda mengernyitkan dahinya.
"Apa kau keberatan? jika aku menjadi guru mu?" tanya Haikal serius menatap mata Belinda.
"Bu- bukan begitu! hanya saja..." ucap Belinda merasa sungkan.
"Bel, Haikal ini kepintarannya melebihi aku juga Erlando, kau jangan khawatir! Haikal akan sebisanya menjadikanmu lebih baik lagi," seru Maria memegang sebelah pundak Belinda.
"Saya sudah katakan pada nyonya, saya sangat bersyukur diberikan tumpangan disini, saya tidak ingin lebih dari itu nyonya," aprotes Belinda sesekali menghela nafas.
__ADS_1
"Aku tidak ingin ada penolakan dari mu bel, sekarang kau harus belajar! Haikal sudah ada di sini. sebaiknya kau menuruti kemauanku untuk kali ini saja," pinta Maria dengan tekadnya yg tidak ingin dibantah.
"Hmm," hanya bisa membuang nafas pelan, Belinda sudah tidak bisa berkata apapun lagi.
"Baiklah, sekarang aku tinggal kalian disini. aku tidak ingin merusak keseriusan kalian," lontaran Maria sambil berdiri dari duduknya.
"Terimakasih nyonya," ucap Belinda pula dengan memegang tangan Maria seolah tidak ingin Maria pergi meninggalkannya.
Maria tersenyum melihat tingkah Belinda terhadapnya, dia juga berfikir tidak akan mudah bagi Belinda untuk dekat dengan Haikal, tetapi Maria jauh lebih tenang jika Haikal bisa mendekati Belinda walau perlahan. seketika Maria melirik Haikal, dan lelaki itu manggut seolah mengerti keinginan dari Maria.
Aku harap kalian berjodoh!! gumam Maria saat berlalu pergi dari Haikal dan Belinda.
"Apa aku boleh bertnya?"
"Tanya saja," kata Belinda seolah canggung.
"Kau berumur berapa?"
"Saya sudah 30 tahun," jawab Belinda sesekali menatap wajah Haikal.
"Kenapa kau mengarah ke sana? kau tenang saja! aku tidak akan berbuat kasar walaupun aku mengajari mu," lontar Haikal menatap Belinda sambil memiringkan kepala sedikit.
"Santai saja, aku tidak akan keras padamu," sambung Haikal pula meyakinkan Belinda.
Ternyata dia seumur denganku!! apa ini takdirku bertemu dengannya disini?? batin Haikal sesekali melihat wajah Belinda bak boneka itu.
"Tuan, apakah tuan berteman dengan nyonya?" tanya Belinda merasa gugup.
"Ya. semasa aku kuliah sudah berteman dengan suami dari nyonya mu," beber Haikal pula.
"Oh, jadi tuan satu sekolah," riuh Belinda sejenak terlihat senang.
"Apa kau senang tinggal di sini?" tanya Haikal memastikan.
"Sangat bahagia tuan, semua orang di sini memperlakukan saya dengan sangat ba-"
"Ukh," desis Belinda menahan perih.
"Kau?!" hardik Haikal seketika marah.
"Maaf tuan... saya tidak sengaja! maaf, saya akan mengompres tangan nyonya Belinda, tunggu sebentar ya nyonya," riuh seorang kepala pelayan saat ingin menyuguhkan mereka minuman.
"Tidak perlu! aku saja yg akan mengobatinya. kau ambil saja es batu dan kain! aku akan mengompresnya! cepatlah sedikit!!" sergah Haikal terlihat sinis saat menatap wajah kepala pelayan itu.
"Baik tuan! akan saya ambilkan," jawabnya pula.
Heh, ma*pus kau!! batin kepala pelayan itu saat menyelesaikan aksinya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Haikal mendekati Belinda terlihat cemas.
"Sedikit perih tuan," ucap Belinda tampak menahan sakit.
Melepuh begini dibilang tidak masalah? apakah wanita ini baja?!! batin Haikal seakan tidak terima.
Rasa kesal itu entah dari mana datangnya, Haikal seolah bisa merasakan sakit yg dialami oleh Belinda saat itu.
"Fuuh... fuuh..." hembusan nafas yg keluar dari mulut Haikal untuk menolong Belinda yg sedang menahan perih.
"Apa sudah mendingan?" tanya Haikal pula.
Deg
Jangtungku kenapa begini? batin Belinda tertegun saat melihat kekhawatiran dari wajah Haikal.
"Sa- saya...."
__ADS_1
"Maaf tuan lama menunggu," tegur Leli sang kepala pelayan.
"Kemarikan!" sahut Haikal tampak tidak senang.
Kenapa tuan ini begitu perhatian sama wanita gembel begini. hiiihh, awas saja kau!! ini hanyalah permulaan!! batin Leli menatap tajam Belinda.
"Terimakasih ya," ucap Belinda pula menatap wajah Leli.
"Ini sudah salah saya nyonya! tidak perlu berterimakasih," balasnya dengan bungkuk sambil tersenyum dibalut topeng.
"Kau sudah boleh kembali, lain kali jangan ceroboh!" geram Haikal memberi peringatan pada Leli.
"Baik tuan. sekali lagi maafkan saya," tutur Leli pula dengan mengepalkan kedua tangan dibalik badannya.
Disaat Leli ingin pergi, Haikal sejenak menghentikan langkahnya.
"Ohya! nama kau siapa?" tanya Haikal seolah ingin melacak pelayan yg membuat hatinya tidak tenang.
"Saya Leli tuan," jawabnya pula.
"Apa yg kau kerjakan didalam istana ini?" tanya Haikal lagi.
"Saya di utus untuk mengatur pelayan didalam istana tuan," balasnya dengan tenang.
"Berarti kau kepala pelayan disini? kenapa kau yg membawa minuman ini? apa itu bagian dari tugasmu?" tanya Haikal lagi mengernyitkan dahi.
Cih!! Brengs*k!! apa dia ingin menjebakku?!!batin Leli tertunduk menahan kebencian.
"Sebelumnya saya minta maaf tuan! pelayan di sini sedang sibuk, akhirnya saya inisiatif untuk membawa minuman kesini..." pungkasnya mencari alasan.
"Aku melihat ada banyak pelayan di istana ini, bukankah sudah ada bagian masing-masing?" terus bertnya hingga membuat Leli merasa kesal.
"Sudahlah tuan, jangan menyulitkan madam lagi," timpal Belinda menjadi penengah.
Apa?! madam? batin Haikal terheran.
"Kenapa kau memanggilnya madam?" tanya Haikal bingung.
"Semua pelayan di sini memanggilnya madam, saya tidak tau namanya sebelum masuk ke istana ini. jadi saya sekilas mendengar mereka memanggilnya madam," jawab Belinda dengan polosnya.
"Apa kau tadi tidak mendengar namanya Leli?" dengus Haikal melirik tajam Leli.
"Ah, i- iya... saya baru saja tau," keluh Belinda merasa takut.
Kenapa dari wajahnya tuan ini terlihat sedang marah? apa aku sudah salah bicara padanya?? batin belinda tidak berani menatap Haikal.
"Kau panggil saja Leli, tidak perlu madam! aku sekarang guru mu! kau harus mendengarkan apapun yg aku perintahkan," lontaran Haikal menatap serius Belinda.
"Iya tuan. saya mengerti," jawabnya masih tertunduk.
Dasar wanita munafik!!! jangan kau sok polos didepanku!! kau lihat saja apa yg akan aku perbuat setelah ini. batin Leli mencibir dengan kesal.
"Kenapa kau masih berdiri di sini? apa kau tidak punya pekerjaan lain?" tanya Haikal menyadarkan Leli yg sedang diambang kemarahan.
"Saya pamit dulu tuan," ucapnya bungkuk perlahan.
Dari kejauhan Haikal memandangi perawakan Leli si kepala pelayan yg sudah membuat dirinya sedikit cemas dengan perbuatan Leli saat itu.
................
Bersambung....
...TETAP STAY TUNED...
...KRITIK DAN SARAN DIKOLOM KOMENTAR...
__ADS_1
...❤️❤️...