
"gadis kecil ku, papah rindu senyummu nak." ucap papah dengan isakan menyesakkan.
Rendy dan Rey tak bisa berbuat apa-apa. mereka pun merasa sangat hancur. Rendy yang selama ini begitu santai mengawasi Tiara hingga akhirnya kehilangan jejak. Rey yang selalu merasa mampu melindungi Tiara kini merasa menjadi orang yang tak berguna bagi Tiara.
"Pah, sebaiknya papah kembali kekamar mamah ya. nanti mamah curiga pah." ucap Rey sambil memegang bahu papah
"Benar kata Rey pah, sebaiknya papah kembali. biar Tiara kami yang jaga." timpal Rendy
Papah pun kembali dari keterpurukannya. papah mengusap air mata nya, mengatur emosinya dan menghembuskan napas agar hatinya lebih lega.
"Jangan lupa selalu kabari papah apapun yang terjadi. sementara itu rahasiakan masalah ini dari mamah." ucap papah. Rendy dan Rey sama-sama mengangguk tanda mengerti.
"Yang kuat ya nak, papah yakin kamu bukan orang yang mudah menyerah." ucap papah sambil mengusap kening Tiara. tanpa mereka sadari aor mata Tiara mengalir. karena memang Tiara mampu mendengar dan merasakan, hanya saja tubuhnya sedang lemah.
Akhirnya papah keluar dari kamar Tiara menuju kamar mamah.
__ADS_1
Sementara itu, Anisa yang mengejar Icha mendapati Icha sedang mwnangis dibangku taman tak jauh dari kamar Tiara.
"Icha, tenanglah. Tiara akan baik percayalah dia bukan orang yang gampang menyerah." ucap Nisa menenangkan Icha
"Tiara sangat kuat bu, hatinya, jiwanya, segalanya. dia itu wanita sempurna bu. tapi kenapa tuhan selalu menguji dia bu, kenapa?" sahut Icha yang tak mampu mengatur perasaannya.
Anisa menarik Icha kedalam pelukkannya. Anisa sangat paham persahabatan mereka berdasarkan cinta kasih dari hati. Anisa sangat paham betapa hancur nya Icha melihat kondisi Tiara saat ini.
"Dengarkan ibu, kalau Icha seperti ini siapa yang akan menguatkan Tiara. Icha harus disamping Tiara,menemaninya berjuang. jangan lemah seperti ini." Ucap Nisa coba menguatkan Icha
Anisa tak bisa berucap apa-apa lagi. batinnya pun menanyakan hal serupa dengan Icha.
"Tuhan sudah cukup, berikan Tiara kebahagian." bayin Nisa masih memeluk Icha.
Sudah Tiga hari berlalu, Tiara masih terbaring tanpa bergerak sedikitpun. Rey yang setiap pahi dan sore selalu datang melihat kondisi Tiara dan membawa bunga untuk menghias kamar Tiara. Rendy yang rajin berkomunikasi dengan lara dokter seputar kondisi Tiara. serta Icha yang senantiasa disamping Tiara.
__ADS_1
Mamah yang sudah berada dirumah sudah menjalankan aktifitas seperti biasa selayaknya ibu rah tangga, Papah yang diam-diam selalu menunggu perkembangan kesehatan Tiara dari Rendy dan Rey. Anisa yang memastikan kondisi rumah tetap stabil.
"Pah, belakangan ini anak-anak kita sangat sibuk ya." ucap mamah
"mamah kan tau sendiri bagaimana mereka mengabaikan pekerjaannya selama mamah dirawat. "
"Papah benar, kasian anak-anak kita. Rendy bahkan jarang bermain dengan anaknya, beruntung kita punya menantu seperti Anisa.
"Biarkan mereka melakukan yang menurut mereka benar mah, kita jangan mengusik konsentrasi mereka."
"Iya pah, tapi terkadang mamah memikirkan Rey. apa dia belum ingin menikah?"
"Mah jangan konyol, Rey baru 23 tahun mah. biarkan dia mengembamgkan sendiri dirinya dan mengatur masa depannya."
"Iya pah, bersyukur mamah sekarang Rey bisa fokus. tidak memikirikan Tiara terus."
__ADS_1
Sungguh ucapan mamah membuat papah geram. tapi papah coba menahannya.