
Sarah memegang perutnya yang sudah sangat perih menahan lapar. Tomy yang selalu memperhatikan tingkah Sarah sangat paham bahwa Sarah tak punya uang dan takut untuk memakan makanan tersebut meskipun Sarah sangat lapar.
"Sarah makanlah, saya ke toilet sebentar."
"Baik pak." jawab Sarah.
Tomy pun pergi meninggalkan Sarah. Sarah melihat kepergian Tomy kemudian Ia mencoba meminum jus yang ada dihadapannya.
"Wah, jus ini nikmat sekali. Aku sudah benar-benar lapar." Sarah pun menyantap makanan itu, bahkan rasa khawatirnya sudah hilang begitu saja.
Tomy yang melihat dari kejauhan tersenyum bahagia, Akhirnya Sarah mau makan. terlihat sekali Sarah begitu lahap, Tomy merasa kasihan tapi Ia juga takut Sarah tersinggung. Tomy pun kembali ke meja dan menghabiskan sisa makanannya.
Setelah menghabiskan makanan, Tomy memanggil pelayan untuk menanyakan total yang harus mereka bayar. Sarah mulai panik lagi, Ia sangat bingung harus melakukan apa.
"Selamat malam pak, untuk total makanan bapak kami beri free. karena bapak adalah pelanggan ke seratus hari ini." ucap pelayan tersebut dengan ramah
"Oh iya. Wah makan gratis ya kita."
"Serius mbak?" Sarah tak percaya,
__ADS_1
"Benar bu, ini tagihannya tertera free dari restoran kami." terang pelayan
"Waah. kita beruntung ya pak." lagi-lagi Sarah tersenyum dengan manis, membuat Tomy lega melihatnya.
"Ya sudah kita pulang sekarang." ajak Tomy
Dalam perjalanan Tomy merasa senang bisa mengantarkan Sarah dan bisa tahu dimana alamat Sarah.
"Pak, maafkan kelancangan saya sudah meluk bapak." ucap Sarah sedikit malu.
"Iya gak masalah, harusnya juga tadi saya gak meninggalkan kamu tadi."
"Bagaimana bisa dia begitu santai dengan jarak sejauh ini. ditambah lagi dia seorang wanita." batin Tomy.
"Sarah, apa kamu tinggal dengan kedua orang tuamu?"
"Saya hanya tinggal dengan ibu pak."
"Ayah kamu kemana?"
__ADS_1
"Kata ibu, Ayah meninggal sejak aku kecil."
"Oh begitu, maaf yah saya gak bermaksud."
"Gak masalah kok pak, itu hal biasa buat saya."
"Baiklah, setelah ini kita belok kemana?"
"Oh lurus saja, nanti kita masuk gapura diujung tikungan itu, dan rumah kedua itu rumah saya pak."
"Baiklah tuan putri." Tomy memberikan senyuman pada Sarah.
Sarah bersyukur bisa kenal dengan Tomy yang baik hati. bekerja dikantor sebesar itu membuat Sarah merasa tak layak pada awalnya. Ia melihat hampir seluruh karyawan disana berpenampilan sangat baik dengan pakaian yang mahal. sementara dirinya hanya setiap hari selalu memakai kemeja, celana pants dan sepatu slop biasa.
Sarah sering dipandang sebelah mata oleh karyawan senior. itulah sebabnya Ia sangat terkejut saat Rendy menunjukknya menjadi asisten wakil direktur. Sarah menjadi percaya diri dan berusaha agar tidak mengecewakan keputusan direktur. Rendy dan Rey bdgitu bijak dalam menilai segala hal, termasuk kinerja Sarah. bahkan yang awalnya Ia merasa tidak akan bisa cocok dengan Tomy, pada nyatanya mereka bisa kerja sama dengan baik. Sarah benar-benar bersyukur bahwa ternyata masih ada orang seperti mereka.
"Sarah, kita sudah sampai." tegur Tomy. namun Sarah masih disibukkan dengan lamunannya. Akhirnya Tomy menepuk jidat Sarah
"kamu tidak ingin turun, apa kamu mau saya bawa pulang kerumahku?" kata Tomy
__ADS_1
"Duh bapak, sakit kali. saya gak mau ikut bapak." ucap Sarah yang tersadar dari lamunannya dan bergegas turun dari mobil Tomy.