Adikku Bukan Adikku

Adikku Bukan Adikku
Episode 52


__ADS_3

Tiara membuka mata karena merasa hangat nya paparan sinar matahari diwajahnya. dia mengimbangi cahaya matahari yang menabrak mata nya, dan perlahan bangkit dari tidurnya. Ia terbangun dengan bahagia dan menaruh harapan bahwa segala rencananya berjalan dengan baik.


Ia merapikan tempat tidurnya, dan membangunkan Icha.


"Icha, ayo bangun kita ada kuliah pagi kan." ucao Tiara sambil menggoyangkan bahu Icha.


"Iyah, tunggu sebentar." jawab Icha. Tiara pun berlalu mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.


Sementara itu dikediaman, semua sedang sibuk menyiapkan diri untuk aktitas hari ini. kini mereka semua berkumpul untuk sarapan, namun Rey terlihat tidak bersemangat.


"Rey, kamu pergi duluan ke kantor ya. Kakak dan kak Anisa ada keperluan sebentar." ucap Rendy


"Memang nya mau kemana nak?" tanya mamah


"Nisa sm mas ada keperluan sedikit mah." sahut Nisa karena belum ingin memberitahu tentang kehamilannya. Rendy yang melihat tingkah istrinya mengerti apa maksud Anisa.


"Ya sudah, selesaikan dengan baik lalu ke kantor ya." nasehat papah


"Rey berangkat pah." ucap Rey sedikit lesu


"Loh sarapan nya belum habis Rey." jawab mamah. namun Rey tak bergeming. Ia berlalu meninggalkan keluarga nya.

__ADS_1


Rendy dan Anisa paham betul apa yang terjadi pada Rey, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa.


Rey masuk ke mobil lalu menyalakan mesin mobilnya, namun tiba-tiba saja ponsel nya berdering. Lagi-lagi wajah Rey berubah saat menatap layar ponselnya,


"Halo Tiara, bagaimana kabarmu?" Rey menerima telpon dari adiknya


"Hay kak, aku baik kok. Kakak semangat ya kerja nya. maaf kemarin aku ga pulang."


"Iyah, kamu juga yang baik ya belajarnya."


"Iya kak, ini juga sudah dikelas nunggu dosen masuk."


"Ya sudah, kakak berangkat dulu ya. kita sambung nanti."


Entah mengapa tiba-tiba Rey menjadi semangat dan siap ke kantor. dan dari kejauhan Rendy dan Anisa melihat mobil Rey yang sudah menyala sejak tadi namun tidak jalan


"Rey kenapa ya mas?" tanya Nisa sedikit cemas


"Tidak perlu cemas, pasti dia sedang menerima telpon dari Tiara." jawab Rendy santai


"Maksud mas?" Nisa menjadi bingung.

__ADS_1


- Flashback on -


"Rey berangkat pah." Rey berlalu tanpa bergeming.


Rendy diam-diam mengambil ponselnya dari kantor lalu mencari kontak Tiara.


"Pagi Tiara, apa sudah dikampus? Kakak minta tolong Tiara telpon kak Rey ya. sejak kemarin dia uring-uringan terus, sepertinya dia kesal karena kemarin Tiara ga pulang." begitu isi pesan Rendy untuk Tiara


"Siap kak." balasan Tiara


- Flashback off -


"Jadi mas menghubungi Tiara?" tanya Nisa kaget


"Iya sayang, mau bagaimana lagi. Tiara sudah menjadi jantung bagi Rey."


Rendy dan Anisa pun menaiki mobil mereka dan meninggalkan halaman Kediaman.


"Mas, sampai kapan Rey bergantung pada Tiara." Nisa membuka obrolan didalam mobil


"Aku juga khawatir sayang, Rey harus kita tatar mulai sekarang. Aku juga ga yakin sampai kapan kita bisa menutupi semua darinya."

__ADS_1


"Tapi ini permintaan Tiara mas untuk merahasiakan masalah ini dari Rey."


Rendy menghela napas panjang, Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Ia pun takut memikirkan bagaimana nanti jika Rey mengetahui masalah ini. Rendy bisa membayangkan betapa hancurnya Rey, seperti saat Rey tiba-tiba harus pindah sekolah dan terpisah dari Tiara.


__ADS_2